Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Rangkaian Hujan

Rangkaian Hujan

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 20 Jun 2022
  • visibility 407
  • comment 0 komentar

Aku sangat menyukai momen ini, saat kecil.  Hujan. Adalah momen bahagiaku untuk bermain di setiap rintik-rintiknya. Entah sambil berlari-lari atau hanya sekadar berguyur di bawah deraiannya. Lain halnya dengan sekarang, paling tidak suka dengan hujan. Bukan, lebih tepatnya kehujanan,. Aku tak pernah menyalahkan Tuhan yang menurunkan hujan. Hanya saja aku tak menyukai kehujanan. Itu saja. Kalau hujan ya harus pakai jas hujan, tak boleh kehujanan nanti sakit. Begitu prinsipku.

Detik ini aku masih diluar. Bekerja serabutan harus bermodalkan kuat fisik. Harus menjaga kesehatan apalagi ditambah musim Pandemi. Selain menjadi.

 “Mbak Admin” di suatu PT, aku juga menambah kesibukan di dunia bimbel (bimbingan belajar). 

“Ra, nanti jadi sama aku pulangnya?”

“Jadi Syi, nanti turunkan saja aku di depan bimbel Syakir”

“Lalu, setelah itu kamu pulangnya gimana?”

“Gampang”, jawabku enteng.

“Gampang gimana? Kamu aja tidak bawa sepeda motor”

Aku hanya diam tak menjawab deretan pertanyaan Rosyita. Pasalnya hari ini aku memang tak membawa kendaraan. Sepeda motor kesayanganku itu dipinjam kakak sepupuku keluar kota selama seminggu. Mengingat jarak rumah dengan bimbel kurang lebih 1 jam perjalanan, aku tak mungkin untuk jalan kaki apalagi naik angkot, ah jangan aku tak menyukainya. Aha, aku minta jemput saja sama si kakak, batinku.

“Ra?”

“Hem”

“Gimana?”

“Iya, nanti dijemput kakak”

“Bukannya kakakmu keluar kota?”, kepo Rosyita yang kelewatan plus super bawel tapi perhatian.

“Engga, ini kakakkku, temenku, eh kakak kelasku”

“Ya sudah, hati-hati nanti”.

Dentingan jarum jam hari ini cukup bergerak cepat.  Matahari sorepun sudah mulai mengintip di luaran sana. Pukul 16.00 WIB, aku segera bergegas pulang bersama sahabatku Rosyita. Menelurusi jejalanan yang ramainya seperti  sedang mengantri bantuan covid nineteen. Huft!

Kurang lebih lima belas menitan perjalanan dari tempat kerjaku menuju tempat bimbel. Alhamdulillah masih ada waktu lima belas  menit lagi untuk istirahat.

Done. Rasanya begitu melelahkan namun cukup membahagiakan. Nas! aku ingat sesuatu. Sedari tadi  aku belum membuka benda kecilku, handphone. Segera kubuka, meneliti satu persatu chat WhatsApp yang masuk. Jari-jariku mulai aktif mencari nama “kakak” diruang chat WhatsAppku. What? Aku kan belum chat dia, auto ku klik tombol calling. Berdering. Sekali tidak ada jawaban, ku coba lagi. Kakak, nama di layar hpku masih berdering, tapi tak kunjung “hallo”. Sudah tiga kali namun masih nihil. Tak seperti biasanya dia seperti ini. Tiba-tiba perasaanku tak enak, entah perasaan apa ini. Dengan tangan gemetaran dan dada sesak, kududukkan lagi tubuhku di kursi depan. Sementara langit mulai menghitam, sepertinya akan turun hujan.

Klunting!

“Aku lagi sibuk, jangan telepon dulu”

 

Sejenak aku menghembuskan nafas pelan. Membuang perlahan, terpaksa harus naik angkot. Sepuluh, dua puluh hingga tiga puluh menit pun angkot tak kunjung lewat. Tak bisa dibiarkan, ini jam berapa?. Sudah jam sembilan malam. Nah, kan aku bahkan lupa kalau batas angkot lewat jalan sini hanya sampai pukul delapan malam.

           

Rupanya hujan semakin deras, ku genggam erat jaket yang menempel ditubuhku. Udara juga semakin dingin belum lagi jalanan yang mulai sepi. Dengan perasaan was-was aku beranikan menunggu jemputan di bawah derasnya air hujan. Barangkali kakak khawatir dan memikirkanku karena tak kunjung pulang. Baiklah aku akan sedikit bercerita tentang kakakku.

Kakak adalah orang yang cukup berarti dalam hidupku. Bersama dengannya layaknya seperti mempunyai kakak kandung sendiri. Selain orangnya friendly, ia juga humoris, ahli matematika dan bertanggungjawab. Bukan karena ia anak orang kaya aku berteman baik dengannya, melainkan ketulusan hatinya lah menjadi sebab musababnya. Sejak kecil memang rumah kami bersebelahan, hingga pada akhirnya berteman akrab layaknya adik kakak.

“Rera…temani kakak di warung sebelah ya”

Diam, bingung.

“Tidak masalah, hanya sebentar, tadi aku sudah ijin sama ibu kamu”, katanya sambil menggandeng tanganku.

“Jika kamu sudah besar nanti, kakak akan tetap di samping kamu kok. Kita selamanya bermain bersama. Tapi kamu harus rajin belajar dan wujudkan cita-citamu. Janji sama kakak, ya!”

“Permisi Mbak, boleh tanya alamat ini?”

“Mbak”

“Eh, iya mbak maaf. Gimana ?”

Wanita itu kembali mengulangi pertanyaannya. Telah berhasil membuyarkan lamunanku, ia memperlihatkan tulisan yang dibawanya. Jln. Mawar Indah. Alamat yang tidak asing bagiku, sudah barang tentu itu alamat daerah sekitaran rumahku. Setelah kuberi tahu dan malahan aku diberi tumpangan dengan cuma-cuma.

Hujan sudah mulai reda, kini tingal gerimis-gerimis syahdu. Tak ada lagi yang ku khawatirkan, di sini aku aman sama temannya kakakku. Pertanyaan ringan-ringan pun kami lontarkan untuk saling mengakrabkan. Sebentar, sebentar, bukannya kakak tak memiliki teman perempuan yang bernama Lisya? Lalu, dia siapa? Apa aku dibohongi? Atau dia pacarnya? Selama ini kakak tak pernah cerita. Ah atau pacar barunya kali. Bodo amat, itu kan hak kakak, toh dia hanya sekedar kakakku dan aku adiknya, selamanya tak mungkin bersama.

Mendengar penuturan kak Lisya aku semakin tidak suka. Ada perasaan yang tak bisa kudefinisikan, apa itu? Aku tidak mengerti. Mungkin hanya iri atau tidak rela jika kakak bersama wanita lain.

 

Sesampai di rumah. Aku dan kak Lisya pun turun. “Kak, nanti tinggal lurus saja, rumah yang berdinding hijau, nah itu rumahnya”, kataku menjelaskan ketika hendak perpisahan.

“Assalamu’alaikum”

Sepi, tidak ada sahutan, bak rumah tak berpenghuni, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Sudahlah, mungkin sudah tidur.

“Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birth day, happy birthday, Rera. Barokallah Rera”

“Selamat ulang tahun, Nak, semoga panjang umur dan disukseskan semua hajatmu”, ucap bapak dan ibu kemudian.

“Semoga di usia ke-25 mu ini menjadikanmu tambah dewasa dan sehat selalu”, lanjut kakak kemudian dibelakangku tiba-tiba sambil membawa kue.

Seketika itu aku pecah, bulir-bulir putih mengalir begitu saja. Aku sendiri lupa akan umurku sekarang. Sudah disibukkan dengan pekerjaan hingga umur saja aku sempat melupakannya. Pulang disambut dengan kejutan begitu membahagiakan.

“Selamat ulang tahun ya, Rera, semoga kamu segera dipertemukan dengan pasangannmu”

“Lho kak kok masih disini?”

“Iya dong kan mau ketemu denganku”, kata kakak dengan merangkul pundak wanita itu.

Manyun, aku tak menanggapi candaannya. Terselip rasa cemburu. Tunggu bilang apa aku tadi. Cemburu ? Apa-apaan.

“Rera, ibu, bapak, di sini Adit hendak meminang putri panjenengan. Jika sekiranya bapak ibu merestui, Adit akan segera menghalalkannya”

What? Drama apalagi ini. Apa dia tidak takut pacarnya cemburu. Sudahlah aku pergi ke kamar saja.

Baru kaki hendak melangkah satu langkah, “Rera, nak Adit belum selesai bicara.”, kata ibu mencegahku.

“Adit serius bu, pak. Selama ini Adit hanya mencintai Rera. Wanita satu-satunya yang bisa membuat Adit nyaman.

“Gimana Ra, kalau bapak sangat setuju”

“Ibu juga merestui”

“Terima saja Ra, kalian cocok”, kak Lisya ikut menimbrung.

“Ga usah kaget, aku ini adik sepupunya yang sudah berpisah sejak kecil. Cerita tentangku nanti saja. Ayo gimana jawabnya. Kasihan tuh abangku mukanya jadi kusut”

Tuhan kejutan apa lagi ini. Tesss, aku pun menangis semakin menjadi-jadi. Tangis haru bahagia tak dapat lagi kubendung. Dengan mengucapkan.

 

“Bismillah aku siap dan menerima” yang kemudian disusul pelukan Ibu dan bapak, juka kak Lisya. Hari itu adalah hari bahagiaku. Akan kurekam hingga anak cucu nanti. Kenapa tidak. Di sisi lain memang aku mengaggumi kakak dan ternyata ia pun memiliki perasaan yang sama.

Bersamaan dengan itu hujan menjatuhkan dengan butiran kecil, paket komplit, hujan dan kejutan yang terurai menjadi rangkaian hujan. Kini, aku menyukainya kembali, karenanya hujan banyak kejutan indah yang membentuk rangkaian cerita. Terimakasih Tuhan sudah menurunkan hujan dan merangkai menjadi kebahagiaan.

Biodata Penulis

Namaku Laili Nur Azizah. Untuk komunikasi denganku bisa melalui akun instagram “sekecap_rasa”.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dialog Terbuka Melatih Kepercayaan Diri Siswa

    Dialog Terbuka Melatih Kepercayaan Diri Siswa

    • calendar_month Jum, 5 Jan 2018
    • account_circle admin
    • visibility 399
    • 0Komentar

    Pati: Pertama kalinya dalam program Holiday Smart (HSP) sisipkan pembelajaran mengenai debat. Para peserta sangat antusias megikuti kegiatan yang bertempat di aula MA Mahida ini. Dengan adanya debat yang dimulai pukul 08.30 sampai 11.00 WIB dapat melatih kemampuan berbicara para peserta mengingat tujuan utama HSP. Agar peserta menjadi terbiasa dan tidak grogi dalam berbahasa inggris, […]

  • LTMNU Pati Data Ulang Masjid dan Mushola se Kabupaten

    LTMNU Pati Data Ulang Masjid dan Mushola se Kabupaten

    • calendar_month Ming, 21 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 630
    • 0Komentar

    Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kabupaten Pati, akan melakukan pendataan ulang masjid dan mushola yang terdapat di seluruh Kabupatenb Pati. Hal ini menjadi salah satu keputusan penting yang disepakati dalam rapat koordinasi antara LTMNU Kabupaten dengan LTMNU Kecamatan (MWC NU) se-Kabupaten Pati. Rapat koordinasi LTMNU tersebut digelar siang ini (Ahad, 21/07) di Gedung Islamic […]

  • KH. Imam Sofwan, Ketua PCNU Periode 2008-2013 wafat

    KH. Imam Sofwan, Ketua PCNU Periode 2008-2013 wafat

    • calendar_month Jum, 21 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 512
    • 0Komentar

    Kabar duka menyelimuti warga nahdliyin Kabupaten Pati, di penghujung Ramadan 2023 ini. Pasalnya salah satu sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) Pati sekaligus mantan ketua NU Pati periode 2008-2013 wafat pada Kamis (20/4/2023) malam. KH. Imam Shofwan, yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Shofa Az Zahro Kecamatan Gembong ini menghembuskan nafas terakhir saat dalam perjalanan dari Rumah Sakit […]

  • PCNU-PATI

    Menu Berbuka yang Dianjurkan Rasulullah SAW

    • calendar_month Jum, 22 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 427
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda Menu berbuka puasa yang dianjurkan Rasulullah SAW sangat sederhana dan harus kita sesuaikan dengan kondisi negara masing-masing. Selain perintah Nabi Muhammad, sebenarnya kita sendiri jika mengacu ilmu medis dan anjuran Islam, banyak sekali makanan sehat dan berkhasiat yang bisa dikonsumsi saat berpuasa. Sebab, jika memakan makanan haram dan tidak menyehatkan tentu selain […]

  • Ulama Standar Ganda. Photo by Fabien Bazanegue on Unsplash.

    Ulama Standar Ganda

    • calendar_month Kam, 2 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 425
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Dari sekian juta orang islam di Indonesia, coba kita ambil sampel, 1.000 orang secara random. Lalu, kita kelompokkan siapa yang melakukan shalat tahajjud rutin. Golongan ke dua, shalat dhuha rutin dan golongan terakhir, yang tak pernah absen shalat lima waktu. Tentu jawabannya sudah bisa di prediksi. Kesalehan ritual bukan lagi sebuah […]

  • GP Ansor Pati Dukung Muktamar Digelar Tahun Ini

    GP Ansor Pati Dukung Muktamar Digelar Tahun Ini

    • calendar_month Ming, 26 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 511
    • 0Komentar

       Itqonul Hakim, ketua GP Ansor Kabupaten Pati PATI – Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pati Itqonul Hakim menyatakan mendukung penuh jika Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 digelar tahun ini. Ia menyebut forum tertinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang tertunda satu tahun kini telah memungkinkan digelar mengingat pandemi Covid-19 cukup berhasil […]

expand_less