Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Peran Tasawuf dalam Perkembangan Islam di Indonesia

Peran Tasawuf dalam Perkembangan Islam di Indonesia

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 8 Agu 2019
  • visibility 883
  • comment 0 komentar

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan tingkat keragaman –baik budaya, karakteristik, watak, ras, agama, dll- yang tinggi. Tingginya tingkat keragaman berpotensi besar menimbulkan perselisihan dan konflik. Maka salah satu nilai penting yang dibutuhkan bangsa ini dalam menghadapi perbedaan adalah toleransi. Hal itu yang dilakukan oleh Walisongo dalam menyebarkan Islam di nusantara.

Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia bukan tanpa alasan, pendekatan tasawuf yang digunakan oleh Walisongo memberi pengaruh besar terhadap berkembangnya Islam di Indonesia dan Asia Tenggara. Bandingkan dengan negara lain di mana Islam datang melalui peperangan atau senjata, Islam sulit berkembang.

Para pendakwah Islam datang ke nusantara membawa ajaran agama Islam, bukan kemasan namun substansinya. Walisongo sukses mengajarkan substansi Islam menggunakan pendekatan tasawuf melalui berbagai bidang kehidupan masyarakat.

Sebelum Islam, di Indonesia telah ada berbagai macam aliran kepercayaan, animisme, dinamisme, Hindhu, dan Buddha. Budaya yang telah melekat dalam kehidupan bermasyarakat tidak lantas diharamkan dan dihancurkan, namun tetap dijalankan sedemikian rupa sehingga masyarakat tidak merasakan ancaman.

Sebagai contoh penggunaan Bedug sebelum Adzan, tradisi wayang, kondangan, atau peringatan 7 hari, 100 hari, 1000 hari dari meninggalnya saudara. Oleh Walisongo berbagai kekayaan tersebut dihiasi dengan ajaran agama Islam sehingga tidak ada yang menyimpang. Tradisi nusantara itu menyatu dengan alam, dan ini sesuai dengan ajaran agama Islam.

Pernah suatu ketika seorang sahabat melihat seseorang sholat menghadap pohon, kemudian dilaporkan kepada Rasulullah. Rasulullah bertanya ciri-ciri orang yang dimaksud kemudian menjawab, “itu adalah (Nabi) Khidzir, sampaikan salamku kepadanya”. Apakah Khidzir musyrik? Beliau sudah mencapai tingkat tertinggi dalam tasawuf di mana tidak ada yang benar-benar wujud kecuali Allah SWT. Alam ada karena diciptakan oleh Allah, penampakan alam hanyalah kamuflase –dalam bahasa kita wujud yang relatif-, Allah menyebut dirinya Al-Haqq sementara alam adalah tajallinya Allah, seluruh alam berzikir kepada Allah.

Dengan demikian kita tidak akan mudah mengkafirkan orang lain, kalau masih ada orang yang mudah menyalahkan maka ia harus banyak lagi belajarnya. Kebenaran dalam Islam itu ada dimana-mana maka ambillah yang tercecer di antara kamu sekalian. Orang Arif tidak pernah mencari kambing hitam, namun diam-diam menyelesaikan masalah tanpa menepuk dada.

Tasawuf jika diterapkan dalam berbagai bidang akan sangat menyejukkan dan membawa kita hidup dalam kedamaian. Tasawuf adalah teosofi, pendalamannya berkelanjutan. Tasawuf dan fiqh adalah dua hal yang saling menopang dalam garis vertikal dan sama-sama berangkat menuju garis horizontal –menuju Allah-. Maka dalam beragama, tasawuf dan fiqh tidak bisa ditinggalkan salah satunya tetapi saling mengisi dan melengkapi.

Begitu pula dalam mencari ilmu, epistemologi keilmuan kita jangan hanya terpaku pada materi, harus ditambah dengan epistemologi ilmu laduni, ilmu yang diberikan langsung oleh Allah. Ilmuwan muslim abad pertengahan mampu menghasilkan karya yang gemilang dalam bidang astronomi, matematika, kimia, atau kedokteran padahal laboratorium belum secanggih sekarang, tetapi perhitungan mereka tepat. Tidak lain karena Allah yang mengajarinya, ‘allamal insana ma lam ya’lam, mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya.

Alangkah miskinnya seorang murid, jika gurunya hanya manusia. Belajar kepada guru yang alim adalah jalan mendapatkan ilmu, berguru pada Allah maka akan mendapatkan ilmu yang tidak kita ketahui. Ilmuwan muslim dulu selalu berguru dengan “sajadah tengah malam”, qiyamullail sehingga petunjuk Allah langsung datang pada kita.

Dirangkum oleh : Sofyan An Nasyr (Divisi Diklat LTN-NU Pati, Dosen IPMAFA)
Disarikan dari penyampaian
Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A;
Imam Besar Masjid Istiqlal dan Rektor PTIQ Jakarta
Dalam Seminar Internasional “Toleransi di Kawasan Asia Tenggara”
Oleh MUI Kota Salatiga, 3 Agustus 2019

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Paradigma Kaum Terdindas

    • calendar_month Rab, 9 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 640
    • 0Komentar

    Dalam memahami islam bukanlah dengan mengeluh dan meratap. Kita membahas penderitaan demi adanya suatu kesadaran akan penderitaan itu. Ajaran yang kita yakini yaitu islam harus menjadi landasan kerja, kegiatan, pemikiran. Memahami islam ada beberapa cara menurut Dr. Ali Syari’ati yaitu, Mengenal Allah atau islam dengan membandingkan dengan sesembahan lainnya, Kitab suci Al-Quran dengan kitab-kitab lainnya, […]

  • ‎Terima Kunjungan Delegasi Taiwan, PWNU Jawa Tengah Buka Peluang Kemitraan Pendidikan Internasional

    ‎Terima Kunjungan Delegasi Taiwan, PWNU Jawa Tengah Buka Peluang Kemitraan Pendidikan Internasional

    • calendar_month Sen, 8 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 15.931
    • 0Komentar

    ‎Semarang, 8 Juni 2026 — Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menerima kunjungan delegasi dari Huang Kuang University, Taiwan, yang diwakili oleh Mr. Shang-Fu Tsai, Administrative Specialist, Cooperative Development Center, Office of the International Foundation Program. Kunjungan ini bertujuan untuk menjajaki peluang kerja sama di bidang pendidikan, khususnya bagi sekolah dan madrasah di bawah […]

  • Ketua IPPNU Gembong Komitmen Tak Akan Menikah Sebelum Jabatannya Usai

    Ketua IPPNU Gembong Komitmen Tak Akan Menikah Sebelum Jabatannya Usai

    • calendar_month Sab, 1 Jan 2022
    • account_circle admin
    • visibility 362
    • 0Komentar

      Para Pengurus Anak Cabang IPNU/IPPNU Gembong setelah menjalani Oruentasi All Pengurus GEMBONG – Minggu (26/12/2021) lalu, Pengurus Harian PAC IPNU IPPNU Gembong telah melaksanakan Orientasi All Pengurus. Kegiatan yang berlangsung di MI Hidayatul Islam Sentul diawali dengan pembekalan materi yang bersifat umum, seperti menganalisis potensi bagi PAC IPNU IPPNU Gembong dalam satu periode ke […]

  • Tiga Desa di Gabus Pati Diterjang Puting Beliung, Puluhan Rumah Rusak

    Tiga Desa di Gabus Pati Diterjang Puting Beliung, Puluhan Rumah Rusak

    • calendar_month Sab, 15 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 610
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id, Pati – Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, Jawa Tengah diterjang angin puting beliung, Sabtu (15/2/2025) sore. Akibatnya, puluhan rumah di tiga desa rusak. Tiga desa yang diterjang angin puting beliung yakni Desa Tambahmulyo, Desa Gabus dan Desa Penanggungan. Angin puting beliung itu datang sekitar pukul 15.00 WIB. Desa yang mengalami kerusakan terparah yakni Desa […]

  • PCNU-PATI Photo by Mufid Majnun

    Jodoh Buat Bu Bidan Cantik

    • calendar_month Ming, 22 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 418
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin Chapter 4 “Suami?” “Iya, dengar, Shanaya. Aku ….” “Stop! Jangan berani mendekat!” Kepala Shanaya tetiba terasa berdenyar. Tangannya terkulai lemas bagai pelepah daun pisang yang layu. Kakinya terasa meleot seperti karet gelang dan jantungnya menggelosor sampai ke ujung kaki. Wajahnya yang sepucat kapas masih beradu dengan wajah kusut dan kaku di […]

  • Sunarni, pedagang bakso asal Bumirejo Pati, saat mempraktikkan cara membuat bakso dalam pelatihan yang diinisiasi PR Fatayat NU Bumirejo, Ahad (17/5/2026) malam. (Foto: Istimewa)

    Gelar Pelatihan Bikin Bakso, Fatayat NU Bumirejo Dorong Lahirnya UMKM untuk Koperasi Merah Putih

    • calendar_month Sel, 19 Mei 2026
    • account_circle Musthofa Asrori
    • visibility 14.378
    • 0Komentar

      Pati, NU Online Pimpinan Ranting Fatayat Nahdlatul Ulama Bumirejo, Margorejo, Pati, Jawa Tengah, menginisiasi pelatihan pembuatan bakso bagi anggota Fatayat setempat sebagai upaya meningkatkan kreativitas sekaligus mendorong lahirnya pelaku UMKM baru di desa tersebut. Kegiatan yang diikuti sekitar 30 peserta itu digelar pada Ahad (17/5/2026) malam. Ketua PR Fatayat NU Bumirejo, Fitriya Dwi Noor […]

expand_less