Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ganyang FDS

Ganyang FDS

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 22 Agu 2017
  • visibility 203
  • comment 0 komentar

Banyak tokoh yang menyatakan bahwa sedekah terbaik adalah meninggalkan generasi dengan kualitas unggul. Anak-anak yang dilahirkan dari rahim ibunya bukanlah hard diskyang hanya dijejali dengan bermacam program (yang dianggap) unggulan. Mereka bukan pula sebuah objek yang digunakan sebagai kelinci percobaan dalam eksperimen regulasi pendidikan. dengan presepsi demikian, maka selain harus mendapatkan nutrisi otak, anak juga wajib mendapatkan nutrisi hati.
dalam istilah syariat islam dikenal adanya pola dialektika antara hati dan akal. Nutrisi akal berisi bekal-bekal kognisi untuk menunjang kemampuan berfikir dan meningkatkan intelektualitas anak. Sementara nutrisi hati tidak hanya berkutat pada materi keagamaan saja, namun kebahagiaan anak serta perasaan nyaman selama menjalani proses pendidikan adalah esensinya. Kedua nutrisi tersebut harus berjalan dalam dimensi integral demi tercapainya cita-cita bangsa. Nutrisi hati dipasok untuk menunjang akhlak, perangai dan sikap-sikap anak, sementara nutrisi otak adalah landasan pengetahuan untuk berperilaku.
Hanya dengan metode itulah generasi-generasi model akan mengibarkan bendera kemajuan. Bukan dengan program-program yang lahir atas kepentingan politis apalagi bertujuan untuk menggempur tradisi pendidikan yang telah ada.
Karakter Bangsa
Bangsa Indonesia ‘dikuasai’ oleh sedikitnya dua ratus juta jiwa yang memeluk agama islam—asumsi ini lahir dari presentase republika per januari 2016. Jika mau, kaum muslim Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk memberangus agama lain di negeri ini. Namun itu semua tidak dilakukan. Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi perdamaian antar agama di Indonesia, yakni landasan yuridis formal dan landasan sosio-struktural.
Landasan formal tertera pada UUD 1945 dan pancasila.Namun diluar dua pilar tersebut, ada satu faktor sosio-struktural yang selama ini tidak disadari oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, eksistensi NU (Nahdlatul Ulama).
Sudah menjadi rahasia umum jika NU menyandang gelar sebagai ormas dengan anggota terbesar di Indoensia. Secara administratif agaknya memang sedikit sulit—mendekati mustahil—untuk mendeteksi jumlah warga NU di Indonesia. Namun, NU kultural menjamur hampir di setiap sudut ruang Nusantara.
Dengan jumlah yang begitu besar, maka tidak berlebihan jika menyebut NU sebagai representasi dari wajah islam di Nusantara. Meminjam istilah Gus Mus, bahwa NU-lah yang pertama kali harus bertanggung jawab jika terjadi pergolakan sosial di Indonesia sebab NU adalah mayoritas.
Masih hangat dalam benak bangsa Indonesia bahwa ACF (organisasi dunia yang bergerak di bidang HAM, kebebasan dan perdamaian antara umat beragama) pernah menghadiahkan penghargaan perdamaian kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 2013 silam. “keberhasilan SBY” dalam menciptakan bangsa yang demokratis dengan jumlah muslim terbanyak adalah satu hal yang melatarbelakangi ACF menganugerahkan penghargaan tersebut.
Tentunya SBY tidak berjalan sendirian. Ada NU yang berperan sebagai “invisible hand”dibelakang SBY kala itu. Andaikan mayoritas umat islam di Indonesia tidak didominasi oleh kaum nahdliyin, maka dapat dipastikan konfrontasi dan disharmonisasi antara agama, ras dan suku bangsa di Indonesia akan selalu menghiasi media massa. Karena memang tidak mudah meruwat integrasi dalam kebhinekaan. Untung ada NU!
NU—warga NU—yang moderat, tidak dibangun dengan tongkat ajaib dan mantra sabda dadikun fa yakun. Bukan pula dibangun dengan full day school(FDS) yang sekarang sedang gencar di media massa. Karakterisitik moderat ini tumbuh dan berkembang kemudian eksis di tengah-tengah masyarakat Indonesia melalui proses pendidikan yang begitu khas dan hanya dimiliki islam di Nusantara ini.Ada pesantren, madrasah diniyah dan majelis-majelis ta’lim yang telah berjasa membentuk islam yang ramah di negeri ini, bukan islam yang kaku dan profokatif.
Pendidikan menjadi alat vital pembentukan karakter bangsa. Perubahan kebijakan terhadap dunia poendidikan secara tidak langsung akan memberikan dampak bagi situasi sosial di masyarakat. Jelasnya, transformasi sekecil apapun dalam dunia pendidikan turut bertanggung jawab atas apa yang terjadi di masa mendatang. Oleh sebab itu, pengambilan keputusan serta pembuatan kebijakan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang memiliki benang merah dengan pendidikan harusnya memperhatikan aspek-aspek tersebut. Bukan malah meng-ACC apa lagi menciptakan kebijakan yang nantinya akan menyeret masyarakat Indonesia menjauh dari budaya luhurnya.
Fenomena FDS
Right man in the right place (orang baik yang berada dalam zona yang baik pula) merupakan komposisi sempurna dalam progresifitas suatu lembaga. Begitu pula dengan kebijakan yang diambil pemerintah harus mempertimbangkan aspek-aspek domestik dimana kebijakan itu akan diterapkan. Jika madharat yang dihasilkan akan lebih besar, maka tangguhkanlah.
Polemik pelaksanaan full day school menjadi buah bibir akhir-akhir ini. Pro-dan kontra seakan menjadi sajian wajib media massa. Banyak negara Eropa yang menggunakan model ini. Namun yang perlu diingat, bahwa Indonesia bukan Eropa.
Beberapa pakar yang tidak sepakat dengan pengaplikasian FDS di Indonesia menilai dari sisi ekonomi, psikologi, sosiologi dan berbagai logi-logi yang lainnya. Namun artikel ini berupaya menggali suara “NO” terhadap FDS melalui analogi NU meskipun nantinya akan ada pembahasan dari aspek-aspek lain sebagai wawasan.
Moderasi NU tak tertangguhkan lagi. Karakteristik bangsa moderat dan demokratis yang dimiliki oleh Indonesia tak lain dan tak bukan terlahir dari proses pendidikan baik formal, non formal maupun informal. NU dengan kapasitasnya sebagai ormas keagamaan memegang peranan penting dalam ranah edukasi. Hampir seluruh warga Nahdhiyin merasakan madrasah diniyah yang “tidak terlalu” formal.
Madrasah diniyah (Madin) memegang kontribusi besar yang selama ini  tidak terurai. namun jika FDS benar-benar diterapkan, maka cepat atau lambat, Madin akan segera punah dari bumi Indonesia. Salah satu tokoh nahdliyin Jawa Tengah pernah mengungkapkan bahwa melalui madrasah diniah-lah akhlak al akrimahummat islam Indonesia terbentuk.
Dengan kata lain, Madin menjadi pelopor islam moderat,rohmatan lil alamin (pembawa pesan damai bagi alam semesta) yang menjadi ikon di Indonesia. Apabila FDS terlaksana secara masif di Nusantara, maka bukan cuma Madin yang hilang. Lebih dari itu, islam yang kaku, kolotdan intoleran akan segera menguasai negeri ini. Jika sudah demikian, maka siapa yang mau bertanggung jawab? Menteri pendidikan? tentu saja bukan! (Maulana L. Karim Penulis merupakan Ketua Kader Penggerak Nahdlatul Ulama Kec. Gembong dan Pimpinan Redaksi Majalah Pribumi Pati)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Porsema LP Ma’arif NU di Gelar di SMK NU Pati

    Porsema LP Ma’arif NU di Gelar di SMK NU Pati

    • calendar_month Sab, 4 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Pati. Lembaga Pendidikan Ma’arif NU merupakan salah satu lembaga yang melaksanakan kebijakan NU di bidang pendidikan formal seperti madrasah. Maka pada kesempatan kali ini LP Ma’arif mengadakan Porsema (Pekan Olah Raga dan Seni Ma’arif NU) yang dilaksanakan di SMK NU Margorejo Pati, 25-26/2 kemarin.             “ Kami sengaja melaksanakan Porsema kali ini di sekolah baru  […]

  • PCNU-PATI

    Banjir di Bulan Ramadhan

    • calendar_month Sen, 18 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Bulan Ramadhan selalu disambut dengan sukacita oleh umat Islam di seluruh dunia. Bulan penuh berkah ini menjadi momen untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, melalui ibadah puasa, shalat tarawih, dan berbagai amalan baik lainnya. Namun, tak jarang ujian dan cobaan datang di saat-saat seperti ini, seperti musibah banjir yang kerap […]

  • Siswa MAN 1 Pati Kunjungi KPU, Ini Tujuannya

    Siswa MAN 1 Pati Kunjungi KPU, Ini Tujuannya

    • calendar_month Jum, 9 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 241
    • 0Komentar

    PATI – Puluhan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kabupaten Pati mendatangi kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, pada Kamis (8/9/2022) pagi. Di dampingi oleh para guru, mereka belajar memahami pendidikan politik. Hal itu agar nantinya mereka dapat berperan aktif di masyarakat ketika sudah mempunyai hak pilih.  Salah satu siswa kelas X MAN 1 Pati, […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Membersihkan Kanopi Makna Puasa

    • calendar_month Ming, 8 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.644
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda   Dalam arti sederhana, KBBI (2026) menyebut kanopi sebagai tirai atau langit-langit dari terpal, kain, logam dan sebagainya. Lalu, apa relevansi kanopi dengan makna puasa? Ya, mari kira kaji satu persatu, Mas Bro!   Dalam Islam, puasa bukan soal ngeleh dan ngorong saja. La terus apa? Tak sekadar itu, puasa merupakan proses spiritual yang di […]

  • Pusat Pergerakan NU di Kampung: Masjid

    Pusat Pergerakan NU di Kampung: Masjid

    • calendar_month Sab, 8 Feb 2020
    • account_circle admin
    • visibility 180
    • 0Komentar

    Kebanyakan Pengurus Ranting NU tidak mempunyai kantor. Kantor organisasi numpang di rumah Ketua Tanfidziyah sebagai pelaksana program organisasi yang ditetapkan syuriyah. Meskipun syuriyah sebagai pemegang kebijakan organisasi, NU di kampung sangat cair. Kebijakan organisasi dibicarakan bersama-sama antara Ketua Tanfidziyah dan Rais Syuriyah, bahkan dirapatkan bersama antar seluruh pengurus syuriyah dan tanfidziyah. Bahkan banyak terjadi ketua […]

  • IPNU-IPPNU Margoyoso Resmi Dilantik

    IPNU-IPPNU Margoyoso Resmi Dilantik

    • calendar_month Sab, 18 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 223
    • 0Komentar

    Proses pelantikan Pengurus Anak Cabang IPNU Margoyoso PATI – Jum’at (17/9) pagi Pelajar NU Kecamatan Margoyoso menggelar pelantikan dan Rakerancab. Kegiatan yang bertempat di Gedung TPQ Baitur Rahman ini berlangsung mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 12.30 WIB.  Dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, para peserta dan tamu undangan yang datang diwajibkan memakai masker. Bukan […]

expand_less