Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Semar dan Agama Kapitayan : Religiusitas Leluhur Nusantara

Semar dan Agama Kapitayan : Religiusitas Leluhur Nusantara

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 30 Okt 2021
  • visibility 1.622
  • comment 0 komentar

Oleh : Aditiya Tri Utami*

images2b252862529-5168534
Ilustrasi Semar Badranaya (sumber : islamindonesia.id)

Beragama bagi orang nusantara erat kaitannya dengan ibadah dan ritual mistik. Orang-orang nusantara pra-Hindu meyakini bahwa setelah kematian jiwa aka nada kehidupan yang kekal di alam ruh. Bagi orang jawa kuno, keyakinan ini tidak lain merupakan agama jawa asli. Mereka percaya bahwa jenazah yang dikubur mujur ngalor dan jiwanya disembahyangkan, kelak jiwa itu akan kembali ke asal-usulnya. Dengan demikian secara pasti ada hubungan antara jiwa seseorang yang mati melalui makam dimana ia berfungsi sebagai medium menyembahyangkan dan representasi kematian seseorang (Suwardi, 2015)

Dari penilitian-penilitian ilmiah ihwal etnis penghuni Nusantara, diketahui bahwa semenjak zaman Pleistosen akhir para penghuni kuno kepulauan Nusantara sudah mengenal peradaban, termasuk yang berkaitan dengan agama. Semua aktifitas ekonomi dan budaya sejak zaman batu sampai zaman logam menunjukkan pada tanda-tanda adanya hubungan integral antara kebudayaan dengan agama. Penghuni Nusantara mempunyai agama kuno yang mereka sebut kapitayan. Terkhusus orang jawa meyakini bahwa penganjur kapitayan adalah Dahyang Semar, Putra Sanghyang Wungkuhan keturunan Sanghyang Ismaya. Dahyang Semar berasal dari Lemuria atau Swetadwipa, benua yang tenggelam akibat banjir besar hingga akhirnya ia dan pengikutnya mengungsi ke pulau jawa.

Secara sederhana kapitayan dapat digambarkan sebagai suatu ajaran keyakinan yang memuja sesembahan utama yang disebut Sanghyang Taya, yang bermakna “hampa”, “kosong”. Taya bermakna pula “Yang Absolut”, yang tidak bisa dipikir dan dibayang-bayangkan, tidak bisa didekati dengan panca indera. Orang jawa kuno mendefinisikan Sanghyang Taya dalam satu kalimat, tan kena kinaya ngapa alias tidak bisa direka-reka keberadaan-Nya.

Dalam menjalankan berbagai ritualnya, para penganut Kapitayan beribadah menyembah Sanghyang Taya (Sembahyang). Lokasi tempat sembahyang disebut dengan “sanggar”, bangunan persegi empat beratap tumpang dengan lubang ceruk di dinding sebagai lambang kehampaan Sanghyang Taya.

Tata cara sembahyang meliputi: Pertama, tutuk, yaitu menghadap lubang ceruk. Kedua, tulajeg (berdiri tegak) yang dilakukan relative lama. Ketiga, swadikep mengakat kedua tangan keatas sambil menghadirkan Sanghyang Taya di dalam hati (tutu-d) lalu diturunkan dan didekapkan di dada tepat pada hati. Keempat, tungkul, yaitu membungkuk memandang ke bawah. Posisi tungkul juga dilakukan relative lama. Kelima, tulumpak, yaitu bersimpuh dengan kedua tumit diduduki. Keenam, tondhem, yaitu bersujud seperti bayi dalam perut ibunya. Proses sembahyang ini biasa dilakukan dalam waktu lebih dari satu jam (Agus Sunyoto, 2012).

*aktivis kebudayaan

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Porsema XII didukung Pemkab Semarang secara Penuh

    Porsema XII didukung Pemkab Semarang secara Penuh

    • calendar_month Kam, 9 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 451
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Semarang – Dalam rangka menyambut peserta Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XII, Bupati Kabupaten Semarang menggelar Welcom Party Porsema XII Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah yang bertempat di Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang, Sidomulyo, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis malam (9/2/2023). Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH. M. […]

  • Imaratul Masjid Butuh Kekompakan

    Imaratul Masjid Butuh Kekompakan

    • calendar_month Sel, 16 Jan 2018
    • account_circle admin
    • visibility 497
    • 0Komentar

    Pati. Nadhir Masjid mempunyai tugas mempersatukan seluruh warga masyarakat untuk memakmurkan masjid. Nadhir Masjid harus aktif mengadakan rapat untuk menyatukan berbagai pandangan yang tidak sama. Dengan langkah langkah nyata nadhir Masjid insya Allah mampu meramaikan masjid sebagai Baitullah yang harus dimuliakan. Jangan sampai perbedaan dibiarkan karena akan menjadi bola liar yang berbahaya bagi imaratul Masjid […]

  • PCNU-PATI

    Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi

    • calendar_month Kam, 15 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 469
    • 0Komentar

    Penyajian materi melalui rangkaian cerita dialog dan perdebatan secara langsung antara orang-orang yang berbeda pendapat merupakan salah satu metode yang sangat efektif untuk menyampaikan bahasan seputar akidah Ahlussunnah wal jamaah. Perdebatan antara para ulama memang terjadi secara langsung dalam forum-forum dialog terbuka maupun melalui buku yang saling berbantah. Para ulama masa dahulu sudah terbiasa menggunakan kedua […]

  • Pantik Nalar Kritis Kader, IPNU IPPNU Pati Bedah Film "Pesta Babi"

    Pantik Nalar Kritis Kader, IPNU IPPNU Pati Bedah Film “Pesta Babi”

    • calendar_month Ming, 17 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 14.280
    • 0Komentar

      ​pcnupati.or.id – Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Pati menggelar acara nonton bareng (nobar) film dokumenter di halaman Gedung PCNU Pati, Sabtu (16/5/2026) malam. ​Film yang diputar adalah karya terbaru dari sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Dale yang berjudul “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”. […]

  • PCNU- PATI Photo by geralt

    “Wuih Kompak Amat”

    • calendar_month Sen, 7 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 403
    • 0Komentar

    Oleh : M Iqbal Dawami Cerita lucu ini berawal ketika menjelang Isya beberapa warga bergegas ke masjid untuk azan. Belum lagi sampai masjid terlihat seorang pemuda dengan tampang klimis dan dihiasi jenggot sedang menyapu di lantai masjid. Azan dimulai, jamaah pun berdatangan dan siap mendirikan shalat Isya berjamaah. Sang pemuda yang tadi menyapu segera saja […]

  • Konsolidasi Kegiatan Silaturrahim dan Turba MWC NU Wedarijaksa

    Konsolidasi Kegiatan Silaturrahim dan Turba MWC NU Wedarijaksa

    • calendar_month Jum, 19 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 607
    • 0Komentar

    KH. Munadi (Rois Syuriah) memberikan pengarahan terkait persiapan kegiatan. Dok: Mubarok Wedarijaksa – Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama Kec. Wedarijaksa sore ini (19/7) mengadakan rapat konsolidasi persiapan kegiatan besar di Kantor MWC NU Wedarijaksa. Rapat yang dipimpin langsung oleh M. Nabhan Ulin Nuha selaku ketua Tanfidziyah itu mengagendakan jadwal kegiatan Silaturrahim dan Turba ke […]

expand_less