IPMAFA Pati Lepas 213 Mahasiswa KKN di Pati dan Jepara untuk Perkuat Ekonomi Desa
- account_circle admin
- calendar_month 57 menit yang lalu
- visibility 21.103
- comment 0 komentar

IPMAFA Pati Lepas 213 Mahasiswa KKN di Pati dan Jepara untuk Perkuat Ekonomi Desa
PATI– Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati menerjunkan 213 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2026 dengan mengusung tema “Desa Berdaya Berbasis Potensi Lokal: Industri, Pertanian, dan Pariwisata”. Kegiatan ini berlangsung di Aula 1 kampus setempat, Senin (2/11/2026).
KKN tahun ini dilaksanakan di dua wilayah, yakni Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, yang mencakup enam desa, serta Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, yang mencakup 19 desa. Dari total 213 peserta, sebanyak 54 mahasiswa ditempatkan di Kecamatan Bangsri dan 159 mahasiswa lainnya di Kecamatan Margorejo.
Peserta KKN berasal dari berbagai program studi di lingkungan IPMAFA, meliputi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Zakat dan Wakaf (ZAWA), serta Psikologi (PS). Seluruh peserta akan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat selama 45 hari.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPMAFA, Muhammad Lutfi Hakim, menyampaikan bahwa tema KKN tahun ini merupakan upaya strategis untuk mendorong pengembangan potensi lokal desa, khususnya pada sektor industri, pertanian, dan pariwisata.
Menurutnya, selama tiga tahun terakhir IPMAFA telah mengembangkan konsep KKN berbasis pemberdayaan masyarakat. Konsep tersebut menjadi bentuk implementasi nilai yang terkandung dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, yakni “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.” Artinya, pembangunan masyarakat perlu diawali dengan penguatan sumber daya manusia (SDM), sebelum mengembangkan berbagai potensi fisik dan ekonomi yang dimiliki desa.
“Tema tahun ini merupakan tema yang luar biasa. Beberapa waktu lalu, kami telah melaksanakan pembekalan secara intensif kepada peserta KKN. Harapannya, proses pembekalan tersebut mampu menghasilkan output yang luar biasa ketika mahasiswa terjun langsung ke masyarakat,” ungkap Lutfi Hakim.
Ia menjelaskan, sebelum program kerja dilaksanakan di lokasi KKN, mahasiswa terlebih dahulu melakukan observasi lapangan untuk mengenali kondisi, kebutuhan, permasalahan, serta potensi yang dimiliki masyarakat. Hasil observasi tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan program kerja (proker) yang dipresentasikan di hadapan tim monitoring dan evaluasi (monev).
Melalui tahapan tersebut, program kerja yang telah dipresentasikan dan disahkan oleh tim monev diharapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta dapat diimplementasikan secara optimal selama pelaksanaan KKN.
Lutfi Hakim juga berharap pemerintah kecamatan dan masyarakat di wilayah penempatan dapat memberikan pendampingan, arahan, serta dukungan kepada mahasiswa selama menjalankan kegiatan pengabdian selama 45 hari.
“Kami berharap selama 45 hari pelaksanaan KKN di wilayah Bangsri dan Margorejo, pemerintah kecamatan serta seluruh elemen masyarakat dapat mendampingi dan mengarahkan mahasiswa kami. Dengan demikian, program-program yang telah direncanakan dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama IPMAFA, Wakhrodi, menegaskan bahwa KKN bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik atau satuan kredit semester (SKS), melainkan ruang pembelajaran sosial sekaligus bentuk nyata pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat.
Ia menjelaskan, KKN tahun 2026 merupakan pelaksanaan KKN ke-16 sejak pertama kali diselenggarakan pada 2010. Selama perjalanan tersebut, IPMAFA secara konsisten mengembangkan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui berbagai model. Salah satunya adalah Participatory Action Research (PAR) berbasis masalah, yakni pendekatan yang mendorong mahasiswa berkolaborasi dengan pemangku kepentingan (stakeholder) setempat untuk mengidentifikasi persoalan dan merumuskan solusi bersama masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan KKN IPMAFA dikembangkan melalui konsep Asset-Based Community Development (ABCD), yaitu pemberdayaan masyarakat berbasis aset. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa setiap desa memiliki aset, potensi, dan sumber daya yang dapat dikembangkan secara bersama-sama.
“Kami meyakini bahwa setiap desa memiliki aset yang bisa dikembangkan. Karena itu, mahasiswa datang bukan untuk menggurui masyarakat, melainkan membawa perangkat atau tools pemberdayaan. Sebelumnya, mahasiswa juga telah dibekali bagaimana mengimplementasikan program menjadi kegiatan pemberdayaan yang sesuai dengan potensi desa,” jelas Wakhrodi.
Ia menegaskan bahwa KKN merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, KKN tidak hanya berorientasi pada pemenuhan SKS, tetapi juga menjadi kesempatan bagi kampus dan mahasiswa untuk belajar bersama masyarakat serta menghadirkan program-program pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata.
Wakhrodi juga mengapresiasi tema KKN tahun ini. Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dengan kebutuhan pengembangan ekonomi desa, terutama melalui integrasi sektor pertanian, industri pengolahan, dan pariwisata.
Ia menyoroti sektor pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan sebagian besar masyarakat desa. Meskipun memiliki potensi agraris, masyarakat petani belum tentu memperoleh kesejahteraan yang optimal. Keterbatasan lahan, biaya produksi, serta ketidakstabilan harga komoditas ketika panen menjadi sejumlah persoalan yang perlu mendapatkan perhatian.
“Petani sebenarnya memiliki pengalaman dan pengetahuan lokal yang luar biasa, termasuk dalam membaca musim dan menentukan waktu tanam. Namun, tenaga dan proses produksi mereka sering kali belum diperhitungkan secara optimal. Ketika panen tiba, justru harga komoditas mengalami penurunan. Ini menjadi tantangan yang perlu dibaca dan dikembangkan oleh mahasiswa,” ungkapnya.
Menurut Wakhrodi, mahasiswa memiliki peluang untuk membantu masyarakat menghubungkan potensi pertanian dengan sektor industri dan pemasaran. Kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi digital, khususnya digital marketing, dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas jangkauan pasar produk lokal.
Selain itu, pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah juga perlu dikembangkan agar komoditas desa tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. Dengan demikian, integrasi sektor pertanian, industri pengolahan, dan pemasaran diharapkan mampu menciptakan peluang ekonomi baru serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Wakhrodi juga berpesan agar mahasiswa senantiasa menempatkan masyarakat sebagai mitra sekaligus sumber pembelajaran selama menjalankan KKN. Ia menilai bahwa tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat saat ini telah berkembang pesat. Masyarakat memiliki pengalaman, wawasan, serta sumber informasi yang luas sehingga mahasiswa perlu membangun komunikasi yang setara dan saling menghargai.
“Jadikan masyarakat sebagai laboratorium sosial untuk mengasah kemampuan sekaligus berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. Gunakan bahasa yang santun dan tidak menggurui. Kita harus menyadari bahwa masyarakat memiliki pengalaman dan pengetahuan yang tidak selalu kita dapatkan di bangku perkuliahan. Mahasiswa juga harus memperhatikan serta menghormati kearifan lokal di setiap wilayah penempatan,” pesan dia. (Sis/LTN)
- Penulis: admin

Saat ini belum ada komentar