Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Menikah?

Menikah?

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 3 Jul 2022
  • visibility 449
  • comment 0 komentar

Menikah? Ah, bukan hal baru di telinga Farhan. Sudah sejak lama Nyai Haniva–Mejedik-nya membahas hal itu, tapi tak pernah ditanggapinya dengan serius karena ingin fokus dulu mematangkan ilmu serta hapalan Alqur’an selama di Tarim. Namun, sepertinya kali ini ia tak bisa lagi menganggap itu hal sepele. Nyai Haniva sudah membuatnya berhenti berpetualang dan membahas perjodohan itu kembali sejak ia menjejakkan kaki lagi di Bangkalan.

“Han, kamu satu-satunya Bani Baihaqi yang harus memenuhi wasiat Kaeh Abdullah untuk menikahi cucu sahabatnya. Lagipula kamu sudah matang dalam ilmu dan umur untuk segera menikah,” ucap Nyai Haniva kemarin malam.

“Bukannya aku tak mau, Mejedik. Aku sangat ingin menikah malah. Umurku sudah kelewat satu tahun dari umur Rasulullah ketika menikah dengan Sayyidah Khadijah.”

“Lalu?”

Sebuah helaan napas terdengar dari lelaki berperawakan jangkung dan kurus itu.

“Umurku memang sudah matang. Tapi gadis pilihan Mejedik itulah yang terlalu muda. Apa dia mau menikah denganku yang sudah tua?”

“Tua apanya. Umur 26 tahun itu masih sangat muda,” goda Nyai Haniva.

“Kami terpaut 10 tahun, Mejedik. Bagaimana kalau dia terpaksa?”

Pertanyaan yang masuk akal. Mereka memang belum pernah bertemu secara langsung. Berbicara via telepon saja tidak pernah apalagi mengobrol empat mata. Hanya saling tahu melalui mulut orang tua masing-masing. Tidak saling mengerti perasaan satu sama lain.

Bagaimana jika faktanya gadis itu terpaksa menerimanya. Tak pernah ia bayangkan jika harus menikahi gadis di bawah umur. Sepengetahuannya, gadis berusia di bawah tujuh belas tahun masih anak-anak dan pasti sangat manja. Ia hanya ingin menikah dan memiliki istri yang sepadan dan dewasa bukan malah mengasuh bocah.

“Witing tresno jalaran soko kulino. Mejedikrasa maqolah jawa ini patut dijadikan panutan. Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.”

Sudah ia duga nasehat itu yang akan keluar dari mulut Mejediknya. Nasehat kuno dalam dunia perjodohan. Atau dialog ampuh  yang sudah ada dalam novel-novel dengan tema perjodohan. Farhan tersenyum kecut. Benaknya diliputi kebimbangan.

“Bagaimana kalau ia menikah dengan Habib saja setelah Habib lulus kuliah? Umur mereka tidak terpaut jauh dan insyallah akan jadi pasangan yang cocok,” cetusnya memberi ide.

“Kau tahu aku hanya anak angkat Kaeh Abdullah, Han. Pesantren ini sepenuhnya milikmu. Hanya kamu yang berhak memenuhi wasiat Kaeh tentang perjodohan itu.”

Pandangan Mejedik Haniva menerawang. Sedangkan Farhan merasa bersalah tak sengaja membuat wanita yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya mengingat statusnya lagi. Hal itu tak pelak juga membuatnya teringat lagi peristiwa nahas yang menimpa Abuya-nya. Seolah ada ribuan jarum yang menusuk pada ulu hati Farhan. Perih. Tanpa Mejedik Haniva, entah bagaimana nasib dirinya dan pesantren Al-Ishlah. Pesantren yang sudah dibesarkan Kiai Abdullah, kakeknya.

“Tapi bagiku Mejedik bukan orang lain. Mejedik adalah ibu kami,” ujar Farhan kemudian. Membuat kedua mata wanita paru baya itu menghangat.

“Kalau kamu menganggap Mejedik adalah ibu kamu. Tolong penuhi permintaan Mejedik ini.”

Farhan kembali merenung. Pandangannya menyapu lantai. Lalu detik kemudian dengan sangat berat hati ia mengangguk.

“Tapi bolehkah aku menikah setelah mengabdi di pesantren Kiai Hamid Sampang, Mejedik? Aku hanya satu tahun di sana. Sekalian studi banding siapa tahu ada program bagus yang bisa diterapkan di sini.” Farhan meminta negoisasi sekali lagi.

“Baiklah kalau begitu.”

Satu tahun. Semoga cukup untuk mempersiapkan semuanya. Atau mungkin akan ada keajaiban yang bisa membuat perjodohan itu batal, pikir Farhan.

Farhan menoleh ke arah pintu. Sosok lelaki yang berdiri di sana membuyarkan lamunan panjangnya.

Raihan Habib Baihaqi atau biasa dipanggil Habib, menggeleng sambil berdecak ketika mendapati Farhan–sepupunya masih sibuk di depan koper. Memastikan kemeja dan sarung yang ia letakkan di sana semalam. Lalu lelaki berkulit sawo matang itu beralih memilah beberapa kitab klasik untuk dimasukkan ke dalam tas ransel.

Farhan memang sosok perfeksionis dan sangat menjaga penampilan. Baginya lebih baik tidak jadi mengisi ceramah tanpa muthola’ah matang terlebih dulu. Apalagi ini kali pertama ia diundang di acara besar setelah satu bulan sekembalinya dari bumi seribu wali, Tarim.

Berbanding terbalik dengan Habib yang cenderung cuek dan santai. Ia hanya perlu satu stel pakaian muslim, dua potong kaos dan satu celana jeans. Yang penting kamera DSLR dan i-phone sudah masuk ke dalam tas. Dua benda itu sudah seperti napasnya. Jauh-jauh hari ia mendengar bahwa Wonosobo memiliki panorama yang sangat memukau. Juga dataran tinggi Dieng yang menjadi ikon kota ini terdapat banyak objek wisata. Sebagai seorang yang cukup lama menekuni dunia photography, tentu ini momen penting untuk mengabadikan maha karya Sang Pencipta.

“Kita hanya akan pergi ke acara harlah. Bukan untuk untuk umroh, Bung,” ledek Habib. Namun Farhan tak menggubris. Ia tetap fokus pada setumpuk kitab di depannya.

“Kakeh nonggu urrok ah? (Kau yakin akan ikut?).”

Farhan menoleh pada sepupunya yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia tahu pasti Gutteh Syuaib tak pernah setuju jika putra semata wayangnya itu ikut. Baginya, Habib hanya akan terlihat seperti kacung Farhan. Namun, ibunya bersikeras Habib harus ikut untuk menambah ilmu dan wawasan. Tidak melulu fokus dengan tugas kuliah yang memusingkan.

“Aku bukan anak kecil lagi, Han. Aku bersedia ikut untuk mencari angin segar. Urus saja nasibmu sendiri yang sebentar lagi akan menikah,” ejeknya lagi sambil terkekeh dan berlalu  dari hadapan Farhan.

Farhan menghela napas, berusaha menentramkan hati. Ia tak ingin disibukkan dengan memikirkan calon istrinya yang masih bocil itu. Lebih baik ia memikirkan materi mauidzoh hasanah di acara harlah besok. ( Elin Khanin)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketika Peradaban dikendalikan Amarah dan Syahwat

    Ketika Peradaban dikendalikan Amarah dan Syahwat

    • calendar_month Sel, 21 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.230
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (18/4) malam kembali mengajak kita merenung: bagaimana menjaga kemanusiaan di tengah zaman yang tak malu memamerkan kekejaman secara telanjang. Dengan mengangkat tema “Manusia, O Manusia”, kita diajak mengritisi proses de-humanisasi yang sedang berlangsung. Salah satunya seperti yang ditunjukkan dalam peperangan yang saat […]

  • Bersama KKN IAIN Kudus, PAC IPNU IPPNU Dukuhseti Sosialisasikan Pendirian Komisariat

    Bersama KKN IAIN Kudus, PAC IPNU IPPNU Dukuhseti Sosialisasikan Pendirian Komisariat

    • calendar_month Sab, 11 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 500
    • 0Komentar

    Para Pengurus Anak Cabang IPNU dan IPPNU Dukuhseti berpose bersama mahasiswa KKN IAIN Kudus DUKUHSETI – Bekerjasama dengan tim KKN IAIN Kudus, PAC IPNU IPPNU Kecamatan Dukuhseti akan melakukan sosialisasi terkait pendirian komisariat di MTs dan MA se-Kecamatan Dukuhseti. Untuk menyiapkan segala sesuatunya, PAC IPNU IPPNU Dukuhseti dan tim KKN IAIN Kudus mengadakan rapat terkait […]

  • Api Unggun dan Penutupan Resmi oleh Sekjen Ma’arif PBNU

    Api Unggun dan Penutupan Resmi oleh Sekjen Ma’arif PBNU

    • calendar_month Sel, 23 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 6.695
    • 0Komentar

      Suasana khidmat dan penuh keakraban terasa pada malam api unggun sekaligus penutupan Kemah Kemanusiaan dan Perdamaian Sako Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah. Kegiatan ini secara resmi ditutup oleh Sekretaris Jenderal LP Ma’arif PBNU, Haryando Oghie, pada Kamis (19/12/2025) malam. Api unggun menjadi simbol persatuan dan semangat kebersamaan seluruh peserta. Berbagai refleksi dan penampilan singkat […]

  • Kemenag Kucurkan Bantuan untuk Pesantren

    Kemenag Kucurkan Bantuan untuk Pesantren

    • calendar_month Sen, 2 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 492
    • 0Komentar

    JAKARTA-Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) membuka tangan lebar-lebar bagi para pengelola pondok pesantren di seluruh Indonesia. Baru-baru ini, melalui Direktorat Pendidikan Islam Subdit Pendidikan Pesantren, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI membuka penerimaan proposal bantuan.] Setidaknya ada tiga jenis peruntukan bantuan yang ditawarkan oleh Kemenag. Di antaranya, pendidikan lifeskill dan pengembangan ekonomi pesantren; bantuan pesantren […]

  • PCNU-PATI

    Ramadan di Pati Bumi Mina Tani

    • calendar_month Sab, 23 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 585
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* “Poso kok ora bali Dukuhseti piye leh?” Seorang teman bertanya sembari menegaskan saya diharapkan ke tempat kelahiran di Desa Dukuhseti, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. Menjalankan ibadah Ramadan di tempat kelahiran meman beda. Beda sekali. Saya kira tidak hanya di Pati. Setiap tempat kelahiran menyimpan ruang-ruang memori yang indah ketika momentum Ramadan. Sebab, […]

  • Korban Kebakaran dapat Bantuan dari NU

    Korban Kebakaran dapat Bantuan dari NU

    • calendar_month Jum, 1 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 592
    • 0Komentar

    NU Care- LAZISNU Kabupaten Pati telah melaksanakan pendistribusian bantuan untuk korban kebakaran di desa Pagerharjo, Rabu (30/10). Pada kegiatan tersebut LAZISNU Pati turut serta menggandeng Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Wedarijaksa beserta banomnya. Diketahui kebakaran terjadi hari selasa sekira pukul 14.00 WIB di desa Pagerharjo dukuh Prapeyan Rt 03 Rw 02 Kecamatan Wedarijaksa. Akibat […]

expand_less