Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Menikah?

Menikah?

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 3 Jul 2022
  • visibility 384
  • comment 0 komentar

Menikah? Ah, bukan hal baru di telinga Farhan. Sudah sejak lama Nyai Haniva–Mejedik-nya membahas hal itu, tapi tak pernah ditanggapinya dengan serius karena ingin fokus dulu mematangkan ilmu serta hapalan Alqur’an selama di Tarim. Namun, sepertinya kali ini ia tak bisa lagi menganggap itu hal sepele. Nyai Haniva sudah membuatnya berhenti berpetualang dan membahas perjodohan itu kembali sejak ia menjejakkan kaki lagi di Bangkalan.

“Han, kamu satu-satunya Bani Baihaqi yang harus memenuhi wasiat Kaeh Abdullah untuk menikahi cucu sahabatnya. Lagipula kamu sudah matang dalam ilmu dan umur untuk segera menikah,” ucap Nyai Haniva kemarin malam.

“Bukannya aku tak mau, Mejedik. Aku sangat ingin menikah malah. Umurku sudah kelewat satu tahun dari umur Rasulullah ketika menikah dengan Sayyidah Khadijah.”

“Lalu?”

Sebuah helaan napas terdengar dari lelaki berperawakan jangkung dan kurus itu.

“Umurku memang sudah matang. Tapi gadis pilihan Mejedik itulah yang terlalu muda. Apa dia mau menikah denganku yang sudah tua?”

“Tua apanya. Umur 26 tahun itu masih sangat muda,” goda Nyai Haniva.

“Kami terpaut 10 tahun, Mejedik. Bagaimana kalau dia terpaksa?”

Pertanyaan yang masuk akal. Mereka memang belum pernah bertemu secara langsung. Berbicara via telepon saja tidak pernah apalagi mengobrol empat mata. Hanya saling tahu melalui mulut orang tua masing-masing. Tidak saling mengerti perasaan satu sama lain.

Bagaimana jika faktanya gadis itu terpaksa menerimanya. Tak pernah ia bayangkan jika harus menikahi gadis di bawah umur. Sepengetahuannya, gadis berusia di bawah tujuh belas tahun masih anak-anak dan pasti sangat manja. Ia hanya ingin menikah dan memiliki istri yang sepadan dan dewasa bukan malah mengasuh bocah.

“Witing tresno jalaran soko kulino. Mejedikrasa maqolah jawa ini patut dijadikan panutan. Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.”

Sudah ia duga nasehat itu yang akan keluar dari mulut Mejediknya. Nasehat kuno dalam dunia perjodohan. Atau dialog ampuh  yang sudah ada dalam novel-novel dengan tema perjodohan. Farhan tersenyum kecut. Benaknya diliputi kebimbangan.

“Bagaimana kalau ia menikah dengan Habib saja setelah Habib lulus kuliah? Umur mereka tidak terpaut jauh dan insyallah akan jadi pasangan yang cocok,” cetusnya memberi ide.

“Kau tahu aku hanya anak angkat Kaeh Abdullah, Han. Pesantren ini sepenuhnya milikmu. Hanya kamu yang berhak memenuhi wasiat Kaeh tentang perjodohan itu.”

Pandangan Mejedik Haniva menerawang. Sedangkan Farhan merasa bersalah tak sengaja membuat wanita yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya mengingat statusnya lagi. Hal itu tak pelak juga membuatnya teringat lagi peristiwa nahas yang menimpa Abuya-nya. Seolah ada ribuan jarum yang menusuk pada ulu hati Farhan. Perih. Tanpa Mejedik Haniva, entah bagaimana nasib dirinya dan pesantren Al-Ishlah. Pesantren yang sudah dibesarkan Kiai Abdullah, kakeknya.

“Tapi bagiku Mejedik bukan orang lain. Mejedik adalah ibu kami,” ujar Farhan kemudian. Membuat kedua mata wanita paru baya itu menghangat.

“Kalau kamu menganggap Mejedik adalah ibu kamu. Tolong penuhi permintaan Mejedik ini.”

Farhan kembali merenung. Pandangannya menyapu lantai. Lalu detik kemudian dengan sangat berat hati ia mengangguk.

“Tapi bolehkah aku menikah setelah mengabdi di pesantren Kiai Hamid Sampang, Mejedik? Aku hanya satu tahun di sana. Sekalian studi banding siapa tahu ada program bagus yang bisa diterapkan di sini.” Farhan meminta negoisasi sekali lagi.

“Baiklah kalau begitu.”

Satu tahun. Semoga cukup untuk mempersiapkan semuanya. Atau mungkin akan ada keajaiban yang bisa membuat perjodohan itu batal, pikir Farhan.

Farhan menoleh ke arah pintu. Sosok lelaki yang berdiri di sana membuyarkan lamunan panjangnya.

Raihan Habib Baihaqi atau biasa dipanggil Habib, menggeleng sambil berdecak ketika mendapati Farhan–sepupunya masih sibuk di depan koper. Memastikan kemeja dan sarung yang ia letakkan di sana semalam. Lalu lelaki berkulit sawo matang itu beralih memilah beberapa kitab klasik untuk dimasukkan ke dalam tas ransel.

Farhan memang sosok perfeksionis dan sangat menjaga penampilan. Baginya lebih baik tidak jadi mengisi ceramah tanpa muthola’ah matang terlebih dulu. Apalagi ini kali pertama ia diundang di acara besar setelah satu bulan sekembalinya dari bumi seribu wali, Tarim.

Berbanding terbalik dengan Habib yang cenderung cuek dan santai. Ia hanya perlu satu stel pakaian muslim, dua potong kaos dan satu celana jeans. Yang penting kamera DSLR dan i-phone sudah masuk ke dalam tas. Dua benda itu sudah seperti napasnya. Jauh-jauh hari ia mendengar bahwa Wonosobo memiliki panorama yang sangat memukau. Juga dataran tinggi Dieng yang menjadi ikon kota ini terdapat banyak objek wisata. Sebagai seorang yang cukup lama menekuni dunia photography, tentu ini momen penting untuk mengabadikan maha karya Sang Pencipta.

“Kita hanya akan pergi ke acara harlah. Bukan untuk untuk umroh, Bung,” ledek Habib. Namun Farhan tak menggubris. Ia tetap fokus pada setumpuk kitab di depannya.

“Kakeh nonggu urrok ah? (Kau yakin akan ikut?).”

Farhan menoleh pada sepupunya yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia tahu pasti Gutteh Syuaib tak pernah setuju jika putra semata wayangnya itu ikut. Baginya, Habib hanya akan terlihat seperti kacung Farhan. Namun, ibunya bersikeras Habib harus ikut untuk menambah ilmu dan wawasan. Tidak melulu fokus dengan tugas kuliah yang memusingkan.

“Aku bukan anak kecil lagi, Han. Aku bersedia ikut untuk mencari angin segar. Urus saja nasibmu sendiri yang sebentar lagi akan menikah,” ejeknya lagi sambil terkekeh dan berlalu  dari hadapan Farhan.

Farhan menghela napas, berusaha menentramkan hati. Ia tak ingin disibukkan dengan memikirkan calon istrinya yang masih bocil itu. Lebih baik ia memikirkan materi mauidzoh hasanah di acara harlah besok. ( Elin Khanin)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Karya Siswa DKV dan Multimedia SMK Cordova Dipamerkan

    Karya Siswa DKV dan Multimedia SMK Cordova Dipamerkan

    • calendar_month Kam, 10 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 469
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id. – Ratusan karya siswa desain komunikasi visual (DKV) dan mutimedia, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Cordova, Margoyoso, Pati, dipamerkan di aula sekolahan setempat. Kegiatan ini mulai Rabu 9 November sampai dengan Jumat 11 November 2022. Pada pameran yang bertajuk Semangat Berkarya (Sekar) ini, ratusan karya siswa ditampilkan. Seperti film, fotografi, hingga merchandise. Ketua Jurusan DKV […]

  • PCNU PATI - Mari Peduli Sesama.

    Mari Peduli Sesama

    • calendar_month Kam, 16 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 490
    • 0Komentar

    Pati- NU Care Lazisnu Pati terhitung mulai hari ini Senin (13/6) melakukan penggalangan donasi untuk Almeera Azzahra Alfathunnisa, seorang gadis kecil yang sudah lama mengidap kanker ginjal.Gadis yang masih berusia empat tahun ini harus bolak balik ke RS Karyadi Semarang untuk menjalani kemoterapi setiap bulannya. Kami dari Lazisnu Cabang Pati bermodalkan flyer bermaksud untuk mengajak […]

  • Hafidz Qur’an, Bisa Daftar Jadi Imam Masjid di Uni Emirat

    Hafidz Qur’an, Bisa Daftar Jadi Imam Masjid di Uni Emirat

    • calendar_month Sab, 14 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 381
    • 0Komentar

    Kemenag membuka pendaftaran imam untuk masjid-masjid di Uni Emirat Arab JAKARTA-Kementerian Agama (Kemenag) RI kembali membuka peluang bagi kader terbaik bangsa. Kali ini, melalui Dirjen Bimbingan Masyarakat  (Bimas) Islam, Kemenag akan melakukan seleksi calon imam masjid untuk Uni Emirat Arab.  Pendaftaran calon imam ini dilaksanakan 13 sampai 22 Agustus 2021. Namun seleksinya dilakukan secara virtual 25 […]

  • NU Ranting Kajen Gelar Khitan Massal

    NU Ranting Kajen Gelar Khitan Massal

    • calendar_month Sel, 28 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 483
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Puluhan anak mengikuti khitan massal di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Senin (27/1/2025). Khitan massal ini digelar oleh Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Kajen dalam rangka peringatan Isra Miraj Nabi Muhamad SAW dan Hari Lahir (Harlah) ke-102 NU. Anak-anak ini tampak antusias mengikuti sunatan massal. Sebelum dikhitan, mereka diarak keliling desa menggunakan […]

  • 7 Agenda Strategis

    7 Agenda Strategis

    • calendar_month Jum, 24 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 379
    • 0Komentar

    Oleh : Jamal Makmur Asmani* Duet KH. Miftachul Akhyar dan KH. Yahya Chalil Tsaquf adalah duet fakih-intelektual. KH. Miftachul Akhyar adalah sosok ulama yang berpetualang dari pesantren ke pesantren. Beliau berkarir dari bawah. Rais Syuriyah PCNU Surabaya, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, Wakil Rais Am, Pejabat Sementara Rais Am, dan akhirnya menjadi Rais ‘Am PBNU. […]

  • Sambut Putusan MK, Ketua LP Ma'arif NU Jateng: MBG Tidak Boleh "Membajak" Hak Operasional Sekolah

    Sambut Putusan MK, Ketua LP Ma’arif NU Jateng: MBG Tidak Boleh “Membajak” Hak Operasional Sekolah

    • calendar_month Sab, 1 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17.352
    • 0Komentar

    SEMARANG — Putusan terbaru Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai pemisahan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari porsi wajib (mandatory spending) anggaran pendidikan sebesar 20% mendapat sambutan positif dari kalangan pengelola pendidikan swasta. Langkah ini dinilai sebagai angin segar sekaligus upaya nyata penyelamatan anggaran pendidikan nasional agar tidak “terpangkas” oleh program di luar sektor pembelajaran. Dalam […]

expand_less