Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Menikah?

Menikah?

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 3 Jul 2022
  • visibility 120
  • comment 0 komentar

Menikah? Ah, bukan hal baru di telinga Farhan. Sudah sejak lama Nyai Haniva–Mejedik-nya membahas hal itu, tapi tak pernah ditanggapinya dengan serius karena ingin fokus dulu mematangkan ilmu serta hapalan Alqur’an selama di Tarim. Namun, sepertinya kali ini ia tak bisa lagi menganggap itu hal sepele. Nyai Haniva sudah membuatnya berhenti berpetualang dan membahas perjodohan itu kembali sejak ia menjejakkan kaki lagi di Bangkalan.

“Han, kamu satu-satunya Bani Baihaqi yang harus memenuhi wasiat Kaeh Abdullah untuk menikahi cucu sahabatnya. Lagipula kamu sudah matang dalam ilmu dan umur untuk segera menikah,” ucap Nyai Haniva kemarin malam.

“Bukannya aku tak mau, Mejedik. Aku sangat ingin menikah malah. Umurku sudah kelewat satu tahun dari umur Rasulullah ketika menikah dengan Sayyidah Khadijah.”

“Lalu?”

Sebuah helaan napas terdengar dari lelaki berperawakan jangkung dan kurus itu.

“Umurku memang sudah matang. Tapi gadis pilihan Mejedik itulah yang terlalu muda. Apa dia mau menikah denganku yang sudah tua?”

“Tua apanya. Umur 26 tahun itu masih sangat muda,” goda Nyai Haniva.

“Kami terpaut 10 tahun, Mejedik. Bagaimana kalau dia terpaksa?”

Pertanyaan yang masuk akal. Mereka memang belum pernah bertemu secara langsung. Berbicara via telepon saja tidak pernah apalagi mengobrol empat mata. Hanya saling tahu melalui mulut orang tua masing-masing. Tidak saling mengerti perasaan satu sama lain.

Bagaimana jika faktanya gadis itu terpaksa menerimanya. Tak pernah ia bayangkan jika harus menikahi gadis di bawah umur. Sepengetahuannya, gadis berusia di bawah tujuh belas tahun masih anak-anak dan pasti sangat manja. Ia hanya ingin menikah dan memiliki istri yang sepadan dan dewasa bukan malah mengasuh bocah.

“Witing tresno jalaran soko kulino. Mejedikrasa maqolah jawa ini patut dijadikan panutan. Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.”

Sudah ia duga nasehat itu yang akan keluar dari mulut Mejediknya. Nasehat kuno dalam dunia perjodohan. Atau dialog ampuh  yang sudah ada dalam novel-novel dengan tema perjodohan. Farhan tersenyum kecut. Benaknya diliputi kebimbangan.

“Bagaimana kalau ia menikah dengan Habib saja setelah Habib lulus kuliah? Umur mereka tidak terpaut jauh dan insyallah akan jadi pasangan yang cocok,” cetusnya memberi ide.

“Kau tahu aku hanya anak angkat Kaeh Abdullah, Han. Pesantren ini sepenuhnya milikmu. Hanya kamu yang berhak memenuhi wasiat Kaeh tentang perjodohan itu.”

Pandangan Mejedik Haniva menerawang. Sedangkan Farhan merasa bersalah tak sengaja membuat wanita yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya mengingat statusnya lagi. Hal itu tak pelak juga membuatnya teringat lagi peristiwa nahas yang menimpa Abuya-nya. Seolah ada ribuan jarum yang menusuk pada ulu hati Farhan. Perih. Tanpa Mejedik Haniva, entah bagaimana nasib dirinya dan pesantren Al-Ishlah. Pesantren yang sudah dibesarkan Kiai Abdullah, kakeknya.

“Tapi bagiku Mejedik bukan orang lain. Mejedik adalah ibu kami,” ujar Farhan kemudian. Membuat kedua mata wanita paru baya itu menghangat.

“Kalau kamu menganggap Mejedik adalah ibu kamu. Tolong penuhi permintaan Mejedik ini.”

Farhan kembali merenung. Pandangannya menyapu lantai. Lalu detik kemudian dengan sangat berat hati ia mengangguk.

“Tapi bolehkah aku menikah setelah mengabdi di pesantren Kiai Hamid Sampang, Mejedik? Aku hanya satu tahun di sana. Sekalian studi banding siapa tahu ada program bagus yang bisa diterapkan di sini.” Farhan meminta negoisasi sekali lagi.

“Baiklah kalau begitu.”

Satu tahun. Semoga cukup untuk mempersiapkan semuanya. Atau mungkin akan ada keajaiban yang bisa membuat perjodohan itu batal, pikir Farhan.

Farhan menoleh ke arah pintu. Sosok lelaki yang berdiri di sana membuyarkan lamunan panjangnya.

Raihan Habib Baihaqi atau biasa dipanggil Habib, menggeleng sambil berdecak ketika mendapati Farhan–sepupunya masih sibuk di depan koper. Memastikan kemeja dan sarung yang ia letakkan di sana semalam. Lalu lelaki berkulit sawo matang itu beralih memilah beberapa kitab klasik untuk dimasukkan ke dalam tas ransel.

Farhan memang sosok perfeksionis dan sangat menjaga penampilan. Baginya lebih baik tidak jadi mengisi ceramah tanpa muthola’ah matang terlebih dulu. Apalagi ini kali pertama ia diundang di acara besar setelah satu bulan sekembalinya dari bumi seribu wali, Tarim.

Berbanding terbalik dengan Habib yang cenderung cuek dan santai. Ia hanya perlu satu stel pakaian muslim, dua potong kaos dan satu celana jeans. Yang penting kamera DSLR dan i-phone sudah masuk ke dalam tas. Dua benda itu sudah seperti napasnya. Jauh-jauh hari ia mendengar bahwa Wonosobo memiliki panorama yang sangat memukau. Juga dataran tinggi Dieng yang menjadi ikon kota ini terdapat banyak objek wisata. Sebagai seorang yang cukup lama menekuni dunia photography, tentu ini momen penting untuk mengabadikan maha karya Sang Pencipta.

“Kita hanya akan pergi ke acara harlah. Bukan untuk untuk umroh, Bung,” ledek Habib. Namun Farhan tak menggubris. Ia tetap fokus pada setumpuk kitab di depannya.

“Kakeh nonggu urrok ah? (Kau yakin akan ikut?).”

Farhan menoleh pada sepupunya yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia tahu pasti Gutteh Syuaib tak pernah setuju jika putra semata wayangnya itu ikut. Baginya, Habib hanya akan terlihat seperti kacung Farhan. Namun, ibunya bersikeras Habib harus ikut untuk menambah ilmu dan wawasan. Tidak melulu fokus dengan tugas kuliah yang memusingkan.

“Aku bukan anak kecil lagi, Han. Aku bersedia ikut untuk mencari angin segar. Urus saja nasibmu sendiri yang sebentar lagi akan menikah,” ejeknya lagi sambil terkekeh dan berlalu  dari hadapan Farhan.

Farhan menghela napas, berusaha menentramkan hati. Ia tak ingin disibukkan dengan memikirkan calon istrinya yang masih bocil itu. Lebih baik ia memikirkan materi mauidzoh hasanah di acara harlah besok. ( Elin Khanin)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU - PATI

    Guruku Orang Orang Dari Pesantren

    • calendar_month Jum, 24 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Guruku Orang-orang dari Pesantren menceritakan perjalanan hidup KH. Saifuddin Zuhri, mulai periode awal pendidikannya di sekitar akhir dekade 1920-an, sampai sekitar tahun 1955, ketika ia telah menjadi salah satu tokoh NU.  Buku ini dibagi menjadi 10 bab, yakni: “Di Ambang Pintu Pesantren”, “Madrasahku cuma Langgar”, “Tokoh-tokoh Pengabdi tanpa Pamrih”, Apresiasi terhadap Rasa Seni”, “Memasuki Persiapan […]

  • PCNU-PATI

    PAC GP Ansor Tlogowungu Gelar PKD dan Diklatsar 

    • calendar_month Jum, 24 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id. TLOGOWUNGU – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Tlogowungu gelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar serta Pendidikan dan Pelatihan Dasar Barisan Ansor Serbaguna (Diklatsar). Kegiatan yang digelar selama tiga hari,  pada 24-26 Februari 2023 itu bertempat di Masjid Baitur Rohman Dukuh Ngembe, Desa Suwatu.  Turut hadir pada kegiatan itu, di antaranya Camat Tlogowungu Tony Romas […]

  • Rayakan Sumpah Pemuda, Band AMARO dan SMK Manba’ul Huda Gelar Festival “Youth Movement”

    Rayakan Sumpah Pemuda, Band AMARO dan SMK Manba’ul Huda Gelar Festival “Youth Movement”

    • calendar_month Ming, 19 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.145
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Pati – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, band pendatang baru AMARO bekerja sama dengan SMK Manba’ul Huda Kembang akan menggelar pagelaran bertajuk Youth Movement. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 25 Oktober 2025, bertempat di Lapangan Olahraga YPM Kembang, Dukuhseti, Pati. Festival ini mengusung tema “Bergerak Merawat Ingat”, dengan tujuan menggerakkan semangat […]

  • Hukum Adzan yang Lupa Beberapa Lafadz

    Hukum Adzan yang Lupa Beberapa Lafadz

    • calendar_month Sab, 20 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Bagaimana hukum adzan yang dilakukan saat ada beberapa kalimat atau bacaan yang terlupa atau terlewat tidak diucapkan? Karena kodrat manusia, maka lupa menjadi suatu hal yang lumrah terjadi. Pun bagi muadzin (orang yang melafalkan adzan), bisa terlupa tidak melafalkan salah satu kalimat adzan. Permasalahan ini lah yang kemudian diangkat dalam Bahtsul Masail yang diselenggarakan rutin […]

  • PCNU-PATI

    Ramadan: Bulan Tata-tata

    • calendar_month Sel, 26 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda*  Iki arep ning omahe mbahe, awakmu wes tata-tata durung, Nduk? Ya, saya ingat almarhum mertua saya ketika tanya kepada istriku. “Ini mau pergi ke rumah si mbah, kamu sudah siap-siap belum, Nduk?” Ya, begitu artinya. Kata “tata” sesuai KBBI (2024) berarti aturan, hukum, kaidah, susunan, cara menyusun, sistem. Kalau dalam bahasa Jawa, […]

  • PCNU-PATI

    Peraturan Organisasi Nahdlatul Ulama

    • calendar_month Ming, 4 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Bahwa anggota adalah unsur penting dalamorganisasi dan sebuah organisasi tidakakan berjalan jika tidak ada anggotanya;b. Bahwa untuk menjadikan organisasiberjalan secara baik danberkesinambungan maka diperlukanpengaturan yang jelas mengenai anggota,sehingga anggota organisasi dapat denganefektif menjalankan kegiatannya;c. Bahwa Peraturan Pengurus Besar NahdlatulUlama tentang tata cara penerimaan danpemberhentian anggota yang ada sudahtidak memadai lagi

expand_less