Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Malas Mudik: Gejala Penyakit Jiwa?

Malas Mudik: Gejala Penyakit Jiwa?

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 19 Mar 2026
  • visibility 10.509
  • comment 0 komentar

 

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Saya pernah membuat status WhatsApp pada puasa Ramadan 1446 H tahun 2025 lalu. “Orang yang tidak mau mudik itu sebenarnya adalah peyakit jiwa.” Sontak banyak yang komen. Memang tak sempat menuliskannya dalam bentuk artikel dan baru sempat tahun 2026 ini.

 

Jumlah pemudik dari tahun ke tahun selalu melimpah. Berdasarkan Pusat Data Kontan merujuk Kementerian Perhubungan, total pemudik 2024 sebanyak 193,6 juta orang, tahun 2025 sebanyaj 154 juta orang, dan pada 2026 menjadi 143,91 juta orang.

 

Meski tahun 2026 ini jumlah pemudik turun, namun jumlah itu sangat banyak. Uniknya, di antara jutaan manusia yang mudik itu, ada lo segelintir orang yang memilih diam tak mudik sama sekali. Mbuh kenapa. Mereka tak mengepak koper, beli oleh-oleh, tak perlu top up kartu tol, tak perlu beli bensin full, tak memesan tiket, dan tak merasakan desakan emosional untuk kembali ke tanah kelahiran yang berjubel di jalan.

 

Bagi masyarakat komunal, sikap dan pilihan hidup tak mudik seperti ini sering dinilai ganjil, bahkan memunculkan selentingan ekstrem, dalam bahasa saya apakah tak rindu kampung halaman adalah tanda gangguan jiwa? Hahaha Kecuali pas Pandemi Covid-19 kemarin ya wajar. La ini sudah normal-mal ik, masak juga nggak mudik. Tak punya kampung halaman po?

 

Tiga Teori tentang Mudik

Pertama, nostalgi: dari diagnosis medis ke kerinduan emosional. Pertanyaan ini ketika diajukan oleh orang yang hidup pada abad ke-17, jawabannya adalah “Ya Benar”. Mengapa? Jadi seorang dokter Swiss bernama Johannes Hofer tahun 1688. Lewat karya Dissertatio Medica de Nostalgia (1688), Hofer mengenalkan idiom “nostalgia” yang berasal dari bahasa Yunani nostos (pulang) dan algos (nyeri). Uniknya, saat itu nostalgia tak dianggap sebagai perasaan manis yang melankolis, namun penyakit saraf yang mematikan.

 

Sebagai dokter, saat itu Hofer mengamati tentara bayaran Swiss yang bertugas jauh di luar negeri. Para tantara itu mengalami gejala fisik berupa jantung berdebar, depresi berat, demam tinggi,  disebabkan karena kerinduan mendalam pada pegunungan Alpen. Ketidakmampuan seorang dalam teori Hofer untuk terhubung dengan tempat asalnya atau sebaliknya, keterikatan terlalu patologis, dipandang sebagai anomali pada ‘roh hewan’ dalam otak. Artinya, sejarah medis ini menegaskan reasli seorang dengan kampung halaman (desa) pernah menjadi indikator atau parameter kesehatan jiwa.

 

Kedua, anomi dan keterasingan sosial. Dari perspektif sosiologi, fenomena “malas mudik” atau “tidak mudik” dapat dikaitkan dengan konsep anomi dari Emile Durkheim dalam buku The Division of Labour in Society (1933). Anomi merupakan kondisi ketika individu kehilangan arah atau merasa terasing dari norma dan ikatan sosial masyarakatnya. Banyak kaum urban mengalami atomisasi di era modern yang serba cepat ini, mereka merasa sebagai individu yang berdiri sendiri tanpa perlu akar geografis.

Artinya, bagi mereka yang mengalami de-identifikasi dengan  desa (kampung halamannya), rumah bukan lagi soal koordinat Global Positioning System (GPS), namun berupa kenyamanan psikis. Bisa jadi mereka tak mengalami ‘penyakit jiwa’ dalam perspektif klinis modern, akan tetapi mereka mengalami pergeseran eksistensial, yaitu menjadi warga dunia (cosmopolitan) yang tak lagi terikat pada satu titik tanah kelahiran. Begitu!

 

Ketiga, teori keterikatan dan place attachment. Keengganan, kemalasan untuk pulang, bahkan antimudik secara psikologis bisa dibedah dalam pandangan teori keterikatan (attachment theory) yang dicetuskan John Bowlby dalam buku Attachment and Loss, Vol. 3: Loss: Sadness and Depression (1980). Secara naluriah, manusia membentuk ikatan emosional tak hanya dengan orang tua, namun juga dengan lingkungan fisik tempat mereka tumbuh dan besar, inilah yang disebut dengan place attachment (keterikatan tempat).

 

Rumah, desa, atau kampung halaman secara teoretis memiliki fungsi sebagai secure base (dasar yang aman). Saat seorang merasa ‘malas’ atau kehilangan keinginan untuk pulang (mudik), psikologi lingkungan melihat adanya potensi avoidant attachment, yaitu keterikatan yang menghindar.

 

Apa sebabnya? Dari kajian di atas, saya menyebut setidaknya ada dua sebba. Pertama, trauma spasial, yaitu adanya memori buruk, seperti jadi korban perundungan, kekerasan, atau jenis lain di masa kecil yang membuat kampung halaman tak lagi menjadi tempat perlindungan, melainkan sumber kecemasan. Meski kondisi sudah beda, namun hal itu sangat membekas lah. Kedua, disosiasi identitas, yaitu usaha seorang dalam memutus mata rantai masa lalu demi membentuk identitas baru di perantauan di kota atau luar negeri. Ketiga, alasan lain seperti tak ada uang, urusan keluarga di kota, atau seperti punya anak kecil, tanggungan menjaga orang sakit, tanggungan pekerjaan, dan bentuk lain.

 

Mengatakan “malas mudik sebagai gejala penyakit jiwa” tampak terdengar terlalu menghakimi di era medis modern. Hahaha Akan tetapi, dalam kacamata historis dan teoretis di atas, kemalasan untuk mudik ke kampung halaman memang menandakan adanya sesuatu yang “terputus” dalam struktur emosional seorang dengan masa lalunya. Lalu saya malah bertanya, apakah itu sebuah anomali atau sekadar bentuk adaptasi baru pada kerasnya dunia perantauan?

 

Nah, yang jelas, rindu, kangen, merupakan jembatan menuju diri kita yang lama. Tanpa adanya kangen atau rindu, seorang bisa jadi kehilangan cermin untuk melihat dari mana ia berasal, dilahirkan, besar, dan bisa mengerti kehidupan meski ia tahu persis ke mana ia akan pergi.

 

Anda malas mudik kah?

 

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Silaturahim NU Se Dunia ke XVIII di Saudi Arabia

    Silaturahim NU Se Dunia ke XVIII di Saudi Arabia

    • calendar_month Kam, 8 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 529
    • 0Komentar

    JARWAL-Pertemuan Diaspora NU yang diadakan setiap musim haji di Mekkah Al Mukaromah ini awalnya digagas oleh PCI NU Arab Saudi 18 tahun lalu. Agenda ini akhirnya dijadikan agenda tahunan yang selalu diadakan pada saat musim haji dan dilaksanakan biasanya sebelum pelaksanaan wukuf di Arofah Suasana pertemuan NU se-dunia di Arab Saudi Silaturahim warga NU dunia […]

  • Lagi, KMPP Yogyakarta Lakukan Gebrakan di Bidang Sosial

    Lagi, KMPP Yogyakarta Lakukan Gebrakan di Bidang Sosial

    • calendar_month Sel, 21 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 734
    • 0Komentar

    Susur Sungai Silugonggo Desa Kedungpancing, Juwana oleh para mahasiswa yang tergabung dalan KMPP Yogyakarta. Langkah ini merupakan babak awal Program Bina Desa KMPP Yogyakarta tahun 2021 PATI – Para mahasiswa yang tergabung dalan KMPP (Keluarga Pelajar-Mahasiswa Pati) Yogyakarta kembali menggelar aksi sosial. Mengambil tema besar Bina Desa KMPP Yogyakarta Tahun 2021, dengan tajuk utama ‘Lentera […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Perempuan Dalam Tradisi Pesantren. Photo by Mufid Majnun on Usnplash.

    Perempuan dalam Tradisi Pesantren

    • calendar_month Ming, 17 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 409
    • 0Komentar

    Tradisi pesantren selama ini yang kita kenal mempunyai kehidupan yang diwarnai dengan norma-norma ajaran Islam. Di mana ajaran Islam ini menekankan pada sikap patuh dan tawadlu’ kepada pengasuh pesantren (kiai). Seperti yang dijelaskan oleh Zamakhsyari Dhofir dalam bukunya, Tradisi Pesantren, sikap patuh dan tawadlu’ ini bisa terbentuk. Hal ini tidak lepas setiap harinya di lingkngan […]

  • LDNU PATI Launching Sari Rempah Nusantara

    LDNU PATI Launching Sari Rempah Nusantara

    • calendar_month Sab, 4 Jul 2020
    • account_circle admin
    • visibility 608
    • 0Komentar

    Masa pandemi Covid 19 Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama PCNU Kabupaten Pati tetap mensukseskan program Insidental, di tengah Covid-19 program LDNU tertunda namun semangat  LDNU Pati dan Jammu tetap semangat untuk bisa berkiprah di tengah tengah suasana yang memprihatinkan baik segi kesehatan maupun ekonomi. “Di saat para Dai NU pati Stay at home berinovasi dengan program […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Jihad bil-Medsos Sebagai Media Dakwah.. Unsplash.

    Jihad bil-Medsos Sebagai Media Dakwah

    • calendar_month Sen, 30 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 419
    • 0Komentar

    Jihad menurut syariat Islam adalah berjuang/usaha/ikhtiyar dengan sungguh-sungguh.Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan agama Allah atau menjaga agama tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para rasul dan Alquran. Jihad yang dilaksanakan Rasul adalah berdakwah agar manusia meninggalkan kemusrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan qalbu, memberikan pengajaran kepada ummat dan […]

  • Maskan; Ketua PAC Ansor Gembong Terpilih

    Maskan; Ketua PAC Ansor Gembong Terpilih

    • calendar_month Jum, 11 Des 2015
    • account_circle admin
    • visibility 435
    • 0Komentar

    Beberapa waktu yang lalu, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gembong mengadakan konferensi masa khidmat 2015-2018, bertempat di Madrasah Ma’arif  desa Gembong.             “Dengan terpilihnya Maskan sebagai ketua Pimpinan Anak Cabang, kami berharap dia mampu mengabdi kepada masyarakat Gembong khususnya dalam kegiatan-kegiatan sosial atau keagamaan, yang bermanfaat untuk masyarakat,”ujar Imam Rifa’I  ketua PC GP […]

expand_less