Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Tadarus Data dan Filter Bubble

Tadarus Data dan Filter Bubble

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 24 Feb 2026
  • visibility 9.009
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda

Kadang, saat judeg ketika nguji tesis atau skripsi mahasiswa, mereka puyeng tak bisa jawab, saya sering iseng tanya dengan pertanyaan receh.

Apa yang Anda maksud dengan data? Atau data itu apa? Karena mungkin grogi, atau sudah pening, mahasiswa itu jawab ke mana-mana. Padahal jawabannya simpel, data itu ya informasi. Ya, data itu informasi.

Dalam KBBI (2026), data adalah keterangan yang benar dan nyata, keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau simpulan). Sakjane simpel kan?

Ramadan dan Data

Mengapa judul artikel ini tadarus data? Kok tidak tadarus Al-Quran. Ya, tadarus kita nggak cuma Al-Quran tok to ya, data juga perlu kita tadarusi. Ramadan sangat identik dengan data. Soalnya ada hitungan rakaat Salat Tarawih, Salat Witir, jumlah hari puasa, jumlah juz dalam tadarus Al-Quran, hingga hitungan puasa Ramadan. Ya, yang jelas Ramadan memang selalu identik dengan pembersihan diri atau jiwa umat Islam. Mereka melaksanakan aktivitas menahan lapar, haus, dan amarah.

Akan tetapi di era jempol yang tak pernah berhenti bergulir ini, terdapat hal urgen lagi yang mendesak untuk dipuasakan. Apa itu? Ya, konsumsi informasi yang membabi buta. Ayo sejenak merenung, ketika kita duduk dengan posisi melingkar melaksanakan tadarus Al-Qur’an, di saku kita, ponsel tak henti “bertadarus” versinya sendiri, atau mengaji data dan menyuapi kita dengan apa yang ingin kita dengarkan.

Demikianlah fenomena yang kita sebut sebagai tadarus data. Apa maksudnya? Suatu ritual digital di mana kita menjadi jemaah setia dari mazhab algoritma. Haha

Namun masalahnya, apakah kita yang seperti itu terjebak pada gelembung sendiri?

Terjebak dalam Filter Bubble

Diakui atau tidak, sadar atau tidak, medsos kini menjadi “imam” sangat subjektif. Apa maksudnya, Mas Bro? Eli Pariser (2011), dalam buku bertajuk The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You telah mengingatkan dengan tegas, algoritma dirancang menjadi pelayan yang terlalu rajin. Jika umat Islam menyukai konten politik X, algoritma akan terus menyuguhkan varian dari konten X. Begti kira-kira pemahaman saya!

Dalam konteks ini, ketika terlalu manja dengan aktivitas medos, lambat laun umat Islam akan terkurung dalam Filter Bubble atau gelembung filter. Artinya, umat Islam merasa sedang melihat dunia yang luas, padahal mereka (termasuk kita dan saya lah) hanya sedang melihat sebuah cermin.

Maksudnya, kita dalam konteks ini kehilangan cara atau sebuah kekuatan untuk melihat perspektif orang lain karena algoritma menganggap “perbedaan” sebagai gangguan yang harus disaring. Di Ramadan karim ini, bukankah salah satu esensi puasa adalah empati? Lalu, bagaimana kita dapat berempati ketika dunia digital telah steril dari pandangan orang yang berbeda?

Riuh Rendah Ruang Gema

Akibatnya, lebih jauh dari hanya sebuah pilihan konten. Cass R. Sunstein dalam karyanya #Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media berusaha keras menyampaikan bahwa echo chamber (ruang gema) memiliki sebuah fenomena khusus. Di ruang gema ini, suara manusia yang terbatas dipantulkan kembali oleh orang-orang dengan pemikiran serupa hingga terdengar seperti kebenaran mutlak. Makanya dulu itu kumpul “kampret dengan kampret”, “cebong dengan cebong”, “termul dengan termul”, dan lainnya.

Sebuah hoaks dalam echo chamber tidak lagi butuh logika untuk dipercaya. Lo la terus? Ia hanya butuh “amin” dari jutaan manusia pengguna medsos (netizen) di lingkaran kita. Ketika semua orang di lini masa medsos Anda mengatakan hal sama, otak kita secara evolusioner akan menganggapnya sebagai konsensus. Haha pola kerjanya memang demikian to? Nah, di sini letak bahayanya. Artinya, kita merasa sedang membela kebenaran, padahal apa yang kita lakukan itu ibarat “kita hanya sedang merayakan prasangka”.

Tabayun Digital dan Puasanya Akal

Sekali tabayun harus menjadi budaya dan tradisi. Sebab, Ramadan hakikatnya menjadi momentum terbaik untuk melakukan upgrade sistem operasi batin umat Islam di dunia. Ketika tadarus Al-Quran memiliki tujuan mendekatkan muslim pada kebenaran Ilahi, maka “tadarus data” yang sehat dan bijak hakikatnya harus mendekatkan umat Islam pada kejujuran intelektual.

Islam tentu sangat menyarankan kita untuk bertabayun, klarifikasi, atau check dan re-check. Di era algoritma saat ini, tabayun tidak sekadar anjuran, melainkan kewajiban digital. Sekali lagi “kewajiban digital”. Kita perlu sesekali “keluar” dari gelembung kita (filter bubble) tadi, yaitu membaca opini/asumsi yang paradoks, dan menyadari “kebenaran seringkali berada di luar zona nyaman jempol kita”. Begitu!

Ramadan tahun ini, ayo bareng-bareng kita wujudkan atau realisasikan sebagai ajang “diet informasi”. Algoritma jangan sampai mendikte siapa yang harus kita benci atau apa yang harus kita maki. Hahaha

Riilnya, puasa Ramadan kali ini, mari kita coba untuk melakukan beberapa hal. Pertama, mandek membagikan informasi hanya karena judulnya memuaskan emosi kita (untuk meruntuhkan echo chamber). Kedua, mengembalikan kedaulatan akal di atas algoritma. Ketiga, kita follow satu akun yang pemikirannya berseberangan dengan kita (untuk memecah filter bubble). Bisakah? Ya, ayo kita coba.

Pada akhirnya, kesucian hati hanya dapat digapai ketika umat Islam menstop konsumsi kebencian yang dibungkus sebagai informasi. Selamat bertadarus, baik pada ayat-ayat-Nya, maupun pada data-data yang bertebaran di layar kita. Lalu, tadarus apa lagi yang harus kita lakukan?

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Pawel Czerwinski

    NU dalam Membendung Radikalisme

    • calendar_month Sab, 26 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 394
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Berbicara mengenai radikalisme tentunya tidak lepas dari unsur kekerasan. Karena radikalisme sendiri berasal dari kata radikal dan isme. Sedangkan radikal sendiri adalah akar dan isme adalah paham. Maka, pengertian radikalisme pada awalnya merupakan paham yang sampai ke akar-akarnya. Sedangkan radikalisme dalam Islam dipahami sebagai paham yang dianut oleh kelompok Islam yang mendasarkan […]

  • Kemenag Kucurkan Bantuan untuk Pesantren

    Kemenag Kucurkan Bantuan untuk Pesantren

    • calendar_month Sen, 2 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 347
    • 0Komentar

    JAKARTA-Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) membuka tangan lebar-lebar bagi para pengelola pondok pesantren di seluruh Indonesia. Baru-baru ini, melalui Direktorat Pendidikan Islam Subdit Pendidikan Pesantren, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI membuka penerimaan proposal bantuan.] Setidaknya ada tiga jenis peruntukan bantuan yang ditawarkan oleh Kemenag. Di antaranya, pendidikan lifeskill dan pengembangan ekonomi pesantren; bantuan pesantren […]

  • Pelantikan Bersama PAC Muslimat NU dan PAC Fatayat NU Sukolilo Pati

    Pelantikan Bersama PAC Muslimat NU dan PAC Fatayat NU Sukolilo Pati

    • calendar_month Kam, 14 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 281
    • 0Komentar

    Setelah beberapa bulan kemarin telah di adakan konferensi bersama antara MWCNU, Fatayat NU. Muslimat NU, dan IPNU IPNNU. Berapa waktu kemarin telah berlangsung Pelantikan Pengurus Anak Cabang Muslimat NU dan PAC Fatayat NU Kec Sukolilo. “Saya mengajakan para pengurus setelah di lantik ini akan semakin giat dalam berdakwah dan mengabdi kepada masyarakat dengan ikhlas, selain […]

  • MA Salafiyah Kajen Borong 31 Medali di Ajang Nasional

    MA Salafiyah Kajen Borong 31 Medali di Ajang Nasional

    • calendar_month Sab, 30 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 402
    • 0Komentar

    Pamflet ucapan selamat Kepala MA Salafiyah atas prestasi yang berhasil diraih peserta didiknya PATI – Tiga perlombaan akademik diikuti siswa MA Salafiyah Kajen Minggu (24/10). Ketiga lomba yang diikuti yakni Pateron Olympiad, Lomba Felin Oaseedukasi, dan Gelora Science Competition (GSC) POSI. Dari tiga ajang lomba tersebut, siswa di madrasah yang berada di Kecamatan Margoyoso itu […]

  • Potret Toleransi di Pati, Sarasehan Paseduluran GKMI Winong dan Masjid Al-Muqorrobin

    Potret Toleransi di Pati, Sarasehan Paseduluran GKMI Winong dan Masjid Al-Muqorrobin

    • calendar_month Sen, 29 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 6.562
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Di tengah hiruk-pikuk perayaan akhir tahun, sebuah gang di Desa Winong, Kecamatan Pati, menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan jiwa. Di Jalan Kolonel Sunandar Gang 6, berdiri dua rumah ibadah yang tidak hanya saling berhadapan, tetapi juga “bergandengan tangan” melalui sebuah kanopi permanen yang membentang di atas jalan. ​Pada Minggu (28/12/2025) malam, suasana di […]

  • Ni’am – Anisa, Nahkoda Baru IPNU-IPPNU Tlogowungu

    Ni’am – Anisa, Nahkoda Baru IPNU-IPPNU Tlogowungu

    • calendar_month Sen, 27 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 475
    • 0Komentar

    Para pengurus baru PAC IPNU/IPPNU Tlogowungu beserta pengurus MWC, Fatayat, Muslimat dan PC IPNU/IPPNU Pati dalam acara Konferancab IPNU/IPPNU Tlogowungu. TLOGOWUNGU – PAC IPNU IPPNU Kecamatan Tlogowungu sukses menggelar Konferensi Anak Cabang (Konferancab) yang pertama. Acara tersebut berlangsung selama dua hari, Sabtu-Minggu (25-26/9), di SDN 02 Pangonan, Desa Gunungsari, Tlogowungu, Pati. Dalam konferensi tersebut Muhammad […]

expand_less