Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pustaka » Wujud Nyata Nasionalisme NU

Wujud Nyata Nasionalisme NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 2 Jan 2015
  • visibility 306
  • comment 0 komentar

Resensi Buku. NU adalah orgnasasai sosial keagamaan yang secara doktrinal menganut paham Aswaja (Ahlu sl-Sunnah wa al-Jama’ah). Menurut KH. Ahmad Syidiq, hakika Aswaja adalah ajaran Islam murni sebagaimana diajarkan dan diamalkan Rasulallah SAW, dan para sahabat. KH. Ahmad Syidiq melihat Aswaja adalah esensi ajaran Islam. Dalam pemahaman seperti ini, Aswaja merupakan esensi Islam yang bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia. Aswaja dalam pengertian demikian, mensyaratkan tiga hal penting, yaitu; Pertama, menghendaki keseimbangan antara trilogi Islam, yaitu iman, Islam, dan ihsan (akidah, syari’ah, dan akhlak atau tauhid, fiqh, dan tasawuf); Kedua,Aswaja merupakan masalah al-Ushul (prinsip atau pokok ajaran bukan furu’); Ketiga,pengamalannya selalu mengalami perkembangan yang dinamis dengan menggunakan metode tertentu. Secara spesifik Aswaja dalam perspektif NU mengikuti sistem bermadzhab. Dalam bidang fikih, NU mengikuti madzhab empat, yaitu Imam Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali. Dalam bidang akidah, NU mengikuti dua imam, yaitu imam Asy’ari dan Maturidi. Dan dalam bidang akhlak, NU mengikuti dua imam juga, yaitu Imam Junaidi al-Baghdadi dan al-Ghazali. Sistem bermadzhab inilah yang mendasari NU dalam menggali dan mengamalkan paham keagamaan dan kebangsaan (politik) secara dinamis. Dalam lembaran sejarah Indonesia, peran dan partisipasi NU dalam memperjuangkan nasionalisme tidak diragukan lagi. Rangkain narasi historis menunjukkan NU dengan berjalannya waktu konsisten mempertahankan paham nasionalismenya untuk tetap setia mendukung negara Indonesia dan pancasila.Dalam berbagai konteks, NU membuktikan komitmen tersebut. Pada tahun 1936 NU meyepakati bahwa wilayah Nusantara sebagai daru al-Islam, pada tahun 1945 NU mengeluarkan Resolusi Jihad membela tanah air, pada tahun 1954 NU menyematkan gelar waliyyu al-Amri al-Dlaruri bi al-Syaukah, dan puncaknya pada tahun 1984 NU menetapkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk sah dan final dari seluruh cita-cita nation, termasuk umat Islam, untuk mendirikan negara di kawasan Nusantara. Berbagai kebijakan di atas bukan tanpa dasar dan epistemologi yang kokoh. Paham kebangsaan NU digali dari pemikiran-pemikiran politik Sunni Abad pertengahan. Filsafat politik ini sudah mengalami perkembangan sekitar 500 tahun, diawali pada abad ke-9 oleh para ulama fikih, seperti al-Baqillani, al-Baghdadi, al-Mawardi, al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Khaldun. Namun dalam realitas dan praktiknya, NU dalam pandangan politiknya lebih cenderung merujuk pada pemikiran al-Mawardi dan al-Ghazali, dua tokoh sunni yang memiliki pandangan politik yang moderat dan lebih mengedepankan sikap yang mementingkan keselarasan hubungan antarmanusia, sebagaimana watak orang Jawa.Sikap moderat dan memilih jalan damai inilah yang diadopsi NU sebagai pandangan politik dan kebangsaan, sebab sesuai dengan tradisi orang Jawa dimana mayoritas masyarakat pesantren tinggal. Secara spesifik sikap dan pandangan politik NU dapat dirumuskan dalam beberapa prinsip, yaitu tawasuth (keseimbangan), tawazun (keselarasan), I’tidal (teguh dan tidak berat sebelah), dan iqtishad (bertindak seperlunya  dan sewajarnya, tidak berlebihan).Namun, NU saat ini dipanggil lagi perannya untuk menghadapi berbagai ancaman dan tantangan dari luar maupun dari dalam yang berkaitan dengan nasionalisme. Di tengah-tengah perkembangan dunia, nasionalisme dikepung oleh tiga arus besar, yaitu globalisme, etnonasionalisme dan fundamentalisme. Globalisme adalah paket retoris yang berwujud ideologi pasasr neoliberal yang memberikan norma, nilai, dan makna-makna tertentu terhadap proses globalisasi. Secara umum globalisasi terjadi dalam tiga ranah, yaitu ekonomi, politik dan kultural.Sedangkan etnonasionalisme adalah gerakan yang mengusung etnisitas sebagai basis untuk mengeklaim hak membentuk pemerintahan sendiri. Pola gerakan ini sering dilakukan dengan cara konflik kekerasan, sehingga dinamakan dengan konflik etnis. Dalam perspektif negara gerakan ini disebut dengan separatisme. Dan fundamentalisme adalah kelompok agama yang menentang sekulerisme dan berkeinginan mendirikan negara Tuhan atau khilafah islamiyah. Bila dipetakan, globalisme dan fundamentalisme merupakan ancaman dari luar, sedangkan etnonasionalisme adalah ancaman dari dalam.Dalam buku ini, Ali Masykur Musa mengajak para masyarakat Indonesia, terutama warga NU untuk bersama-sama menumbuhkan dan mempertahankan kesadaran nasionalisme ala NU di tengah-tengah perkembangan zaman yang penuh dengan kepungan berbagai arus yang mengancam eksistensi nasionalisme. Secara kritis, penulis menyampaikan dasar pemahaman kebangsaan dan sikap politik NU serta hubungannya dengan negara dan nasionalisme. Selain itu penulis juga menyampaikan, ada tiga ancaman nasionalisme baik dari luar, maupun ancaman dari dalam, yaitu globalisme, etnonasionalisme dan fundamentalisme. Untuk dapat menghadapi tiga ancaman tersebut, NU harus membangun ulang orientasi kebangsaan, membangun sikap proaktif dan partisipatif dan membangun politik kelembagaan. Oleh karena itu, buku ini penting dibaca oleh para warga nahdliyin.              
Judul Buku      : Nasionalisme di Persimpangan: Pergumulan NU dan Paham Kebangsaan Indonesia
Penulis             : Ali Masykur Musa
Penerbit           : Erlangga
Tahun Terbit    : Cetakan 2011
Tebal               : 228 hlm
ISBN               : 978-979-099-478-2
Peresensi         : R. Andi Irawan
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • hjj-jpg-2

    Panggilan Haji, Bagi yang Belum Haji

    • calendar_month Kam, 24 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 426
    • 0Komentar

         Di plosok desa ada seorang rajin dalam urusan ibadah dan dia bisa dikatakan kyai dalam desa tersebut, sebut saja namanya kyai Anwar ( nama samaran). Beliau ketika melakukan suatu pekerjaan dalam urusan beribadah aktif, sampai – sampai kerajinannya di ketahui dan diakui masyarakat setempat dan masyarakat bisa memanggil beliau pak haji, padahal kyai […]

  • Salafiyah Borong Medali dalam Lomba Silat Nasional

    Salafiyah Borong Medali dalam Lomba Silat Nasional

    • calendar_month Sen, 16 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 447
    • 0Komentar

    MARGOYOSO-Yayasan Salafiyah Kajen, Margoyoso kembali membuat harum nama Kabupaten Pati di kancah Nasional. Setelah 3 Santri MA Salafiyah yang berhasil menyabet 3 medali dalam perhelatan pencak silat Tugu Muda Championship Open National Tournament 2019, kini beredar kabar dua santri MTs dan satu santri MI juga membawa pulang medali dari ajang yang sama. Para peaerta didik […]

  • Islam Agama Nurani. Photo by Mubashir Ahmet on Unsplash.

    Islam Agama Nurani

    • calendar_month Kam, 29 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 245
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Malam takbir Idul Qurban mengingatkan pelajaran Fiqih di madrasah tempo dulu. Seorang guru menjelaskan binatang yang sah digunakan qurban, di antaranya, genap usianya dan tidak cacat fisik. Step berikutnya, kalau bisa ya yang jantan, berbadan besar dan lain sebagainya. Intinya, carilah binatang terbaik di kelasnya. Kalau domba ya domba terbaik, kalau […]

  • Gelar Pelatihan, Fordaf Komitmen Lahirkan Daiyah Cinta NKRI

    Gelar Pelatihan, Fordaf Komitmen Lahirkan Daiyah Cinta NKRI

    • calendar_month Ming, 1 Des 2019
    • account_circle admin
    • visibility 327
    • 0Komentar

    PATI-Strategi dakwa selalu berubah sesuai dengan konteks zaman. Walisongo merupakan salah satu pionir dakwah kontekstual pada zamannya. Strategi ini yang kemudian diadopsi oleh dai masa kini. Dengan beragam media yang ada, para penceramah tersebut mulai menyebarkan pencerahan. Para peserta pelatihan daiyah yang diselenggarakan oleh Forum Daiyah Fatayat (Fordaf) Usai mengikuti pelatihan di aula PC NU […]

  • KH Ali Yafie: Sang Mujaddid Fiqh Klasik

    KH Ali Yafie: Sang Mujaddid Fiqh Klasik

    • calendar_month Ming, 26 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 303
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. H. Jamal Makmur Asmani KH. Ali Yafie adalah sosok reformer fiqh klasik. Beliau mampu menjelaskan kandungan fiqh klasik secara sistematis, argumentatif, dan kontekstual. Hal ini bisa dibaca dari karya-karya beliau yang luar. Alhamdulillah penulis bisa memiliki beberapa karya beliau yang sangat bernas. Fiqh sosial, fiqh bi’ah (fiqh lingkungan), konsultasi fiqh mengupas problematika […]

  • Ma'arif NU Jateng Finalkan Pedoman Branding Madrasah/Sekolah Unggulan

    Ma’arif NU Jateng Finalkan Pedoman Branding Madrasah/Sekolah Unggulan

    • calendar_month Ming, 2 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 328
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Semarang – Bertempat di Parkit Room Hotel Muria Semarang, Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah menggelar Lokakarya Pedoman Branding Madrasah/Sekolah Unggulan pada Ahad (2/7/2023). Dalam laporannya, Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan mengatakan bahwa tujuan kegiatan tersebut adalah menyempurnakan pedoman branding madrasah/sekolah unggulan yang sudah menjadi program prioritas. […]

expand_less