Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pustaka » Wujud Nyata Nasionalisme NU

Wujud Nyata Nasionalisme NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 2 Jan 2015
  • visibility 508
  • comment 0 komentar

Resensi Buku. NU adalah orgnasasai sosial keagamaan yang secara doktrinal menganut paham Aswaja (Ahlu sl-Sunnah wa al-Jama’ah). Menurut KH. Ahmad Syidiq, hakika Aswaja adalah ajaran Islam murni sebagaimana diajarkan dan diamalkan Rasulallah SAW, dan para sahabat. KH. Ahmad Syidiq melihat Aswaja adalah esensi ajaran Islam. Dalam pemahaman seperti ini, Aswaja merupakan esensi Islam yang bersifat dinamis sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia. Aswaja dalam pengertian demikian, mensyaratkan tiga hal penting, yaitu; Pertama, menghendaki keseimbangan antara trilogi Islam, yaitu iman, Islam, dan ihsan (akidah, syari’ah, dan akhlak atau tauhid, fiqh, dan tasawuf); Kedua,Aswaja merupakan masalah al-Ushul (prinsip atau pokok ajaran bukan furu’); Ketiga,pengamalannya selalu mengalami perkembangan yang dinamis dengan menggunakan metode tertentu. Secara spesifik Aswaja dalam perspektif NU mengikuti sistem bermadzhab. Dalam bidang fikih, NU mengikuti madzhab empat, yaitu Imam Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali. Dalam bidang akidah, NU mengikuti dua imam, yaitu imam Asy’ari dan Maturidi. Dan dalam bidang akhlak, NU mengikuti dua imam juga, yaitu Imam Junaidi al-Baghdadi dan al-Ghazali. Sistem bermadzhab inilah yang mendasari NU dalam menggali dan mengamalkan paham keagamaan dan kebangsaan (politik) secara dinamis. Dalam lembaran sejarah Indonesia, peran dan partisipasi NU dalam memperjuangkan nasionalisme tidak diragukan lagi. Rangkain narasi historis menunjukkan NU dengan berjalannya waktu konsisten mempertahankan paham nasionalismenya untuk tetap setia mendukung negara Indonesia dan pancasila.Dalam berbagai konteks, NU membuktikan komitmen tersebut. Pada tahun 1936 NU meyepakati bahwa wilayah Nusantara sebagai daru al-Islam, pada tahun 1945 NU mengeluarkan Resolusi Jihad membela tanah air, pada tahun 1954 NU menyematkan gelar waliyyu al-Amri al-Dlaruri bi al-Syaukah, dan puncaknya pada tahun 1984 NU menetapkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk sah dan final dari seluruh cita-cita nation, termasuk umat Islam, untuk mendirikan negara di kawasan Nusantara. Berbagai kebijakan di atas bukan tanpa dasar dan epistemologi yang kokoh. Paham kebangsaan NU digali dari pemikiran-pemikiran politik Sunni Abad pertengahan. Filsafat politik ini sudah mengalami perkembangan sekitar 500 tahun, diawali pada abad ke-9 oleh para ulama fikih, seperti al-Baqillani, al-Baghdadi, al-Mawardi, al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Khaldun. Namun dalam realitas dan praktiknya, NU dalam pandangan politiknya lebih cenderung merujuk pada pemikiran al-Mawardi dan al-Ghazali, dua tokoh sunni yang memiliki pandangan politik yang moderat dan lebih mengedepankan sikap yang mementingkan keselarasan hubungan antarmanusia, sebagaimana watak orang Jawa.Sikap moderat dan memilih jalan damai inilah yang diadopsi NU sebagai pandangan politik dan kebangsaan, sebab sesuai dengan tradisi orang Jawa dimana mayoritas masyarakat pesantren tinggal. Secara spesifik sikap dan pandangan politik NU dapat dirumuskan dalam beberapa prinsip, yaitu tawasuth (keseimbangan), tawazun (keselarasan), I’tidal (teguh dan tidak berat sebelah), dan iqtishad (bertindak seperlunya  dan sewajarnya, tidak berlebihan).Namun, NU saat ini dipanggil lagi perannya untuk menghadapi berbagai ancaman dan tantangan dari luar maupun dari dalam yang berkaitan dengan nasionalisme. Di tengah-tengah perkembangan dunia, nasionalisme dikepung oleh tiga arus besar, yaitu globalisme, etnonasionalisme dan fundamentalisme. Globalisme adalah paket retoris yang berwujud ideologi pasasr neoliberal yang memberikan norma, nilai, dan makna-makna tertentu terhadap proses globalisasi. Secara umum globalisasi terjadi dalam tiga ranah, yaitu ekonomi, politik dan kultural.Sedangkan etnonasionalisme adalah gerakan yang mengusung etnisitas sebagai basis untuk mengeklaim hak membentuk pemerintahan sendiri. Pola gerakan ini sering dilakukan dengan cara konflik kekerasan, sehingga dinamakan dengan konflik etnis. Dalam perspektif negara gerakan ini disebut dengan separatisme. Dan fundamentalisme adalah kelompok agama yang menentang sekulerisme dan berkeinginan mendirikan negara Tuhan atau khilafah islamiyah. Bila dipetakan, globalisme dan fundamentalisme merupakan ancaman dari luar, sedangkan etnonasionalisme adalah ancaman dari dalam.Dalam buku ini, Ali Masykur Musa mengajak para masyarakat Indonesia, terutama warga NU untuk bersama-sama menumbuhkan dan mempertahankan kesadaran nasionalisme ala NU di tengah-tengah perkembangan zaman yang penuh dengan kepungan berbagai arus yang mengancam eksistensi nasionalisme. Secara kritis, penulis menyampaikan dasar pemahaman kebangsaan dan sikap politik NU serta hubungannya dengan negara dan nasionalisme. Selain itu penulis juga menyampaikan, ada tiga ancaman nasionalisme baik dari luar, maupun ancaman dari dalam, yaitu globalisme, etnonasionalisme dan fundamentalisme. Untuk dapat menghadapi tiga ancaman tersebut, NU harus membangun ulang orientasi kebangsaan, membangun sikap proaktif dan partisipatif dan membangun politik kelembagaan. Oleh karena itu, buku ini penting dibaca oleh para warga nahdliyin.              
Judul Buku      : Nasionalisme di Persimpangan: Pergumulan NU dan Paham Kebangsaan Indonesia
Penulis             : Ali Masykur Musa
Penerbit           : Erlangga
Tahun Terbit    : Cetakan 2011
Tebal               : 228 hlm
ISBN               : 978-979-099-478-2
Peresensi         : R. Andi Irawan
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perkuat Lingkungan Ramah Santri, RMI NU Gelar 'Sambang Pesantren' di Pati

    Perkuat Lingkungan Ramah Santri, RMI NU Gelar ‘Sambang Pesantren’ di Pati

    • calendar_month Sen, 3 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17.500
    • 0Komentar

      ​PATI — Upaya memperkuat keharmonisan dan keamanan di lingkungan pesantren terus digalakkan. Pengrus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) dan SAKA Pesantren, bekerja sama dengan PWNU Jawa Tengah serta PCNU Kabupaten Pati, sukses menggelar kegiatan Sambang Pesantren dengan mengusung tema “Pesantrenku Aman”, Ahad (2/8/2026). ​Kegiatan yang diselenggarakan oleh RMI PWNU Jawa […]

  • KKG Ke-NU-an MI Tancap Gas Jalankan Proker

    KKG Ke-NU-an MI Tancap Gas Jalankan Proker

    • calendar_month Sab, 9 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 424
    • 0Komentar

    Adib Al Arif, Ketua LP Ma’arif Kabupaten Pati sedang menyampaikan gagasannya dalm rapat koordinasi KKG MI untuk Mapel Ke-NU-an di Gedung PCNU Pati, Sabtu (9/10) PATI – Kelompok Kerja Guru (KKG) Madrasah Ibtidaiyah pelajaran Ke-NU-an Kabupaten Pati melakukan rapat koordinasi dengan Guru Ke-NU-an se-Kabupaten Pati. Rapat koordinasi dihadiri oleh Ketua LP Ma’arif Kabupaten Pati, Adib […]

  • Pendidikan Responsif Gender

    Pendidikan Responsif Gender

    • calendar_month Jum, 30 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 446
    • 0Komentar

     Oleh : Sulistiani* Gender merupakan perlabelan atas laki-laki dan perempuan. Kontruksi ini tidak lagi membedakan laki-laki dan perempuan atas perbedaan seks yang dimiliki. Secara mendasar gender berbeda dari jenis kelamin biologis. Jenis kelamin biologis merupakan pemberian, kita dilahirkan sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan. Seperti halnya yang di kemukakan Hartian Silawati dalam buku Gender & […]

  • Fatayat NU Pati Didorong untuk Berani Tampil dalam Perpolitikan

    Fatayat NU Pati Didorong untuk Berani Tampil dalam Perpolitikan

    • calendar_month Kam, 9 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 413
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id. PATI – Para perempuan didorong untuk berani tampil dalam dunia politik. Apalagi mampu menempati jabatan yang strategis, baik di eksekutif maupun legislatif. Hal itu sebagaimana yang diungkapkan oleh Presiden Pecinta Sholawat (Pecis) Muh Zen, saat menghadiri kegiatan bertema “Peningkatan Partisipasi Perempuan dalam Proses Pengambilan Keputusan sebagai Implementasi Serat Kartini”. Adapun kegiatan yang bertempat di […]

  • fff-png-2

    Bekerja Menjadi WTS

    • calendar_month Ming, 27 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 373
    • 0Komentar

      1.       Dizaman sekarang ini banyak sekali yang namanya WTS (wanita tuna susila), diantara alasan wts-wts tersebut adalah  bekerja sebagai WTS guna menghidupi kebutuhan hidup dirinya dan juga keluarganya.   Pertanyaan : a.      Bagaimana hukum menjadi WTS dengan alasan diatas, dan bagaimana jika karena menuruti hawa nafsu ?   Jawaban :Menjadi WTS sudah jelas hukumnya […]

  • Mahabbah dan Ittiba’

    Mahabbah dan Ittiba’

    • calendar_month Kam, 12 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 516
    • 0Komentar

      الحمد لله رب العالمين الودود الذي يتودد إلى خلقه برحمته، والشكر لله رب العالمين الذي أوجد الكائنات بحكمته، وأشهد أن لا إله الله وحده لا شريك له، لا ينفعه ظمأ الظمئانين ولا جوع الجائعين لكن من ظميء لله يوماً كان حق على الله أن يسقيه في يوم ظمئه، ومن جاع لله تعالى يوماً كان […]

expand_less