Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pustaka » Tetes Darah Perjuangan dalam Buku Laskar Ulama-Santri

Tetes Darah Perjuangan dalam Buku Laskar Ulama-Santri

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 14 Okt 2023
  • visibility 452
  • comment 0 komentar

Salah satu aspek penting dari Nahdlatul Ulama yang wajib diketahui adalah sejarah perjuangan ulama-santrinya. Bukan sejarah arus utama yang kerap dibenturkan kepentingan kelompok tertentu; bukan pula yang ditulis para generasi nasionalis, yang menonjolkan figur utama sejarah sehingga detail sejarah dan tokoh-tokoh lain yang perannya sangat besar nihil disebutkan. Tulisan ini mencoba menerangkan sisi lain sejarah itu dalam bentuk indoktrinasi pemahaman atas sejarah arus utama, yang ditulis kalangan nonsantri, melalui catatan kecil atas sebuah buku sejarah yang ditulis komprehensif seorang sejarawan-santri. 

Buku ini cukup lama ditulis, sekitar 11 tahun yang lalu. Selama itu pula, buku ini berulang kali didiskusikan para mahasiswa, santri, dan kalangan pemerhati isu sejarah ulama pesantren Nusantara. Ditulis oleh sejarawan asal Pati yang menekuni dunia pesantren dan ulama nusantara, buku ini menawarkan informasi luar biasa nan penting berkenaan dengan dinamika perlawanan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825-1830 hingga pertempuran heroik Surabaya yang diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Ketertindasan masyarakat Indonesia bukan omong kosong belaka. Hal itu lugas disaksikan kalangan ulama dan santri pesantren yang pada fase selanjutnya mengonsolidasi gerakannnya dalam basis kultural melalui jejaring ulama Nusantara. Basis kultural itu disokong diaspora para ulama Nusantara di Timur Tengah yang kebanyakan bermukim di Mekkah dengan sebutan Ashab Al-Jawiyyin. Ulama nusantara yang berangkat ke Timur Tengah berkumpul, berkontak, bertukar informasi dan saling menguatkan dukungan. Meskipun telah menjadi warga Arab mereka tetap mendorong lahirnya benih-benih perjuangan melawan penjajahan.

Penindasan Belanda dan negara Barat atas rakyat pribumi amat menekan hati kecil banyak ulama-santri. Muncul gerakan untuk melawan kezaliman yang turun temurun bergenerasi itu. Satu-satunya jalan melawan adalah turun ke medan tempur. Akan tetapi, para ulama sadar perjuangan ketika itu masih sangat lemah dan akan mudah patah. Oleh karenanya, para murid yang kembali dari Mekkah kemudian menguatkan basis perlawanan ke dalam bilik-bilik pesantren.

Buku ini terdiri dari enam bab. Tersusun secara kronologis, mulai dari apersepsi rekonstruksi metanarasi sejarah. Pembaca ditantang merefleksikan sejarah arus utama dengan menarasikan kembali sejarah yang kontra dengan narasi besar yang lama dipercaya. Pada bab kedua, penulis memaparkan rentetan tapak tilas perlawanan ulama-santri terhadap penindasan kolonial. Pada bab ini pula penulis mencoba menguak sisi rumpang sejarah yang tak terbaca, melalui sederet nama ulama-santri yang melakukan konsolidasi perjuangan, baik secara individu maupun berkelompok. Derasnya perjuangan itu sampai mendorong para kiai memobilisasi santri mengikuti pelatihan militer di Cibarusa, Bogor bersama barisan Peta (Pembela Tanah Air).

Para santri hasil didikan Cibarusa kemudian merintis perjuangan lewat badan kelaskaran di tiap kantong basis perlawanan daerah. Laskar ini dikomandoi seorang santri atau kiai sendiri yang memiliki basis keahlian militer: mengangkat senjata, menyusun strategi, atau pernah terjun bertempur. Kemudian di Bab Empat, jejaring itu dikuatkan kembali koneksi ulama pesantren yang terhubung untuk bertempur di bawah bendera Resolusi Jihad Fi Sabilillah. Setiap pertempuran bersejarah: aksi 10 November di Surabaya, peristiwa Palagan Ambarawa, perlawanan di Yogyakarta, dan Pertempuran Tanah Pasundan tak pernah luput dari kontribusi kiai-santri dalam barisan Laskar Hizbullah dan Sabilillah.

Bab selanjutnya, perjuangan tidak langsung padam. Barisan laskar yang melebur ke dalam TNI tetap memegang teguh landasan perjuangan sebelumnuya. Pada kesempatan ini, Muktamar ke-16 NU menetapkan Resolusi Jihad II kepada seluruh masyarakat muslim untuk berjuang totalitas mempertahankan kemerdakaan bangsa dari rong-rongan agresi militer Belanda. (hlm. 296–297). Bab keenam secara sederhana merupakan pelengkap keterangan atas simbolisasi perjuangan ulama-santri, pesantren sebagai basis perjuangan, dan kesaktian senjata bambu runcing.

Secara keseluruhan, buku ini berisi informasi penting yang sulit didapat dari sumber lain. Pembaca yang ingin menajamkan pencariannya mengenai sejarah panjang NU dan basis perjuangan ulama dahulu—khususnya di Jawa dalam mempertahankan Nusantara hingga Indonesia—tepat sekali untuk menelaahnya. Buku ini dilengkapi peta jejaring ulama-santri, mulai dari Syekh Abdurrauf Singkel dan Nuruddin Al-Raniri, Syekh Ahmad Mutamakkin dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan yang sekurun hingga diteruskan Pangeran Diponegoro, sampai yang terjauh senarai murid Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari beserta ulama sezamannya. (hlm. 77)

Meskipun begitu, satu-dua hal yang perlu dipikirkan ulang sebelum membaca buku ini adalah tebalnya buku untuk diselesaikan secara cepat layaknya membaca novel. Selain itu, pembaca perlu berulang kali membolak-balik lembaran buku demi tahu keterangan (catatan) kaki di halaman terakhir bab. Catatan itu melengkapi informasi yang terbatas dalam buku. Kendala lain yang mungkin dihadapi adalah akses buku yang terbilang sulit karena di beberapa perpustakaan memang belum tersedia, dan satu-satunya jalan mungkin membeli versi loak atau versi barunya.

Buku ini ibarat kumpulan buih air yang tersusun harmonis menjabarkan fakta, bahwa sejarah Indonesia tidak terlepas dari tumpahan darah para santri dan kiai, yang nama dan riwayat perjuangannya hilang atau sengaja dihilangkan oleh kepentingan subjektif narator sejarah arus utama. Subjektifitas penulis yang hanya bertujuan “menabikan” tokoh nasionalis mereka. Ketakutan mereka atas keruntuhan pamor tokohnya jika masyarakat tahu kebenarannya. Sejarah akan terus menemukan pemaknaanya seiring proses dialektika yang tiada kunjung berhenti (Pengantar, XV).

Judul Buku                  : Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad: Garda Depan Menegakkan Indonesia (1945–1949)

Penulis                         : Zainul Milal Bizawie

Tahun terbit                : 2014

Kota terbit                   : Tangerang

Jumlah halaman           : 452 hlm.

Peresensi                     : Fahri Reza Muhammad

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • c

    Twibbonize Hari Santri Nasional 2022

    • calendar_month Kam, 20 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 340
    • 0Komentar
  • LAZISNU Pati Luncurkan Program Berzakat untuk Mengurangi Penghasilan Wajib Pajak

    LAZISNU Pati Luncurkan Program Berzakat untuk Mengurangi Penghasilan Wajib Pajak

    • calendar_month Ming, 4 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 490
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Ketua Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah (Lazisnu) Pati, Edi Kiswanto, mengumumkan peluncuran Program Berzakat di LAZISNU Kabupaten Pati yang dapat mengurangi penghasilan wajib pajak. Menurut Edi, program ini dapat memberikan solusi bagi masyarakat yang memiliki kewajiban zakat dan pajak. “Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan fasilitas pengurangan pajak dari sumbangan […]

  • Fenomena FOMO Ramadan

    Fenomena FOMO Ramadan

    • calendar_month Ming, 23 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 430
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda*   Apa to sakjane FOMO kuwi? Fear of Missing Out atau FOMO pada intinya perasaan cemas ketinggalan pengalaman atau aktivitas tertentu yang sering muncul saat Rmadan. Fenomena Ramadan intinya perasaan cemas atau takut ketinggalan momen-momen berharga selama bulan Ramadan. Fenomena ini seringkali dipicu oleh media sosial, ya Facebook, Instagram, TikTok, X, di […]

  • Kemenag Pati Antar FKUB Raih Peringkat III Harmony Award 2025

    Kemenag Pati Antar FKUB Raih Peringkat III Harmony Award 2025

    • calendar_month Sab, 29 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.868
    • 0Komentar

    Jakarta (Humas) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati, Ahmad Syaiku, mendampingi Ketua FKUB Kabupaten Pati, Manhajussidad, menerima penghargaan Peringkat III Kinerja Terbaik FKUB Tingkat Kabupaten dalam ajang bergengsi Harmony Award 2025 yang diselenggarakan Kementerian Agama RI. Penganugerahan berlangsung meriah di Hotel Double Tree Kemayoran, Jakarta, Jumat malam (28/11/2025). Penghargaan ini menegaskan bahwa Kabupaten Pati […]

  • Perkuat Pembelajaran Ke-NU-an, Ma'arif NU Jepara Gelar Workshop

    Perkuat Pembelajaran Ke-NU-an, Ma’arif NU Jepara Gelar Workshop

    • calendar_month Kam, 27 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 402
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.idJepara – Dalam rangka capacity building guru-guru ke- NU-an, LP. Ma’arif NU PCNU Jepara menggelar Workshop Penguatan Aswaja guru MI, MTs, MA, dan SMP se- Kecamatan Donorojo dan Kecamatan Keling. Kegiatan yang digelar di Gedung MWC NU Donorojo hari Selasa 25 Februari 2025 diikuti 70 guru Ke- NU- an di lingkungan LP Ma’arif NU […]

  • Rakerwil I, LP. Ma’arif NU Jateng Launching Porsema XIII di Wonosobo

    Rakerwil I, LP. Ma’arif NU Jateng Launching Porsema XIII di Wonosobo

    • calendar_month Sab, 19 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 298
    • 0Komentar

      Wonosobo – Bertempat di Ruang Sinensis, Tambi Tea Resort Wonosobo, pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah periode 2024-2029 bersama Ketua dan Sekretaris Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PCNU Kabupaten/Kota se Jawa Tengah melaksanakan kegiatan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) I pada Sabtu (19/10/2024). Kegiatan itu juga dirangkai agenda Lauching Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif […]

expand_less