Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Santri dan Literasi

Santri dan Literasi

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 25 Nov 2023
  • visibility 247
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto

Pesantren pada umumnya merupakan model pendidikan yang menekankan pada khazanah keilmuan kitab kuning dan ilmu agama. Sehingga pesantren lebih terkenal di lingkungan masyarakat sebagai lembaga pendidikan non formal yang fokus pada pendidikan keagamaan dan pendidikan karakter terhadap para santri.

Sedangkan santri sendiri di dalam pondok pesantren merupakan salah satu unsur penting yang ada di dalam pesantren. Dimana merujuk dari buku “Tradisi Pesantren” yang ditulis oleh Zamakhsyari Dhofier salah satu unsur yang harus dimiliki pesantren adalah adanya kiai, santri, kitab kuning, asrama, dan masjid/mushala.

Dengan demikian dengan adanya beberapa unsur di atas menegaskan bahwa pesantren bisa survive dan kontinyu secara kegiatan harus memiliki kelima unsur tersebut. Maka, dengan adanya kelima unsur tadi, pesantren bisa melakukan aktivitas kegiatan belajar-mengajar yang ada di dalam pondok pesantren.

Adapun bentuk kegiatan belajar-mengajar di pondok pesantren tentunya masing-masing pesantren memiliki ciri khas tersendiri. Misalnya dalam hal ini Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang lebih menekankan para santrinya untuk mengkaji kitab kuning. Selain mengkaji kitab kuning santri juga didorong untuk menghafal perangkat yang ada di dalam kitab kuning. Karena untuk bisa mahair membaca teks kitab kuning tanpa haraka. Tentunya santri harus menguasai seperangkat sebagi pendukung agar santri mampu menguasai khazanah kitab kuning dengan benar dan baik.

Selain itu juga ciri khas dari pesantren adalah tradisi menghafal. Misalnya dalam hal ini Pondok Pesantren Yanbu’ul quran Kudus. Dimana konsen dari pesantren ini adalah menghafal Alquran. Tradisi menghafal Alquran sudah turun-temurun dari Mbah Arwani Amin Kudus hingga sekarang masih istikamah terjaga.

Tradisi hafalan di pesantren sudah menjadi ciri khas yang ada di dalam pondok pesantren. Sehingga agar para santri bisa sukses tentunya menghafal dan mempelajari khazanah keilmuan yang ada di pondok pesantren sudah menjadi kewajiban para santri untukterus mendawamkan kegiatan tersebut sampai kapanpun.

Oleh karena itu, antara tradisi menulis, membaca, dan menghafal merupakan tardisi santri di dalam pondok pesantren yang harus dijaga sebagai tradisi legacy para fanther fanthers dan monthers yang ada di dalam pondok pesantren.

Dengan demikian,dari banyaknya pesantren yang tersebar luas di penjuru Nusantra yang memiliki kearifan lokal masing-masing, tentunya  para santri tidak lepas dibekali pada dunia lietrasi.

Literasi ini tidak hanya terpusat pada baca dan tulis saja, melainkan santri diajarkan untuk bisa membaca fenomena yang ada di lingkungan sekitar.  Hal ini dimaksud agar santri memiliki andil besar dalam kontribusi konkret di lingkungan masyarakat.

Dalam hal ini,banyak output yang lahir dari pesantren yang memiliki kiprah dan sumbangsih konkret di lingkungan masyarakat. Misalnya KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh melalui fiqih sosialnya, beliau mampu memberdayakan masyarakat sekitarnya. KH Abdurrohman Wahid yang lebih akrab dipanggil Gus Dur,melalui kiprah pemikirannya, banyak dari kalangan  anak muda terbuka pemikirannya dan lebih kritis dalam membaca fenomena sosial di masyarakat. Selain itu juga tokoh lain yakni, Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari yang selalu menjadi figur dan tauladan bangsa, berkat kegigihan dan perjuangnya dalam mengusir   kolonialisme dari ibu pertiwi. Banyak dari kalangan santri, kiai, dan anak muda yang terinspirasi dari beliau untuk dijadikan sebagai tauladan bangsa.

Oleh karena itu, dari beberapa output pesantren yang memiliki sumbangsih baik secara pemikiran, tindakan, dan laku, tentunya itu semua dilakukan untuk memberikan pengaruh dan kontribusi terhadap masyarakat sekitar serta masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan demikian, adanya beberapa contoh konkret di atas, harapannya santri yang masih belajar di pondok pesantren bisa mengambil hikmah dan bisa menerapkannya kelak setelah selesai dari pondok pesantren.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ma’arif NU Jateng Apresiasi Pola Perekrutan Guru Ma’arif Cabang Kendal

    Ma’arif NU Jateng Apresiasi Pola Perekrutan Guru Ma’arif Cabang Kendal

    • calendar_month Sen, 10 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 376
    • 0Komentar

    Semarang – Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP. Ma’arif NU) PWNU Jawa Tengah mengapresiasi pola perekrutan Guru dan Tenaga Kependidikan yang dilakukan LP. Ma’arif NU PCNU Kabupaten Kendal. Hal itu disampaikan Wakil Ketua LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Fakhrudin Karmani, Senin (10/7/2023). “Pola perekrutan berbasis kompetensi sangat bagus yang dilakukan LP. Ma’arif NU PCNU […]

  • Rapat Anggota Tahunan  Koperasi Aneka Jasa 26 Berjalan Sukses

    Rapat Anggota Tahunan Koperasi Aneka Jasa 26 Berjalan Sukses

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 477
    • 0Komentar

    Kabar NU. Sabtu 14 Maret di Gegung PCNU Lt 3 Koperasi Aneka Jasa 26 mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT). Dengan di adakan rapat ini harapan kedepannya Koperasi Aneka Jasa 26 dapat berkembang dan bermanfaat untuk umat. “Usia KAJ 26 sdh 20 tahun. Ibarat remaja adalah usia yang produktif. Semoga ke depan lebih berkembang dan maju […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Influencer, Ulama, dan Otoritas Ilmu

    • calendar_month Jum, 13 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.087
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Ketiga profesi (pekerjaan), hobi, minat, atau aktivitas pada judul kolom ini memang bukan seharusnya diparadokskan. Akan tetapi, ketiga memiliki ruh yang sama, yaitu “ingin berkuasa” dalam arti tertentu.   Zaman dulu, orang mencari ilmu tak sebatas aktivitas intelektual dan akademis, namun juga perjalanan fisik yang panjang dan tentu sangat melelahkan […]

  • PCNU-PAT

    70 Desa di Kabupaten Pati Kekeringan

    • calendar_month Kam, 5 Okt 2023
    • account_circle admin
    • visibility 319
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Sebanyak 70 desa di Kabupaten Pati alami kekeringan. Akibatnya, lebih dari 106 ribu jiwa terdampak. Ini berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati. Adapun 70 desa yang mengalami kekeringan, tersebar di 10 kecamatan. Antara lain Kecamatan Jaken, Jakenan, Winong, Tambakromo, Gabus, Kayen, Sukolilo, Batangan, Pucakwangi dan Kecamatan Tayu.  Penjabat (Pj) Bupati […]

  • PCNU-PATI

    Launching Buku ke-39, Dosen PGMI INISNU Produktif Menulis

    • calendar_month Sab, 24 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 253
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Temanggung – Bertempat di ruang rapat Wakil Rektor, dosen Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung Hamidulloh Ibda melaunching buku “Pendidikan Inklusi Berbasis GEDSI (Gender Equality, Disability and Social Inclusion)” pada Sabtu (24/6/2023) yang merupakan karya bukynya ke-39. Sebelumnya, Hamidulloh Ibda menulis buku sejak […]

  • Santri-Santri dari Berbagai Pesantren Ikuti Bahtsul Masail RMI NU Pati

    Santri-Santri dari Berbagai Pesantren Ikuti Bahtsul Masail RMI NU Pati

    • calendar_month Ming, 19 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 350
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Dalam rangka memperingati Hari Santri 2025, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Kabupaten Pati menyelenggarakan kegiatan Bahtsul Masail Santri, di Madrasah Salafiyah Kajen, Margoyoso, Sabtu (18/10/25). Ketua RMI NU Kabupaten Pati, KH. Muhammad Liwauddin, mengatakan bahwa kegiatan ini diikuti oleh perwakilan pesantren se-Kabupaten Pati. “25 pesantren ikut melaksanakan bahtsul masail ini. Harapan kami […]

expand_less