Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Biksu Menabung untuk Menerbitkan Tao Te Ching

Biksu Menabung untuk Menerbitkan Tao Te Ching

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 5 Sep 2022
  • visibility 516
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Sebuah kisah menarik dari legenda Jepang. Konon ada seorang biksu yang tertarik menerjemah dan menerbitkan buku Tao Te Ching ke dalam bahasanya. Sembari menerjemah ia menabung untuk menerbitkannya kelak. Kurang lebih 10 tahun ia berhasil mengumpulkan dana yang kira-kira cukup untuk menerbitkan hasil terjemahannya itu. Ketika siap mencetak bukunya tiba-tiba terjadi bencana besar, yakni wabah penyakit sampar. Sang biksu ragu untuk menggunakan ambisinya menerbitkan terjemahannya itu.

Ia mengambil keputusan bahwa dana yang sudah dikumpulkannya itu akan peruntukkkan orang-orang yang terkena penyakit. Dan dengan sekejap uangnya habis seketika. Saat keadaan sudah mulai normal, sang biksu mulai kembali mengumpulkan uang untuk menerbitkan terjemahannya itu. Nampaknya mimpinya masih tetap terjaga. 10 tahun telah berlalu dan dananya pun sudah cukup untuk membiayai mimpi yang sempat tertunda. Namun bencana terjadi lagi. Kali ini gempa bumi melanda desa itu.

Banyak orang kehilangan rumah dan pekerjaan. Sang biksu tak tega melihat kenyataan itu. Lagi-lagi, dengan legowo ia merelakan uang yang sudah dikumpulkan kali keduanya. Dan seperti kejadian sebelumnya, uangnya dengan sekejap habis dibuat membeli segala keperluan pembangunan rumah masyarakat. Setelah semua kembali normal, ia memulai kembali mengumpulkan uang. 10 tahun kemudian, sang biksu berhasil menerbitkan terjemahan Tao Te Ching. Dan semua penduduk bahkan seluruh rakyat Jepang bisa membacanya.   

            Perihal kisah di atas Paulo Coelho memberikan komentar yang sungguh menarik, yang berbunyi, “Orang-orang bijak mengatakan bahwa sebenarnya sang biksu telah menerbitkan tiga buku Tao ini: dua dalam versi yang tidak kasatmata, dan satu dalam bentuk tercetak. Dia meyakini Utopia-nya, berjuang mewujudkan hal yang baik, dan tetap setia pada tujuannya, namun sekaligus tidak mengabaikan sesamanya. Saya berharap kita semua bisa meniru teladannya: kadang-kadang buku-buku yang “tidak kasatmata”, yang muncul dari kemurahan hati yang diperlihatkan terhadap sesama, sama pentingnya dengan buku-buku yang mengisi perpustakaan-perpustakaan kita.”[1]

            Aduhai, indah sekali perkataan Paulo Coelho itu. Keteladan sang biksu patut kita tiru dalam laku keseharian kita. Saya jadi teringat perkataan Siti Aisyah RA, bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah Al-Quran yang berjalan. Dengan kata lain apa yang dilakukan Rasulullah merupakan pengejawantahan dari segala yang termaktub dalam Al-Quran. Segala sesuatu yang diperintahkan dan dilarangnya diamalkan. Jadi, kalau kita ingin melihat ajaran Al-Quran, lihatlah Nabi Muhammad. Kira-kira begitu gambarannya. 

            Impian baik kita sebetulnya tidak lebih penting dari perilaku baik kita dalam keseharian. Kita mempunyai impian dan cita-cita luhur namun kerapkali melupakan hal-hal sepele yang terjadi dalam lingkungan kita, yang justru bertolak belakang dengan cita-cita mulia itu sendiri. Fokus kita terlampau jauh. Mestinya, memelihara cita-cita itu harus sejalan dalam laku keseharian kita. Misalnya saja, orang ingin menjadi dokter atau insinyur, tapi dia tidak peduli dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan dia yang ada di sekelilingnya.

Mestinya sembari dia meraih cita-citanya, sembari dia peduli pula dengan yang ada di sekelilingnya. Jadi, tatkala dia sudah berhasil menolong orang yang ada di sekelilingnya, sesungguhnya dia sudah meraih cita-citanya. Itu adalah inti kehidupan. Cita-cita menjadi dokter, insinyur, ilmuwan, dan lain-lain, sesungguhnya itu adalah sarana (wasilah) bukan tujuan (ghayah). Pemahaman inilah yang mungkin harus kita tanamkan dalam benak kita. Karena tidak sedikit orang terjebak dalam masalah ini.

Semua sarana yang disebutkan di atas sebetulnya tujuannya adalah satu: melakukan kebaikan (sesuai dengan profesinya). Ya, kebaikan. Itulah sebenarnya yang harus dijadikan tujuan. Apa pun profesi kita pada hakikatnya adalah hendak melayani orang lain sesuai dengan keahlian yang kita punya. Jadi keliru apabila ada di antara kita yang menjadikan cita-citanya sebagai tujuan, bukan sarana untuk menebar kebaikan. Paradigma berpikir seperti ini saya kira sangat penting agar kita tidak putus asa dalam usaha meraih impiannya.

Bisa dibayangkan, betapa kecewanya apabila ada orang yang gagal dalam meraih impiannya, padahal dia sudah mengupayakannya. Misalnya saja ada orang ingin menjadi guru PNS. Dia mencoba berkali-kali ikut tes ketika ada pembukaan, tapi dia selalu gagal. Kemungkinan besar dia kecewa. Dan bisa jadi putus asa. Padahal, menjadi guru PNS adalah sarana untuk menjadi guru yang terdaftar sebagai pegawai negara, alias digaji oleh negara. Sedang tujuannya adalah mengajar siswa tentang pengetahuan. Kalau sudah bicara tujuan, semestinya dia tidak perlu kecewa hanya lantaran, misalnya, sebagai guru swasta maupun honorer.

Tentu soal lain apabila sudah berbicara soal gaji dan pendapatan. Karena barangkali itu pula yang dikejar banyak orang mengapa ingin menjadi PNS. Terlalu rendah jadinya kalau itu menjadi ukuran. Soal gaji dan pendapatan itu soal keahlian dan strategi saja. Jadi ada niat yang keliru kalau ada orang ingin menjadi guru PNS karena gaji yang lumayan dan jaminan seumur hidup. Karena di luar PNS pun soal gaji dan jaminan cukup menjanjikan apabila kita mau mencarinya. Dengan berbisnis, misalnya.

Jelas sudah antara sarana dan tujuan. Kembali ke cerita awal tentang biksu yang bercita-cita ingin menerbitkan terjemahan Tao Te Ching, bahwa sang biksu sadar sesadar-sadarnya bahwa keinginan tersebut hanyalah sebuah sarana untuk mencapai tujuan yakni agar orang mendapatkan pencerahan dan kehidupan yang baik, dalam hal ini, lewat bukunya itu dimana nanti bisa dibaca khalayak masyarakat. Oleh karena itu, dia tidak ragu tatkala desanya ditimpa musibah, dana yang dikumpulkan untuk biaya cetak, dia pergunakan untuk keperluan desanya tersebut, entah itu membeli obat-obatan, membangun rumah, membeli makanan, dan lain-lain.      

            Nampaknya, di zaman ini banyak orang menukar antara keduanya, ghayah dijadikan wasilah dan wasilah dijadikan ghayah. Akibatnya banyak orang berperilaku buruk dan merugikan diri sendiri dan masyarakat, bahkan negara. Oleh karena itu, ada hal yang harus selalu diingat, bahwa dunia ini hanya sekadar wasilah, bukan ghayah. Bahwa hidup di dunia ini ibarat sekadar mampir minum. Menurut Gus Mus, panggilan akrab Mustofa Bisri, kalau sudah segalanya dunia, Al-Quran dibaca beribu kali itu tidak akan berpengaruh, apalagi Al-Quran hanya dagingnya saja (dipahami simbolik saja). Zikir atau istigasah tidak akan ada gunanya, kalau cuma daging saja.

            Betul dengan apa yang dikatakan Gus Mus bahwa tampaknya kehidupan kita ini kita sudah jatuh pada yang sifatnya daging-daging saja. Sedang substansial atau ruh itu sudah semakin jauh, karena kita sudah ke daging dan daging. Semoga kita selalu sadar dan dapat membedakan mana wasilah dan mana ghayah. Wallahu a’lam bi al-shawab. []


                [1] Ibid., hlm. 168

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MWC NU Batangan Kelola 800 Kotak Koin NU

    MWC NU Batangan Kelola 800 Kotak Koin NU

    • calendar_month Sen, 30 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 424
    • 0Komentar

    BATANGAN-Kabar Bahagia datang dari pengurus MWC-NU Batangan. Koin NU yang digagas Ramadhan silam, kini teah membuahkan hasil manis. Total ada delapan ratusan kotak koin yang disebar oleh Tim yang dibentuk oleh K. Ali Muhtarom, ketua MWC NU Batangan. Tercatat, 10 desa telah melakukan koinisasi ini. Proses pembedahan kotak koin NU MWC NU Batangan yang dilakukan […]

  • KKG Ke-NU-an MI Tancap Gas Jalankan Proker

    KKG Ke-NU-an MI Tancap Gas Jalankan Proker

    • calendar_month Sab, 9 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 424
    • 0Komentar

    Adib Al Arif, Ketua LP Ma’arif Kabupaten Pati sedang menyampaikan gagasannya dalm rapat koordinasi KKG MI untuk Mapel Ke-NU-an di Gedung PCNU Pati, Sabtu (9/10) PATI – Kelompok Kerja Guru (KKG) Madrasah Ibtidaiyah pelajaran Ke-NU-an Kabupaten Pati melakukan rapat koordinasi dengan Guru Ke-NU-an se-Kabupaten Pati. Rapat koordinasi dihadiri oleh Ketua LP Ma’arif Kabupaten Pati, Adib […]

  • PCNU-PATI

    KKN IPMAFA Membekali Pelatihan Tanaman Toga di Desa Kadilangu

    • calendar_month Rab, 23 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 557
    • 0Komentar

    Pcnupati.or,id- Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) – Dalam rangka mengsukseskan program kerja, KKN Hypatia melaksanakan Sosialisasi Pentingnya Tanaman Toga sekaligus Simulasi Penanaman Tanaman Toga di Desa Kadilangu. (Selasa, 22/8/23) Dalam acara tersebut Tim KKN menghadirkan pemateri Siswanto, S. sos., M.A yang merupakan Dosen Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI). Beliau menjelaskan bahwasannya “Tanaman Toga adalah […]

  • Perkuat Publikasi dan Informasi, LTN NU Temanggung Rapatkan Barisan

    Perkuat Publikasi dan Informasi, LTN NU Temanggung Rapatkan Barisan

    • calendar_month Rab, 16 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 509
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id.Temanggung – Bertempat di Lawoek Coffee Temanggung, jajaran calon pengurus Lembaga Ta’lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) PCNU Kabupaten Temanggung menggelar rapat perdana dalam rangka konsolidasi kelembagaan pada Selasa malam (15/4/2025). Dijelaskan Ketua LTN NU PCNU Kabupaten Temanggung Faiz Syauqi, bahwa LTN NU adalah lembaga Nahdlatul Ulama di bidang kepenulisan dengan tugas utama […]

  • Mengenal Lebih Dekat Sosok KH Maimoen Zubair

    Mengenal Lebih Dekat Sosok KH Maimoen Zubair

    • calendar_month Kam, 9 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 526
    • 0Komentar

    KH. Maimoen Zubair merupakan sosok kiai yang ‘alim, faqih, relegius, dan pemersatu bangsa. Kiai Maimoen Zubair juga merupakan mata air keteladanan. Ulama karismatik ini membaktikan seluruh hidupnya untuk santri dan pesantren. Mbah Maimoen, demikian sapaan akrabnya beliau, begitu telaten dalam mendidik santri-santri yang datang dari berbagai penjuru negeri. Ia tak sekedar mengajar, tetapi juga menjadi […]

  • RMI-NU Desak Polresta Pati Tuntaskan Kasus Asusila Santri

    RMI-NU Desak Polresta Pati Tuntaskan Kasus Asusila Santri

    • calendar_month Kam, 30 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 13.058
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Kabar seorang oknum pengasuh pondok pesantren yang cabuli santrinya memicu respon pedas dari khalayak. Salah satu yang memberikan komentar keras adalah PCNU Pati. “Bagaimanapun, Pondok Pesantren (Ponpes) sangat diidentikkan dengan NU. Jadi, mau tidak mau NU harus angkat suara,” tutur Kiai Yusuf Hasyim, Ketua PCNU Pati, Rabu (29/4) petang. Selain itu, berdasarkan […]

expand_less