Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Religion and Nation; Islam

Religion and Nation; Islam

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 5 Agu 2023
  • visibility 530
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Sebelum melangkah jauh ke dalam ruang-ruang teoritis, sebuah kajian ilmiah senantiasa mengandaikan upaya penjernihan terma-terma yang digunakan. Upaya penjernihan ini berfungsi untuk membuka cakrawala pemahaman awal sekaligus memetakan rute-rute praksisnya.

Mendefinisikan agama, dalam hal ini Islam, secara global dan utuh tentu tidak semudah dengan hanya menyatakan bahwa Islam adalah dogma yang mengajarkan tentang katauhidan semata. Karena memang pada kenyataannya Islam lebih dari itu. Paling tidak Islam memiliki dua tipologi eksistensial; di satu sisi ia adalah agama (religion), yakni sebuah sistem kepercayaan dan peribadatan; dan di sisi yang lain ia adalah sebuah peradaban (civilization), yang mana selalu tumbuh dan berkembang di bawah nuansa dan pengawasan agama itu sendiri.

Ketika agama –dalam hal ini Islam- didefinisikan dengan dua tipologi seperti yang telah disebutkan, maka agama tentu tidak melulu berurusan dengan hal-hal suci terkait sistem kepercayaan semata. Sehingga pada ranah aplikasinya tentu harus disadari bahwa manusialah – dengan otoritas kebebasannya- yang akan memahami agama tersebut sesuai dengan kondisi sosio-kulturnya.

Oleh karena itu, agama dalam ajarannya senantiasa memperhatikan fenomena-fenomena kemanusiaan; baik fenomena psikologis, fenomena sosial, fenomena historis, bahkan sampai fenomena filosofis. Wahyu yang pada mulanya hanya Tuhan, Malaikat dan Rasul yang tahu dalam bentuk aslinya, kini berstatus menjadi teks yang dapat dibaca oleh semua umat manusia.

Sedangkan pemahaman agama (fiqh al-dîn) selalu berlandaskan pada sumber-sumber teosentris transendentalnya; Al-Qur’an dan al-Hadits. Berbeda dengan hal tersebut, corak manusia dalam memahami pola-pola beragama (fiqh at-tadayyun) tentu tidak sesederhana hanya dengan menjadikan teks sebagai piranti bingkai konseptualnya. Rancang bangun konsep kajian dalam memahami cara beragama manusia tidak akan pernah bisa luput dari realita-realita yang sepenuhnya berada dalam ruang dan waktu (al-wâqi’ al-zamaniy).

Sehingga nampak jelas dalam rekam jejak sejarah peradaban Islam bahwa umat Islam tunduk dan patuh dalam satu bentuk pemerintahan yang sama selama kurang lebih 12 abad, tanpa harus meributkan dan memperebutkan batas wilayah tertentu. Secara doktrin, Islam memang tidak mengenal batas-batas kewilayahan, kebangsaan, bendera, dan macam-macam simbol lainnya. Namun kesatuan umat tersebut mulai tercerabut setidaknya paska penaklukan Jengis Khan atas Bagdah pada tahun 1258. Menurut Chiara Formichi, hal inilah sejatinya yang melatarbelakangi lahirnya gagasan nasionalisme sebagai akibat dari fragmentasi kekuasaan teritorial dalam suatu wilayah.

Sedangkan dalam mengidentifikasi terma nationalism haruslah berangkat dari bentuk dasarnya, yakni nation. Nation sendiri menurut Christophe Jaffrelot berarti orientasi sebuah negara (state oriented), dimana nasionalisme (nationalism) secara sederhana merupakan ideologi jati diri bangsa itu sendiri. Anthony Smith, sebagaiama dinukil oleh Lowell W. Barrington, beranggapan bahwa bangsa (nation) adalah sebuah nama populasi manusia yang berbagi dalam

wilayah sejarah yang sama, mitos yang sama, memiliki berbagai budaya, bahkan konsep ekonomi dan hak-hak hukum untuk semua membernya. Adapun nasionalisme, masih menurutnya, adalah seperangkat ideologi yang berakar pada rasa solidaritas sebuah bangsa.

Dan berbicara mengenai bangsa (nation) dan orientasi ideologi gerakannya (nationalism) dalam sebuah negara (state) berarti juga membincang eksistensi manusia di dalamya. Ini berarti bahwa: “The people are the nation and the state exists as the expression of the national will.”

Eksistensi manusia yang tidak bisa lepas dari ruang (space) dan waktu (time) menegaskan bahwa keberadaannya pada suatu masa senantiasa terikat dengan sebuah tempat (place) dalam satu wilayah (region) sebagai wadah untuk menjalani kehidupan sosialnya. Jika konstruksi sosial tersebut baik dan benar, maka wadah inilah yang kelak akan menciptakan berbagai macam laku politik yang terilhami dari sama rasa, sama cinta, dan kepedulian terhadap pengalaman yang sama.

Namun yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa nasionalisme sendiri setidaknya memiliki dua jenis tipologi. Pertama, Nasionalisme ekspansif, yakni sebuah paham ideologi yang mengkultuskan kampung halaman, suku, kabilah dan bangsa tertentu dengan lantas menundukkan bangsa-bangsa lainnya. Kedua, nasionalisme Formatif, sebuah paham ideologi perlawanan terhadap sistem penjajahan dan penindasan.

Jika kita cermati, tentu jenis yang pertama tidaklah sesuai dengan nilai keislaman. Mengingat sikap fanatisme (at-ta’ashub) menjadi ujung tombak perpecahan kedaulatan antar bangsa, bahkan juga negara. Adapun yang kedua justru mampu bersinergi dengan ajaran Islam. Sebab kecintaan terhadap tanah air (hubb al-wathan), pembebasan (al-hurriyah) dari segala bentuk penindasan dan penjajahan, serta mempererat tali persaudaran (al-ukhwah) justru merupakan bagian penting dari ajaran universal Islam itu senidiri. Sebab Islam dan Nasionalisme adalah entitas eklusif yang saling berhubungan.

Dengan demikian, perbincangan mengenai hubungan antara Islam dan Nasionalisme tidak diletakkan dalam posisi dikotomi struktural, melainkan harus dilihat sebagai hasil dialektika relasional. Sebab menjadi seorang muslim yang baik, tidak berarti menjadi seseorang yang anti-nasionalisme. Fakta inilah yang telah kita dapatkan dari para perintis perjuangan kemerdekaan Indonesia tempo dulu, khususnya juga NU.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KH Asmui Sadzali, Ulama, Politisi, dan Negarawan Pemberani

    KH Asmui Sadzali, Ulama, Politisi, dan Negarawan Pemberani

    • calendar_month Kam, 26 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 584
    • 0Komentar

    KH Asmui Sadzali dipanggil Yang Mahakuasa, Selasa, 24 September 2019/ 25 Muharram 1441 di Pati Jawa Tengah. Baca: KH. Asmu’i Sadzali, Musytasyar dan Mantan Rois PCNU Pati, Wafat Kiai Asmui adalah sosok organisator yang malang melintang di NU Pati. Ketika Penulis masih studi di PP Raudlatul Ulum Kajen, asuhan KH Ahmad Fayumi Munji, Penulis sering melihat […]

  • PCNU-PATI

    Ingin Publikasi Scopus, Hamidulloh Ibda Tawarkan Teori DADIAPIC

    • calendar_month Sel, 2 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 443
    • 0Komentar

    Pcnupati.o.id- Temanggung – Biro Akademik dan Kemahasiswaan Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung menggelar Webinar Publikasi Internasional bertajuk “Menjadi Akademisi Global melalui Publikasi Internasional” pada Selasa (2/3/2024). Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dari unsur mahasiswa, dosen, alumni, dan umum dengan menghadirkan dua narasumber, yaitu dosen INISNU Temanggung, Reviewer pada 19 Jurnal Internasional Terindeks Scopus Dr. Hamidulloh […]

  • PCNU-PATI

    Ketok Palu! Kiai Mustofa dan Kiai Marzuki Pimpin NU Tambakromo

    • calendar_month Sel, 8 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 747
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Setelah jabatan pengurus MWC-NU Tambakromo periode 2018-2023 berakhir pada Ahad (7/8) lewat konferensi MWC, kini NU Tambakromo memiliki ketua baru.  Kiai Marzuki Abbas sukses naik takhta setelah melewati dua nama yang direstui Syuriyah. Ke duanya adalah KH. Suwarno dan K. Edy Supriyanto. Sementara, untuk Ro’is MWC NU Tambakromo masa khidmat 2023-2028 dijabat oleh Kiai […]

  • Ilustrasi, Dari Membaca ke Karya - PCNU PATI. Photo by Min An on Pexels

    Dari Membaca Ke Karya

    • calendar_month Jum, 8 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 371
    • 0Komentar

    Mencipta sebuah karya yang mesti disiapkan adalah banyak membaca. Membaca buku, koran, majalah, status dimedia sosial sampai membaca kondisi atau keadaan yang tengah terjadi. Karena membaca adalah modal utama dalam menciptakan sebuah karya. Semakin banyak bacaan; maka semakin banyak kosa kata. Sehingga akan memudahkan kita untuk merangkai kalimat hingga menjadi rentetan paragraf utuh dalam karya […]

  • CATATAN LF PCNU KABUPATI PATI AWAL RAMADHAN 1446 H

    CATATAN LF PCNU KABUPATI PATI AWAL RAMADHAN 1446 H

    • calendar_month Jum, 28 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 481
    • 0Komentar

      Ru’yatul hilal hari Jum’at Legi 28 Februari 2025 M/29 Sya’ban 1446 H ketika matahari terbenam di Jawa Tengah dilaksanakan di 18 titik termasuk Desa Jambean Kidul Kec. Margorejo Kab. Pati. Sebagai perbandingan berikut adalah hasil hisab untuk Merauke, Desa Jambean Kidul Pati dan Observatorium Lhoknga Aceh: a. Merauke Tinggi mar’i /topocentrik +2° 43′ 28″, […]

  • Lazisnu Pati Salurkan Bantuan untuk Keluarga Fitri

    Lazisnu Pati Salurkan Bantuan untuk Keluarga Fitri

    • calendar_month Sab, 16 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 517
    • 0Komentar

    Penyaluran donasi Lazisnu Pati kepada keluarga Fitri PATI – PC Lazisnu Pati memberikan bantuan kepada Fitri, warga desa Randu kuning Pati, Jumat (15/10) siang tadi. Bantuan ini merupakan hasil penggalangan donasi yang terkumpul dari para donatur.  Fitri adalah seorang janda yang telah memiliki dua orang Puteri. Ia saat ini tinggal bersama ayahnya, Karmin di kampung […]

expand_less