Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Beda Puasa Nabi dengan Ummat Masa Kini

Beda Puasa Nabi dengan Ummat Masa Kini

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 23 Mar 2023
  • visibility 324
  • comment 0 komentar


Oleh: Maulana Karim Sholikhin*

Tahun ke-6 Hijriyah, terjadi kesepakatan antara Nabi Muhammad SAW. (Kaum Muslimin) dengan Kaum Kafir Quraisy di daerah Hudaibiyah, tepian Makkah. Dalam ar Rahiq wal Makhtum milik Syaikh Shafiyyur Rahman al Muarakfuri, berkisah tentang ‘puasanya’ Nabi dalam perjanjian tersebut.

Mulanya, Nabi memandatkan Ali bin Abi Thalib untuk menulis kesepakatan. Ali membuka perjanjian dengan kalimat, “bismillahirrahmaanirrahim,”

Sontak, Suhail bin Amr yang mewakili antagonis Makkah menolak mentah-mentah garapan Ali ini. Ia menepis basmallah dan meminta Ali mengantinya dengan bismika Allahumma. Sepupu nabi pun wadul ke empunya.

“Kados pundi ini Kanjeng Nabi? Suhail minta basmallahnya dihapus, je,”

“Yo wis, hapus saja, ganti bismika Allahumma. Gitu aja kok repot,” begitu kira-kira kata nabi. Ali pun mengangguk mengiyakan. Lalu nabi Muhammad mendikte Ali dengan mukaddimah, “ini adalah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasulullah.”

Saat Kembali, lagi-lagi Suhail merevisi. Ia menolak redaksi ‘Rasulullah’. Ali dengan kecewa, meminta pertimbangan Nabi Muhammad. Namun di luar dugaan, Nabi Muhammad ngglidik saja apa kata Suhail.

“Ganti saja Muhammad bin Abdullah,” kata nabi.

Nah, pada momen ini, situasi agak memanas. Kaum muslimin ‘hampir’ tidak sepakat dengan keputusan nabi. Mereka berasumsi bahwa martabat islam sedang diinjak-injak serendah-rendahnya, ambles bersama cacing-cacing. Umar bin Khotthob muntab, Abu Bakar menenangkannya. Bahkan, Ali bin Abi Thalib yang selama ini selalu manut Nabi, menolak menghapusnya. Nabi Muhammad pun menghapus redaksi ‘Rasulullah’ dengan tangannya sendiri.


Peristiwa ini memvisualisasikan bagaimana cara nabi “berpuasa”. Alih-alih nuruti ego untuk menolak semua tuntuan Suhail, Nabi Muhammd justru tidak melakukannya. Beliau puasa dari segala emosi, syahwat gelar dan kehormatan sesaat.

Hasilnya, Islam ‘menang’! Ya, manang! Selama bertahun-tahun Rasulullah dan para pengikutnya digencet habis-habisan oleh kebiadaban Kafir Quraisy. Tidak ada yang peduli dengan harga diri apalagi kemanusiaan. Hal-hal terburuk yang bisa dilakukan terhadap islam, mereka lakukan.

Akantetapi, barokah “puasanya” nabi dari segala bentuk kerakusan duniawi, legitimasi kerasulan dan egoisme agama, Kaum Kafir Quraisy akhirnya mengakui keberadaan Islam, berdiri sama tinggi dalam Perjanjian Hudaubiyah. Bahkan mereka juga memperhitungkan (aslinya takut) dengan kekuatan Islam sehingga memilih jalan islah daripada bacok-bacokan.


Nabi ‘berpuasa da’im’ selama hidupnya. Setiap harinya, derap langkahnya, bahkan setiap hela nafasnya adalah puasa. Bedanya, puasa kita hanya menghentikan makan-minum, sebat dan ah uh sama istri, tidak lebih. Sementara nabi puasa dari amarah dan doa-doa buruk untuk para rivalnya. Puasa dari angkara murka terhadap perbuatan keji yang dilakukan orang-orang kafir dan puasa dari memaksakan diri untuk dihormati orang lain.

*Penulis merupakan pendidik di Ponpes Shofa Az Zahro’ dan MI Hidayatul Islam Gembong-Pati

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gelar Pelatihan, Fordaf Komitmen Lahirkan Daiyah Cinta NKRI

    Gelar Pelatihan, Fordaf Komitmen Lahirkan Daiyah Cinta NKRI

    • calendar_month Ming, 1 Des 2019
    • account_circle admin
    • visibility 551
    • 0Komentar

    PATI-Strategi dakwa selalu berubah sesuai dengan konteks zaman. Walisongo merupakan salah satu pionir dakwah kontekstual pada zamannya. Strategi ini yang kemudian diadopsi oleh dai masa kini. Dengan beragam media yang ada, para penceramah tersebut mulai menyebarkan pencerahan. Para peserta pelatihan daiyah yang diselenggarakan oleh Forum Daiyah Fatayat (Fordaf) Usai mengikuti pelatihan di aula PC NU […]

  • Wejangan Ketua PCNU Pati untuk Pagar Nusa

    Wejangan Ketua PCNU Pati untuk Pagar Nusa

    • calendar_month Jum, 3 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 498
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Jumat (3/1) merupakan hari ulang tahun Ikatan Pencak Silat NU, Pagar Nusa (PN). Hari ini, PN berusia 39 tahun sejak didirikan. Menanggapi Hari Ulang Tahun (HUT) Pagar Nusa tahun ini, Ketua PCNU Pati, KH. Yusuf Hasyim mengimbau kepada kader-kader PN agar serius dalam berkhidmat di Banom NU yang bergerak di bidang seni bela […]

  • Siapkan Program Kerja, FKPT Jateng Gelar Rapat Koordinasi

    Siapkan Program Kerja, FKPT Jateng Gelar Rapat Koordinasi

    • calendar_month Kam, 17 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 699
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Semarang – Bertempat di Ruang Rapat lt. 2 Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah, pengurus Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah menggelar rapat koordinasi perdana pada Kamis sore (17/4/2025). Dalam sambutannya, Ketua FKPT Jawa Tengah Dr. Hamidulloh Ibda mengatakan bahwa sejak ditetapkan oleh tim formatur pada 26 Juli 2024 lalu, kepengurusan FKPT Jawa Tengah […]

  • Bicara Kaderisasi Era Pandemi, NU Gembong : Militan Saja Nggak Cukup

    Bicara Kaderisasi Era Pandemi, NU Gembong : Militan Saja Nggak Cukup

    • calendar_month Kam, 29 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 366
    • 0Komentar

    K. Sholikhin, ketua MWC NU Gembong   GEMBONG-Kaderisasi merupakan satu komponen penting dalam organisasi. Hanya dengan kader yang militan dan terdidik, sebuah organisasi bisa tumbuh subur dan eksis. itulah setidaknya yang diungkapkan oleh K. Sholikhin, ketua MWC NU Gembong, Kamis (29/7). “Organisasi bisa panjang umur kalau pengkaderannya baik,” tuturnya. Namun, di masa pandemi ini, pengkaderan dalam […]

  • Photo by Richard Stachmann

    Pesantren dan Pembangunan Masyarakat

    • calendar_month Sab, 24 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 371
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Sebagaimana kita ketahui pesantren merupkan tempat untuk menimba ilmu baik agama maupun umum, sehingga pesantren dapat diartikan sebagai pusat pendidikan bagi santri maupun masyarakat. Mengingat pesantren sekarang ini sudah banyak mengalami perubahan baik dari segi pendidikan, gedung, dan trasformasi sosial terhadap lingkungan sekitar. Sehingga pesantren di era sekarang ini bisa disebut […]

  • Konfercab IPNU dan IPPNU

    Konfercab IPNU dan IPPNU

    • calendar_month Jum, 5 Mei 2017
    • account_circle admin
    • visibility 344
    • 0Komentar

    Pati. Pengurus Cabang Ikatan pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama Kabupaten pati ini menggelar konferensi cabang ke XI  dilaksanakan di SMPNU Karaban. Sabtu 29/04 kemarin. “Kami Mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengurus PC IPNU IPPNU Masa Khidmah 2014-2016 yang sudah melaksanakan segala program kerja dan sudah meluangkan tenaga, pikiran dan waktunya untuk […]

expand_less