Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » NU Kultural sebagai Basis Masyarakat Sipil

NU Kultural sebagai Basis Masyarakat Sipil

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 8 Feb 2025
  • visibility 1.368
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Dalam Khittah Nahdlatul Ulama (NU), istilah NU merujuk pada dua makna yang saling terkait, yaitu NU sebagai sebuah organisasi dan NU sebagai komunitas anggotanya. KH. Abdul Muchit Muzadi dalam buku, Ensiklopedia Khittah NU, dijelaskan bahwa istilah NU Jam’iyyah (NU secara struktural) dan NU Jamaah (NU secara kultural) sering kali digunakan untuk membedakan keduanya. Istilah-istilah ini tidak hanya dipahami di kalangan pengurus NU, tetapi juga sangat akrab di kalangan kaum muda Nahdliyin, yang semakin memahami dan mengapresiasi peran keduanya dalam keberlangsungan dan pengembangan NU.

NU kultural, pada dasarnya, merujuk pada kelompok individu yang merasa terhubung dengan nilai-nilai, tradisi, dan semangat yang dijunjung oleh NU, meskipun mereka tidak terlibat secara langsung sebagai pengurus atau bagian dari struktur organisasi formal NU. Kelompok ini merasa menjadi bagian integral dari komunitas besar Nahdliyin, meskipun tidak terikat dalam kerangka organisasi yang lebih formal.

Mereka mencakup berbagai kalangan, mulai dari para kiai, anak muda, hingga masyarakat umum yang memiliki kedekatan emosional dan spiritual dengan NU. Meski tidak terdaftar sebagai anggota struktural, mereka tetap menjaga dan mengamalkan prinsip-prinsip ajaran NU dalam kehidupan sehari-hari, dan ini menjadikan mereka bagian yang tak terpisahkan dari kekuatan dan semangat gerakan NU.

Meskipun mereka tidak terikat dalam struktur organisasi formal, kelompok NU kultural berperan penting dalam mengembangkan dan memperkuat pengorganisasian berbasis agama yang menjadi ciri khas NU. Keberadaan mereka sangat penting dalam memelihara dan memperkaya jaringan sosial, budaya, dan keagamaan yang mencerminkan nilai-nilai NU.

Mereka terlibat aktif dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat, membentuk berbagai jaringan yang saling menguatkan, baik dalam konteks sosial, pendidikan, maupun ekonomi. Banyak dari mereka yang menjalani profesi sebagai cendekiawan, pengasuh pesantren, akademisi, petani, pedagang, dan profesi lainnya, namun dengan tetap membawa nilai-nilai dan semangat NU dalam aktivitas mereka.

Melihat kenyataan ini, NU kultural dapat dipahami sebagai sebuah gerakan yang muncul dari dalam masyarakat sipil NU, yang berkembang dengan inisiatif lokal dan mandiri pada setiap tingkatan yang ada. Mereka tidak terikat pada satu pola atau bentuk tertentu, sehingga dapat bervariasi antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Keberadaan mereka sangat penting dalam keberlanjutan dan perkembangan NU, dan sangat disayangkan jika harus dijauhi atau dimusuhi oleh NU struktural. Sebaliknya, level NU kultural menjadi tempat bagi proses kaderisasi yang berlangsung secara alami dan berkelanjutan.

Melalui proses ini, muncul individu-individu yang memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi di berbagai bidang dalam NU, baik dalam ranah kultural, sosial, maupun struktural, dan bahkan terlibat dalam organisasi NU itu sendiri.

Kontribusi mereka dalam menyebarkan dan membumikan ajaran NU di luar struktur formal organisasi memberikan warna dan dinamika tersendiri bagi perkembangan NU secara keseluruhan. Keberagaman peran mereka memperkaya khazanah kultural yang ada, menguatkan identitas NU, serta menegaskan bahwa NU bukan sekadar sebuah organisasi, tetapi sebuah gerakan yang inklusif, berakar kuat dalam tradisi, dan tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman.

Dengan demikian, NU kultural berperan urgent dalam memperkaya dan melestarikan tradisi NU, serta memastikan bahwa semangat dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh NU tetap hidup dan berkembang. Meskipun berada di luar batasan struktur organisasi, NU kultural mampu menjangkau masyarakat luas, memperkuat kesadaran kolektif akan ajaran-ajaran NU, dan mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadikan NU kultural sebagai penggerak utama dalam menjaga kelangsungan dan relevansi NU di tengah dinamika sosial dan budaya yang terus berkembang.

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 2 Tokoh Masuk 50 Besar Muslim Paling Berpengaruh di Dunia

    2 Tokoh NU Masuk 50 Besar Muslim Paling Berpengaruh di Dunia

    • calendar_month Sel, 1 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 544
    • 0Komentar

    JAKARTA – Dua nama besar dalam Nahdlatul Ulama masuk dalam 50 besar World’s 500 Most Influential Muslim 2023. Ke dua nama tersebut adalah Habib Luthfi bin Yahyah, Ketua Idaroh Aliyah Jama’ah Thoriqoh al Mu’tabaroh an Nahdliyyah (JATMAN) dan KH. Yahya Cholil Staquf, Ketua PBNU saat ini. Masing-masing tokoh tersebut menduduki peringkat ke-30 dan 19 dalam […]

  • Pedoman Memulai Bisnis dari Hobi

    Pedoman Memulai Bisnis dari Hobi

    • calendar_month Ming, 8 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 536
    • 0Komentar

      Jika berbicara hobi, pasti semua orang mempunyai hobi.Akan tetapi jarang sekali orang yang mau menjadikan hobinya itu untuk memperkaya diri. Padahal apabila kita memulai sebuah bisnis berdasarkan dari hobi tentunya di dalam menjalankannya dengan sepenuh hati. Sebab pekerjaan yang kita jalani berdasarkan kehendak hati.             Sering kali kita tidak menyadari bahwa apa yang sering […]

  • PCNU-PATI Photo by sarangib

    Padi Tumbuh dalam Kesunyian

    • calendar_month Sen, 3 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 469
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Dua tahun lalu hampir setiap pagi jika Aghza—anakku—bangun pagi, aku sering mengajaknya jalan-jalan ke pematang sawah. Dia tampak antusias setiap kali aku ajak ke persawahan. Sebelumnya dia minta dibuatkan susu dulu. Nanti susu yang dalam dot itu diminum pada saat kami melihat sawah. Terasa lebih nikmat, mungkin pikirnya. Aku bonceng […]

  • Wisuda 244 Mahasiswa IPMAFA Pati, Rektor Ingatkan Tantangan Zaman

    Wisuda 244 Mahasiswa IPMAFA Pati, Rektor Ingatkan Tantangan Zaman

    • calendar_month Sab, 1 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 4.886
    • 0Komentar

      Pati – Ratusan mahasiswa Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati mengikuti wisuda, Sabtu (1/11/2025). Rektor IPMAFA Pati, KH Abdul Ghofarrozin, M.Ed pun mengingatkan tantangan zaman. Menurutnya, menjadi wisudawan bukan sebagai akhir perjalanan untuk belajar. Melainkan awal langkah baru untuk menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks. Pesan tersebut disampaikan dalam Wisuda Program Sarjana XIV IPMAFA […]

  • Lazisnu Ranting Klakah, Door to Door Santuni Yatim

    Lazisnu Ranting Klakah, Door to Door Santuni Yatim

    • calendar_month Jum, 20 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 467
    • 0Komentar

    Penyaluran santunan ke rumah salah satu yatim oleh Para Pengurus Ranting Lazisnu Klakahkasihan, Gembong, Kamis (19/8) GEMBONG – Pengurus Ranting Lazisnu Klakahkasihan, Kecamatan Gembong berkeliling desa Kamis (19/8) kemarin. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyantuni anak-yatim yang berasa di desa ini.  “Karena luasnya desa, jadi kami cicil. Santunan yatama ini merupakan gelombang ke dua,” terang […]

  • 206 Mahasiswa Akan Dilepas untuk Mengabdi Kepada Masyarakat

    206 Mahasiswa Akan Dilepas untuk Mengabdi Kepada Masyarakat

    • calendar_month Jum, 19 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 563
    • 0Komentar

    PATI-Pengabdian merupakan salah satu tugas utama mahasiswa. Sebab, mahasiswa tidak hanya berkecimpung di dunia akademik saja nantinya. Sebagai agen perubahan, skill bersosialisasi wajib dimiliki oleh segenap mahasiswa guna menyerap aspirasi dan membangun komunikasi yang baik dengan seluruh elemen masyarakat. Pembekalan KKN Mahasiswa di Aula lantai 2 IPMAFA  Oleh sebab itu, pengabdian masyarakat perlu dilakukan sebagai […]

expand_less