Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Menata Kebudayaan Sebagai Landasan Politik

Menata Kebudayaan Sebagai Landasan Politik

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 28 Okt 2024
  • visibility 504
  • comment 0 komentar

 

Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke -154 yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia kembali mengangkat isu yang menarik, “Menata Budaya, Menyemai Harapan”. Tema ini diambil untuk kembali mengingatkan pentingnya menata ulang kebudayaan sebagai landasan bagi semua sisi kegiatan masyarakat, termasuk politik.
Tema ini dianggap penting, bukan hanya karena permintaan Bawaslu Jawa Tengah agar Suluk Maleman ikut menyosialisasikan pentingnya partisipasi masyarakat, tapi juga karena adanya anggapan umum bahwa keterlibatan rakyat dalam demokrasi hanya terjadi 5 tahun sekali.

Untuk membedah tema tersebut dihadirkan Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang dikenal sebagai Noe Letto, Dr. Abdul Jalil dan KH. A. Nawawi Cholil; kecuali itu ikut hadir komisioner Bawaslu Jawa Tengah Nur Kholiq serta Ketua Bawaslu Kabupaten Pati Supriyanto.

“Setiap tahapan dari penyusunan daftar pemilih, pencalonan, pembentukan badan penyelenggara, kampanye, pemungutan suara, hingga penetapan hasil dan pelantikan harus sama-sama dikawal pelaksanaan demokrasi agar sesuai prinsip peraturan perundang-undangan,” ujar Supriyanto, ketua Bawaslu Kabupaten Pati dalam forum yang dihadiri unsur pimpinan daerah dan perwakilan seluruh ormas di Pati tersebut.

Dr. Abdul Jalil, salah seorang narasumber menilai ada persoalan kuat yang perlu diurai dalam penentuan pemimpin yang baik dalam setiap pemilu. Dia menyebut ada persoalan perselingkuhan abadi antara jabatan, uang dan suara.

“Karena pemilu basisnya adalah suara, sedangkan saat ini sangat disayangkan munculnya stigma suara butuh uang, sedangkan uang tentu butuh penguasa. Ini menjadi mata rantai yang sulit diputus,” ujarnya.
Diapun menyebut pentingnya faktor individu seorang calon pemimpin. Seorang individu yang baik bisa membuat sistem berjalan dengan baik.

“Meskipun terkadang karena terlanjur lama di sistem justru tertelikung oleh sistem. Persoalannya bagaimanakah caranya mengeluarkan individu tersebut dari telikungan sistem,” ujarnya.

Anis Sholeh Ba’asyin mengamini pentingnya melihat peran individu dalam menjalankan sistem. Dia menganalogikannya seperti mobil yang memiliki sistem yang baik.

“Mobil itu punya sistem yang baik. Ada jalan, ada peraturan berlalu lintas, ada tata cara baku untuk mengoperasikan mobil. Tapi kalau sopirnya tidak beraturan, tidak hanya akan membuat kerusakan pada mobil, tapi juga tingkah laku penumpang lain dan kondisi berlalu-lintas secara umum. Kalau dilihat dari sisi ini, peran individu memang tampak utama,” imbuhnya.

Anis juga menyoroti persoalan hilangnya etika. Karena etika adalah salah satu basis membangun peradaban. Kebudayaan harus ditata berlandas etika, sehingga terbangun peradaban yang kuat. Dengan etika, manusia bisa menjalankan fungsinya masing-masing dengan baik..

“Jika etika diletakkan sebagai landasan, tentu rakyat akan menjalankan fungsi sebagai rakyat. Begitu pula pejabat juga akan menjalankan fungsi sebagai pejabat dengan baik. Dan hukum tetap akan diposisikan di bawah etika,” imbuhnya.

Oleh karenanya, Anis menyebut dalam memilih calon pemimpin, kecuali melihat rekam jejak, maka sebaiknya melihat dari bagaimana progam yang disiapkannya bila menjabat.

KH. A. Nawawi Cholil, salah seorang kyai asal Rembang menambahkan bahwa kehadiran seorang pemimpin adalah keniscayaan bagi sebuah masyarakat.

“Tapi, memilih pemimpin harus dilihat dari akhlaknya. Moral itu yang penting. Imam Ghozali pun menekankan pentingnya seorang imam. Meskipun jika melanggar tentu perlu kita ingatkan,” tegasnya.

Sementara itu, Sabrang MDP menambahkan bahwa sebaiknya setiap individu untuk mulai berfikir secara mendasar. Hal itu dinilainya baik untuk melakoni segala hal termasuk dalam bernegara. Manusia harus bertanya tidak hanya persoalan apa tapi juga kenapa. Dari situ penataan kebudayaan bisa dilakukan dengan lebih baik dan mendasar.

“Dalam kaitan ini, pemahaman tentang konteks dan latar belakang sesuatu kejadian menjadi sangat penting. Adegan orang jatuh dari tangga misalnya. Bila adegan tersebut diiringi musik yang lucu, kita justru akan tertawa. Kita baru akan sedih bila diberi latar musik yang menyayat. Itulah pentingnya memahami akar setiap permasalahan yang disajikan pada kita,” tambahnya.

Acara yang sejak awal berlangsung gayeng tersebut, atas permintaan jamaah yang hadir, ditutup dengan 2 lagu oleh Sabrang alias Noe Letto, dan sebagai dukungan untuk Palestina, lagu We Will Not Go Down oleh Sampak GusUran.*

Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin, KH. A. Nawawi Kholil, Sabrang Mowo Damar Panuluh dan Dr. Abdul Jalil dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Menata Budaya, Menyemai Harapan’ yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (26/10) kemarin.

  • Penulis: admin
Tags

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tim KKN IAIN Kudus Beri Pelatihan Pembuatan Es Krim Sayuran

    Tim KKN IAIN Kudus Beri Pelatihan Pembuatan Es Krim Sayuran

    • calendar_month Sab, 2 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 584
    • 0Komentar

    Tiga mahasiswi IAIN Kudus sedang mensimulasikan pembuatan es krim sayuran di hadapan warga WEDARIJAKSA – Tim KKN IAIN Kudus di Kecamatan Wedarijaksa mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan es krim sayuran pada hari Sabtu, (2/10) di Balai Desa Jetak. Kegiatan yang bertajuk “Inovasi Pembuatan Ice Cream dari Sayuran,” tersebut diikuti oleh seluruh anggota PKK Desa Jetak.  Matsna […]

  • PCNU-PATI

    Khatmul Qur’an TPQ Se-Kabupaten Kudus Upayakan Generasi Qur’ani

    • calendar_month Rab, 26 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 460
    • 0Komentar

    Kudus – Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (Badko LPQ) melaksanakan kegiatan Khatmul Qur’an santri-santri TPQ Se-kabupaten Kudus yang diwakili sembilan kecamatan masing-masing 30 santri. Adapun kegiatan bertempat di serambi Masjid Agung Kudus pada Kamis pagi (26 Oktober 2022) itu dihadiri oleh Forkopimda Kudus, Ketua Kankemenag didampingi Kasi PD. Pontren, Ketua MUI Kabupaten Kudus, para Kepala […]

  • PCNU-PATI Photo by Ali Pli

    Seekor Burung dengan Sayap Patah

    • calendar_month Sen, 9 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 584
    • 0Komentar

    Oleh : M Iqbal Dawami Masih ingat di hari kedua di tahun baru (2011) saya terbangun pada pukul tiga dini hari. Maklum, saya tertidur pukul 21.00, sehingga belum sempat shalat Isya. Selepas shalat saya iseng menyalakan televisi. Di TV One saya melihat pengajian yang diisi oleh KH Jalaluddin Rakhmat, atau biasa dipanggil Kang Jalal. Tentu […]

  • Selamat Menghadapi Hal Baru

    Selamat Menghadapi Hal Baru

    • calendar_month Jum, 3 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 459
    • 0Komentar

    Oleh: Inayatun Najikah Euforia pergantian tahun telah usai. Kini saya dan anda kembali menjalankan rutinitas seperti biasanya. Bangun pagi lalu berangkat bekerja lalu pulang untuk istirahat dimalam hari. Sebetulnya tak ada hal yang baru dan istimewa, bukan. Namun mengapa momentum dan euforia tahun baru tampaknya selalu dipandang sebagai hal yang sakral dalam menyongsong pencapaian-pencapaian yang […]

  • Photo by Prabu Panji

    Peran NU dalam Menanggulangi Bencana

    • calendar_month Sab, 9 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 565
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Lingkungan pada dasarnya merupakan tempat untuk tempat tinggal maupun bisa juga diartikan tempat untuk bercocok tanam. Sehingga lingkungan memiliki arti yang sangat luas. Oleh karena itu, lebih spesifik lingkungan di sini yang dimaksud adalah lingkungan ekosistem yang ada di sekitar kita. Dimana dalam hal ini, penting sekali untuk menjaga ekosistem dari […]

  • PCNU-PATI

    About Love

    • calendar_month Sen, 15 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 991
    • 0Komentar

    Jatuh cinta adalah salah satu anugerah terbaik. Cinta memberi kita kesempatan untuk memahami banyak hal. Cinta juga menjadikan kita lebih dewasa, lebih berani, dan bertanggung jawab. Cinta pula yang menjadikan manusia sebagai manusia. Masing-masing dari kita memiliki kutipan favorit tentang cinta. Satu, sepuluh, atau bahkan seratus kutipan seperti yang ada dalam buku ini bisa menjadi […]

expand_less