Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Menjaga Marwah Corak Politik Kebangsaan NU

Menjaga Marwah Corak Politik Kebangsaan NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 25 Feb 2023
  • visibility 537
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto

Dalam menyongsong pesta demokrasi yang tiap lima tahun sekali diadakan, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki sumbangsih besar terhadap negara dalam menyumbangkan suaranya melalui umatnya untuk menentukan hak pilihnya sebagai warga negara Indonesia.

NU sendiri sebagai ormas terbesar di Indonesia,bahkan terbesar di dunia, tentunya para pengurus paham bentul akan situasi setiap pesta demokrasi telah tiba akan muncul pihak-pihak yang  yang memiliki kepentingan untuk mencatut nama NU untuk dijadikan roda politik.

Oleh karena itu, untuk menyikapi pihak-pihak yang memiliki kepentingan baik untuk dirinya sendiri maupan partainya yang menyertakan bendera NU, KH Yahya Cholil Staquf atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Gus Yahya dengan tegas melarang bendera NU untuk dijadikan sebagai senjata politik.

Dalam pidatonya “Gus Yahya menekankan, NU menjaga jarak dengan politik praktis. Untuk itu, tidak ada calon pejabat publik baik untuk posisi Presiden, Wakil Presiden, Bupati, Gubernur, hingga anggota DPR yang mengatasnamakan NU. Jika ada orang NU yang mencalonkan diri untuk sebuah jabatan publik, yang bersangkutan mewakili dirinya sendiri. Gus Yahya juga berharap bahwa masyarakat kita bisa menumbuhkan dinamika politik yang lebih rasional dan mengedepankan politik kebangsaan bukan politik praktis.”

Adapun dalam berpolitik, corakpolitik NU adalah corak politik kebangsaan yang rahmatan lil alamin, tidak berambisi berkontestansi dalam meraih kekuasaan, tetapi secara arif bersenyawa dengan “wong cilik”. Selain itu juga, memberikan contok pelajaran politik moral kebangsaan terhadap para pemangku politik. Itulah pesan politik NU yang selalu digaungkan oleh para founding fanthers untuk selalu mengingatkan ‘kembali ke khittah 1926’. Maka, NU selalu memosisikan diri sebagai pembela kaum lemah, serta selalu menegakkan keadilan.

Dalam berpolitik ala ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyin, ada beberapa corak politik yang selama ini dipegang teguh dalam tubuh NU untuk menjalankan roda politik kebangsaan. Adapun dalam hal ini antara lain meliputi.

Pertama, NU menyakini adanya sikap persaudaraan (al-ukhuwah) univirsal. Ukhuwan persaudaraan ini tidak hanya dalam ranah personality saja, melainkan menjamah pada persaudaraan antar manusia (ukhuwah basyariyah), persaudaraan antar-bangsa (ukhuwah wathaniyah), persaudaraan antar muslim (ukhuwah islamiyah).

Kedua, adanya semangat tasamuh (toleransi), semangat toleransi ini muncul untuk menghindari adanya konflik baik antar-suku, bangsa, etnis, ras, maupun budaya. Semangat tasamuh ini digelorakan untuksaling menyanyangi antar-bangsa, suku, ras, dan etnis. Karena kita semua adalah sama yakni satu kesatuan bangsa Indonesia dan menjunjung tinggi NKRI. Sedangkan Pancasila adalah sebagai ideologi negara.

Ketiga, adanya sikap tawassuth (jalan tengah) yang merupakan kelanjutan semangat toleransi dan berperan sebagai mediasi untuk memecahkan sebuah masalah. Maka, NU di sini dalam menyelesaikan sebuah masalah selalu mengedepankan mediasi untuk mendapatkan jalan tengah, sehingga melalui mediasi inilah beberapa pertikaian bisa teratasi dan mendapatkan solusi antar kedua belah pihak. Dan melalui sikap tawassuth ini, NU menghindari adanya ekstremisme  antar paham yang serba kanan dimana melahirkan liberalisme dalam pengamalan ajaran. Oleh karena itu, NU selalu menganjurkan kesalehan individual dan sosial harus selalu berjalan beriringan.   

Keempat, tawazun (seimbang) dalam mengambil beragam keputusan, NU selalu nmendasarkan pada syura (musyawarah) kepada pihak-pihak yang terkait. Karena konsep ini dilakukan untuk mendapatkan aspek-aspek keseimbangan dan kemaslahatan bersama (al-mashalih al-‘ammah). Jika ada selisih pendapat, yang harus dikedepankan adalah al-mujadalah billati hiya ahsan (perdebatan rasional yang diorientasikan untuk kebaikan). Maka, meskipun NU sering diguncang fitnah, keutuhan dan solidaritas NU baik kulturan dan strukturan tetap terjaga.

Dengan demikian, keempat corak politik NU di atas menggambarkan,bahwa NU selalu menjunjung tinggi politik kebangsaan yang diamanahkan oleh para founding fanthers NU untuk menolong yang lemah dan menegakkan keadilan, demi terciptanya kondusifitas berpolitian di Indonesia.         

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peserta Lomba Pidato Terjebak Khotbah

    Peserta Lomba Pidato Terjebak Khotbah

    • calendar_month Sab, 11 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 411
    • 0Komentar

    Semarang – Dalam perlombaan Pidato Bahasa Indonesia MI/SD dan MTs/SMP Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XII Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah di Kabupaten Semarang, juri berkomentar peserta masih terjebak ke dalam khotbah daripada pidato. Hal itu diungkapkan Dr. S. Prasetyo Utomo juri Lomba Pidato Bahasa Indonesia MI/SD dan MTs/SMP di sela-sela lomba. […]

  • PCNU-PATI

    Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi

    • calendar_month Kam, 15 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 493
    • 0Komentar

    Penyajian materi melalui rangkaian cerita dialog dan perdebatan secara langsung antara orang-orang yang berbeda pendapat merupakan salah satu metode yang sangat efektif untuk menyampaikan bahasan seputar akidah Ahlussunnah wal jamaah. Perdebatan antara para ulama memang terjadi secara langsung dalam forum-forum dialog terbuka maupun melalui buku yang saling berbantah. Para ulama masa dahulu sudah terbiasa menggunakan kedua […]

  • PCNU-PATI

    Ayahku Bukan Pembohong

    • calendar_month Ming, 14 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 506
    • 0Komentar

    Novel yang menceritakan kisah seorang anak yang bernama Dam yang tumbuh dengan segala cerita-cerita ayahnya. Sang ayah sangat suka menceritakan kisah-kisah petualangan yang mengandung nilai-nilai luhur yang terdengar seperti dongeng. Seperti cerita tentang Sang Kapten, Lembah Bukhara, Negeri Penguasa Angin, Si Raja Tidur, dan lain sebagainya. Semenjak kecil, Dam selalu percaya dengan kisah-kisah yang diceritakan […]

  • Ilustrasi Kisah Pencuri Sajadah Mbah Dullah Salam - PCNU PATI, Photo by Thirdman on Pexels

    Kisah Pencuri Sajadah Mbah Dullah Salam

    • calendar_month Kam, 7 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 684
    • 0Komentar

    KH. Abdullah Zain Salam merupakan sosok kiai kharismatik yang terkenal ‘alim dan memiliki sifat dermawan kepada siapa pun. Sehingga banyak tamu dari segala penjuru daerah yang setiap harinya berdatangan ke ndalem (rumah) beliau untuk mendapatkan barokah atau sekedar bersilaturahim. Mereka meyakini kalau doa beliau mujarab dan dikabulkan Allah.  Di samping itu, Mbah Dullah panggilan akrabnya […]

  • NU Pati Akan Mendirikan Perguruan Tinggi

    NU Pati Akan Mendirikan Perguruan Tinggi

    • calendar_month Sel, 11 Agu 2015
    • account_circle admin
    • visibility 491
    • 0Komentar

    Kabar NU:  Senin 10 Agustus 2015, bertempat di gedung NU lantai 3. Pengurus Cabang nahdlatul Ulama dan Panitian Penyelenggara Pengadaan Tanah Untuk Kampus Lembaga Pendidikan Nahdlatul Ulama, mengadakan pertemuan dengan MWC NU dan Alumni PKPNU Angkatan 1 Se-Kab Pati. Dengan agenda utamanya yaitu para warga Nahdaltul Ulama di ajak bergotong royong untuk ikut serta dalam […]

  • PCNU-PATI

    Dasar Dasar Islam

    • calendar_month Jum, 4 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 414
    • 0Komentar

    Setiap Muslim nescaya yakin sepenuhnya bahawa kurnia Allah yang terbesar di duniaini adalah agama Islam. Seorang Muslim akan sentiasa bersyukur kepada Allah, yangtelah memasukkannya ke dalam kelompok umat Muhammad Rasulullah saw, dan yangtelah memberikan kepadanya kurnia Islam. Allah sendiri telah menyatakan Islam sebagaikurniaNya yang terbesar yang diberikanNya kepada hamba-hambaNya, sebagaimanadisebutkan dalam al-Qur’an:“… Pada hari ini, […]

expand_less