Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » INDONESIA BUTUH NU

INDONESIA BUTUH NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 2 Nov 2015
  • visibility 402
  • comment 0 komentar

NU merupakan satu organisasi sosial keagamaan yang—bisa dibilang—unik. Keunikan ini sebenarnya lahir dari berbagai aktivitas keorganisasian yang lebih bersifat kultural. Tradisionalisme yang melekat pada organisasi ini, merupakan satu bagian yang sering menjadi buah bibir khalayak. Secara struktural, organisasi NU telah cukup maju dalam penataan kepengurusannya. Hanya saja, esensi yang ‘duduk’ di dalamnya masih sarat dengan nilai-nilai budaya lokal. Namun justru itulah yang membuat organisasi terbesar di indonesia ini layak menjadi salah satu ikon ‘perdamaian’ bukan hanya antara budaya dengan agama namun juga antara yang tradisional dengan yang modern.
‘Lokasi’ lahir yang berdekatan dengan kebodohan, kekolotan dan kemelaratan bangsa terjajah harus membuat NU mampu menjadi wadah, bukan malah menjadi menara gading yang congkak. Wal hasil tercetuslah NU yang seperti sekarang ini. Akantetapi—seperti dikatakan sebelumnya—meski hadir dengan tema tradisional, modernitas tetap menjadi satu bagian wajib dalam rangka membangun “mitra” dengan roda zaman. Penyelarasan ini sebenarnya telah dideklarasikan secara leteral dalam bentuk kaidah. Pemeliharaan terhadap eksistensi tradisionalitas diseguyubkan dengan pengamalan nilai-nilai modern yang dianggap lebih baik menjadi tolak ukur NU dalam memahami masa depan. Demikianlah yang acap kali didengungkan oleh kyai-kyai NU hingga para guru mulok (muatan lokal) Ke-NU-an di madrasah-madrasah.  
Hemat penulis, dari kaca mata ini terlihat jelas bahwa modernitas dan tradisionalitas merupakan barang yang wajib adanya bagi NU. Ibarat dua mata uang dalam satu koin, dua-duanya adalah suatu yang niscaya untuk diaplikasikan. Hanya saja penyalahartian tentang tradisionalitas yang disamaratakan dengan konvensionalitas masih sering berdengung di kawasan anti NU. Maka wajar jika posisi NU semakin terdesak ditepian zaman ‘modern’. Para hater yang  sejatinya belum terlalu jauh memahami NU, dengan segala kepentingannya mengobrak-abrik asumsi pasar soal kekolotan organisasi bikinan KH. Hasyim Asy’ari ini. Akhirnya, tercetuslah gagasan yang diiyakan secara global bahwa NU disamadengankan tradisional, dan tradisional sama dengan kolot. Dengan rumus singkatnya, kolot sama dengan NU.
Terkait kekurangan dan kelebihan NU sebagai organisasi yang notabenenya ‘hand made’ umat manusia—bukan buatan tuhan seperti agama—memojokkan NU dengan satu alasan logis ini bisa saja dibenarkan. Namun wajah NU yang sedemikian rupa sebenarnya merupakan salah satu cara untuk mewahanai hajat umat Indonesia dalam banyak aspek. Dibalik anggapan miring NU kolot yang berdengung, sejatinya dalam tubuh NU tersimpan pola pemikiran ulama yang begitu maju untuk memajukan Indonesia.
Berangkat dari sebuah kaidah tentang penyelarasan antara tradisionalitas dan modernitas, NU menjadi ikon terpenting yang harus ada. Eksistensi karakter organisasi semacam ini mutlak dimiliki  oleh segala jenis bangsa manusia di dunia. Tanpa penggabungan antara tradisionalitas dan modernitas, mustahil sebuah bangsa bisa menemukan titik ghoyah-nya, memajukan peradaban sekaligus meniadakan penindasan karakter. Begitu banyak bangsa maju di era dunia ke tiga ini, namun tak sedikit pula dari mereka yang kehilangan jati diri karena melewatkan sejarah bangsa dalam modul pembangunan.
Tradisi merupakan bahan baku budaya yang menyejarah, sementara tanpa memahami betul sejarah dan budaya bangsa, maka kemajuan akan terasa pincang sebab kebutaannya terhadap karakter asli bangsa.
Diteropong dari rongga ini, NU dengan segala keunikanya tentu saja bukan organisasi sembarangan. Karakternya telah didesain sedemikian rupa oleh ‘arsitek’ ulung sekelas KH. Hasyim Asy’ari CS sehingga mampu menampung berbagai macam aspirasi baik yang bersifat tradisi ataupun yang kekinian bahkan yang berasal dari masa depan. Kaum intelek menyebutnya dengan istilah yang cukup keren : toleran.
Waktak toleran terhadap kemajuan zamannya serta jadugnya NU dalam mempertahankan tradisi tanpa disadari telah membawa organisasi ini pada sebuah level penyatuan tradisionalitas dan modernitas yang membentuk  satu aliran baru—sebaru-barunya—yakni neo-modernisme. Sebuah istilah untuk menyebut pembaharuan modern.
Kata modern terkadang masih terdengar ‘angkuh’, kekinian, kota dan hal-hal maju lainnya. Namun tanpa sadar, NU yang dianggap kolot telah memodernkan kemodernisasi dengan emblem gagah neomodernisme. Hebatnya lagi, kondisi semacam ini telah diteropong oleh para pendirinya sejak tahun 1926, sekitar sembilan puluh tahun lalu, dan baru sekarang terkuak. Dalam konteks ideologi neomodernisme ini, Indonesia menjadi satu negara yang paling beruntung karena memiliki NU.
KH. Hasyim Asy’ari mafhum betul bahwa Indonesia butuh NU, maka beliau tidak mau sembarangan dalam meracik organisasi ini. Hanya saja,  NU acap kali dianggap sebagai satu hal yang biasa-biasa saja oleh bangsa Indonesia bahkan oleh para kadernya. tanpa disadari bahwa NU adalah masterpiece yang sekaligus menjadi pilar utama peradaban manusia Indonesia. Namun sayang, dengan resep yang telah digodhog hingga benar-benar matang oleh KH. Hasyim Asy’ari CS dalam ‘membuat adonan’ NU yang istimewa, saat ini malah cenderung dipandang sebelah mata. Kekonyolan paradigma khususnya oleh para kader NU terhadap organisasinya sendiri inilah yang kian menggerogoti tubuh NU sendiri secara perlahan. Mereka menganggap NU adalah ‘warisan’ yang biasa-biasa saja ini, wal hasil Indonesiapun turut menjadi negara yang hambar dan biasa-biasa saja. Ketidaksadaran bahwa Indonesia butuh NUatau setidaknya butuh organisasi semacamnya—inilah yang harus dibangunkan dari tidur lamanya.
Neomodernisme menjadi paku bumi mendirikan bangunan negeri yang ingin maju, tak terkecuali Indonesia yang hanya mengekor pada kolonialisme model mutakhir yang berkedok modernisme. Dengan penerapan faham neomodernisme yang diusung NU, Indonesia benar-benar akan menjelma—bukan hanya—sebagai negara maju, namun juga menjadi barang istimewa sebagaimana dicita-citakan hadratusysyaikhSoekarno CS. (Maulana Luthfi Karim Penulis merupakan peneliti di Paradigma Institut, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Andrei Slobtsov

    Bagai Pungguk Menjerat Bulan Part 4

    • calendar_month Ming, 30 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 406
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin “Salmaaan … come on. Kamu ngapain sih?” Fix, suara itu semakin membuat Salman ge-er. Ditambah provokasi dari sana sini membuatnya ingin mengangkat pantat dan memenuhi panggilan itu sesegera mungkin. Tapi ia sempat ragu saat meneliti ekspresi wajah para pengurus bagian keamanan, Kang Frans, Kang Husni, dan Kang Rif’al. Ada senyum berbau […]

  • PC IPNU/IPPNU Gelar Koordinasi dengan Dua Ranting

    PC IPNU/IPPNU Gelar Koordinasi dengan Dua Ranting

    • calendar_month Ming, 21 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 526
    • 0Komentar

    PATI-PC IPNU/IPPNU Kabupaten Pati hari ini (21/7) menggelar koordinasi dengan dua Pengurus Ranting Sekaligus. Agenda tersebut dikhususkan untuk membahas tentang kaderisasi dan Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) IPNU/IPPNU. Pertemuan singkat tersebut berlangsung di Gedung PC NU Pati lantai dua mulai pukul 10.30 sampai dengan 13.00 WIB. Dua ranting yang hadir adalah sari Kepoh Kencono dan Karangwotan. […]

  • Terjangkit Penyakit, Calon Jemaah Haji Asal Pati Dipulangkan

    Terjangkit Penyakit, Calon Jemaah Haji Asal Pati Dipulangkan

    • calendar_month Sen, 11 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 13.549
    • 0Komentar

      Pati – Seorang calon jemaah haji asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah terpaksa dipulangkan dan gagal berangkat ke tanah suci pada tahun 2026 ini. Pasalnya, jemaah haji asal Kecamatan Sukolilo tersebut mengidap hepatitis. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Pati atau Kemenhaj Pati, Rahardian Yunianto memaparkan calon jemaah haji tersebut […]

  • Tanggulangi Covid 19, PCNU Pati Bagikan Bilik Antiseptik

    Tanggulangi Covid 19, PCNU Pati Bagikan Bilik Antiseptik

    • calendar_month Jum, 3 Apr 2020
    • account_circle admin
    • visibility 363
    • 0Komentar

    Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati menyerahkan sebuah bilik antiseptik kepada pengurus takmir Masjid Baiturrohim, Winong, Pati. PATI-Demi menunjang kenyamanan beribadah di tengah penyebaran covid 19, PCNU Pati segera ambil tindakan. Melalui berbagai lembaganya, pengurus  NU kabupaten Pati tersebut melakukan support upaya pencegahar penyebaran virus melalui bantuan moril dan materiil. Support moril dilaksanakan dengan […]

  • Ibu-Ibu Muslimat Ikuti Penyuluhan Sosial, Ini Hasilnya

    Ibu-Ibu Muslimat Ikuti Penyuluhan Sosial, Ini Hasilnya

    • calendar_month Jum, 19 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 512
    • 0Komentar

      Muh Zen Adv. (baju putih) sedang memberikan penyuluhan sosial dihadapan puluhan Ibu-Ibu Muslimat NU se-Kabupaten Pati PATI – Anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah, Muh Zen, melakukan penyuluhan peningkatan kualitas tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial, Kamis (18/11) siang. Pada kegiatan itu, ia bekerjasama dengan Dinas Sosial (Dinsos) Jateng. Penyuluhan […]

  • 70 Kiai Pati Bahas Wacana Perda Pesantren

    70 Kiai Pati Bahas Wacana Perda Pesantren

    • calendar_month Ming, 16 Jan 2022
    • account_circle admin
    • visibility 427
    • 0Komentar

    Tujuh puluhan kiai hadiri halaqoh untuk membahas Perda Pesantren  MARGOYOSO – Rabithatul Maahid Islami (RMI) NU berkolaborasi dengan Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengadakan Halaqoh Pengasuh Pesantren menggagas Perda Pesantren di Pati. Ketua RMI NU Pati, KH. Liwauddin menegaskan bahwa Peraturan Presiden no. 82 tahun 2021 mrncantumkan pasal yang mengatur pendanaan pesantren dari […]

expand_less