Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » INDONESIA BUTUH NU

INDONESIA BUTUH NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 2 Nov 2015
  • visibility 322
  • comment 0 komentar

NU merupakan satu organisasi sosial keagamaan yang—bisa dibilang—unik. Keunikan ini sebenarnya lahir dari berbagai aktivitas keorganisasian yang lebih bersifat kultural. Tradisionalisme yang melekat pada organisasi ini, merupakan satu bagian yang sering menjadi buah bibir khalayak. Secara struktural, organisasi NU telah cukup maju dalam penataan kepengurusannya. Hanya saja, esensi yang ‘duduk’ di dalamnya masih sarat dengan nilai-nilai budaya lokal. Namun justru itulah yang membuat organisasi terbesar di indonesia ini layak menjadi salah satu ikon ‘perdamaian’ bukan hanya antara budaya dengan agama namun juga antara yang tradisional dengan yang modern.
‘Lokasi’ lahir yang berdekatan dengan kebodohan, kekolotan dan kemelaratan bangsa terjajah harus membuat NU mampu menjadi wadah, bukan malah menjadi menara gading yang congkak. Wal hasil tercetuslah NU yang seperti sekarang ini. Akantetapi—seperti dikatakan sebelumnya—meski hadir dengan tema tradisional, modernitas tetap menjadi satu bagian wajib dalam rangka membangun “mitra” dengan roda zaman. Penyelarasan ini sebenarnya telah dideklarasikan secara leteral dalam bentuk kaidah. Pemeliharaan terhadap eksistensi tradisionalitas diseguyubkan dengan pengamalan nilai-nilai modern yang dianggap lebih baik menjadi tolak ukur NU dalam memahami masa depan. Demikianlah yang acap kali didengungkan oleh kyai-kyai NU hingga para guru mulok (muatan lokal) Ke-NU-an di madrasah-madrasah.  
Hemat penulis, dari kaca mata ini terlihat jelas bahwa modernitas dan tradisionalitas merupakan barang yang wajib adanya bagi NU. Ibarat dua mata uang dalam satu koin, dua-duanya adalah suatu yang niscaya untuk diaplikasikan. Hanya saja penyalahartian tentang tradisionalitas yang disamaratakan dengan konvensionalitas masih sering berdengung di kawasan anti NU. Maka wajar jika posisi NU semakin terdesak ditepian zaman ‘modern’. Para hater yang  sejatinya belum terlalu jauh memahami NU, dengan segala kepentingannya mengobrak-abrik asumsi pasar soal kekolotan organisasi bikinan KH. Hasyim Asy’ari ini. Akhirnya, tercetuslah gagasan yang diiyakan secara global bahwa NU disamadengankan tradisional, dan tradisional sama dengan kolot. Dengan rumus singkatnya, kolot sama dengan NU.
Terkait kekurangan dan kelebihan NU sebagai organisasi yang notabenenya ‘hand made’ umat manusia—bukan buatan tuhan seperti agama—memojokkan NU dengan satu alasan logis ini bisa saja dibenarkan. Namun wajah NU yang sedemikian rupa sebenarnya merupakan salah satu cara untuk mewahanai hajat umat Indonesia dalam banyak aspek. Dibalik anggapan miring NU kolot yang berdengung, sejatinya dalam tubuh NU tersimpan pola pemikiran ulama yang begitu maju untuk memajukan Indonesia.
Berangkat dari sebuah kaidah tentang penyelarasan antara tradisionalitas dan modernitas, NU menjadi ikon terpenting yang harus ada. Eksistensi karakter organisasi semacam ini mutlak dimiliki  oleh segala jenis bangsa manusia di dunia. Tanpa penggabungan antara tradisionalitas dan modernitas, mustahil sebuah bangsa bisa menemukan titik ghoyah-nya, memajukan peradaban sekaligus meniadakan penindasan karakter. Begitu banyak bangsa maju di era dunia ke tiga ini, namun tak sedikit pula dari mereka yang kehilangan jati diri karena melewatkan sejarah bangsa dalam modul pembangunan.
Tradisi merupakan bahan baku budaya yang menyejarah, sementara tanpa memahami betul sejarah dan budaya bangsa, maka kemajuan akan terasa pincang sebab kebutaannya terhadap karakter asli bangsa.
Diteropong dari rongga ini, NU dengan segala keunikanya tentu saja bukan organisasi sembarangan. Karakternya telah didesain sedemikian rupa oleh ‘arsitek’ ulung sekelas KH. Hasyim Asy’ari CS sehingga mampu menampung berbagai macam aspirasi baik yang bersifat tradisi ataupun yang kekinian bahkan yang berasal dari masa depan. Kaum intelek menyebutnya dengan istilah yang cukup keren : toleran.
Waktak toleran terhadap kemajuan zamannya serta jadugnya NU dalam mempertahankan tradisi tanpa disadari telah membawa organisasi ini pada sebuah level penyatuan tradisionalitas dan modernitas yang membentuk  satu aliran baru—sebaru-barunya—yakni neo-modernisme. Sebuah istilah untuk menyebut pembaharuan modern.
Kata modern terkadang masih terdengar ‘angkuh’, kekinian, kota dan hal-hal maju lainnya. Namun tanpa sadar, NU yang dianggap kolot telah memodernkan kemodernisasi dengan emblem gagah neomodernisme. Hebatnya lagi, kondisi semacam ini telah diteropong oleh para pendirinya sejak tahun 1926, sekitar sembilan puluh tahun lalu, dan baru sekarang terkuak. Dalam konteks ideologi neomodernisme ini, Indonesia menjadi satu negara yang paling beruntung karena memiliki NU.
KH. Hasyim Asy’ari mafhum betul bahwa Indonesia butuh NU, maka beliau tidak mau sembarangan dalam meracik organisasi ini. Hanya saja,  NU acap kali dianggap sebagai satu hal yang biasa-biasa saja oleh bangsa Indonesia bahkan oleh para kadernya. tanpa disadari bahwa NU adalah masterpiece yang sekaligus menjadi pilar utama peradaban manusia Indonesia. Namun sayang, dengan resep yang telah digodhog hingga benar-benar matang oleh KH. Hasyim Asy’ari CS dalam ‘membuat adonan’ NU yang istimewa, saat ini malah cenderung dipandang sebelah mata. Kekonyolan paradigma khususnya oleh para kader NU terhadap organisasinya sendiri inilah yang kian menggerogoti tubuh NU sendiri secara perlahan. Mereka menganggap NU adalah ‘warisan’ yang biasa-biasa saja ini, wal hasil Indonesiapun turut menjadi negara yang hambar dan biasa-biasa saja. Ketidaksadaran bahwa Indonesia butuh NUatau setidaknya butuh organisasi semacamnya—inilah yang harus dibangunkan dari tidur lamanya.
Neomodernisme menjadi paku bumi mendirikan bangunan negeri yang ingin maju, tak terkecuali Indonesia yang hanya mengekor pada kolonialisme model mutakhir yang berkedok modernisme. Dengan penerapan faham neomodernisme yang diusung NU, Indonesia benar-benar akan menjelma—bukan hanya—sebagai negara maju, namun juga menjadi barang istimewa sebagaimana dicita-citakan hadratusysyaikhSoekarno CS. (Maulana Luthfi Karim Penulis merupakan peneliti di Paradigma Institut, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PEMBERDAYAAN KEBANGSAAN DAN REALITA EKONOMI MIKRO NU

    PEMBERDAYAAN KEBANGSAAN DAN REALITA EKONOMI MIKRO NU

    • calendar_month Jum, 30 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 295
    • 0Komentar

       Bangsa Indonesia sedang menghadapi permasalahan krusial, seperti tingginya angka kemiskinan, korupsi yang merajalela, mafia hukum yang merebak dalam berbagai sisi kehidupan, dan konflik antar keyakinan agama. Permasalahan tersebut mau tak mau telah membuat proses keadaban bangsa kita menjadi lapuk dan terkikis sedikit demi sedikit. Kesadaran bangsa menjadi berkurang dimana kepentingan individu maupun golongan lebih […]

  • Konfercab IPNU dan IPPNU

    Konfercab IPNU dan IPPNU

    • calendar_month Jum, 5 Mei 2017
    • account_circle admin
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Pati. Pengurus Cabang Ikatan pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama Kabupaten pati ini menggelar konferensi cabang ke XI  dilaksanakan di SMPNU Karaban. Sabtu 29/04 kemarin. “Kami Mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengurus PC IPNU IPPNU Masa Khidmah 2014-2016 yang sudah melaksanakan segala program kerja dan sudah meluangkan tenaga, pikiran dan waktunya untuk […]

  • ‎Hanya Ada Di INISNU, Kampus Gelar Nyadran Kampus Hijau

    ‎Hanya Ada Di INISNU, Kampus Gelar Nyadran Kampus Hijau

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.038
    • 0Komentar

    ‎ ‎Temanggung – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-100 Masehi atau 1 Abad NU, Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung bersama keluarga besar Kampus Hijau menggelar Nyadran Kampus Hijau yang dipusatkan di Komplek Masjid Al-Ittihad INISNU Temanggung, Jumat pagi (30/1/2026). ‎ ‎Kegiatan ini diikuti oleh sivitas akademika dan lembaga di lingkungan […]

  • PCNU-PATI

    Subsidi di Cabut, Bantuan Berebut

    • calendar_month Rab, 14 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 238
    • 0Komentar

    Oleh: Niam At Majha Beberapa hari lalu, setelah kenaikan harga bahan bakar yang notabene memberatkan masyarakat menurut sebagian orang. Kini kantor pos dan balai desa ramai oleh orang orang yang mengantri untuk mengambil bantuan dari dampak BBM di paksa naik. Saya hanya mengamati, melihat hiruk pikuk tersebut, ada yang saling desak berdesakan, ada pula saling […]

  • PCNU-PATI

    Expo Pasar Murah MA Assyafi’iyah Talun Diserbu Pengunjung

    • calendar_month Sel, 25 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 341
    • 0Komentar

    KAYEN – MA Assyafi’iyyah Talun, Kecamatan Kayen sukses menyelenggarakan Ekspo Bazar Madrasah pada Selasa (25/10). Kegiatan ini merupakan Ekspo perdana yang diselenggarakan oleh pihak madrasah.  Menurut sumber yang diterima pcnupati.or.id, agenda ini merupakan  tugas akhir praktikun mata pelajaran Prakarya dan kewirausahaan kelas X sampai XII MA Assyafi’iyyah Talun. Hal ini disampaikan oleh Tatik Kusniah, guru pengampu […]

  • PCNU-PATI

    7 Siswa Pati Borong Medali di Thailand

    • calendar_month Sen, 29 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 304
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – kabar membanggakan datang dari Bangkok, Thailand. Pasalnya, sebanyak tujuh bocah asal Pati, Jawa Tengah sukses berkompetisi dalam olimpiade matematika tingkat Internasional, TIMO (Thailand International Mathematical Olympaid), Sabtu (27/4). “Alhamdulillah, kompetisinya sudah berlangsung Sabtu (27/4) dan pengumumannya Ahad (28/4) siang,” ungkap Ali Syarifuddin, Direktur Lembaga Pendidikan Senyum Cerdas Nusantara (SCN) yang menjadi promotor ke […]

expand_less