Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » INDONESIA BUTUH NU

INDONESIA BUTUH NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 2 Nov 2015
  • visibility 420
  • comment 0 komentar

NU merupakan satu organisasi sosial keagamaan yang—bisa dibilang—unik. Keunikan ini sebenarnya lahir dari berbagai aktivitas keorganisasian yang lebih bersifat kultural. Tradisionalisme yang melekat pada organisasi ini, merupakan satu bagian yang sering menjadi buah bibir khalayak. Secara struktural, organisasi NU telah cukup maju dalam penataan kepengurusannya. Hanya saja, esensi yang ‘duduk’ di dalamnya masih sarat dengan nilai-nilai budaya lokal. Namun justru itulah yang membuat organisasi terbesar di indonesia ini layak menjadi salah satu ikon ‘perdamaian’ bukan hanya antara budaya dengan agama namun juga antara yang tradisional dengan yang modern.
‘Lokasi’ lahir yang berdekatan dengan kebodohan, kekolotan dan kemelaratan bangsa terjajah harus membuat NU mampu menjadi wadah, bukan malah menjadi menara gading yang congkak. Wal hasil tercetuslah NU yang seperti sekarang ini. Akantetapi—seperti dikatakan sebelumnya—meski hadir dengan tema tradisional, modernitas tetap menjadi satu bagian wajib dalam rangka membangun “mitra” dengan roda zaman. Penyelarasan ini sebenarnya telah dideklarasikan secara leteral dalam bentuk kaidah. Pemeliharaan terhadap eksistensi tradisionalitas diseguyubkan dengan pengamalan nilai-nilai modern yang dianggap lebih baik menjadi tolak ukur NU dalam memahami masa depan. Demikianlah yang acap kali didengungkan oleh kyai-kyai NU hingga para guru mulok (muatan lokal) Ke-NU-an di madrasah-madrasah.  
Hemat penulis, dari kaca mata ini terlihat jelas bahwa modernitas dan tradisionalitas merupakan barang yang wajib adanya bagi NU. Ibarat dua mata uang dalam satu koin, dua-duanya adalah suatu yang niscaya untuk diaplikasikan. Hanya saja penyalahartian tentang tradisionalitas yang disamaratakan dengan konvensionalitas masih sering berdengung di kawasan anti NU. Maka wajar jika posisi NU semakin terdesak ditepian zaman ‘modern’. Para hater yang  sejatinya belum terlalu jauh memahami NU, dengan segala kepentingannya mengobrak-abrik asumsi pasar soal kekolotan organisasi bikinan KH. Hasyim Asy’ari ini. Akhirnya, tercetuslah gagasan yang diiyakan secara global bahwa NU disamadengankan tradisional, dan tradisional sama dengan kolot. Dengan rumus singkatnya, kolot sama dengan NU.
Terkait kekurangan dan kelebihan NU sebagai organisasi yang notabenenya ‘hand made’ umat manusia—bukan buatan tuhan seperti agama—memojokkan NU dengan satu alasan logis ini bisa saja dibenarkan. Namun wajah NU yang sedemikian rupa sebenarnya merupakan salah satu cara untuk mewahanai hajat umat Indonesia dalam banyak aspek. Dibalik anggapan miring NU kolot yang berdengung, sejatinya dalam tubuh NU tersimpan pola pemikiran ulama yang begitu maju untuk memajukan Indonesia.
Berangkat dari sebuah kaidah tentang penyelarasan antara tradisionalitas dan modernitas, NU menjadi ikon terpenting yang harus ada. Eksistensi karakter organisasi semacam ini mutlak dimiliki  oleh segala jenis bangsa manusia di dunia. Tanpa penggabungan antara tradisionalitas dan modernitas, mustahil sebuah bangsa bisa menemukan titik ghoyah-nya, memajukan peradaban sekaligus meniadakan penindasan karakter. Begitu banyak bangsa maju di era dunia ke tiga ini, namun tak sedikit pula dari mereka yang kehilangan jati diri karena melewatkan sejarah bangsa dalam modul pembangunan.
Tradisi merupakan bahan baku budaya yang menyejarah, sementara tanpa memahami betul sejarah dan budaya bangsa, maka kemajuan akan terasa pincang sebab kebutaannya terhadap karakter asli bangsa.
Diteropong dari rongga ini, NU dengan segala keunikanya tentu saja bukan organisasi sembarangan. Karakternya telah didesain sedemikian rupa oleh ‘arsitek’ ulung sekelas KH. Hasyim Asy’ari CS sehingga mampu menampung berbagai macam aspirasi baik yang bersifat tradisi ataupun yang kekinian bahkan yang berasal dari masa depan. Kaum intelek menyebutnya dengan istilah yang cukup keren : toleran.
Waktak toleran terhadap kemajuan zamannya serta jadugnya NU dalam mempertahankan tradisi tanpa disadari telah membawa organisasi ini pada sebuah level penyatuan tradisionalitas dan modernitas yang membentuk  satu aliran baru—sebaru-barunya—yakni neo-modernisme. Sebuah istilah untuk menyebut pembaharuan modern.
Kata modern terkadang masih terdengar ‘angkuh’, kekinian, kota dan hal-hal maju lainnya. Namun tanpa sadar, NU yang dianggap kolot telah memodernkan kemodernisasi dengan emblem gagah neomodernisme. Hebatnya lagi, kondisi semacam ini telah diteropong oleh para pendirinya sejak tahun 1926, sekitar sembilan puluh tahun lalu, dan baru sekarang terkuak. Dalam konteks ideologi neomodernisme ini, Indonesia menjadi satu negara yang paling beruntung karena memiliki NU.
KH. Hasyim Asy’ari mafhum betul bahwa Indonesia butuh NU, maka beliau tidak mau sembarangan dalam meracik organisasi ini. Hanya saja,  NU acap kali dianggap sebagai satu hal yang biasa-biasa saja oleh bangsa Indonesia bahkan oleh para kadernya. tanpa disadari bahwa NU adalah masterpiece yang sekaligus menjadi pilar utama peradaban manusia Indonesia. Namun sayang, dengan resep yang telah digodhog hingga benar-benar matang oleh KH. Hasyim Asy’ari CS dalam ‘membuat adonan’ NU yang istimewa, saat ini malah cenderung dipandang sebelah mata. Kekonyolan paradigma khususnya oleh para kader NU terhadap organisasinya sendiri inilah yang kian menggerogoti tubuh NU sendiri secara perlahan. Mereka menganggap NU adalah ‘warisan’ yang biasa-biasa saja ini, wal hasil Indonesiapun turut menjadi negara yang hambar dan biasa-biasa saja. Ketidaksadaran bahwa Indonesia butuh NUatau setidaknya butuh organisasi semacamnya—inilah yang harus dibangunkan dari tidur lamanya.
Neomodernisme menjadi paku bumi mendirikan bangunan negeri yang ingin maju, tak terkecuali Indonesia yang hanya mengekor pada kolonialisme model mutakhir yang berkedok modernisme. Dengan penerapan faham neomodernisme yang diusung NU, Indonesia benar-benar akan menjelma—bukan hanya—sebagai negara maju, namun juga menjadi barang istimewa sebagaimana dicita-citakan hadratusysyaikhSoekarno CS. (Maulana Luthfi Karim Penulis merupakan peneliti di Paradigma Institut, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Birrul Walidain dan Birrul Aulad

    Birrul Walidain dan Birrul Aulad

    • calendar_month Kam, 19 Feb 2015
    • account_circle admin
    • visibility 385
    • 0Komentar

      الحمد لله رب العالمين، الذي يُحمَد على أنه الغنيّ الحميد، إذ له مَحْمدةٌ على كل ما سواه، الغني الكامل غِناه، العالي قبل أن يخلق سَماه، على أن من حكمته خلَقَ الخلق ليعرّفهم على جلاله وجماله وكماله، على مراتبٍ روحية ومراتبٍ عقلية بعموميةٍ وخصوصيةٍ أزلية. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له […]

  • Pelantikan JQH, Bupati : Kita Rubah Image Pati menjadi Kota Qur’ani

    Pelantikan JQH, Bupati : Kita Rubah Image Pati menjadi Kota Qur’ani

    • calendar_month Ming, 30 Jan 2022
    • account_circle admin
    • visibility 400
    • 0Komentar

    Kedatangan para Pengurus Wilayah JQH Jawa Tengah disambut oleh Bupati Pati  PATI – Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz (JQH) NU Kabupaten Pati dilantik di Pendopo Kabupaten. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (29/1) siang kemarin.  Sedikitnya 70 peserta hadir dan menyimak sakralnya acara tersebut. Tak ketinggalan, Bupati Pati, H. Haryanto, sebagai tuan rumah pendopo kabupaten juga turut […]

  • Semangat Idul Adha dalam membangun Solidaritas, Berbangsa dan Bernegara

    Semangat Idul Adha dalam membangun Solidaritas, Berbangsa dan Bernegara

    • calendar_month Sel, 13 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 436
    • 0Komentar

    Hari Raya Idul Adha merupakan momentum bersejarah bagi umat Islam di seluruh dunia, terlebih bagi umat Islam yang sedang menunaikan ibadah haji di Makkah. Banyak hikmah yang bisa kita petik dari peringatan Hari Raya Idul Adha ini, agar kita semua senantiasa meneladani Nabi Ibrahim AS atas ketaatannya menjalankan perintah Allah SWT. Ada tiga keistimewaan yang […]

  • PC Pagar Nusa Dan LPBH NU dampingi Korban Penganiayaan

    PC Pagar Nusa Dan LPBH NU dampingi Korban Penganiayaan

    • calendar_month Sen, 8 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 392
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id- Sebuah video viral di media sosial menggambarkan adanya mobil Calya berwarna merah menjadi sasaran perusakan massa. Tampak dalam video itu, mobil bernomor polisi H 1927 KR digulingkan oleh sejumlah warga. Diketahui, kejadian itu berada di Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, pada Sabtu (6/5/2023) lalu. Usut punya usut, peristiwa itu terjadi karena warga setempat merasa […]

  • PCNU-PATI

    LAZISNU Pati, Kembali Hadir dalam Layanan Kesehatan

    • calendar_month Sen, 6 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 395
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id-PC Lazisnu Pati melakukan pemberian bantuan kesehatan kepada Mafaza, warga Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati, jumat (03/02). Dalam hal ini pihak Lazisnu Pati yang diwakili oleh tim managerial turut serta menggandeng MWC NU Margoyoso setempat. Pemberian bantuan kali ini diberikan dalam bentuk uang tunai.  Syaiful Huda selaku manager fundrising PC Lazisnu Pati, mengatakan bahwa […]

  • PCNU-PATI

    Patungan, Siswa MI Gembong Ini Setor 4 Juta ke Lazisnu untuk Palestina

    • calendar_month Sel, 7 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 410
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id. – Penggalangan donasi untuk membantu Warga Palestina masih terus dibuka. Salah satunya dilakukan oleh Lazisnu Pati. “Bulan Nopember ini kami buka gelombang ke dua untuk donasi bantuan bagi Palestina,” ungkap Ipul salah satu tenaga administrasi Lazisnu Pati. Senin (6/11) siang, Lazisnu Pati kedatangan tamu tak terduga. Anak-anak berseragam putih-merah menyerahkan bantuan dana senilai Rp […]

expand_less