Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Suami Khayalan

Suami Khayalan

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 16 Okt 2022
  • visibility 226
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

“Apa mbak ini calon istrinya Mas Faris?” Tanya Bi Misih sambil mengamati gadis di depannya. Ia fokus pada gaun pengantin yang dikenakan si gadis.

“Tidak. Kami baru saja ketemu.”

“Ooh.” Bik Misih tersenyum.

“Mari ikut saya,” lanjutnya mengajak gadis cantik itu masuk ke dalam.

—–

“Nah, gini lebih cantik. Masyaallah.” Bik Misih menatap takjub pada gadis di depannya. Ia sudah menyulap gadis bergaun pengantin basah dan rambut panjang awut-awutan menjadi gadis berjilbab layaknya seorang ustadzah.

Gadis itu terkesima dengan diri sendiri. Ia menatap pantulan bayangan pada cermin di depannya. Benar kata Bik Misih. Ia jauh lebih cantik dengan busana muslimah. Tunik panjang dipadu rok plisket dan pasmina benar-benar cocok untuk tubuh rampingnya. Gadis itu tersenyum simpul. Entah kenapa berbusana seperti ini membuatnya nyaman. Mungkin karena lingkungan islami yang tercipta di panti.

“Di sini, kami mengajarkan anak-anak untuk senantiasa memakai baju muslim. Memakai jilbab untuk yang putri,” tutur Bik Misih santun.

“Den Faris punya mimpi mulia. Sudah lama beliau ingin membangun pesantren untuk anak-anak,” tuturnya. Kedua mata Bik Misih spontan berkaca-kaca. Seolah ada kesedihan menggelayut dalam dada saat mengatakan itu. Yang pasti gadis di depan Bik Misih tak tahu sebabnya. Ia hanya bisa menerka mungkin Bik Misih terharu dengan cita-cita luhur tuannya.

“Kenapa tidak dijadikan pesantren saja?” Usul gadis itu.

“Den Faris merasa belum punya ilmu yang mumpuni di bidang agama, Non. Maaf nama Non siapa?”

“Saya rasa Mas… em… Faris….”

Bik Misih tersenyum geli, mengerti kebingungan tamunya. Sudah kerap ia temui setiap wanita yang berhadapan dengan Faris akan terlihat salah tingkah.

“Saya rasa dia cukup mengerti agama,” sahut gadis itu akhirnya.

“Iya, tapi kata Den Faris dia belum masih kurang mumpuni. Ia bertekad akan belajar lebih tekun lagi dan rajin mengunjungi beberapa pesantren untuk dijadikan referensi.”

Gadis berkulit putih itu manggut-manggut.

Setelah mengobrol cukup lama, Bik Misih mengajak tamunya makan malam bersama dengan anak-anak panti. Semuanya tampak pangling dan terkesima dengan penampilan baru tamu mereka. Faris bahkan sempat sedikit kesulitan menelan ludah begitu pandangan mereka bertemu. Faris merasa menemukan bidadari yang jatuh dari langit. Senyum samar terukir di bibir tipis itu. Bik Misih geleng-geleng melihat tingkah majikannya. Ia juga pernah muda. Tentu paham jika ada sedikit rasa aneh yang hinggap di dada Faris melihat gadis secantik ini.

“Ingat, Den Faris sudah punya calon,” ingat Bik Misih.

“Iya, saya tidak amnesia, Bik,” ucap Faris setengah kesal.

Mengingat tentang calon istri, ingatan Faris kembali terbang ke beberapa bulan yang lalu. Tak sengaja ia menemukan maminya terlibat perbincangan serius dengan kakeknya-Tuan Zabir Malik di ruangan khusus milik pendiri Albana Group itu.

“Aku ingin memperjuangkan hakmu sebagai menantuku dan Faris sebagai pemegang utama Albana Grup. Cepatlah bujuk dia agar segera menikah. Umur tak ada yang tahu. Selama ini kita sudah mengusahakan yang terbaik. Aku minta maaf atas nama Abimanyu.”

Helaan nafas terdengar hingga ke daun pintu yang terbuka sedikit dimana Faris berdiri. Ia bisa melihat dan mendengar dengan jelas dari balik pintu itu. Kebetulan ia pulang lebih cepat setelah mengikuti rapat persiapan launching produk baru.

“Iya, Pa. Akan saya coba. Tapi jika memang nanti kami harus meninggalkan Al-Bana juga tidak apa-apa. Saya ikhlas.”

“Lia, Sampai kapan pun aku takkan rela. Rumah ini milikmu dan Faris. Abimanyu dan keluarga barunya tak berhak memilikinya. Jadi buatlah Faris segera menikah. Jika dia punya anak, kita akan punya harapan besar,” sahut Tuan Zabir sambil terbatuk-batuk. Membuat Nyonya Kamelia berdiri dan menyodorkan segelas air putih. Menepuk-nepuk punggung rapuh itu dengan sayang.

Faris tahu betul sifat kakeknya. Lelaki itu meski kelihatan keras dan berwibawa, tapi jiwanya sangat lembut. Diam-diam ia terharu dan tak menyangka kakeknya begitu mencintai sang mami lebih dari anak kandungnya sendiri.

Namun rasa haru itu berubah menjadi rasa gelisah. Menikah? Punya anak demi mengukuhkan posisi di Al-Bana? Ah, sedangkal itukah makna pernikahan?

Bagaimanapun ia seperti manusia pada umumnya. Membangun rumah tangga atas dasar cinta. Mengharapkan buah hati bukan semata-mata sebagai penerus Albana tapi juga sebagai penegak agama Allah, sebagai pewaris para Nabi dan penerus ulama. Tak ia pungkiri, ia juga menginginkan seorang anak. Tapi ia sendiri belum menemukan perempuan yang tepat untuk dijadikan istri. Ia tak boleh gegabah mencari pendamping hidup. Ia butuh seorang perempuan tangguh dan cerdas. Ia selalu ingat sebuah nasehat lama.

“Anak yang cerdas terlahir dari ibu yang cerdas dan pendidikan anak dimulai dari mencari pasangan.”

Rasanya ia muak jika hidup melulu mengurus dunia. Pikiran terforsir dan tersedot hanya untuk Albana. Mungkin ujian berat yang menimpanya menjadi pengingat jika sudah saatnya ia memikirkan tentang akhirat.

Ia juga butuh segera menikah. Tapi dengan siapa? Banyak perempuan yang mendambakannya. Bahkan kalau mau, ia bisa menyeleksi semua pegawai perempuannya sebagai kandidat calon istri.

Tapi, jika semua perempuan itu tahu rahasia besar yang bertahun-tahun ia simpan, apakah mereka bisa menerimanya dengan ikhlas sebagai suami? Ia tak mau memiliki istri yang mau menerimanya demi harta. Ia tak ingin menikahi perempuan yang hanya mengincar warisan dari Albana. Ia ingin memiliki pendamping hidup yang benar-benar mencintainya, menerima segala kekurangannya. Tapi apa mungkin?

“Papa tenang saja. Nanti saya akan bicara dengan Faris,” ujar Nyonya Kamelia sebelum menutup obrolan sore itu.

—–

“Den.”

Sebuah tepukan membuat Faris tergeragap. Sepotong wajah bulat menatapnya penuh tanda tanya.

“Den Faris ngelamunin apa?” Tanya Bik Misih sambil berbisik.

“Nggak, nggak apa-apa.”

“Kalau jodoh nggak akan kemana,” goda Bik Misik sambil melirik Najiya yang duduk diapit Nadia dan temannya.

“Apaan sih, Bik?”

Bik Misik tertawa jahil.

——-

Pagi sekali, usai salat subuh Bik Misih mengajak tamunya berkeliling. Melihat-lihat suasana panti. Anak-anak sedang sibuk mengaji di aula panti. Mereka membentuk antrian panjang di depan Faris. Lelaki itu dengan sabar mengajari mereka membaca alquran. Pemandangan itu membuat gadis cantik berbalut tunik panjang terharu, terpukau dan ada perasaan yang entah apa namanya menelusup halus dalam dadanya. Perasaan yang membuatnya betah berlama-lama berdiri di balik jendela melihat keasyikan anak-anak mengaji di aula. Mereka seperti malaikat kecil yang mengerumuni seorang pangeran.

Gadis itu tersenyum. Sebuah imajinasi liar tiba-tiba berlekebat dalam benaknya. Dimana ia sedang mengajikan teh hangat pada suaminya yang setampan Faris sedang memandu anak-anak mereka belajar membaca Al-Quran.

“Aih, apa-apaan sih aku ini?”

Seandainya calon suaminya setampan itu, mungkin ia tak begitu keberatan putus dengan Samuel. Mungkin.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pagar Nusa Gabus Raih 9 Emas di  KEJURCAB 2015

    Pagar Nusa Gabus Raih 9 Emas di KEJURCAB 2015

    • calendar_month Jum, 11 Des 2015
    • account_circle admin
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Pada akhir bulan November 2015 kemarin bertempat di SMPN 01 Juwana Pati Pimpinan Cabang Pagar Nusa Pati mengadakan kompetisi Kejuaraan Pencak Silat Cabang antar pelajar SMP/MTs dan SMA/MA/SMK se Kabupaten Pati, acara tersebut hampir di ikuti sebagian besar sekolah yang mempunyai kegiatan ekstra pencak silat.             Dan pada kesempatan ini Pagar Nusa Kecamatan Gabus meraih […]

  • PCNU-PATI Photo by Microsoft 365

    Menjadi Guru untuk Diri Sendiri, Syukur-syukur Orang Lain

    • calendar_month Sen, 19 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 211
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Dulu, saya sering resah saat memberi ceramah, entah itu bentuknya khutbah jumat, idul fitri, idul adha, maupun kultum. Resah karena merasa tidak pantas menceramahi orang, sedang diri sendiri masih belangsakan. Tapi setelah mendapat nasihat dari dua orang guru, perasaan itu menjadi hilang. Guru pertama mengatakan bahwa penceramah sama halnya profesi […]

  • Ketua dan Sekretaris LP Ma`arif NU Jateng Hadiri Undangan Konferensi Internasional di Cina

    Ketua dan Sekretaris LP Ma`arif NU Jateng Hadiri Undangan Konferensi Internasional di Cina

    • calendar_month Rab, 20 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 322
    • 0Komentar

    Semarang – Ketua dan Sekretrias Lembaga Pendidikan Ma`arif NU Jawa Tengah Fakhruddin Karmani dan Ahsanul Husna, Rabu, 20 November 2024 bertolak ke Guangzho Cina untuk mengadiri undangan Konferensi Internasional yang bertema “The Second Belt and Road Chinese University and Overseas Partner Exchange conference”. Menurut Fakhruddin, kegiatan ini diselenggarakan oleh Guangzhou MalishaEdu Co., Ltd. Kegiatan diselenggaran […]

  • Puncak Perayaan Maulid MAMU Dilaksanakan Jumat (8/11) Pagi

    Puncak Perayaan Maulid MAMU Dilaksanakan Jumat (8/11) Pagi

    • calendar_month Jum, 8 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 208
    • 0Komentar

    TAMBAKROMO-Gairah Maulif Nabi Muhammad telah merasuki warga nahdliyyin di berbagai tempat. Dari acara sederhana hingga yang bersifat megah telah dilakukan untuk memperingati hari lahir Pemimpin Umat Islam di Dunia ini. Pembacaan maulid Shimtudduror oleh peserta didik MAMU Hari ini, beberapa lembaga mulai melaksanakan peringatan hari milad Nabi Muhammad SAW. Beberapa madrasah juga melakukan hal demikian […]

  • PCNU-PATI

    Seni Perebutan Kepentingan

    • calendar_month Rab, 17 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 245
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha Belakang ini; di berbagai tempat seperti warung kopi, cafe, dan restoran-restoran lama saji. Banyak yang membicarakan, mendiskusikan, diopinikan perihal perayaan tahun depan. Pergantian pemimpin, siklus lima tahunan untuk melanjutkan estafet tentang perubahan baik dari segi keluarga dan negara. Kondisi demikian tak dapat terelakan, karena lima tahunan pergantian dan setiap orang […]

  • MA Salafiyah Kajen Borong 31 Medali di Ajang Nasional

    MA Salafiyah Kajen Borong 31 Medali di Ajang Nasional

    • calendar_month Sab, 30 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 331
    • 0Komentar

    Pamflet ucapan selamat Kepala MA Salafiyah atas prestasi yang berhasil diraih peserta didiknya PATI – Tiga perlombaan akademik diikuti siswa MA Salafiyah Kajen Minggu (24/10). Ketiga lomba yang diikuti yakni Pateron Olympiad, Lomba Felin Oaseedukasi, dan Gelora Science Competition (GSC) POSI. Dari tiga ajang lomba tersebut, siswa di madrasah yang berada di Kecamatan Margoyoso itu […]

expand_less