Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Sangkan Paran Kemerdekaan

Sangkan Paran Kemerdekaan

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 18 Agu 2025
  • visibility 409
  • comment 0 komentar

 

Pcnupati.or.id Suluk Maleman edisi ke- 164 yang digelar pada Sabtu (16/8) menjadi salah satu momen spesial. Pada momen yang bertepatan dengan malam tirakatan itu, masyarakat diajak memaknai kembali arti kemerdekaan.
Penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin menyebut banyak pengertian kemerdekaan yang harus dimaknai ulang. Terlebih setelah memasuki usia ke 80 Republik Indonesia.
“Seperti kita tahu, kemerdekaan diproklamasikan Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Sekali lagi yang ada saat itu adalah entitas bangsa, belum ada negara. Negara yang kemudian diberi nama Republik Indonesia baru dibentuk pada 18 Agustus, sehari setelah proklamasi” terang Anis.
Hal itu jelas menunjukkan bahwa bangsa adalah pemilik saham mutlak pendirian negara Republik Indonesia.
“Bangsa inilah yang membentuk negara. Sementara negara kemudian mendelegasikan sebagian fungsi pelaksanaannya ke pemerintah dengan segala turunannya,” imbuh dia.
Maka, Anis mengingatkan bahwa siapa pun yang diberi amanah untuk mengelola negara dan pemerintahan, tidak boleh melupakan sangkan-parannya, asal-tujuannya.
Asalnya adalah bangsa ini, seluruh rakyat Republik Indonesia, sehingga siapa pun yang diberi amanat untuk mengelola negara dan pemerintah harus selalu memosisikan diri sebagai representasi seluruh rakyat dan bekerja untuk kepentingan mayoritas mereka.
“Bila asal ini dilupakan, maka negara dan pemerintah akan berubah menjadi entitas tersendiri yang terputus dari entitas bangsa. Dari sinilah muncul pembajakan-pembajakan. Negara dan pemerintah tak lagi mengabdi pada rakyat, tapi pada kepentingan mereka sendiri,” jelas Anis.
Anis kemudin memberi ilustrasi: mengapa Rasulullah, seperti kebanyakan para Nabi, memilih untuk hidup miskin dan bersama orang miskin. Artinya beliau memilih hidup di samudra di mana sebagian besar ummatnya tinggal. Beliau memilih hidup dalam degup jantung dan nadi kehidupan ummat yang dipimpinnya. Dengan cara ini, tidak mungkin beliau menyimpangi kepentingan mereka, apalagi membuat kebijakan yang menyengsarakan mereka.
“Kalau contoh modern mungkin bisa kita tengok Swedia, dimana para pejabat di sana tak diberi fasilitas apapun. Kalau memilih jalan politik artinya harus bisa hidup bersama dan merasakan apa yang dirasakan rakyat. Sehingga kebijakannya tak akan menyusahkan rakyat,” imbuh dia.
Anis mengingatkan bahwa seorang pemimpin haruslah orang yang hidup di dalam dan bersama rakyat, bukan orang yang mengatasnamakan rakyat tapi hidup di menara gading.
“Itu semua terkait dengan kesadaran akan sangkan, akan asal. Sementara kesadaran tentang paran, tentang tujuan sebenarnya juga sudah jelas. Mulai dari mencerdaskan kehidupan bangsa sampai dengan menyejahterakan rakyat dan lain sebagainya, secara tegas dan jelas telah diatur dalam konstitusi asli kita, yakni Undang-undang Dasar 1945,” jelas Anis.
Anis menyebut banyaknya peristiwa menjelang hari kemerdekaan ke 80 ini, patut menjadi bahan renungan bagi kita semua. Mulai fenomena maraknya pengibaran bendera bajak laut topi jeraminya One Piece, hingga peristiwa aksi demonstrasi besar di Pati pada 13 Agustus.
“Pada satu sisi, kita bisa melihat pengibaran bendera bajak laut topi jerami sebagai titik balik kesadaran nasional baru, terutama oleh generasi millenial dan generasi Z. Yakni kesadaran nasional yang berbasis keadilan dan kesetaraan,” jelas Anis.
Anis kemudian menjelaskan bahwa dahulu bapak-bapak bangsa kita bangkit berjuang melawan kolonialisme karena terinspirasi oleh buku-buku pergerakan di masa itu; kini anak-anak muda terinspirasi untuk bergerak melawan ketidak-adilan karena terinspirasi oleh anime yang mereka tonton.
Sementara aksi unjuk rasa besar-besaran di Pati menunjukkan bahwa rakyat mulai siuman akan kedudukannya sebagai pemilik saham mutlak negara ini. Mereka tak lagi mau hanya sekadar menjadi obyek bagi kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Apalagi semakin hari mereka merasa bahwa kehadiran negara dan pemerintah semakin menyusahkan mereka.
Gejala ini muncul karena rakyat merasakan adanya reduksi pemahaman kebangsaan dari para pemangku negara dan pemerintahan. Munculnya beragam pajak, pemblokiran rekening sampai kenyataan sempitnya lapangan kerja; membuat mereka sadar ada yang salah di negeri ini.
Anis mengingatkan bahwa catatan sejarah membuktikan, betapa pun besarnya sebuah kerajaan atau negara, keruntuhannya selalu dimulai saat muncul beragam pajak yang dipungut dari rakyat.
“Jangan lupa, negara dan pemerintahan yang semakin menjauh dari sangkan-parannya, adalah negara yang rapuh dan gampang runtuh atau diruntuhkan.” tutup Anis.
Tema yang bertepatan di malam kemerdekaan membuat diskusi berlangsung hikmat. Sementara iringan musik dari Sampai GusUran ikut menghangatkan pengajian yang berlangsung sampai larut malam tersebut.(*)

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Syaikhona Mbah Kholil Bangkalan

    Syaikhona Mbah Kholil Bangkalan

    • calendar_month Rab, 25 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 493
    • 0Komentar

    Hari Selasa tanggal 11 Jumadil Akhir 1235 H atau 27 Januari 1820 M, Abdul Lathif seorang Kyai di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, ujung Barat Pulau Madura, Jawa Timur, merasakan kegembiraan yang teramat sangat. Karena hari itu, dari rahim istrinya lahir seorang anak laki-laki yang sehat, yang diberinya nama Muhammad Kholil, yang […]

  • PCNU PATI - Iluistrasi NU dan Wirausaha Masyarakat. Photo by Álvaro Serrano on Unsplash.

    Wirausaha di Masyarakat NU

    • calendar_month Sel, 19 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 335
    • 0Komentar

    Sejak didirikan oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari dan beberapa Kiai karismatis di Surabaya pada tahun 1926, Nahdlatul Ulama telah menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia. NU mempunyai keunikan tersendiri karena berbasis di pedesaan (urban-based organization), unggul dalam mengembangkan pendidikan Islam tradisional, yaitu pesantren yang tersebar terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimatan Selatan, […]

  • Hukum Budidaya Jangkrik dan Kroto – Bahtsul Masail NU Pati

    Hukum Budidaya Jangkrik dan Kroto – Bahtsul Masail NU Pati

    • calendar_month Jum, 30 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 1.200
    • 0Komentar

    Forum Bahtsul Masail Diniyah yang digelar oleh Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Kab. Pati di Komplek Nyai Ageng Ngerang Tambakromo telah menetapkan keputusan terkait dengan hukum memberi makan burung dengan jangkrik dan kroto, hukum membudidayakan jangkrik dan kroto, serta sah atau tidak jual beli jangkrik dan kroto? Ketiga as’ilah terkait kroto dan jangkrik tersebut memang […]

  • Pimpinan Cabang Puji Antusiasme Peserta LKD Fatayat NU Cluwak

    Pimpinan Cabang Puji Antusiasme Peserta LKD Fatayat NU Cluwak

    • calendar_month Ming, 5 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 377
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id CLUWAK-Latihan Kader Dasar (LKD) merupakan satu syarat wajib untuk memasuki organisasi besar Fatayat NU. Kali ini, giliran Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Kecamatan Cluwak yang menyelenggarakan agenda tersebut. Berlokasi di Gedung TPQ al Hidayah, Desa Sumur, LKD Fatayat NU Cluwak berlangsung pada Sabtu (4/3) mulai pukul 08.00 WIB dan selesai 18.00 WIB petang. […]

  • Mbah Hasyim Mengantar Santrinya ke Kajen

    Mbah Hasyim Mengantar Santrinya ke Kajen

    • calendar_month Kam, 13 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 667
    • 0Komentar

    Siapa sih yang tak kenal Hadratussyaikh Mbah Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur, pendiri NU, dan “sumber” ilmu dari sejumlah kiai besar di Jawa itu? Sudah pasti ada banyak kisah tentang kiai besar ini. Sebagian besar kisah tentang beliau sudah pasti pernah dituturkan, baik oleh para muridnya atau oleh orang-orang lain yang pernah mengenal sosok ini. […]

  • PCNU-PATI Photo by Mailchimp

    Hak Berbicara, Hak Berpendapat

    • calendar_month Jum, 3 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 317
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Kawan : “Kamu kan belum menikah dan punya anak, kok nulisnya tentang anak-anak sih.” Saya : “Lho memang ada keharusan untuk memiliki anak (biologis) dulu, baru boleh menulis tentang anak-anak?” Beberapa hari yang lalu, saya ditegur oleh salah seorang kawan. Saya yang notabene sering menulis tentang dunia parenting dan seputar perempuan, […]

expand_less