Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Rumi

Rumi

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 24 Okt 2022
  • visibility 493
  • comment 0 komentar

Oleh: M Iqbal Dawami

Mungkin ada yang belum tahu Jalaluddin Rumi. Ia adalah sufi cum penyair yang terkenal. Ia berasal dari Balkh, Afghanistan. ia belajar tasawuf kepada beberapa guru, tapi yang paling mempengaruhinya adalah Syamsuddin al-Tabrizi atau Syamsi Tabriz. Sebelum tampil menjadi ahli tasawuf Rumi adalah seorang guru yang memiliki banyak murid. Sekian lama mengajar, ia merasa tidak bisa mengubah para muridnya dengan baik. Ia pun kemudian berefleksi bahwa sebelum jiwa dan pikiran seseorang mendapat pencerahan perubahan tidak akan terjadi. Ia kemudian ingin belajar tasawuf.

Pada kesempatan ini saya hendak menceritkan salah satu fragmen kisahnya yang menurut saya inspiratif. Konon, Jalaluddin Rumi pernah dilanda kesedihan mendalam karena tidak menemukan guru yang tepat untuk belajar tasawuf. Sampai di sebuah waktu ia menemui guru yang ia kagumi. Dan ketika guru terakhir dimohon agar Rumi bisa jadi muridnya, ternyata ia meminta sebuah syarat yang tidak bisa ditawar: segera membakar seluruh buku yang dimiliki Rumi. Tentu saja heran bercampur sedih: guru macam apa yang mempersyaratkan untuk membakar buku. Dan ternyata di hari ketika seluruh buku Rumi terbakar, guru tadi langsung menghilang entah kemana. Menurut Gede Prama, kita bisa mengerti kenapa karya-karya Rumi demikian mengagumkan.

Salah satu karyanya yang mengagumkan adalah Masnawi. Kitab ini merupakan karya sastra yang berisikan ilmu tasawuf dan disampaikan dalam bentuk syair/sajak. Ketebalannya bisa mencapai 2000 halaman yang terdiri dari 6 jilid. Sedang sajaknya berjumlah 26.000 baris. Ini merupakan karya spektakuler, yang sulit ditandingi. Sajaknya tidak hanya indah, tetapi juga penuh dengan muatan mistis, spiritual, dan sosial, tergantung kita memandanganya. Rumi sendiri mengatakan bahwa karyanya ini adalah: Cahaya bagi kawan-kawan seperjalanan dan harta terpendam bagi pewaris jalan kerohanian.

Barangkali pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Rumi di atas adalah bahwa apabila kita berada dalam keterbatasan justru potensi yang ada dalam diri kita akan keluar secara maksimal. Jiwa, raga, dan pikiran kita benar-benar dikerahkan lantaran posisi kita dianggap lemah dan rentan rapuh. Beda misalnya kalau kita berada dalam keadaan serba mudah. Boleh jadi kita akan malas-malasan, santai, dan tidak sungguh-sungguh, karena kita berada di zona nyaman.

Coba kita perhatikan orang yang difabel (tunanetra, tuna rungu, dll). Mereka justru mempunyai keahlian yang mengagumkan. Minat mereka dalam sebuah bidang justru mereka kuasai dengan baik. Orang yang tidak mempunyai kaki, justru mereka bisa berlari dengan kencang, ada yang tidak bisa melihat dan mendengar, justru mereka pintar menulis dan berpidato. Sepintas rasanya mustahil, karena tidak berbanding lurus antara  kecacatannya dengan prestasinya. 

Pernah mendengar nama-nama berikut ini? Bethany Hamilton, Vinod Thakur, Stevie Wonder, Liu wei, Lena Maria, Nick Vujicic, Jessica Cox, Xu Yuehua, Huang Jianming, dan Helen Keller. Mereka semua adalah orang-orang yang mempunyai keterbatasan fisik tapi berprestasi. Mereka telah menginspirasi banyak orang di seluruh dunia. Nick Vujicic, misalnya, ia lahir tanpa lengan maupun kaki. Tapi siapa sangka ia bisa  bermain sepak bola, golf, berenang, dan berselancar. Ia juga menjadi motivator di pelbagai negara. Contoh lainnya, Jessica Cox, ia adalah wanita pertama menerbangkan pesawat dengan kaki. Bahkan tidak hanya itu, ia juga bisa menyetir mobil, dan juga ahli bela diri. Semua ia lakukan dengan kedua kakinya. Maklum, karena ia memang tidak mempunyai tangan sejak lahir.  

Di Indonesia juga banyak orang yang mempunyai keterbatasan fisik namun berprestasi dan memberi inspirasi banyak orang. Keberadaannya begitu bermanfaat alih-alih merepotkan. Suatu ketika di bulan Juli 2013 bertepatan dengan bulan Ramadhan, saya menyaksikan reportase di tv swasta yang mengangkat kisah sepasang suami istri yang menekuni penulisan Al-Quran dengan menggunakan huruf Braille. Padahal keduanya tidak bisa melihat alias tuna netra. Subhanallah.  

Semua berawal dari kesenangan mereka membaca Al-Quran. Dari situ timbul keinginan untuk berbagi kesenangan tersebut kepada teman-teman sesama tuna netra. Mereka pun memutuskan untuk menulis Al-Quran dalam bentuk huruf Braille. mereka membeli mesin ketik berlogo ‘Parking Broiller’ buatan David Abraham. Mereka ingin teman-temannya juga dapat membaca dan mengaji Al-Quran layaknya mereka.

Sejak itu, hari-hari mereka diisi dengan mengetik ayat-ayat Al-Quran. Hari demi hari, bulan berganti bulan. Mereka tetap semangat dan menjaga keistiqamahan niatnya itu. Sang istri yang mengetik dan sang suami bertindak sebagai korektor. Menulis huruf Arab lebih rumit ketimbang huruf latin. Belum lagi ada harokatnya, kalau salah memberi harokat, salah pula arti dan maknanya. Apalagi yang ditulis adalah Al-Quran. Kesalahan sekecil apapun bisa menjadi masalah besar. 

Berkat ketekunannya satu per satu mereka hasilkan mushaf Al-Quran lengkap 30 juz. Karya mereka mulai dikenal banyak orang dan begitu bermanfaat. “Keberuntungan” mulai mereka dapatkan. Pada suatu ketika, sebuah penerbit sekaligus percetakan memberi tawaran kepada mereka untuk diterbitkan karya secara massal. Tentu saja mereka senang. Dari situ kemudian mereka kebanjiran pesanan. Mereka kebanjiran order juga dari pelbagai daerah.

Saya tercenung saat salah satu dari mereka menjawab pertanyaan wartawan. “Untuk apa harus mengeluh. Allah Maha Besar, dengan seperti ini saya jadi mengetahui kebesaran-Nya.” Subhanallah. Masya Allah. Perkataan itu membuat saya malu, malu semalu-malunya. Saya malu karena masih banyak mengeluh oleh sesuatu yang sebetulnya belum ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan cobaan yang mereka alami.

Kisah tersebut secara tidak langsung memberi pesan kepada saya agar jangan lupa untuk selalu bersyukur kapan pun, dimana pun, dan bagaimana pun keadaannya. Cobaan yang saya hadapi bisa jadi belum ada apa-apanya dibanding dengan mereka yang tidak dapat melihat sejak masa kanak-kanak. Saya masih bisa melihat, mempunyai keluarga yang baik, masih ada orangtua, dan memiliki kehidupan yang relatif cukup. Maka, betul sekali yang difirmankan Allah yang selalu diulang-ulang dalama surah Al-Rahman: “Maka nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kamu dustakan?”

Orang-orang yang tabah dalam menghadapi cobaan dan yang mampu mengkonversi cobaan tersebut dengan kemaslahatan adalah orang-orang yang mempunyai visi hebat. Tepatnya visioner. Mereka sadar bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Jadi, segala ujian yang menimpa mereka juga hanya sementara. Hidup yang kekal adalah di akhirat. Maka, yang dilakukan di dunia akan menjadi pertaruhan untuk bekal hidup kelak di akhirat. 

Dus, mereka tidak tenggelam dalam kesedihan dan penderitaan. Mereka bangkit, mencari sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Mereka punya keahlian, dan keahliannya itu terbukti bermanfaat bagi khayalak masyarakat. Bagi mereka kekurangan maupun kesedihan bukan untuk melemahkan mereka, tetapi justru menguatkan mereka. Jalaluddin Rumi menjadi bukti hebat, kesedihannya ditinggal sang guru menjadikan ia hebat dengan menjadi sufi besar, seiring dengan karyanya telah mengabadi.[]

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU PATI - Ilustrasi Warung Kopi sebagai Sarana Bertukar Informasi.. Photo by Rod Long on Usnplash.

    Warung Kopi sebagai Sarana Bertukar Informasi

    • calendar_month Sel, 31 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 350
    • 0Komentar

    Di era saat ini, tempat paling tepat untuk melakukan diskusi dan kongkow adalah warung kopi. Kenapa harus warung kopi? Menurut hemat penulis, warung kopi sekarang ini sudah menjadi tempat terbaik bagi kalangan mahaiswa untuk tempat diskusi dan mengerjakan sebuah tugas.  Selain itu, banyak dari mahasiswa yang menghabiskan waktunya di warung kopi hanya sekedar untuk diskusi. […]

  • Pelantikan PAC PN Gembong, Ketua: Jangan Terlibat yang Gaib-Gaib Dulu

    Pelantikan PAC PN Gembong, Ketua: Jangan Terlibat yang Gaib-Gaib Dulu

    • calendar_month Jum, 23 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 401
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pagar Nusa Kecamatan Gembong menggelar Pelantikan dan Rakor. Kegiatan tersebut dilaksanakan Jumat (22/6) siang di Aula MANU Gembong. Selain menampilkan peragaan jurus lewat para pendekar andalan, dalan agenda tersebut juga menghadirkan unsur-unsur NU dan pemerintahan. “Saya kira undangan dari Pagar Nusa ini yang paling lengkap ya. Mulai dari pengurus MWC […]

  • PCNU Pati Raih Penghargaan Ke-3 Penanggulangan HIV dan AIDS se-Jawa Tengah

    PCNU Pati Raih Penghargaan Ke-3 Penanggulangan HIV dan AIDS se-Jawa Tengah

    • calendar_month Kam, 25 Jun 2015
    • account_circle admin
    • visibility 449
    • 0Komentar

     Kabar NU. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU)  Pati meraih penghargaan ke tiga sebagai pengurus cabang yang aktif dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS di lingkungan PWNU Jawa Tengah. Penghargaan diberikan oleh perwakilan tim penanggulangan HIV dan AIDS (Sub Recipient/SR) PWNU Jawa Tengah, Tedi Kholiludin. H.Saalamun,  sekretaris SR  PCNU Pati yang hadir dan menerima penghargaan tersebut […]

  • Tanya Jawab Bersama Syuriah

    Tanya Jawab Bersama Syuriah

    • calendar_month Rab, 5 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 345
    • 0Komentar

    Assalamu’alaikumwarohmatullohiwabarokatuh Pak kyai, ketika ujian SIM, praktik gagal berkali kali, lalu sebagai solusi terakhir polisi menyarankan lewat  pelatihan dengan biaya  yang lebih mahal dari biaya resmi pembuatan SIM itu sendiri. Kalau tidak, berkas permohonan SIM akan diblokir maka mengulang dari awal dengan menunggu satu tahun, atau polisi menyuruh membayar sejumlah uang agar langsung dapat  SIM […]

  • PCNU - PATI

    Jaringan Sekolah PAC IPNU IPPNU Kayen Bekali Siwa Baru Materi Keaswajaan

    • calendar_month Kam, 21 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 389
    • 0Komentar

    KAYEN – Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) dimanfaatkan oleh Departemen Jaringan Sekolah PAC IPNU-IPPNU Kayen untuk memberikan sosialisasi Keaswajaan (Ahlusunah Wal-Jama’ah) kepada para peserta didik baru. Hal ini sebagai tindak lanjut agenda program Departemen Jaringan Sekolah (JS) PC IPNU IPPNU Pati yang akan mengadakan pertemuan dengan OSIS di beberapa sekolah. Pertemuan ini diharapkan menjadi pintu […]

  • SMK NU Entrepreneur 01 Lebaksiu Pamerkan Karya Keren di Fun Run HUT KORPRI ke-54 Kabupaten Tegal

    SMK NU Entrepreneur 01 Lebaksiu Pamerkan Karya Keren di Fun Run HUT KORPRI ke-54 Kabupaten Tegal

    • calendar_month Sel, 9 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 6.106
    • 0Komentar

      Tegal — SMK NU Entrepreneur 01 Lebaksiu, sekolah vokasi berbasis entrepreneur di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Al Rizqi Babakan, tampil energik meramaikan Fun Run Kabupaten Tegal pada peringatan HUT KORPRI ke-54 yang digelar Minggu, 7 Desember 2025. Berlokasi di area perkantoran Pemkab Tegal, siswa membuka stand pameran produk kreatif yang langsung menarik perhatian […]

expand_less