Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Rumi

Rumi

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 24 Okt 2022
  • visibility 634
  • comment 0 komentar

Oleh: M Iqbal Dawami

Mungkin ada yang belum tahu Jalaluddin Rumi. Ia adalah sufi cum penyair yang terkenal. Ia berasal dari Balkh, Afghanistan. ia belajar tasawuf kepada beberapa guru, tapi yang paling mempengaruhinya adalah Syamsuddin al-Tabrizi atau Syamsi Tabriz. Sebelum tampil menjadi ahli tasawuf Rumi adalah seorang guru yang memiliki banyak murid. Sekian lama mengajar, ia merasa tidak bisa mengubah para muridnya dengan baik. Ia pun kemudian berefleksi bahwa sebelum jiwa dan pikiran seseorang mendapat pencerahan perubahan tidak akan terjadi. Ia kemudian ingin belajar tasawuf.

Pada kesempatan ini saya hendak menceritkan salah satu fragmen kisahnya yang menurut saya inspiratif. Konon, Jalaluddin Rumi pernah dilanda kesedihan mendalam karena tidak menemukan guru yang tepat untuk belajar tasawuf. Sampai di sebuah waktu ia menemui guru yang ia kagumi. Dan ketika guru terakhir dimohon agar Rumi bisa jadi muridnya, ternyata ia meminta sebuah syarat yang tidak bisa ditawar: segera membakar seluruh buku yang dimiliki Rumi. Tentu saja heran bercampur sedih: guru macam apa yang mempersyaratkan untuk membakar buku. Dan ternyata di hari ketika seluruh buku Rumi terbakar, guru tadi langsung menghilang entah kemana. Menurut Gede Prama, kita bisa mengerti kenapa karya-karya Rumi demikian mengagumkan.

Salah satu karyanya yang mengagumkan adalah Masnawi. Kitab ini merupakan karya sastra yang berisikan ilmu tasawuf dan disampaikan dalam bentuk syair/sajak. Ketebalannya bisa mencapai 2000 halaman yang terdiri dari 6 jilid. Sedang sajaknya berjumlah 26.000 baris. Ini merupakan karya spektakuler, yang sulit ditandingi. Sajaknya tidak hanya indah, tetapi juga penuh dengan muatan mistis, spiritual, dan sosial, tergantung kita memandanganya. Rumi sendiri mengatakan bahwa karyanya ini adalah: Cahaya bagi kawan-kawan seperjalanan dan harta terpendam bagi pewaris jalan kerohanian.

Barangkali pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Rumi di atas adalah bahwa apabila kita berada dalam keterbatasan justru potensi yang ada dalam diri kita akan keluar secara maksimal. Jiwa, raga, dan pikiran kita benar-benar dikerahkan lantaran posisi kita dianggap lemah dan rentan rapuh. Beda misalnya kalau kita berada dalam keadaan serba mudah. Boleh jadi kita akan malas-malasan, santai, dan tidak sungguh-sungguh, karena kita berada di zona nyaman.

Coba kita perhatikan orang yang difabel (tunanetra, tuna rungu, dll). Mereka justru mempunyai keahlian yang mengagumkan. Minat mereka dalam sebuah bidang justru mereka kuasai dengan baik. Orang yang tidak mempunyai kaki, justru mereka bisa berlari dengan kencang, ada yang tidak bisa melihat dan mendengar, justru mereka pintar menulis dan berpidato. Sepintas rasanya mustahil, karena tidak berbanding lurus antara  kecacatannya dengan prestasinya. 

Pernah mendengar nama-nama berikut ini? Bethany Hamilton, Vinod Thakur, Stevie Wonder, Liu wei, Lena Maria, Nick Vujicic, Jessica Cox, Xu Yuehua, Huang Jianming, dan Helen Keller. Mereka semua adalah orang-orang yang mempunyai keterbatasan fisik tapi berprestasi. Mereka telah menginspirasi banyak orang di seluruh dunia. Nick Vujicic, misalnya, ia lahir tanpa lengan maupun kaki. Tapi siapa sangka ia bisa  bermain sepak bola, golf, berenang, dan berselancar. Ia juga menjadi motivator di pelbagai negara. Contoh lainnya, Jessica Cox, ia adalah wanita pertama menerbangkan pesawat dengan kaki. Bahkan tidak hanya itu, ia juga bisa menyetir mobil, dan juga ahli bela diri. Semua ia lakukan dengan kedua kakinya. Maklum, karena ia memang tidak mempunyai tangan sejak lahir.  

Di Indonesia juga banyak orang yang mempunyai keterbatasan fisik namun berprestasi dan memberi inspirasi banyak orang. Keberadaannya begitu bermanfaat alih-alih merepotkan. Suatu ketika di bulan Juli 2013 bertepatan dengan bulan Ramadhan, saya menyaksikan reportase di tv swasta yang mengangkat kisah sepasang suami istri yang menekuni penulisan Al-Quran dengan menggunakan huruf Braille. Padahal keduanya tidak bisa melihat alias tuna netra. Subhanallah.  

Semua berawal dari kesenangan mereka membaca Al-Quran. Dari situ timbul keinginan untuk berbagi kesenangan tersebut kepada teman-teman sesama tuna netra. Mereka pun memutuskan untuk menulis Al-Quran dalam bentuk huruf Braille. mereka membeli mesin ketik berlogo ‘Parking Broiller’ buatan David Abraham. Mereka ingin teman-temannya juga dapat membaca dan mengaji Al-Quran layaknya mereka.

Sejak itu, hari-hari mereka diisi dengan mengetik ayat-ayat Al-Quran. Hari demi hari, bulan berganti bulan. Mereka tetap semangat dan menjaga keistiqamahan niatnya itu. Sang istri yang mengetik dan sang suami bertindak sebagai korektor. Menulis huruf Arab lebih rumit ketimbang huruf latin. Belum lagi ada harokatnya, kalau salah memberi harokat, salah pula arti dan maknanya. Apalagi yang ditulis adalah Al-Quran. Kesalahan sekecil apapun bisa menjadi masalah besar. 

Berkat ketekunannya satu per satu mereka hasilkan mushaf Al-Quran lengkap 30 juz. Karya mereka mulai dikenal banyak orang dan begitu bermanfaat. “Keberuntungan” mulai mereka dapatkan. Pada suatu ketika, sebuah penerbit sekaligus percetakan memberi tawaran kepada mereka untuk diterbitkan karya secara massal. Tentu saja mereka senang. Dari situ kemudian mereka kebanjiran pesanan. Mereka kebanjiran order juga dari pelbagai daerah.

Saya tercenung saat salah satu dari mereka menjawab pertanyaan wartawan. “Untuk apa harus mengeluh. Allah Maha Besar, dengan seperti ini saya jadi mengetahui kebesaran-Nya.” Subhanallah. Masya Allah. Perkataan itu membuat saya malu, malu semalu-malunya. Saya malu karena masih banyak mengeluh oleh sesuatu yang sebetulnya belum ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan cobaan yang mereka alami.

Kisah tersebut secara tidak langsung memberi pesan kepada saya agar jangan lupa untuk selalu bersyukur kapan pun, dimana pun, dan bagaimana pun keadaannya. Cobaan yang saya hadapi bisa jadi belum ada apa-apanya dibanding dengan mereka yang tidak dapat melihat sejak masa kanak-kanak. Saya masih bisa melihat, mempunyai keluarga yang baik, masih ada orangtua, dan memiliki kehidupan yang relatif cukup. Maka, betul sekali yang difirmankan Allah yang selalu diulang-ulang dalama surah Al-Rahman: “Maka nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kamu dustakan?”

Orang-orang yang tabah dalam menghadapi cobaan dan yang mampu mengkonversi cobaan tersebut dengan kemaslahatan adalah orang-orang yang mempunyai visi hebat. Tepatnya visioner. Mereka sadar bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Jadi, segala ujian yang menimpa mereka juga hanya sementara. Hidup yang kekal adalah di akhirat. Maka, yang dilakukan di dunia akan menjadi pertaruhan untuk bekal hidup kelak di akhirat. 

Dus, mereka tidak tenggelam dalam kesedihan dan penderitaan. Mereka bangkit, mencari sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Mereka punya keahlian, dan keahliannya itu terbukti bermanfaat bagi khayalak masyarakat. Bagi mereka kekurangan maupun kesedihan bukan untuk melemahkan mereka, tetapi justru menguatkan mereka. Jalaluddin Rumi menjadi bukti hebat, kesedihannya ditinggal sang guru menjadikan ia hebat dengan menjadi sufi besar, seiring dengan karyanya telah mengabadi.[]

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PP Ansor : Radikalisme Agama Sengaja Dibuat untuk Hancurkan NKRI

    PP Ansor : Radikalisme Agama Sengaja Dibuat untuk Hancurkan NKRI

    • calendar_month Ming, 28 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 435
    • 0Komentar

    PATI-Pengurus Ansor Cabang Pati menggelae kopdar Minggu (28/7) siang. Kopdar bertajuk Membaca Arah Radikalisme di Bumi Nusantara Ini sedikitnya dihadiri oleh 500 peserta dari seluruh pelosok Kabupaten Pati. Peserta kopdar sedang khusyuk menyimak pemaparan pemantik Berlokasi di Rumah Joglo Al Qur’an, Ponpes Al Manaj, Semampir, Pati, para peserta antusias menerima pemaparan pemantik. K. Yusuf Hasyim, […]

  • KH. M. Aniq Muhammadun Menjawab Persoalan Fiqih Masjid

    KH. M. Aniq Muhammadun Menjawab Persoalan Fiqih Masjid

    • calendar_month Sel, 10 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 603
    • 0Komentar

    KAYEN – Selasa, 10 September 2019 pengurus Lembaga Takmir Masjid NU (LTMNU) MWC Kayen menyelenggarakan Pelatihan Manajemen dan Fiqh Masjid. Hadir dalam acara tersebut KH. M. Aniq Muhammadun sebagai Rais Syuriah PCNU Pati. Beliau sekaligus memberikan banyak arahan kepada Ta’mir masjid se-kecamatan Kayen secara khusus, dan pengurus ranting NU pada umumnya. Rois PCNU Pati, KH. […]

  • Ansor Pati Akan Gelar Selametan Bumi Pesantenan

    Ansor Pati Akan Gelar Selametan Bumi Pesantenan

    • calendar_month Rab, 18 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 712
    • 0Komentar

    PATI – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pati akan menggelar kegiatan bertajuk Selametan Bumi Pesantenan. Rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan selama 2 hari, pada 19-20 September 2019 ini terdiri atas tiga kegiatan yaitu 100 Khataman Al Quran, Apel Pembaretan 5.000 Banser, dan Istighosah Kubro. Pamflet acara Selametan Bumi Pesantenan yang akan digelar oleh PC […]

  • Ikuti Intruksi PC, MWC Tayu Segera Benahi Pengurus Ranting

    Ikuti Intruksi PC, MWC Tayu Segera Benahi Pengurus Ranting

    • calendar_month Sab, 21 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 494
    • 0Komentar

    TAYU-Pengurus MWC-NU Tayu menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) dengan para Pengurus Ranting se-Kecamatan Tayu, Jumat (20/9). Setidaknya, ada 23 perwakilan Ranting NU yang menghadiri Rakor di gedung MTs. PIA lantai 2 tersebut. “Ada 23 utusan Ranting yang hadir ditambah dengan beberapa pengurus MWC” ungkap Ulum Sholeh, sekretaris MWC NU Tayu. gedung MTs. PIA Tayu, lokasi Rakor […]

  • Hukum Zakat Kopi

    Hukum Zakat Kopi

    • calendar_month Kam, 2 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 518
    • 0Komentar

     Pertanyaan : Sebagian masyarakat di salah satu perdukuhanmayoritas adalah petani kopi. Mereka sempat merasa bingung mengenai perkataan yang telah disampaikan oleh seorang tokoh masyarakatnya .Dalam beberapa kali khotbah ia mengatakan “bahwa kopi termasuk tanaman yang wajib dizakati ketika sudah mencapai satu nishob seusai panen” .Ia mengatakan hal itu berdasarkan bahwa kopi adalah tanaman yang dibudidaya […]

  • Harlah ke-30, MAN 2 Pati Tanam Ribuan Mangrove untuk Lestarikan Lingkungan

    Harlah ke-30, MAN 2 Pati Tanam Ribuan Mangrove untuk Lestarikan Lingkungan

    • calendar_month Sab, 8 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.612
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Peringati Hari Lahir (Harlah) ke-30, Madrasah Aliyan Megeri (MAN) 2 Pati, menanam ribuan mangrove di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Sabtu (8/11/2025). Kegiatan bertajuk “Ekoteologi dan Konservasi 3000 Bibit Mangrove” tersebut, melibatkan berbagai pihak, di antaranya sekolah binaan yaitu MTs Negeri 2 Pati, MTs Manbaul Falah, MTs Mambaul Hidayah serta SD […]

expand_less