Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Perempuan dalam Tradisi Pesantren

Perempuan dalam Tradisi Pesantren

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 17 Apr 2022
  • visibility 432
  • comment 0 komentar

Tradisi pesantren selama ini yang kita kenal mempunyai kehidupan yang diwarnai dengan norma-norma ajaran Islam. Di mana ajaran Islam ini menekankan pada sikap patuh dan tawadlu’ kepada pengasuh pesantren (kiai).

Seperti yang dijelaskan oleh Zamakhsyari Dhofir dalam bukunya, Tradisi Pesantren, sikap patuh dan tawadlu’ ini bisa terbentuk. Hal ini tidak lepas setiap harinya di lingkngan pesantren sudah dicontohkan dan diajarkan oleh kiainya. Karena kiai dalam lingkungan pesantren merupakan pemilik otoritas pesantren, sehingga memiliki peran yang sangat urgen untuk membentuk karakter santri.

Dengan adanya sikap patuh dan tawadlu’, maka akan tercermin pula sikap disiplin santri terhadap segala sesuatu yang menjadi kewajibannya. Dari sini akan terlihat pula betapa para santri itu ditempa dan digembleng untuk bisa mengisi dirinya dengan akhlakul karimah, karena tingkah laku santri selama 24 jam selalu mendapat pengawasan dari kiai yang mengasuhnya. Sudah barang tentu, timbulnya sikap ini dilandasi dengan kesederhanaan, kemandirian, dan kesetia kawanan.

Maka, dari semua sikap dan watak di atas, merupakan modal sosial yang kuat bagi para santri dalam membawa dirinya untuk memperoleh keberhasilan apa yang menjadi cita-citanya. Dan apabila jika nanti terjun ke masyarakat, harapannya mampu sebagai agen of change dalam masyarakat tersebut, baik sebagai pemimpin keagamaan dan sosial.

Selain itu, pesantren yang awalnya didominasi santri putra saja, maka setelah para pengasuh mengadakan trasformasi dalam sub-sub tertentu dan dengan berkembangnya pesantren menjadi lembaga yang berfungsi ganda.

Maka lembaga pendidikan pesantren tidak lagi mengkhususkan pada santri putra saja, tetapi juga mengadakan pesantren untuk santri putri. Dan dari situ, pesantren ikut andil dalam menentukan corak pendidikan yang ada di Indonesia dalam perkembangan pembangunan, baik dalam bidang material maupun spiritual.

Oleh karena itu, dalam perkembangannya pesantren memiliki sumbangsih yang tak terhitung jumlahnya dalam pembangunan bangsa. Sejak keberadaannya pesantren telah mampu mengakomodasi berbagai macam perubahan, baik dalam segi struktural maupun sistematika pengajarannya. Setelah diamati, trasformasi yang ada dalam pesantren, telah membawa lembaga ini berfungsi ganda, yaitu sebagai lembaga pendidikan agama dan lembaga pengembangan masyarakat.

Berangkat dari situ, pesantren mampu memberikan perubahan antara lain tergambar dalam beberapa hal, seperti emansipasi perempuan yang mulai dirintis oleh R.A. Kartini. Di mana dari adanya emansipasi perempuan. R.A. Kartini mampu merubah mindset dan kehidupan perempuan yang awalnya tertindas menjadi bangkit dari keterpurukan, mandiri, dan berdaya.

Dan semenjak adanya emansipasi perempuan yang dirintis R.A. Kartini, memberikan akan kesamaan hak yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Dan memang sejak dulu perempuan sudah mempunyai hak dan wewenang dalam mengatur keluarga atau kehidupannya. Hak atau kewenangan dalam lingkungan keluarga dapat dilihat, misalnya hak dalam beragama. Dalam kewenanagan ini, ia menerima beban-beban syariat, karena wanita juga dipanggil dan dituntut untuk bertakwa kepada Allah Swt.

Dalam kewenangan beragama, perempuan tidak ada bedanya dengan laki-laki. Dalam surat an-Nisa ayat 124 disebutkan:
“Dan barang siapa yang mengerjakan atau beramal salih, baik laki-laki maupun perempuan, dan beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak akan dianiaya sedikitpun.”

Dan dari sini, dapat ditarik kesimpulan bahwa laki-laki dan perempuan dihadapan Allah adalah sama, dan di lingkungan keluarga ia merupakan pasangan hidup atau pendamping suami yang dituntut untuk menciptakan hubungan harmonis dan bahagia, di samping ia berhak untuk memperoleh hak pribadi, seperti mendapat kebutuhan hidup dari suami, walaupun ajaran Islam tidak menutup kemungkinan untuk bekerja dalam ikut mendukung kebutuhan ekonomi rumah tangga.

Dengan demikian, berangkat dari hal di atas, santriwati sebagai pemudi Islam mempunyai kewajiban untuk mengetahui bermacam-macam ilmu, baik agama maupun non-agama. Sehingga harapannya ia mampu memahami variabel-variabel yang bakal mewarnai masa depannya serta mampu menentukan alternatif kehidupan masa depan. (Siswanto)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Bolak Balik Mundak

    • calendar_month Rab, 21 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 416
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” Kemarin sore saat saya melakukan perjalanan dari Bumi Mina ke kota Atlas dengan menggunakan travel langganan petugasnya berujar jika tarifnya naik menyesuaikan dengan harga bahan bakar yang sekarang sedang melabung tinggi. Saya hanya diam, mengangguk pertanda saya setuju. Akan tetapi orang yang di sebelah […]

  • Ketua PCNU Buka-Bukaan, Beberkan Program Segar (bagian 2)

    Ketua PCNU Buka-Bukaan, Beberkan Program Segar (bagian 2)

    • calendar_month Rab, 26 Jun 2024
    • account_circle admin
    • visibility 393
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Selain misi pelayanan, Kiai Yusuf Hasyim juga memaparkan program-program lain untuk NU lima tahun mendatang. Dia menyatakan bahwa pelayanan saja tidak cukup tanpa adanya networking yang kuat. “Kita bangun networking dengan dunia usaha,” tegas dia. Intinya, menurut Kiai Yusuf, semua upaya networking bermuara pada misi utama, yaitu pelayanan. Tanpa adanya jejaring yang […]

  • Man in Black Leather Jacket and Black Knit Cap Sitting on Brown Wooden Chair

    Pembakaran Kemenyan saat Manaqiban

    • calendar_month Sen, 20 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 480
    • 0Komentar

    Pada saat membaca “ manaqib Syeikh Abdul Qodir Jailani “ ada sebagian masyarakat yang mempunyai adat  membakar kemenyan disamping jam’iyah manaqib tersebut. Asap tersebut sebagai penghormatan kehadiran beliau . Pertanyaan : Bagaimana hukumnya membakar kemenyan tersebut ? Jawaban : Boleh Referensi : Bulhoh at Thullab hal 53-54 2. Benarkah Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani hadir saat […]

  • PCNU-PATI

    Misteri Lailatul Qadar

    • calendar_month Rab, 3 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 466
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Sejak 2008, saya rajin menulis artikel tentang Lailatul Qadar. Seingat saya di Koran Pagi Wawasan, Radar Lampung, Radar Tegal, NU Online, Alif.id, sejumlah koran cetak lain yang tidak terlacak termasuk di NU Online Pati (pcnupati.or.id) ini. Dari tulisan-tulisan itu, saya pribadi belum merasa pernah menemukan Lailatul Qadar. Mbuh ngopo. Hemat saya ini […]

  • Malam Nishfu Sya’ban, PCNU : Ikuti Aturan Pemerintah dan NU

    Malam Nishfu Sya’ban, PCNU : Ikuti Aturan Pemerintah dan NU

    • calendar_month Sel, 7 Apr 2020
    • account_circle admin
    • visibility 462
    • 0Komentar

    K. Yusuf Hasyim, ketua PCNU Pati PATI-Sya’ban merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dalam islam. Banyak diantara kaum muslimin yang mengisinya dengan kegiatan positif, seperti puasa, saling berma’afan serta meningkatkan intensitas ibadah. Warga NU biasa mengisi Bulan Sya’ban dengan puasa pada pertengahan bulan luhur ini. Malam 15 Sya’ban atau sering disebut Malam Nishfu Sya’ban (setengah […]

  • MWC-NU Gembong Sowani Gus Muwaffiq, Apa Hasilnya?

    MWC-NU Gembong Sowani Gus Muwaffiq, Apa Hasilnya?

    • calendar_month Sel, 17 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 417
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA-Rombongan pengurus MWC-NU Gembong disambut hangat di kediaman KH. Ahmad Muwaffiq di Perum Jombor Pratama nomor 19, Mlati, Sleman, Yogyakarta. K. Sholihin, ketua MWC-NU Gembong beserta tamu-tamu lain menemui Gus Muwaffiq sekitar pukul 09.00 hingga pukul 10.00 WIB, Selasa (17/9). Gus Muwaffiq (tengah) sedang Bencanda dengan K. Sholikhin (kiri) dan M. Subhan (kanan) Dalam acara […]

expand_less