Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Mak Ngasimah

Mak Ngasimah

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 14 Agu 2022
  • visibility 242
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

Aku Maolan bin Margo lahir tanggal 3 September 1942. Tahun dimana penjajahan masih merajalela di Indonesia. Bapakku Margo bin Jasmo desa Asempapan kecamatan Wedarijaksa yang sekarang Trangkil. Emakku Ngasimah Binti Rasmo Sirah dari dukuh Centhong desa Purwodadi kecamatan Margoyoso.

Emakku orang bodoh, tidak pernah mengenyam bangku sekolah maupun mengaji. Maka aku pun tumbuh menjadi anak bodoh. Bapakku bekerja sebagai penjahit dan ikut sebagai buruh jika ada tebasan sawah atau tambak.

Aku baru belajar berjalan saat menginjak umur satu tahun ketika bapakku meninggal. Tidak sakit tidak kecelakaan. Sore pergi ke tambak, paginya meninggal di sana. Sontak kematian Bapak yang mendadak itu membuat Emak kelimpungan seperti orang edan. Ia selalu menangis dan tak doyan makan sampai badannya kurus tak terurus. Setiap ia lihat foto Bapak, Emak pingsan, hingga akhirnya foto itu dibakar yang mengakibatkan aku tak pernah melihat wajah Bapak karena itu foto satu-satunya yang dimiliki Emak.

Ketika Emak sudah tegar dan mampu merelakan kepergian Bapak setiap kamis sore bakda asar ia mengajakku ke makam Bapak. Sampai di kuburan Bapak, tangis Emak kembali pecah, karena ia memang orang bodoh tak bisa mengaji atau tahlil seperti yang orang-orang lakukan ketika berziarah, ia hanya berkata pada Bapak seolah Bapak masih hidup.

“Mas, ini loh anakmu tak ajak kesini jenguk kamu, semoga kamu di ampuni Allah dan ditempatkan di tempat yang terbaik. Semoga anakmu jadi anak yang soleh ya, Pak,” ucap Emak dengan suara parau dan sarat emosi.

Setelah puas berbicara Emak akan mendekapku erat sekali sambil menangis sesenggukan. Meluapkan seluruh emosi dan sesak yang menghimpit dadanya. Ia tak punya tumpuan lagi selain aku. Terpaksa dada mungil yang menjadi tempat ia bersandar karena dada tegap nan bidang itu sudah hilang.

Setelah tangisnya reda, Emak akan mengajakku pulang. Melewati jalan setapak kuburan yang wingit hingga melewati jalan pedesaan yang ramai oleh warga. Di sanalah setiap mata akan menatap kami dengan iba dan nelangsa,  tak jarang pula yang menatap dengan sorot mata bergidik karena mereka berpikir Emak gila. Gila ditinggal suami tercinta saat sedang senang-senangnya punya suami dan seorang putra.

“Nduk Mah, saking pundi, Ngger? (Nduk Mah, dari mana, Nak?),” Tanya seseorang pada Emak.

“Dari jenguk Bapaknya kenang,” jawab Emak sopan.

“Loh rak soko kubur? (Loh lak dari makam?)” Tanya orang itu lagi penuh peduli.

“Inggih, Mbah. Kenang biar tahu tempat Bapaknya. Masyallah, nggak apa-apa to, Mbah?”

“Iya nggak apa-apa, Nduk.”

“Sampun nggeh, Mbah.”

Meskipun Emak bodoh tapi Emak adalah perempuan yang tahu tata krama, unggah ungguhnya baik, sopan santunnya terjaga. Berkali-kali bertemu orang di jalan Emak selalu menjawab dengan tutur kata yang halus. Ia menghormati siapa saja dan tak pernah sekalipun marah.

Ia tak peduli dengan orang-orang yang tak suka bahkan menjulukinya gila. Karena ia tahu banyak pula yang kasihan dan menaruh welas asih padanya.

“Mesakke Ngasimah, kepedotan tresno, lagi seneng-senenge nduwe bojo lan anak cilik ditinggal mati. Mugo-mugo diparingi sabar lan kuat yo Nduk.”

Begitu kata orang yang hatinya lembut dan menaruh kasih pada Emak. Emak mengangguk seraya mangaminkan.

Emak mengajakku berziarah ke makam Bapak setiap hari kamis sampai aku bisa berjalan sendiri. Begitu aku sudah disapih Emak menikah lagi dengan Tuwowo Yasir, seorang duda beranak lima; Mustajab, Muslimatun, Damiri, Mathori, dan Muhaimin. Saat itu aku tidak diajak serta di keluarga baru Emak. Maka aku diasuh oleh Kakekku, Mbah Jasmo.

Dengan Pak Yasir, pernikahan Emak tak berlangsung lama. Kemudian Emak kembali menikah dengan Mat Barok, seorang putra Carik Ngagel yang sangat kaya. Itu artinya Emak jadi istri orang kaya.

Setiap pagi Emak berjualan di pasar Ngagel. Pulang pergi diantar dokar. Sebenarnya Emak ingin membawaku ikut serta ke dalam keluarga barunya tapi Mbah Jasmo tak memperbolehkan. Ia tak mau pisah dengan aku-cucu satu-satunya. Akhirnya Emak hanya bisa menjengukku sebulan sekali. Hari ketika Emak menjenguk adalah hari yang selalu aku tunggu-tunggu. Karena malamnya Emak akan menemaniku tidur sampai malam. Ia akan memelukku erat seperti aku memeluknya.

Akhirnya pagi itu aku tak rela Emak pergi. Kugenggam tangannya erat-erat agar sampai ia mengurungkan niatnya untuk pulang.

“Mak, aku melok kuwe, (Mak, aku ikut kamu),” teriakku dengan air mata berderai-derai.

Sontak Emak bersimpuh dan terduduk di atas tanah seraya tersedu-sedu. Ia memelukku dan kutenggelamkan wajahku pada dadanya. Kueratkan pelukan dan menangis di dadanya sampai sesenggukan. Aku tak mampu lagi berpisah. Apapun yang terjadi aku mau ikut. Ternyata Emak pun sama, ia tak mampu lagi berjauhan denganku-anak semata wayangnya.

Dengan keberanian dan tekad bulat akhirnya Emak berkata pada suaminya, “Mas aku kamu ceraikan tetap akan pulang dan kumpul bersama anakku, tidak kamu ceraikan juga tetap akan pulang. Aku nggak kuat pisah sama anakku.” Dengan tangis pecah dan berderai-derai.

Dengan berat hati Mad Barok menceraikan Emak dan Emak pulang, hidup denganku dan Mbah Jasmo lagi. Aku mencintaimu, Mak.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mobil Layanan Ummat PCNU Resmi Dilaunching

    Mobil Layanan Ummat PCNU Resmi Dilaunching

    • calendar_month Sab, 23 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Launching mobil layanan ummat PCNU Pati PATI – Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Pati telah meluncurkan satu Ambulans dan tujuh Mobil Layanan Umat. Peresmian sejumlah mobil tersebut dilaksanakan di halaman kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Jumat (22/10) siang.  Launching kendaraan yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional itu dihadiri oleh Sekda Jumani, Kapolres Pati AKBP Christian […]

  • PCNU-PATI Photo by Haidan

    Haji dan Transformasi Manajemen Kerumunan Berkelanjutan

    • calendar_month Kam, 6 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Oleh : Prof. Dr. Imam Taufiq, M.Ag. _Rektor UIN Walisongo Semarang_ Haji merupakan ibadah multidimensional, dan multisektoral. Secara multidimensional, haji merupakan ibadah yang utuh, melibatkan hati dalam menata niat, emosi, dan spiritual; optimalisasi fisik dalam ibadah yang membutuhkan mobilitas seperti tawaf, sai,  mabit dan jumrah. Dalam perkembangannya, dimensi ibadah haji tidak hanya berkaitan dengan tiga […]

  • Launching Infak via QRIS, Penggalangan Infak Masjid Al-Ittihad INISNU Terkumpul Rp10.840.000

    Launching Infak via QRIS, Penggalangan Infak Masjid Al-Ittihad INISNU Terkumpul Rp10.840.000

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.943
    • 0Komentar

      Temanggung – Penggalangan infak Masjid Al-Ittihad Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung melalui sistem pembayaran digital QRIS berhasil menghimpun dana sebesar Rp10.840.000. Pengumpulan infak digital tersebut dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan Nyadran Kampus Hijau yang digelar pada Jumat pagi (30/1/2026), sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke-100 Masehi atau 1 Abad […]

  • Lazisnu Pati Salurkan Daging Qurban Sambil  Bagi-Bagi Beras

    Lazisnu Pati Salurkan Daging Qurban Sambil Bagi-Bagi Beras

    • calendar_month Sab, 24 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 207
    • 0Komentar

    Proses pengulitan sapi yang disembelih pihak Lazisnu Pati dalam rangkaian kegiatan Nusantara Berqurban  PATI-PC Lazisnu (Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama) Kabupaten Pati menyelenggarakan Qurban dalam rangka menyemarakkan Hari Raya Idhul Adha 1442 H, kamis (22/07) lalu.   Penanggungjawab kegiatan qurban ini, Edi Kiswanto menuturkan bahwa agenda bertajuk Nusantara Berqurban tersebut merupakan program turunan […]

  • PCNU-PATI

    Islam Kemodernan dan Keindonesiaan

    • calendar_month Rab, 24 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 293
    • 0Komentar

    Banyak sekali tokoh-tokoh agama kita yang sangat alergi dengan modernisasi karena dipelopori oleh orang-orang Barat. Cak Nur, dalam buku tersebut, membedakan kemodrenan dengan budaya yang datang dari Barat (Westenisasi). Baginya, kemodernan itu sesuatu yang harus diterima karena dia tidak bertentangan dengan Islam. Kemodernan adalah suatu kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, di mana apabila kemajuan ini […]

  • Di Luar Dugaan! Ambulan NU Berikan 122 Layanan Sepanjang 2024

    Di Luar Dugaan! Ambulan NU Berikan 122 Layanan Sepanjang 2024

    • calendar_month Rab, 1 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 319
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kabupaten Pati merilis laporan penggunaan layanan kesehatan mobil Ambulan tahun 2024, Rabu (1/1).   Pada data tersebut, sedikitnya ada 122 layanan ambulan dijalankan oleh Lazisnu. Dari junlah itu, sebanyak 41 layanan di lakukan di dalam kota dan 81 lainnya di luar kota.   […]

expand_less