Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Influencer, Ulama, dan Otoritas Ilmu

Influencer, Ulama, dan Otoritas Ilmu

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 13 Mar 2026
  • visibility 10.345
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Ketiga profesi (pekerjaan), hobi, minat, atau aktivitas pada judul kolom ini memang bukan seharusnya diparadokskan. Akan tetapi, ketiga memiliki ruh yang sama, yaitu “ingin berkuasa” dalam arti tertentu.

 

Zaman dulu, orang mencari ilmu tak sebatas aktivitas intelektual dan akademis, namun juga perjalanan fisik yang panjang dan tentu sangat melelahkan alias ngeselke wong. Masyarakat yang menuntut ilmu gelem ora gelem kudu menempuh ribuan kilometer mlaku. Ada juga yang melintasi padang pasir atau samudera hanya untuk mendengar satu hadis dari seorang guru yang terpercaya.

 

Tradisi rihlah fi thalabil ‘ilm itu menjadi bukti betapa seriusnya umat Islam menjaga otoritas ilmu. Hal ini paradoks dengan saat ini. Apa yang membedakan? Hari ini informasi, ilmu, pengetahuan, hadir dalam genggaman tangan melalui layar gawai tinggal scroll saja. Lewat satu gerakan jempol, seorang bisa mengakses ribuan ceramah yang terkoneksi di Youtube, dan ribuan potongan nasihat yang bijak.

 

Di sini lahir muncul besar. Apa itu? Batas antara ulama yang puluhan tahun menekuni khazanah turats, mondok berpuluh tahun, dan influencer yang pandai merangkai kata, editing video, reels menarik dalam algoritma media sosial menjadi semakin kabur.

 

Popularitas dengan Otoritas Beda!

Nah, tentu fenomena ini janggal, dan melahirkan pertanyaan dasar tentang otoritas keilmuan di era digital. Saat jumlah followers, likes, dan engagement menjadi indikator popularitas, tentu banyak orang tanpa sadar menyamakan popularitas dengan otoritas. Seorang influencer, misalnya, yang fasih berbicara dalam video pendek dapat dianggap lebih “meyakinkan” dibandingkan ulama yang berbicara dengan argumentasi panjang berbasis rujukan Al-Quran, Hadis, dan kitab kuning.

 

Dalam tradisi keilmuan Islam yang akademis, otoritas tak pernah ditentukan popularitas, namun justru oleh kedalaman ilmu, integritas moral, dan kesinambungan sanad keilmuan yang kredibel.

 

Dasar teologis soal urgensi otoritas ilmu sudah ditegaskan dalam Al-Quran An-Nahl ayat 43, Allah berfirman: “Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya. Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

 

Ayat tersebut mempertegas dasar/ prinsip epistemologis, pengetahuan mempunyai otoritas yang harus dihormati, dijaga, dan dilestarikan. Sebagian ulama salaf perpandangan bahwa:

لَا تَقْرَؤُوْا القُرْآنَ عَلَى الْمُصْحَفِيِّيْنَ وَلَا تَأْخُذُوْا اْلعِلْمَ مِنَ الصُّحُفِيِّيْنَ

Artinyaa: “Jangan kalian belajar Al-Quran kepada orang-orang yang belajar Al-Quran secara otodidak dan janganlah kalian mengambil ilmu agama dari orang-orang yang tidak memiliki guru dan hanya belajar secara otodidak.”

 

Dalam Islam, initnya ilmu menjadi penting, dan sumber ilmu tidak boleh sembarangan alias ngawur, karena ia wajib memiliki kredibilitas dan tanggung jawab moral. Makanya jangan heran ketika ada orang tanya “Kamu lulusan kampus mana?”, “Kamus sudah S2, atau S3?”, “Kamu lulusan pondok pesantren mana?”, “Siapa kiaimu?”, atau “Siapa gurumu?”

 

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin membedakan antara ulama al-akhirah dan ulama as-su’. Pertama, ulama al-akhirah merupakan mereka yang menjadikan ilmu sebagai jalan menuju kedekatan kepada Allah Swt. Kedua, ulama as-su’ adalah mereka menjadikan ilmu sebagai alat untuk memperoleh popularitas atau kepentingan duniawi.

 

Kategori ini dalam konteks digital menjadi makin kompleks karena media sosial alias medsos bisa menciptakan “ulama instan” yang lahir dari viralitas, bukan dari perjalanan panjang dalam menekuni metodologi keilmuan. Hal inilah yang sudah dipaparkan jelas tentang fenomena “matinya kepakaran” dalam buku The Death of Expertise: The Campaign against Established Knowledge and Why it Matters 1st (2017) oleh Thomas M. Nichols. Menurut Nichols, warga era modern sering mengalami ilusi pengetahuan. Akses informasi yang cepat dan serba melimpah membuat banyak orang merasa setara dengan para ahli. Padahal, informasi tak sama dengan ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan berbeda sekali dengan kebijaksanaan. Dampaknya, otoritas pakar sering kali dipertanyakan oleh publik yang merasa cukup belajar dari Mbah Google dan Mbah Youtube saja.

 

Fenomena influencer erat kaitannya dengan konsep economy of attention yang ditulis dalam buku The Attention Merchants: The Epic Scramble to Get Inside Our Heads (2016) oleh Tim Wu. Dalam sistem ini, perhatian masyarakat menjadi komoditas utama. Algoritma medsos akan mempromosikan konten paling menarik perhatian publik, tidak yang paling akurat secara akademis dan ilmiah. Dampaknya, konten sederhana, menarik, unik, provokatif, atau emosional lebih mudah viral dibandingkan diskusi ilmiah yang kompleks dan mendalam. Fenomena ini menciptakan paradoks otoritas, yaitu ulama yang menjelaskan persoalan agama dengan detail kitab sering kalah populer dibandingkan influencer yang memberikan jawaban sederhana dan hitam-putih alias abu-abu.

 

Kembali pada Ulama

Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim yang ditulis oleh KH. Hasyim Asy’ari juga mempertegas seorang alim sejati yaitu mereka yang memiliki rasa takut kepada Allah Swt sekaligus pemahaman ilmu mendalam. Mereka memperingatkan agar penuntut ilmu tak belajar kepada orang yang dangkal pengetahuannya meskipun ia pandai berbicara doang. Anjuran ini sangat relevan dengan kondisi era digital saat ini, ketika retorika sering kali lebih menonjol daripada substansi.

 

Problem lain yang muncul yaitu adanya fenomena echo chamber atau ruang gema. Apa itu? Kondisi saat algoritma sekadar menampilkan informasi yang relevan dengan preferensi pengguna (user). Dalam ruang digital seperti ini (bahkan seperti di website Pcnupati.or.id ini), seorang sekadar mendengar argumen yang menguatkan keyakinannya sendiri. Padahal ilmu sejati sering kali justru menantang kenyamanan intelektual kita. Ulama tidak selalu mengatakan apa yang ingin kita dengar, tetapi apa yang perlu kita dengar. Di sini distingsi mendasar antara dakwah berbasis algoritma dan dakwah berbasis tradisi keilmuan.

 

Otoritas ilmu dalam dunia akademik dijaga serius dan ketat lewat mekanisme yang selektif seperti peer-review (kayak jurnal ilmiah), yaitu proses penilaian ilmiah oleh para pakar/ahli sebelum sebuah karya dipublikasikan. Mekanisme ini memastikan sebuah pandangan, argument, atau gagasan sudah lewat proses verifikasi ilmiah yang memadai dan otoritatif. Akan tetapi, di ruang digital, mekanisme ini hampir tiada. Siapa pun bisa berbicara, mbacot apa saja soal agama tanpa melalui proses validasi keilmuan yang selekstif. Dampaknya apa? Masyarakat sering kesulitan membedakan antara penjelasan ilmiah yang kredibel dan opini yang hanya menarik secara retoris.

 

Maka dari itu, publik perlu mengembangkan literasi digital dan literasi keagamaan berbarengan. Influencer tak selalu menjadi masalah. Artinya, mereka bahkan bisa menjadi pintu awal bagi generasi muda untuk tertarik pada dakwah. Akan tetapi, mereka tak boleh menjadi satu-satunya sumber otoritas dalam memahami agama Islam. Tentu, dalam tradisi Islam, ulama/ahli ilmu agama tetap mempunyai posisi urgen sebagai warasatul anbiya. Otoritas ini bukan dibangun lewat algoritma atau popularitas, namun melalui kejujuran ilmiah, ketekunan belajar, dan kedalaman spiritual.

 

Inti akhir tulisan ini, era digital merupakan berkah sekaligus ujian bagi dunia keilmuan utamanya bagi ulama maupun akademisi, guru, dosen. Teknologi memang membuka kran ilmu pengetahuan sangat luas, namun juga menuntut kecerdasan dalam menyaring informasi. Saring sebelum sharing. Maka kita perlu menjadi konsumen ilmu yang bijak, yaitu mampu membedakan antara panggung popularitas dan madrasah keilmuan yang otoritatif.

 

Influencer bisa jadi mengantar kita menuju pintu ilmu (meski sekadarnya), namun perjalanan menuju kedalaman pengetahuan tetap membutuhkan bimbingan ulama, kiai, pakar/ahli yang memiliki sanad, integritas, dan tradisi intelektual yang kuat. Begitu!

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pengurus LTN PCNU Pati Ikuti Workshop Jurnalistik Filantropi di Cilacap

    Pengurus LTN PCNU Pati Ikuti Workshop Jurnalistik Filantropi di Cilacap

    • calendar_month Ming, 25 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 472
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id. – Pengurus Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (LTN) PCNU Pati, turut mengikuti Workshop Jurnalistik Filantropi, di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kroya, Cilacap, pada Jumat-Sabtu, 23-24 Mei 2025. Workshop itu diselenggarakan oleh  NU Online Jawa Tengah yang bekerjasama dengan PCNU Cilacap melalui Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah (LazisNU). Puluhan kontributor NU Online, perwakilan LTN, aktivis muda NU, […]

  • Ngaji Kitab Demokratis bersama Mbah Kahar

    Ngaji Kitab Demokratis bersama Mbah Kahar

    • calendar_month Ming, 5 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 596
    • 0Komentar

    Suasana ngaji luring di Ponpes Al Ma’arif Gembong bersama KH. Abdul Qohar setiap hari Sabtu malam GEMBONG – Pengasuh Ponpes Al Ma’arif Gembong, KH. Abdul Qohar, membuka ngaji kitab untuk umum. Agenda ini sudah berlangsung sejak bertahun-tahun, namun belum banyak masyarakat yang mengetahui.  Kiai lulusan Lasem yang akrab disapa Mbah Kahar tersebut membuka kajian kitab […]

  • Menumbuhkan Partisipasi Sosial Masyarakat Melalui Community Realation

    Menumbuhkan Partisipasi Sosial Masyarakat Melalui Community Realation

    • calendar_month Sab, 18 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 398
    • 0Komentar

     Oleh : Siswanto Kesadaran merupakan sifat positif seseorang dalam menerima suatu hal yang bersifat positif. Bila dikaitkan dengan lingkungan hidup, kesadaran berarti kepedulian seseorang terhadap lingkungan hidup, serta kesediaan melakukan berbagai konsekuensi kegiatan yang disyaratkan dalam pemeliharaan kelestarian lingkungan hidup tersebut. Kesediaan yang dilakukan atas kesadaran bukan atas dasar paksaan, tetapi dilaksanakan atas dasar kesukarelaan. […]

  • Kepala MTs Tarbiyatul Banin : IPNU-IPPNU Gerbang Utama Masuk NU

    Kepala MTs Tarbiyatul Banin : IPNU-IPPNU Gerbang Utama Masuk NU

    • calendar_month Sel, 25 Jan 2022
    • account_circle admin
    • visibility 479
    • 0Komentar

    K. Yusuf Hasyim menyampaikan pemgarahan kepada ketua baru IPNU-IPPNU MTs Tarbiyatul Banin Winong plus calon pengurusnya WINONG – Agenda rutin tahunan kembali digelar di MTs Tarbiyatul Banin Madrasah Tahfidz dan Sains Winong Pati. kegiatan yang diadakan pada Minggu (23/1) tersebut merupakan perhelatan akbar pemilihan ketua IPNU-IPPNU Komisariat MTs Tarbiyatul Banin.  Semua peserta didik MTs Tarbiyatul […]

  • Filantropi Ramadan

    Filantropi Ramadan

    • calendar_month Jum, 28 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 622
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Ramadan dikenal sebagai bulan penuh berkah, ampunan, dan kesempatan untuk meningkatkan kebaikan. Salah satu julukan yang melekat pada bulan suci ini adalah Syahr al-Judd atau bulan kedermawanan. Julukan ini bukan tanpa alasan. Sepanjang bulan Ramadan, semangat untuk berbagi dan membantu sesama begitu terasa, mencerminkan esensi filantropi yang mendalam. Pada bulan ini, umat […]

  • Lazisnu Serahkan ‘Laporan Amal’ kepada PCNU

    Lazisnu Serahkan ‘Laporan Amal’ kepada PCNU

    • calendar_month Ming, 1 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 318
    • 0Komentar

    PATI – PC Lazisnu Pati menyerahkan Laporan Keuangan Triwulan tahun 2022 kepada PCNU Pati pada Jumat (29/4) di Gedung NU, Pati. Laporan tersebut diserahkan secara langsung oleh Ketua Lazisnu Pati, Muhammad Niam Sutaman dan diterima secara langsing juga oleh Ketua PCNU Pati, Kyai Yusuf Hasyim. “Laporan Keuangan Triwulan tahun 2022 baru saja kami serahkan kepada […]

expand_less