Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Dua Hal yang Menyembuhan Pak Lintang

Dua Hal yang Menyembuhan Pak Lintang

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 14 Nov 2022
  • visibility 103
  • comment 0 komentar

Oleh : M Iqbal Dawami

Minggu, 6 oktober 2013, pukul 21.18 WIB. Sore itu saya janjian ketemuan dengan Pak Hendrik Lim, seorang penulis dan trainer, di Hotel Grand Zuri, Jl. Mangkubumi. Di sana saya dikenalkan dengan Pak Lintang, seorang pebisnis online. “Cerita perjalanan hidupnya sungguh menarik,” ujar Pak Lim. Dan saya sepakat. Ya, pengalaman hidupnya dalam melawan penyakit sungguh luar biasa. Beliau terkena penyakit kanker. Dokter sudah ampun-ampun dengan penyakitnya. Begitu juga dengan Pak Lintang sendiri, sebagai pengidapnya. Dia sudah pasrah, tak tahu lagi apa yang hendak diusahakannya. Segala ikhtiar sudah dicobanya, pengobatan medis maupun alternatif sudah dijalaninya.

Nah, pada saat pasrah itulah dia mengalami keajaiban. Tiba-tiba saja penyakitnya sembuh. Kesembuhannya ini dia jaga baik-baik. Segala pantangan yang menyebabkan penyakitnya menjadi kambuh dia setop. Dia bersyukur dengan semua itu. Dia merasa hidup kembali, dimana tadinya seolah-olah dia sudah tidak ada harapan untuk hidup. Dia mendapatkan kesempatan kedua. Titik balik inilah yang membuat dia berefleksi.

Pak Lim sendiri kenal dengan beliau secara “tidak sengaja”. Suatu ketika Pak Lintang mengenalkan dirinya di email, dan mengatakan bahwa blog Pak Lim mempunyai konten yang sangat bagus. Tapi, secara penampilan blognya kurang menarik. Maka, dia menawarkan diri untuk membuat website Pak Lim agar terlihat menarik lagi, sehingga antara konten dan penampilan blognya sama-sama bagusnya. Pak Lim setuju. Dibuatlah webstite tersebut. Hasilnya memang mengagumkan.

Sebagai ucapan terima kasih, Pak Lim hendak membayar atas jasanya. Namun itu ditolaknya oleh Pak Lintang. Pak Lim penasaran, orang ini kok “aneh”, sudah capek-capek membuat website tersebut, bahkan waktu dan biaya sudah dikeluarkannya, malah tidak mau dibayar. Dari situlah mereka mulai bersahabat. Kebaikan yang dibuat Pak Lintang telah meluluhkan Pak Lim. “Kalau dibayar maka selesai sudah hubungan kami, karena sebatas transaksional,” ujar Pak Lintang. Dan ketika Pak Lintang diserang penyakit kanker yang tak urung sembuh, maka Pak Lim tak pernah berhenti mendoakannya, bahkan turut pula berpuasa agar Pak Lintang diberi kesembuhan.

Di saat Pak Lintang hampir putus asa dengan penyakitnya, Pak Lim memberi dorongan semangat, yang lumayan kata-katanya begitu menyengat. Saya saja yang hanya mendengarnya begitu tertonjok ulu hati saya, apalagi Pak Lintang. Begini kata-kata Lim, “Anda harus kuat, bro. Jangan menyerah pada penyakit itu. Anda harus hidup. Enak aja mau mati duluan. Anak dan istrimu siapa nanti yang memberi nafkah? Apalagi istrimu sedang hamil. Ayo, kamu harus sehat, kamu harus hidup, demi diri kamu, demi orang-orang yang kamu cintai.” Keberanian untuk hidup itulah yang diinjekkan kepada Pak Lintang oleh Pak Lim.           

Begitulah yang saya dengar cerita mereka berdua dari mereka berdua. Mereka saling bergantian menceritakannya kepada saya. Aku mendengarnya dengan sangat antusias, sambil sesekali menyeruput kopi. Pisang goreng yang dihidangkan pelayan hotel menjadi saksi perbincangan kami bertiga di situ, sebelum kami memakannya.

Pada saat kami pamitan dengan Pak Lim karena beliau harus sudah segera berangkat ke sebuah kampus swasta tersohor di Yogyakarta, di tangga menuju parkiran, saya berdua dengan Pak Lintang sempat mengobrol lagi. “Mas Iqbal usianya masih 31, saya yakin di usia 35, apa yang masih Iqbal harapkan Insya Allah tercapai. Cuma jaga pesan saya dua hal, mas: Sedekah dan puasa. Betul, mas, saya sudah mengalaminya. Hingga saat ini saya masih puasa Daud.”

Pak Lintang terus berbagi pengalaman. Di waktu yang sempit itu saya diberi wejangan yang berharga. Sedekah, kata dia, tidak membuat dirinya bangkrut maupun kekurangan materi. Bahkan sebaliknya, dia tidak kekurangan uang, selalu saja ada uang pada saat dia membutuhkannya, bahkan sering berlebih.

Hanya saja, pesan Pak Lintang, kita harus melakukannya secara istikamah, alias terus-menerus. Beliau sendiri menjalankan sedekah dan puasa Daud sudah bertahun-tahun. Saat sedekah jangan banyak perhitungan. Artinya lakukan saja secara spontanitas. Jika di kantong ada uang selebaran seratus ribu rupiah, maka uang itulah yang diberikan kepada orang lain. Yang dikasihpun jangan pilah-pilih. Siapapun yang kita temui saat di jalan, maka mereka itulah yang dikasih sedekah.

Kisah hidup Pak Lintang ini sungguh memberikan ‘insight’ kepada saya, paling tidak agar menjaga kesehatan, melakukan sedekah, dan berpuasa. Sebagaimana yang dikatakan Pak Lintang sendiri, “Semua orang sudah tahu soal pentingnya menjaga kesehatan, keutamaan sedekah dan puasa, tapi tidak semua orang dapat melakukannya. Maka, jadilah praktisi, orang yang mau mengamalkannya. Apalagi Anda dari UIN.” Duarr, hati saya seperti meledak. Dalam benaknya, barangkali alumni UIN lebih paham soal ini, maka sudah semestinya mempraktikkannya. Padahal belum tentu juga, he-he-he.

So, saya sudah tidak perlu lagi mencari segala dalil untuk membuktikan keutamaan sedekah dan puasa. Cukuplah bagi saya Pak Lintang ini menjadi dalil hidup yang langsung menceritakan kisahnya kepada saya. Pak Lintang menjadikan sedekah dan puasa itu seperti kebutuhan sehari-hari, seumpama makan, minum, tidur.

Jika sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, maka sedekah dan puasa itu bukan lagi sesuatu yang berat untuk dilakukan. Kedua hal itu niscaya menjadi kebutuhan yang apabila tidak dilakukan akan menderita. Bukankah kalau kita tidak makan seharian akan terasa lapar? Bukankah kalau kita tidak minum seharian akan terasa haus? Dan bukankah kalau kita tidak tidur semalaman akan terasa mengantuk? []

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Gambang Rancag Perlu Dilestarikan Karena Nyaris Lenyap

    • calendar_month Sen, 28 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id-Jakarta, Senin, 28 Agustus 2023,-  Kehadiran empat buku antologi puisi Penyair Nusantara, Jakarta, dan Betawi sejak tahun 2019 sampai tahun 2023, semoga tak berhenti ditahun ini.Bisa saja ditahun depan ada gagasan dengan tema lain, misalnya Jakarta Pasca Pemilu tahun 2024,” ujar Nanang R.Supriyatin, Ketua Penyelenggara peluncuran buku Antologi Puisi Penyair Nusantara, Jakarta, dan Betawi 4 […]

  • Ahmad Husain, Pimpin Pagar Nusa Winong

    Ahmad Husain, Pimpin Pagar Nusa Winong

    • calendar_month Rab, 22 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Pati. Pagar Nusa. Pimpinan Anak Cabang Ikatan pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPSNU) Pagar Nusa kecamatan Winong Pati mengadakan pemilihan ketua baru di di Aula MI Tarbiyatul  Islamiyah desa setempat Ahad (19/11/2017). Dalam acara bertajuk Konferensi Anak Cabang (konferancab) ini, Ahmad Husaini terpilih menjadi ketua baru PAC IPSNU Pagar Nusa Kecamatan Winong . Usai terpilih, Husaini […]

  • Khidmah Santri Untuk Negeri

    Khidmah Santri Untuk Negeri

    • calendar_month Jum, 20 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Pati. Santri selalu loyal untuk negeri. Hari Santri Nasional (HSN) yg jatuh pada 22 Oktober 2017 mengingatkan bangsa akan besarnya jasa para santri dlm mengusir penjajah, mempertahankan kemerdekaan, dan mengisi kemerdekaan dgn berbagai program, khususnya pendidikan dan ekonomi kerakyatan. “Resolusi Jihad Hadlratussyekh KH M Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 2017 yg mewajibkan umat Islam […]

  • PCNU-PATI

    IPPNU Kajen Punya Target Terbitkan Buku Biografi Bu Nyai

    • calendar_month Rab, 1 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 96
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id- MARGOYOSO – Dalam rangka memperingati 1 abad NU, Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PR IPPNU) Desa Kajen menggelar workshop penulisan biografi ulama perempuan dan bu nyai di desa santri tersebut. Workshop digelar di Aula ICK area Masjid Kajen lantai 2. Ketua PR IPPNU Kajen Citra Rahma Febriaziza mengatakan, workshop digelar untuk melatih […]

  • PCNU-PATI Photo by Mailchimp

    Hak Berbicara, Hak Berpendapat

    • calendar_month Jum, 3 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Kawan : “Kamu kan belum menikah dan punya anak, kok nulisnya tentang anak-anak sih.” Saya : “Lho memang ada keharusan untuk memiliki anak (biologis) dulu, baru boleh menulis tentang anak-anak?” Beberapa hari yang lalu, saya ditegur oleh salah seorang kawan. Saya yang notabene sering menulis tentang dunia parenting dan seputar perempuan, […]

  • Buka Lowongan, LazisNU Pati Seleksi 122 Peserta

    Buka Lowongan, LazisNU Pati Seleksi 122 Peserta

    • calendar_month Kam, 30 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 112
    • 0Komentar

      Pati – LazisNU PCNU Pati membuka lowongan karyawan manajemen eksekutif. Mereka pun menyeleksi 122 peserta di Aula Lantai 2, Gedung Islamic Center Masjid Agung Baitunnur Pati, Kamis (30/1/2025). Seratusan peserta ini mengikuti psikotes yang merupakan rangkaian tahapan rekrutmen yang telah LazisNU Pati lakukan. Sebelumnya, LazisNU membuka lowongan pada tanggal 18 Januari 2025. ”Kami sedangkan […]

expand_less