Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Dua Hal yang Menyembuhan Pak Lintang

Dua Hal yang Menyembuhan Pak Lintang

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 14 Nov 2022
  • visibility 426
  • comment 0 komentar

Oleh : M Iqbal Dawami

Minggu, 6 oktober 2013, pukul 21.18 WIB. Sore itu saya janjian ketemuan dengan Pak Hendrik Lim, seorang penulis dan trainer, di Hotel Grand Zuri, Jl. Mangkubumi. Di sana saya dikenalkan dengan Pak Lintang, seorang pebisnis online. “Cerita perjalanan hidupnya sungguh menarik,” ujar Pak Lim. Dan saya sepakat. Ya, pengalaman hidupnya dalam melawan penyakit sungguh luar biasa. Beliau terkena penyakit kanker. Dokter sudah ampun-ampun dengan penyakitnya. Begitu juga dengan Pak Lintang sendiri, sebagai pengidapnya. Dia sudah pasrah, tak tahu lagi apa yang hendak diusahakannya. Segala ikhtiar sudah dicobanya, pengobatan medis maupun alternatif sudah dijalaninya.

Nah, pada saat pasrah itulah dia mengalami keajaiban. Tiba-tiba saja penyakitnya sembuh. Kesembuhannya ini dia jaga baik-baik. Segala pantangan yang menyebabkan penyakitnya menjadi kambuh dia setop. Dia bersyukur dengan semua itu. Dia merasa hidup kembali, dimana tadinya seolah-olah dia sudah tidak ada harapan untuk hidup. Dia mendapatkan kesempatan kedua. Titik balik inilah yang membuat dia berefleksi.

Pak Lim sendiri kenal dengan beliau secara “tidak sengaja”. Suatu ketika Pak Lintang mengenalkan dirinya di email, dan mengatakan bahwa blog Pak Lim mempunyai konten yang sangat bagus. Tapi, secara penampilan blognya kurang menarik. Maka, dia menawarkan diri untuk membuat website Pak Lim agar terlihat menarik lagi, sehingga antara konten dan penampilan blognya sama-sama bagusnya. Pak Lim setuju. Dibuatlah webstite tersebut. Hasilnya memang mengagumkan.

Sebagai ucapan terima kasih, Pak Lim hendak membayar atas jasanya. Namun itu ditolaknya oleh Pak Lintang. Pak Lim penasaran, orang ini kok “aneh”, sudah capek-capek membuat website tersebut, bahkan waktu dan biaya sudah dikeluarkannya, malah tidak mau dibayar. Dari situlah mereka mulai bersahabat. Kebaikan yang dibuat Pak Lintang telah meluluhkan Pak Lim. “Kalau dibayar maka selesai sudah hubungan kami, karena sebatas transaksional,” ujar Pak Lintang. Dan ketika Pak Lintang diserang penyakit kanker yang tak urung sembuh, maka Pak Lim tak pernah berhenti mendoakannya, bahkan turut pula berpuasa agar Pak Lintang diberi kesembuhan.

Di saat Pak Lintang hampir putus asa dengan penyakitnya, Pak Lim memberi dorongan semangat, yang lumayan kata-katanya begitu menyengat. Saya saja yang hanya mendengarnya begitu tertonjok ulu hati saya, apalagi Pak Lintang. Begini kata-kata Lim, “Anda harus kuat, bro. Jangan menyerah pada penyakit itu. Anda harus hidup. Enak aja mau mati duluan. Anak dan istrimu siapa nanti yang memberi nafkah? Apalagi istrimu sedang hamil. Ayo, kamu harus sehat, kamu harus hidup, demi diri kamu, demi orang-orang yang kamu cintai.” Keberanian untuk hidup itulah yang diinjekkan kepada Pak Lintang oleh Pak Lim.           

Begitulah yang saya dengar cerita mereka berdua dari mereka berdua. Mereka saling bergantian menceritakannya kepada saya. Aku mendengarnya dengan sangat antusias, sambil sesekali menyeruput kopi. Pisang goreng yang dihidangkan pelayan hotel menjadi saksi perbincangan kami bertiga di situ, sebelum kami memakannya.

Pada saat kami pamitan dengan Pak Lim karena beliau harus sudah segera berangkat ke sebuah kampus swasta tersohor di Yogyakarta, di tangga menuju parkiran, saya berdua dengan Pak Lintang sempat mengobrol lagi. “Mas Iqbal usianya masih 31, saya yakin di usia 35, apa yang masih Iqbal harapkan Insya Allah tercapai. Cuma jaga pesan saya dua hal, mas: Sedekah dan puasa. Betul, mas, saya sudah mengalaminya. Hingga saat ini saya masih puasa Daud.”

Pak Lintang terus berbagi pengalaman. Di waktu yang sempit itu saya diberi wejangan yang berharga. Sedekah, kata dia, tidak membuat dirinya bangkrut maupun kekurangan materi. Bahkan sebaliknya, dia tidak kekurangan uang, selalu saja ada uang pada saat dia membutuhkannya, bahkan sering berlebih.

Hanya saja, pesan Pak Lintang, kita harus melakukannya secara istikamah, alias terus-menerus. Beliau sendiri menjalankan sedekah dan puasa Daud sudah bertahun-tahun. Saat sedekah jangan banyak perhitungan. Artinya lakukan saja secara spontanitas. Jika di kantong ada uang selebaran seratus ribu rupiah, maka uang itulah yang diberikan kepada orang lain. Yang dikasihpun jangan pilah-pilih. Siapapun yang kita temui saat di jalan, maka mereka itulah yang dikasih sedekah.

Kisah hidup Pak Lintang ini sungguh memberikan ‘insight’ kepada saya, paling tidak agar menjaga kesehatan, melakukan sedekah, dan berpuasa. Sebagaimana yang dikatakan Pak Lintang sendiri, “Semua orang sudah tahu soal pentingnya menjaga kesehatan, keutamaan sedekah dan puasa, tapi tidak semua orang dapat melakukannya. Maka, jadilah praktisi, orang yang mau mengamalkannya. Apalagi Anda dari UIN.” Duarr, hati saya seperti meledak. Dalam benaknya, barangkali alumni UIN lebih paham soal ini, maka sudah semestinya mempraktikkannya. Padahal belum tentu juga, he-he-he.

So, saya sudah tidak perlu lagi mencari segala dalil untuk membuktikan keutamaan sedekah dan puasa. Cukuplah bagi saya Pak Lintang ini menjadi dalil hidup yang langsung menceritakan kisahnya kepada saya. Pak Lintang menjadikan sedekah dan puasa itu seperti kebutuhan sehari-hari, seumpama makan, minum, tidur.

Jika sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, maka sedekah dan puasa itu bukan lagi sesuatu yang berat untuk dilakukan. Kedua hal itu niscaya menjadi kebutuhan yang apabila tidak dilakukan akan menderita. Bukankah kalau kita tidak makan seharian akan terasa lapar? Bukankah kalau kita tidak minum seharian akan terasa haus? Dan bukankah kalau kita tidak tidur semalaman akan terasa mengantuk? []

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mendung, Hilal Tak Terlihat di Langit Pati

    Mendung, Hilal Tak Terlihat di Langit Pati

    • calendar_month Jum, 28 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 494
    • 0Komentar

      Pati – Tim Gabungan menggelar rukiyah hilal di area persawahan Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Pati, Jawa Tengah, Jumat (28/2/2025). Sayangnya, hilal tak terlihat di langit Pati. Rukyatul hilal ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya memastikan awal Ramadan 1446 H berdasarkan metode pengamatan langsung. Namun, kondisi cuaca kurang mendukung. Langit yang berkabut akibat hujan […]

  • PMII Melek Gender Untuk Mencapai SDGs

    PMII Melek Gender Untuk Mencapai SDGs

    • calendar_month Sen, 18 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 465
    • 0Komentar

    Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan sebuah program pembangunan berkelanjutan dimana didalamnya terdapat 17 tujuan dengan 169 target yang terukur dengan tenggat waktu yang ditentukan. SDGs adalah agenda pembangunan dunia yang bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan  manusia dan planet bumi. SDGs diresmikan pada tanggal 25 September 2015 menggantikan program sebelumnya yaitu MDGs (Millennium Development Goals), sebagai tujuan […]

  • Estafet Kepemimpinan Berlanjut, Sri Wahyu Susilowati Resmi Pimpin MTs Ma'arif Sapuran

    Estafet Kepemimpinan Berlanjut, Sri Wahyu Susilowati Resmi Pimpin MTs Ma’arif Sapuran

    • calendar_month Sen, 3 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17.433
    • 0Komentar

    WONOSOBO – MTs Ma’arif Sapuran menggelar acara pelantikan Kepala Madrasah baru pada Sabtu (1/8/2026). Dalam prosesi tersebut, Sri Wahyu Susilowati, S.Pd. resmi dilantik sebagai Kepala MTs Ma’arif Sapuran, menggantikan Arif Muchtar, S.E. yang telah menuntaskan masa khidmahnya selama dua periode atau delapan tahun. Acara berlangsung khidmat dan dihadiri oleh Rois Syuriah MWCNU Sapuran KH. Yahya, […]

  • MWCNU Tayu Peringati Nuzulul Quran

    MWCNU Tayu Peringati Nuzulul Quran

    • calendar_month Sel, 4 Jul 2017
    • account_circle admin
    • visibility 310
    • 0Komentar

    Pati. Jajaran Pengurus MWCNU Kec Tayu, Anak Cabang Fatayat NU, Muslimat NU, Ansor, Banser dan IPNU-IPPNU mengadakan hataman al-Quran binnadhor di Masjid alun-alun Tayu, 11/6 kemarin. Afif Nor selaku ketua MWCNU menjelaskan perihal keutamaan  orang yang membaca al-Quran, barang siapa yang membaca al-Qur’an dengan tujuan untuk mendapatkan ridlo Allah Swt. maka akan mendapatkan pahala dan […]

  • Hukum Mengirim Sticker Inna Lillah dan Copas Doa untuk Orang Meninggal

    Hukum Mengirim Sticker Inna Lillah dan Copas Doa untuk Orang Meninggal

    • calendar_month Ming, 18 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 642
    • 0Komentar

    Hadirnya media sosial sebagai media dalam memudahkan berbagai aktifitas, sudah menjadi realitas keseharian. Hal ini juga berlaku bagi orang yang hendak kirim al-fatihah atau doa. Biasanya kalau ada kabar duka orang meninggal dunia di grup Whatsapp, dalam hitungan detik setelah kabar duka muncul, langsung disambut balasan doa dan al-fatihah dalam bentuk stiker atau teks yang […]

  • PCNU-PATI

    Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia

    • calendar_month Rab, 23 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 448
    • 0Komentar

    NU merupakan organisasi sosial keagamaan yg unik. Didirikan oleh ulama pesantren tahun 1926 di Surabaya. Memiliki jaringan struktur kelembagaan Organisasi Ulama,kedudukan mereka dalam NU sangat penting. Tetapi peran mereka sebagai pemimpin yg berpengaruh pada komunitas mereka sendiri telah membentuk pranata lain, sehingga keberadaan mereka di dalam NU juga mewakili “kepentingan” pranata mereka. Akibatnya struktur itupun […]

expand_less