Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Dua Hal yang Menyembuhan Pak Lintang

Dua Hal yang Menyembuhan Pak Lintang

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 14 Nov 2022
  • visibility 249
  • comment 0 komentar

Oleh : M Iqbal Dawami

Minggu, 6 oktober 2013, pukul 21.18 WIB. Sore itu saya janjian ketemuan dengan Pak Hendrik Lim, seorang penulis dan trainer, di Hotel Grand Zuri, Jl. Mangkubumi. Di sana saya dikenalkan dengan Pak Lintang, seorang pebisnis online. “Cerita perjalanan hidupnya sungguh menarik,” ujar Pak Lim. Dan saya sepakat. Ya, pengalaman hidupnya dalam melawan penyakit sungguh luar biasa. Beliau terkena penyakit kanker. Dokter sudah ampun-ampun dengan penyakitnya. Begitu juga dengan Pak Lintang sendiri, sebagai pengidapnya. Dia sudah pasrah, tak tahu lagi apa yang hendak diusahakannya. Segala ikhtiar sudah dicobanya, pengobatan medis maupun alternatif sudah dijalaninya.

Nah, pada saat pasrah itulah dia mengalami keajaiban. Tiba-tiba saja penyakitnya sembuh. Kesembuhannya ini dia jaga baik-baik. Segala pantangan yang menyebabkan penyakitnya menjadi kambuh dia setop. Dia bersyukur dengan semua itu. Dia merasa hidup kembali, dimana tadinya seolah-olah dia sudah tidak ada harapan untuk hidup. Dia mendapatkan kesempatan kedua. Titik balik inilah yang membuat dia berefleksi.

Pak Lim sendiri kenal dengan beliau secara “tidak sengaja”. Suatu ketika Pak Lintang mengenalkan dirinya di email, dan mengatakan bahwa blog Pak Lim mempunyai konten yang sangat bagus. Tapi, secara penampilan blognya kurang menarik. Maka, dia menawarkan diri untuk membuat website Pak Lim agar terlihat menarik lagi, sehingga antara konten dan penampilan blognya sama-sama bagusnya. Pak Lim setuju. Dibuatlah webstite tersebut. Hasilnya memang mengagumkan.

Sebagai ucapan terima kasih, Pak Lim hendak membayar atas jasanya. Namun itu ditolaknya oleh Pak Lintang. Pak Lim penasaran, orang ini kok “aneh”, sudah capek-capek membuat website tersebut, bahkan waktu dan biaya sudah dikeluarkannya, malah tidak mau dibayar. Dari situlah mereka mulai bersahabat. Kebaikan yang dibuat Pak Lintang telah meluluhkan Pak Lim. “Kalau dibayar maka selesai sudah hubungan kami, karena sebatas transaksional,” ujar Pak Lintang. Dan ketika Pak Lintang diserang penyakit kanker yang tak urung sembuh, maka Pak Lim tak pernah berhenti mendoakannya, bahkan turut pula berpuasa agar Pak Lintang diberi kesembuhan.

Di saat Pak Lintang hampir putus asa dengan penyakitnya, Pak Lim memberi dorongan semangat, yang lumayan kata-katanya begitu menyengat. Saya saja yang hanya mendengarnya begitu tertonjok ulu hati saya, apalagi Pak Lintang. Begini kata-kata Lim, “Anda harus kuat, bro. Jangan menyerah pada penyakit itu. Anda harus hidup. Enak aja mau mati duluan. Anak dan istrimu siapa nanti yang memberi nafkah? Apalagi istrimu sedang hamil. Ayo, kamu harus sehat, kamu harus hidup, demi diri kamu, demi orang-orang yang kamu cintai.” Keberanian untuk hidup itulah yang diinjekkan kepada Pak Lintang oleh Pak Lim.           

Begitulah yang saya dengar cerita mereka berdua dari mereka berdua. Mereka saling bergantian menceritakannya kepada saya. Aku mendengarnya dengan sangat antusias, sambil sesekali menyeruput kopi. Pisang goreng yang dihidangkan pelayan hotel menjadi saksi perbincangan kami bertiga di situ, sebelum kami memakannya.

Pada saat kami pamitan dengan Pak Lim karena beliau harus sudah segera berangkat ke sebuah kampus swasta tersohor di Yogyakarta, di tangga menuju parkiran, saya berdua dengan Pak Lintang sempat mengobrol lagi. “Mas Iqbal usianya masih 31, saya yakin di usia 35, apa yang masih Iqbal harapkan Insya Allah tercapai. Cuma jaga pesan saya dua hal, mas: Sedekah dan puasa. Betul, mas, saya sudah mengalaminya. Hingga saat ini saya masih puasa Daud.”

Pak Lintang terus berbagi pengalaman. Di waktu yang sempit itu saya diberi wejangan yang berharga. Sedekah, kata dia, tidak membuat dirinya bangkrut maupun kekurangan materi. Bahkan sebaliknya, dia tidak kekurangan uang, selalu saja ada uang pada saat dia membutuhkannya, bahkan sering berlebih.

Hanya saja, pesan Pak Lintang, kita harus melakukannya secara istikamah, alias terus-menerus. Beliau sendiri menjalankan sedekah dan puasa Daud sudah bertahun-tahun. Saat sedekah jangan banyak perhitungan. Artinya lakukan saja secara spontanitas. Jika di kantong ada uang selebaran seratus ribu rupiah, maka uang itulah yang diberikan kepada orang lain. Yang dikasihpun jangan pilah-pilih. Siapapun yang kita temui saat di jalan, maka mereka itulah yang dikasih sedekah.

Kisah hidup Pak Lintang ini sungguh memberikan ‘insight’ kepada saya, paling tidak agar menjaga kesehatan, melakukan sedekah, dan berpuasa. Sebagaimana yang dikatakan Pak Lintang sendiri, “Semua orang sudah tahu soal pentingnya menjaga kesehatan, keutamaan sedekah dan puasa, tapi tidak semua orang dapat melakukannya. Maka, jadilah praktisi, orang yang mau mengamalkannya. Apalagi Anda dari UIN.” Duarr, hati saya seperti meledak. Dalam benaknya, barangkali alumni UIN lebih paham soal ini, maka sudah semestinya mempraktikkannya. Padahal belum tentu juga, he-he-he.

So, saya sudah tidak perlu lagi mencari segala dalil untuk membuktikan keutamaan sedekah dan puasa. Cukuplah bagi saya Pak Lintang ini menjadi dalil hidup yang langsung menceritakan kisahnya kepada saya. Pak Lintang menjadikan sedekah dan puasa itu seperti kebutuhan sehari-hari, seumpama makan, minum, tidur.

Jika sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, maka sedekah dan puasa itu bukan lagi sesuatu yang berat untuk dilakukan. Kedua hal itu niscaya menjadi kebutuhan yang apabila tidak dilakukan akan menderita. Bukankah kalau kita tidak makan seharian akan terasa lapar? Bukankah kalau kita tidak minum seharian akan terasa haus? Dan bukankah kalau kita tidak tidur semalaman akan terasa mengantuk? []

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by 2081671

    Selamat Hari Ibu

    • calendar_month Jum, 23 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 197
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Berbicara soal peringatan hari ibu kemarin, kiranya sangat tepat jika tulisan saya kali ini bercerita tentang keseharian ibunda tercinta. Sosok inspiratif yang senantiasa mengajarkan saya banyak hal. Mulai dari bagaimana bersikap sebagai seorang perempuan hingga soal urusan perdapuran. Bagi saya ibu adalah seorang perempuan biasa yang memiliki semangat luar biasa. Ibu […]

  • Keistiqamahan Mbah Dullah Salam Kajen

    Keistiqamahan Mbah Dullah Salam Kajen

    • calendar_month Kam, 15 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 404
    • 0Komentar

                                                      KH. Abdullah Zain Salam  KH Abdullah Zain Salam dikenal dengan panggilan Mbah Dullah Salam memiliki teladan-teladan yang mulia. Mulai dari kecintaan mendalam pada ilmu pengetahuan, memiliki kebiasaan mengembara demi mencari ilmu pengetahuan, dan keteladanan lain. Penulis buku ‘Keteladanan […]

  • Siswa Salafiyah Lakukan Rukyah di Pantai Kartini

    Siswa Salafiyah Lakukan Rukyah di Pantai Kartini

    • calendar_month Sel, 29 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 246
    • 0Komentar

    PATI-Puluhan Santri Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Kajen melakukan praktek rukyah secara langsung. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam penguasaan ilmu falak. Diharapkan, dengan pengalaman itu, para peserta didik mampu mempelajari tentang perbintangan, penanggalan dan perhitungan tahun, seperti mempelajari penentuan masuknya awal bulan Hijriah. Dalam prakteknya, para siswa kelas XII jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial […]

  • Silaturrahim dan Koordinasi PCNU ke Eks Kawedanan Jakenan

    Silaturrahim dan Koordinasi PCNU ke Eks Kawedanan Jakenan

    • calendar_month Ming, 22 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 305
    • 0Komentar

    JAKENAN – Roashow Turba Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Pati kembali berlanjut. Ahad (22/9/2019) pagi, giliran MWCNU dan Ranting se-eks Kawedanan Jakenan yang dikunjungi menyusul dua gelaran serupa di eks-Kawedanan Tayu dan Pati Kota. Bertempat di Aula Kantor Camat Jakenan, PCNU Pati bertemu dengan jajaran pengurus MWCNU dan Ranting dari empat kecamatan sekaligus, Jakenan, Jaken, […]

  • PCNU-PATI Photo by Dino Januarsa

    Wakil Rakyat Kalo Gini Terus Kayaknya Perlu Nyantri Dulu Deh

    • calendar_month Ming, 17 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 343
    • 0Komentar

    Oleh : Irna Maifatur Rohmah Bukan menjadi rahasia lagi, tak jarang wakil rakyat yang terjerat KPK. Ya mau apa lagi? Penggelapan dana untuk proyek ini dan itu. Segampang itu mereka mengklaim dana untuk rakyat menjadi milik pribadi. Segudang alasan klasik berulang-ulang dituturkan pada media. Tapi hal itu tidak bisa mengembalikan kepercayaan dan wibawa. Padahal sudah […]

  • Pesta Demokrasi MWC NU : Petahana Bangkit Kembali

    Pesta Demokrasi MWC NU : Petahana Bangkit Kembali

    • calendar_month Sab, 28 Des 2024
    • account_circle admin
    • visibility 307
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Konferensi MWC NU Kecamatan Tayu Kembali digelar. Kali ini, pemilihan ketua NU di tingkat kecamatan tersebut dilaksanakan di MTs. Miftahul Huda, Tayu. Agenda yang berlangsung Jumat (28/12) tersebut mengukuhkan kembali kepemimpinan K. Ahmad Sarwo sebagai orang nomor satu di jajaran Tanfidziyah MWCNU Tayu. “Saya sampaikan terimakasih atas kepercayaannya kembali, dan saya mohon dukungan […]

expand_less