Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Bagai Pungguk Menjerat Bulan Part 7

Bagai Pungguk Menjerat Bulan Part 7

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 8 Okt 2023
  • visibility 147
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

“Apaan sih?” gumamnya tak sadar ketika baru saja sampai kamar. Sesaat setelah ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat, wajah itu kembali membayang di pelupuk matanya. Wajah dengan sepasang mata sendu penuh tanya, hidung bangir, dagu terbelah, dan seulas senyum tipis dari balik partisi kaca pesarean. Wajah yang ia dapati saat baru saja membuka mata. Sejak kapan cowok gila itu menatapnya?

 Ia hanya tak habis pikir dengan santri baru itu. Tidakkah dia terlalu berani? Dan apa tadi? dia bahkan melayangkan senyum dengan sorot mata yang menatap lekat ke arahnya. Membuatnya bergidik dan sedikit panik, hingga menyusut air matanya cepat-cepat. Untung saja sesi ziarah sudah saatnya berakhir, jadi dia bisa segera pulang dan jauh-jauh dari jangkauan lelaki itu.

“Dasar santri gila,” gerutunya sambil meraup muka. Berharap bayangan tadi segera enyah. Tapi justru bayangan yang lain datang bersusul-susulan tanpa permisi.

“I LOVE YOU.”

Suara lantang itu berdengung di telinganya, membuatnya tertegun sejenak di depan pintu kamar. Mengingat itu, membuat wajahnya seketika seperti dikerubuti hawa panas. Ia coba abai dan melangkah menuju meja rias saat ponsel yang ia letakkan di sana tampak berpendar. Tadi ia sengaja meninggalkan benda itu waktu memimpin para santri berziarah di pesarean Sunan Nirboyo. Ia yakin pasti sudah ada beberapa pesan di aplikasi whatsapp-nya. Tapi ….

“I LOVE YOU. MAU NGGAK JADI PACAR AKU?”

Arrrghhhh … Ia tutup kedua daun telinganya rapat-rapat, berharap suara bersama wajah itu segera lenyap. Tapi percuma. Karena lagi dan lagi, insiden memalukan itu secara otomatis kembali terputar dalam benaknya. Termasuk ketika lelaki tak tahu diri itu tiba-tiba muncul di ruang tengah.

 “Ma-maaf, Bu Nyai. Saya hanya memenuhi panggilan.”

“Tadi … sampai beberapa kali. Salman … my sweety come here. Salman, kalau dipanggil tuh jangan diem aja.”

Sampai di kalimat itu, secara tak sadar senyum geli terbit di bibirnya. “Sinting emang,” gumamnya sebelum menyadari sesuatu … jika … umpatan itu lebih terdengar seperti dia tengah mengatai dirinya sendiri. Ah, bukan … bukan … santri baru itulah yang sinting. Bertahun-tahun hidup di pesantren, baru kali ini ia bertemu dengan lelaki model seperti itu. Gila, tidak tahu malu, nekat, berani, dan … sangat … ganteng?

Ah, apa yang sebenarnya kamu pikirkan, Zoeya?

 “Astaghfirullah,” desahnya lirih dan segera berjalan menuju meja rias, menjangkau ponsel yang sejak tadi sudah merengek-rengek gaduh. Benar, ada beberapa chat yang masuk. Terutama dari grup SAEC. Tapi chat dari kontak bernama “My Iridessa” itu harus selalu ia prioritaskan.

(Mbak tuh egois dan nggak berguna banget ya, Za, jadi istri).

Segera ia mengetik sebuah balasan sambil menjatuhkan pantat di pinggir ranjang. Dahinya berkerut-kerut serius.

Zaima Zoeya Maryam

(Kenapa lagi? Mbak didesak lagi? Bukan Mbak yang egois. Tapi mereka)

Chat langsung terbaca. Mungkin si My Iridessa memang sedang tak ada kerjaan, atau memang sedang butuh seseorang yang bisa mendengarkan segala keluh kesahnya.

My Iridessa

(Nggak sih. Dia halus kok ngomongnya. Dia juga bilang kalau yang pertama itu nggak bakal tergantikan. Akan selalu mendapat porsi cinta yang lebih banyak)

Zaima Zoeya Maryam

(Bullshit. Dia egois, jahat, nggak punya ati. Dia hanya mikirin dirinya dan keluarganya. Kalau dia punya ati, dia nggak akan seperti ini. Dia nggak akan ada niat poligami. Menyerahlah kalau Mbak ingin menyerah. Tanpa dia, Mbak bisa hidup bahagia. Aku akan selalu ada untuk Mbak)

Satu tetes air mata meluncur dari tengah netranya. Ia banting ponselnya ke atas ranjang. Rasa nyeri merayap begitu cepat di dadanya setiap kali mendapat curhatan itu. Ingin rasanya ia mengumpat dan memaki lelaki yang sudah menyengsarakan Iridessa-nya. Kenapa lelaki itu begitu egois? Jika bisa memilih, tentu setiap perempuan ingin sehat dan normal. Ingin merasakan mengandung dan melahirkan.

 Setiap orang pasti akan menghadapi ujian dan masalah yang berbeda. Tapi seringnya, manusia tidak tahu dan tidak bisa memilih ujian seperti apa yang akan mereka hadapi. Seperti halnya dengan Irridessa—yang tidak pernah menduga jika miom sialan itu bersemayam di rahimnya dan membuatnya sulit memiliki keturunan. Membawanya ke dalam kondisi sulit dan terjepit sebagai menantu dari putra seorang Kiai besar. Dan Kiai besar itu tentu seperti orang tua yang lain, ingin tahu bagaimana rasanya menimang cucu.

Tanpa sadar, ia mengusap perutnya sendiri. Tak bisa ia bayangkan jika ia di posisi Iridessa. Ia tentu akan sangat dilema dan bingung sekali. Ah, dia mulai menyadari sesuatu. Tidakkah tadi ia berlebihan? Seharusnya tadi ia bisa memberi respon yang lebih baik. Respon yang menentramkan. Ia coba tarik napas dan meraih handphone itu lagi, lalu mengetikkan sebuah pesan.

Zaima Zoeya Maryam

(Nanti healing yuk. Jalan-jalan gitu sama shopping. Udah lama kan nggak ngemall bareng?)

Setelah itu ia letakkan kembali ponselnya di atas ranjang setelah mengecek beberapa pesan yang lain. Setengah jam lagi, tiba waktu dzuhur dan ia harus bersiap-siap ke kampus. Sebenarnya dia hanya ada satu jadwal kuliah—Semantic dengan Mr Retmono nanti bakda asar. Tapi dia sudah berjanji ikut rapat siang ini di SAEC untuk membahas acara EBT.

Zoeya, maksudnya Maryam, sempat mengamati wajahnya di depan kaca. Masih ada sisa-sisa sembab di sana. Ia kembali melenguh panjang. Pasti dia kelihatan menyedihkan tadi di depan lelaki tengik itu. Ya, dia memang menyedihkan bukan?  Dan demi apa dia masih memikirkan itu? Seharusnya dia masa bodoh saja. Seperti halnya saat dia melangkahkan kaki ke arah balkon untuk mengambil handuk, lalu mendapati seseorang sedang berjongkok di bawah sana. Di gang sempit yang juga sebagai jalan pintas menuju gedung pertemuan dan asrama putra. Gang itu jarang dilewati orang, jadi seringkali tampak sepi seperti saat ini.

Zoeya tertegun sejenak saat menyadari bahwa lelaki yang sedang berjongkok itu adalah lelaki yang menatapnya lekat di pesarean. Lelaki yang menyatakan cinta secara terang-terangan di halaman kemarin, dan lelaki yang secara kurang ajar masuk ke area privasinya. Dia … Salman Al-Farisi.

Salman ternyata benar-benar menjalankan takzirannya dengan baik. See, saat ini dia sedang memberi makan kucing kesayangannya dengan baik. Bagaimana ia menuangkan whiskas ke dalam stainless steel, juga menyiapkan wadah kecil berisi air berhasil menyita perhatian Zoeya. Hingga tak sadar kedua sudut bibirnya terangkat. Ia merasa takjub dengan keakraban duo Salman itu. Merasa geli juga melihat lelaki absurd seperti Salman mengelus-elus kucingnya penuh sayang.

“Pusss … empus … Pus apa yang bikin berkeringat?” tanya Salman mengajak komunikasi. Dan tentu saja kucing yang tengah makan dengan lahap itu tidak bisa menjawab. Kecuali dia kucing siluman.

“Push up. Hahaha.” Jawab-jawab sendiri. Ketawa-ketawa sendiri. Sinting emang.

“Pertanyaan selanjutnya. Kalau nggak bisa jawab, tak ubah ya nama kamu.”

Mendengar itu, Zoeya mengernyitkan dahi. Enak saja main ubah-ubah nama hewan peliharaan orang.

“Bayi… bayi apa yang dibakar?”

Kucing itu tetap diam. Hanya area keher dan punggungnya yang bergerak-gerak mengikuti aktivitas mengunyahnya.

“Bayigon… huahahaha.”

“Nggak lucu,” gerutu Zoeya, tapi ia masih betah berdiri di atas sana.

“Oke, karena nggak bisa jawab, namamu gue ganti Abu. Abu Abdullah. Itu juga nama lain Salman Al-Farisi kan? Biar kita juga nggak bingung kalau ada bidadari yang manggil. Oke?  Tos dulu dong, Bro.”

Zoeya geleng-geleng sambil tersenyum. Boleh juga Abu.

“Satu pertanyaan lagi nih.”

Hah? Lagi? Zoeya urung masuk ke dalam dan kembali menyimak.

“Buah, buah apa yang durhaka?”

“Melon kundang. Huahahaha.”

Zoeya terkikik lagi. Merasa terhibur dengan lelucon receh itu. Dasar sintiiiing … Emang sin … ting … dan senyum Zoeya mendadak surut. Tapi belum benar-benar surut saat kepala di bawah sana reflek mendongak ke arahnya. Membawa satu kesimpulan bahwa Salman tahu sejak tadi dia mengamatinya, bahkan ikut tertawa dengan lelucon-leluconnya. Benarkah? Apakah dia sedang tertangkap basah? Dan kenapa dia malah membalas senyum lelaki itu? Apa dia sudah ketularan sinting? Sadar, Zoeya … Sadar. Kamu tidak lupa dengan statusmu, kan, kalau kamu adalah Ratu keduanya Al-Amin? Bu Nyai Maryam?

“Micin … micin apa yang bikin deg-deggan?” Salman melemparkan pertanyaan lagi, dengan nada menggumam, tapi masih terdengar jelas oleh Nyai Maryam.

Nyai … ngapain kamu masih disitu? Kamu tidak sedang terbuai, kan?

“Micintaimu dengan sepenuh jiwa,” jawab Salman masih dengan mata terpaku pada bidadari di balkon sana.

Tidak … ini tidak benar. Dia tidak boleh menjadi bahan lelucon santri tak tahu diri itu lagi.

“Dasar gila,” geram Nyai Maryam sebelum berputar dan masuk ke dalam.

Setelah itu Salman merasa kesulitan menelan ludahnya sendiri. Kenapa, Salman? Apa ludahmu ada durinya? Tidak, dia hanya masih … terkejut. Dan merasa kaki-kakinya tidak menjejak bumi.

“Hey, Abu … gue tadi nggak salah lihat, kan? Majikanmu tersenyum, Abu. Maleficent ternyata bisa tersenyum,” ujarnya pada Abu dengan tersenyum lebar. Dan senyum itu bertambah lebar saat mendapat respon dari kembarannya. “Meooong…” Yang artinya kira-kira, “Wah, benarkah? Kalau begitu ini pertanda bahaya.”

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketum GP Ansor Minta Kader Turun ke Desa-Desa

    Ketum GP Ansor Minta Kader Turun ke Desa-Desa

    • calendar_month Ming, 4 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 223
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Addin Jauharuddin meminta seluruh kader Ansor dan Banser untuk turun ke desa-desa. Itu untuk merespon kondisi ekonomi nasional yang sedang tidak baik-baik saja. “Teruslah bergerak dan berjuang melakukan yang terbaik untuk organisasi. Turunlah ke desa-desa, ke masyarakat, bantulah mereka dengan perangkat kita, baik […]

  • Perkuat Pembelajaran Ke-NU-an, Ma'arif NU Jepara Gelar Workshop

    Perkuat Pembelajaran Ke-NU-an, Ma’arif NU Jepara Gelar Workshop

    • calendar_month Kam, 27 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 209
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.idJepara – Dalam rangka capacity building guru-guru ke- NU-an, LP. Ma’arif NU PCNU Jepara menggelar Workshop Penguatan Aswaja guru MI, MTs, MA, dan SMP se- Kecamatan Donorojo dan Kecamatan Keling. Kegiatan yang digelar di Gedung MWC NU Donorojo hari Selasa 25 Februari 2025 diikuti 70 guru Ke- NU- an di lingkungan LP Ma’arif NU […]

  • PCNU-PATI

    MWCNU Trangkil Bakal Gelar Bazar, Berikut Jadwal dan Lokasinya

    • calendar_month Sel, 14 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 159
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id- TRANGKIL – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Trangkil bakal menggelar bazar menjelang bulan suci Ramadhan. Manajer Bazar, Ahmad Mufid menyampakan kegiatan diprakarsai oleh Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Trangkil bekerja sama dengan PAC Fatayat NU Trangkil. “Kegiatan ini sebagai langkah awal memfasilitasi dan memasarkan produk dari anggota, serta sarana memperoleh dana pemasukan […]

  • PCNU-PATI

    KKN IPMAFA Membekali Pelatihan Tanaman Toga di Desa Kadilangu

    • calendar_month Rab, 23 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Pcnupati.or,id- Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) – Dalam rangka mengsukseskan program kerja, KKN Hypatia melaksanakan Sosialisasi Pentingnya Tanaman Toga sekaligus Simulasi Penanaman Tanaman Toga di Desa Kadilangu. (Selasa, 22/8/23) Dalam acara tersebut Tim KKN menghadirkan pemateri Siswanto, S. sos., M.A yang merupakan Dosen Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI). Beliau menjelaskan bahwasannya “Tanaman Toga adalah […]

  • PCNU-PATI

    Pengelolaan Limbah PG Trangkil Sudah Sesuai dengan Prosedur Perizinan

    • calendar_month Sen, 12 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 196
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Isu pencemaran lingkungan di tengah-tengah masyarakat menjadi polemik terhadap perusahaan, hal ini tentunya dari perusahaan bisa mengklarifikasi dan memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar, agar isu pencemaran lingkungan tidak semakin melebar luas. Pada kesempatan kali ini, Mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) IPMAFA melakukan kuliah lapangan di PG Trangkil Pati. Sabtu, 10/06/2023. […]

  • PCNU-PATI Photo by Andrei Slobtsov

    Bagai Pungguk Menjerat Bulan Part 4

    • calendar_month Ming, 30 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin “Salmaaan … come on. Kamu ngapain sih?” Fix, suara itu semakin membuat Salman ge-er. Ditambah provokasi dari sana sini membuatnya ingin mengangkat pantat dan memenuhi panggilan itu sesegera mungkin. Tapi ia sempat ragu saat meneliti ekspresi wajah para pengurus bagian keamanan, Kang Frans, Kang Husni, dan Kang Rif’al. Ada senyum berbau […]

expand_less