Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Lebaran adalah Awal!

Lebaran adalah Awal!

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 20 Mar 2026
  • visibility 10.712
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Banyak orang beranggapan Lebaran Idulfitri adalah Hari Kemenangan dan akhir dari Ramadan. Nah, ini sih pandangan umum, padahal sing bener dudu ngunu kuwi. Bahkan, Lebaran dan Idulfitri itu berbeda. Apa perbedaannya? Lebaran bisa didapatkan semua orang termasuk orang yang tak berpuasa, ini wilayahnya adalah budaya dan sosial. Jika Idulfitri, tak semua orang mendapatkannya, karena hakikatnya ini adalah ke fitrah, suci, dan tidak semua orang berpuasa mencapai derajata itu.

 

Realitasnya, banyak orang menilai kewajiban spiritual telah usai. Ya, mereka memaknai puasa berakhir, tarawih ditutup, witir tamat, tadarus pension, dan rutinitas ibadah kembali seperti biasa. Kembali ke setelan pabrik. Akan tetapi, ketika ditelaah secara mendalam, Idulfitri hakikatnya bukan garis akhir, namun titik awal bagi perjalanan spiritual yang baru.

 

Ramadan laiknya proses pembaruan diri. Sedangkan Lebaran merupakan peluncuran kembali manusia dengan kualitas spiritual yang diperbarui. Ramadan dalam bahasa manajemen modern merupakan proses upgrading. Sementara Lebaran merupakan fase implementasi dari sistem nilai yang telah diperbarui itu.

 

Fitri: Kembali ke Suci

Konsep ini secara teologis merujuk pada makna dasar Idulfitri yang merujuk pada kata fitrah. Apa itu fitrah? Yaitu keadaan asli manusia yang bersih dan cenderung kepada kebenaran. Prinsip tersebut dijelaskan dalam firman Allah Swt melalui Al-Qur’an QS. Ar-Rum ayat 30:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ۝٣٠

 

Artinya: “Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30).

 

Ayat ini menegaskan manusia diciptakan sesuai dengan fitrah Ilahi. Dalam Tafsir Al-Misbah, Prof Dr KH M. Quraish Shihab menyatakan fitrah adalah potensi dasar manusia dalam menerima kebenaran dan kebaikan. Melalui hal tersebut, kembali ke fitrah tidak berarti kembali ke masa lalu dengan pasif, namun mengawali perjalanan baru lewat kesadaran moral lebih jernih. Pada manusia modern yang dipenuhi arus informasi, mbalik ning fitrah bisa diterjemahkan sebagai upaya membersihkan kesadaran dari polusi kemunafikan, kebencian, hoaks, syirik, dan egoisme yang merusak kualitas kehidupan sosial bermasyarakat.

 

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim No. 860).

 

Maghfirah (pengampunan) ini bisa dimaknai sebagai pemberian modal spiritual baru bagi manusia. Modal dalam perspektif ekonomi tak dikasihkan untuk disimpan tanpa aktivitas, namun harus diolah agar menghasilkan nilai yang lebih besar. Logika seperti ini bisa dijelaskan lewata teori modal dalam buku karya Thomas Piketty bertajuk Capital in the Twenty-First Century (2014) yang menyatakan modal akan berkembang ketika terus diputar dalam aktivitas yang produktif. Hal sama pada ampunan di hari Lebaran Idulfitri tak hanya menjadi simbol religius, namun merupakan energi spiritual yang wajib diinvestasikan dalam amal kebajikan usai Ramadan.

 

Konsep Lebaran Idulfitri dalam khazanah literatur Islam, bahwa Lebaran merupakan awal perjalanan. Ada ungkapan hikmah dari Ibnu Rajab berkata.

لَيْسَ الْعِيْدُ مَنْ لَبِسَ الْجَدِيدَ وَلكِنَّ الْعِيْدَ مَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ

Artinya: (Hakikat) Idul Fitri bukan bagi orang-orang yang hanya mengandalkan) pakaian baru Tetapi, (hakikat) Idul Fitri itu bagi orang-orang yang bertambah ketaatannya

 

Ramadan Selamanya?

Pesan moral ini menegaskan makna Idulfitri tidak terletak pada simbol sosial (baju baru, gawai baru, kerudung baru, sepatu baru, mobil baru), tetapi pada transformasi moral yang berkelanjutan. Dalam kitab Irsyadul ‘Ibad, Zainuddin al-Malibari berpandangan tanda diterimanya ibadah seorang yaitu munculnya istikamah usai Ramadan. Ketika perubahan moral stop, mandek, alias tak berlanjut, maka Idulfitri sekadar menjadi peristiwa seremonial tanpa dampak transformasional yang serius.

 

Dalam Kitab Tafsir Marah Labid Li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an Majid  (Jilid I) dan (Jilid II), Syekh Nawawi al-Bantani menyebut Idulfitri sebagai Yaumul Jaa-izah, yaitu hari pembagian hadiah dari Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya yang telah menjalani latihan spiritual saat bulan suci Ramadan. Hadiah dalam logika edukasi diberikan dalam rangka mendorong peningkatan motivasi belajar dan belajar. Artinya, ampunan dan keberkahan di hari Lebaran merupakan hadiah spiritual yang selaiknya memotivasi umat Islam meningkatkan kualitas ibadah dan akhlaknya pada masa usai Ramadan.

 

Ramadan ketika dilihat dari perspektif psikologi modern hakikatnya bisa dimaknai sebagai proses pembentukan kebiasaan baru (new habit). Tindakan manusia dalam teori habit formation bisa berubah lewat latihan berulang dalam jangka waktu tertentu. Dalam buku karya Maxwell Maltz bertajuk Psycho-Cybernetics (2001) menyatakan perubahan perilaku membutuhkan periode latihan yang istikamah (konsisten) sampai pola baru terbentuk dalam sistem psikologis seorang individu. Selama sekitar tiga puluh hari, Ramadan memfasilitasi ruang latihan intens dalam rangka membangun kedisiplinan, empati sosial, pengendalian diri melalui puasa, infak, sedekah, dan bentuk ibadah yang lain.

 

Uniknya, makna simbolik ini tercermin dalam nama bulan usai Ramadan, yaitu Syawal. Idiom Syawal secara etimologis dari akar kata yang bermakna meningkat / terangkat. Artinya, penamaan nomenklatur ini memberikan makna simbolik bahwa usai Ramadan, kualitas spiritual umat manusia selaiknya terjadi peningkatan, bukan penurunan drastis. Maka puasa enam hari saat bulan Syawal dipahami sebagai kelanjutan latihan spiritual yang menjaga momentum Ramadan agar tak mandek jegreg alias berhenti begitu saja.

 

Di akhir tulisan saya ini, intinya Idulfitri hakikatnya merupakan “awal dari perjalanan panjang” untuk menjadi muslim dan muslimat lebih baik. Sejatinya, kemenangan hakikat tidak saat seorang muslim berhasil menuntaskan puasa Ramadan secara kuantitatif, namun saat mereka bisa mempertahankan spirit Ramadan dalam seluruh dimensi kehidupan usai Ramadan berlalu. Lebaran Idulfitri harus menjadi titik awal bagi lahirnya manusia baru lebih jujur, adil, bertanggung jawab, egaliter, sederhana, juga lebih disiplin, dan lebih peduli terhadap sesama manusia.

 

Dalam pandangan spiritual maupun ilmiah, transformasi inil menjadi tujuan sejati dari perjalanan Ramadan. Lalu, apakah Anda memilih Lebaran Idulfitri sebagai awal atau akhir? Ya, karepem dewe, Bro!

 

Sing penting sak iki, mohon maaf lahir dan batin. Sampai ketemu di Ramadan 1448 H tahun 2027 mendatang di pcnupati.or.id. Oke!

 

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Takbir Keliling Mini Semarakkan Malam Idul Adha di Gembong

    Takbir Keliling Mini Semarakkan Malam Idul Adha di Gembong

    • calendar_month Sab, 10 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 500
    • 0Komentar

    GEMBONG-Jalan Raya Pati Gembong Km. 13 Ngembes mengalami kemacetan. Hal ini dikarenakan ratusan orang turun ke jalan utama yang menghubungkan Pati, Gembong dan Muria tersebut. Beberapa kendaraan terpaksa berjalan pelan mengikuti alur masyarakat yang tumplek blek di jalan. Bahkan saking padatnya, beberapa personil kepolisian juga diterjunkan untuk mengatur lalu lintas. Peserta takbir keliling mini Dukuh […]

  • Ramadhan Berbagi, MAN 1 Pati Bagikan 300 Takjil dan Berikan Santunan Puluhan Anak Yatim

    Ramadhan Berbagi, MAN 1 Pati Bagikan 300 Takjil dan Berikan Santunan Puluhan Anak Yatim

    • calendar_month Sab, 15 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 590
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id- Dalam momen bulan Ramadhan 1446 Hijriyah MAN 1 Pati kembali melaksanakan kegiatan sosial pada Jumat, (14/3/2025). Kegiatan diisi dengan pembagian 300 takjil dan dilanjutkan pemberian santunan bagi anak yatim/piatu. Kegiatan dimulai dengan membagikan sekitar 300 takjil bagi pengguna jalan yang melintasi jalan Alun-alun Pati. Terlihat masyarakat sangat antusias untuk dapat menerima takjil. Tak […]

  • LPM Terma STAI Pati Terbitkan Majalah Tentang Kekerasan Seksual

    LPM Terma STAI Pati Terbitkan Majalah Tentang Kekerasan Seksual

    • calendar_month Sen, 30 Des 2024
    • account_circle admin
    • visibility 592
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Teropong Mahasiswa (Terma), Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati, meluncurkan majalah edisi ke-7 yang membahas tentang kekerasan seksual. Peluncuran Majalah Terma ini digelar bersamaan dengan seminar antikekerasan seksual yang berlangsung di Gedung A STAI Pati, Minggu (29/12/24). Turut hadir dalam acara tersebut, Waka II STAI Pati, Abd Aziz, Pembina […]

  • Ketua PCNU Dukung Agenda Pengesahan Pelatih Pagar Nusa

    Ketua PCNU Dukung Agenda Pengesahan Pelatih Pagar Nusa

    • calendar_month Kam, 12 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 383
    • 0Komentar

    WINONG-Silaturrahim merupakan salah satu kebiasaan yang identik dengan umat islam khususnya warga NU. Tak terkecuali, para pendekar Pagar Nusa (PN) Pati yang selalu membudayakan kunjungan. Rabu (11/9) malam, rombongan Pengurus Cabang PN mengunjungi kediaman ketua PCNU Pati, K. Yusuf Hasyim, M.S.i. di Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Rombongan yang dipimpin langsung oleh ketua Pagar Nusa pati, […]

  • Hasil Survei: Kbijakan Kenaikan PBB Mengabaikan Prinsip Keadilan Sosial

    Hasil Survei: Kebijakan Kenaikan PBB Mengabaikan Prinsip Keadilan Sosial

    • calendar_month Jum, 18 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 716
    • 0Komentar

    pcnupati.com “98% responden menyatakan bahwa kebijakan Bupati terkait kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tidak mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat serta mengabaikan prinsip keadilan sosial.” Demikin salah satu temuan dari hasil survei yang dilakukan oleh Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam IPMAFA Pati terhadap Kebijakan Kenaikan PBB pada Perbup No. 8 2025. “Temuan di atas, harus menjadi […]

  • PCNU-PATI

    Sekolah sebagai Taman

    • calendar_month Sab, 10 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 544
    • 0Komentar

    Sekolah, bukanlah dan tak boleh menjadi ‘menara gading’. Begitulah kira-kira maunya seorang filsuf Spanyol, Jose Ortega y Gasset, yang kemudian menjadi ungkapan populer. Orang tahu apa yang dimaksudnya. Sebagai suatu lembaga yang berkaitan erat dengan hajat hidup orang banyak, dengan impian-impian terbaik bagi masa depan mereka, tentu saja, sekolah tak boleh menjadi terasing dan atau […]

expand_less