Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Lebaran adalah Awal!

Lebaran adalah Awal!

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 20 Mar 2026
  • visibility 10.215
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Banyak orang beranggapan Lebaran Idulfitri adalah Hari Kemenangan dan akhir dari Ramadan. Nah, ini sih pandangan umum, padahal sing bener dudu ngunu kuwi. Bahkan, Lebaran dan Idulfitri itu berbeda. Apa perbedaannya? Lebaran bisa didapatkan semua orang termasuk orang yang tak berpuasa, ini wilayahnya adalah budaya dan sosial. Jika Idulfitri, tak semua orang mendapatkannya, karena hakikatnya ini adalah ke fitrah, suci, dan tidak semua orang berpuasa mencapai derajata itu.

 

Realitasnya, banyak orang menilai kewajiban spiritual telah usai. Ya, mereka memaknai puasa berakhir, tarawih ditutup, witir tamat, tadarus pension, dan rutinitas ibadah kembali seperti biasa. Kembali ke setelan pabrik. Akan tetapi, ketika ditelaah secara mendalam, Idulfitri hakikatnya bukan garis akhir, namun titik awal bagi perjalanan spiritual yang baru.

 

Ramadan laiknya proses pembaruan diri. Sedangkan Lebaran merupakan peluncuran kembali manusia dengan kualitas spiritual yang diperbarui. Ramadan dalam bahasa manajemen modern merupakan proses upgrading. Sementara Lebaran merupakan fase implementasi dari sistem nilai yang telah diperbarui itu.

 

Fitri: Kembali ke Suci

Konsep ini secara teologis merujuk pada makna dasar Idulfitri yang merujuk pada kata fitrah. Apa itu fitrah? Yaitu keadaan asli manusia yang bersih dan cenderung kepada kebenaran. Prinsip tersebut dijelaskan dalam firman Allah Swt melalui Al-Qur’an QS. Ar-Rum ayat 30:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ۝٣٠

 

Artinya: “Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30).

 

Ayat ini menegaskan manusia diciptakan sesuai dengan fitrah Ilahi. Dalam Tafsir Al-Misbah, Prof Dr KH M. Quraish Shihab menyatakan fitrah adalah potensi dasar manusia dalam menerima kebenaran dan kebaikan. Melalui hal tersebut, kembali ke fitrah tidak berarti kembali ke masa lalu dengan pasif, namun mengawali perjalanan baru lewat kesadaran moral lebih jernih. Pada manusia modern yang dipenuhi arus informasi, mbalik ning fitrah bisa diterjemahkan sebagai upaya membersihkan kesadaran dari polusi kemunafikan, kebencian, hoaks, syirik, dan egoisme yang merusak kualitas kehidupan sosial bermasyarakat.

 

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim No. 860).

 

Maghfirah (pengampunan) ini bisa dimaknai sebagai pemberian modal spiritual baru bagi manusia. Modal dalam perspektif ekonomi tak dikasihkan untuk disimpan tanpa aktivitas, namun harus diolah agar menghasilkan nilai yang lebih besar. Logika seperti ini bisa dijelaskan lewata teori modal dalam buku karya Thomas Piketty bertajuk Capital in the Twenty-First Century (2014) yang menyatakan modal akan berkembang ketika terus diputar dalam aktivitas yang produktif. Hal sama pada ampunan di hari Lebaran Idulfitri tak hanya menjadi simbol religius, namun merupakan energi spiritual yang wajib diinvestasikan dalam amal kebajikan usai Ramadan.

 

Konsep Lebaran Idulfitri dalam khazanah literatur Islam, bahwa Lebaran merupakan awal perjalanan. Ada ungkapan hikmah dari Ibnu Rajab berkata.

لَيْسَ الْعِيْدُ مَنْ لَبِسَ الْجَدِيدَ وَلكِنَّ الْعِيْدَ مَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ

Artinya: (Hakikat) Idul Fitri bukan bagi orang-orang yang hanya mengandalkan) pakaian baru Tetapi, (hakikat) Idul Fitri itu bagi orang-orang yang bertambah ketaatannya

 

Ramadan Selamanya?

Pesan moral ini menegaskan makna Idulfitri tidak terletak pada simbol sosial (baju baru, gawai baru, kerudung baru, sepatu baru, mobil baru), tetapi pada transformasi moral yang berkelanjutan. Dalam kitab Irsyadul ‘Ibad, Zainuddin al-Malibari berpandangan tanda diterimanya ibadah seorang yaitu munculnya istikamah usai Ramadan. Ketika perubahan moral stop, mandek, alias tak berlanjut, maka Idulfitri sekadar menjadi peristiwa seremonial tanpa dampak transformasional yang serius.

 

Dalam Kitab Tafsir Marah Labid Li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an Majid  (Jilid I) dan (Jilid II), Syekh Nawawi al-Bantani menyebut Idulfitri sebagai Yaumul Jaa-izah, yaitu hari pembagian hadiah dari Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya yang telah menjalani latihan spiritual saat bulan suci Ramadan. Hadiah dalam logika edukasi diberikan dalam rangka mendorong peningkatan motivasi belajar dan belajar. Artinya, ampunan dan keberkahan di hari Lebaran merupakan hadiah spiritual yang selaiknya memotivasi umat Islam meningkatkan kualitas ibadah dan akhlaknya pada masa usai Ramadan.

 

Ramadan ketika dilihat dari perspektif psikologi modern hakikatnya bisa dimaknai sebagai proses pembentukan kebiasaan baru (new habit). Tindakan manusia dalam teori habit formation bisa berubah lewat latihan berulang dalam jangka waktu tertentu. Dalam buku karya Maxwell Maltz bertajuk Psycho-Cybernetics (2001) menyatakan perubahan perilaku membutuhkan periode latihan yang istikamah (konsisten) sampai pola baru terbentuk dalam sistem psikologis seorang individu. Selama sekitar tiga puluh hari, Ramadan memfasilitasi ruang latihan intens dalam rangka membangun kedisiplinan, empati sosial, pengendalian diri melalui puasa, infak, sedekah, dan bentuk ibadah yang lain.

 

Uniknya, makna simbolik ini tercermin dalam nama bulan usai Ramadan, yaitu Syawal. Idiom Syawal secara etimologis dari akar kata yang bermakna meningkat / terangkat. Artinya, penamaan nomenklatur ini memberikan makna simbolik bahwa usai Ramadan, kualitas spiritual umat manusia selaiknya terjadi peningkatan, bukan penurunan drastis. Maka puasa enam hari saat bulan Syawal dipahami sebagai kelanjutan latihan spiritual yang menjaga momentum Ramadan agar tak mandek jegreg alias berhenti begitu saja.

 

Di akhir tulisan saya ini, intinya Idulfitri hakikatnya merupakan “awal dari perjalanan panjang” untuk menjadi muslim dan muslimat lebih baik. Sejatinya, kemenangan hakikat tidak saat seorang muslim berhasil menuntaskan puasa Ramadan secara kuantitatif, namun saat mereka bisa mempertahankan spirit Ramadan dalam seluruh dimensi kehidupan usai Ramadan berlalu. Lebaran Idulfitri harus menjadi titik awal bagi lahirnya manusia baru lebih jujur, adil, bertanggung jawab, egaliter, sederhana, juga lebih disiplin, dan lebih peduli terhadap sesama manusia.

 

Dalam pandangan spiritual maupun ilmiah, transformasi inil menjadi tujuan sejati dari perjalanan Ramadan. Lalu, apakah Anda memilih Lebaran Idulfitri sebagai awal atau akhir? Ya, karepem dewe, Bro!

 

Sing penting sak iki, mohon maaf lahir dan batin. Sampai ketemu di Ramadan 1448 H tahun 2027 mendatang di pcnupati.or.id. Oke!

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gambar Ucapan Selamat Harlah Ke-94 NU

    Gambar Ucapan Selamat Harlah Ke-94 NU

    • calendar_month Kam, 30 Jan 2020
    • account_circle admin
    • visibility 433
    • 0Komentar

    Besok, 31 Januari 2020, Nahdlatul Ulama genap berusia 94 tahun, menurut penghitungan kalender masehi. Untuk menyemarakkan peringatan hari lahir NU tersebut, admin NU Pati, telah mendesain beberapa gambar ucapan selamat Harlah ke-94 Nahdlatul Ulama. Gambar ucapan Harlah Ke-94 Nahdlatul Ulama tersebut dapat diunduh gratis untuk kemudian diposting dan dikirimkan melalui media sosial semisal facebook, instagram, […]

  • PCNU-PATI

    Perkuat Relasi Belajar Menyusun AMDAL di DLH Pati

    • calendar_month Sab, 27 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 217
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Segenap Mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati melakukan studi lapangan atau kuliah lapangan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pati. Jumat, 26 Mei 2023. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kuliah lapangan, dimana diadakannya studi kunjungan ini tidak lain adalah untuk menambah jam terbang mahasiswa dan menambah pengetahuan mahasiswa […]

  • PCNU- PATI

    Mak Ngasimah

    • calendar_month Ming, 14 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 270
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin Aku Maolan bin Margo lahir tanggal 3 September 1942. Tahun dimana penjajahan masih merajalela di Indonesia. Bapakku Margo bin Jasmo desa Asempapan kecamatan Wedarijaksa yang sekarang Trangkil. Emakku Ngasimah Binti Rasmo Sirah dari dukuh Centhong desa Purwodadi kecamatan Margoyoso. Emakku orang bodoh, tidak pernah mengenyam bangku sekolah maupun mengaji. Maka aku […]

  • Mojo Bersholawat dalam Rangka Sedekah Bumi

    Mojo Bersholawat dalam Rangka Sedekah Bumi

    • calendar_month Rab, 31 Agu 2016
    • account_circle admin
    • visibility 300
    • 0Komentar

    Pati. Perangkat Desa Mojo berkerjasama dengan Pengurus NU Ranting Mojo Cluwak Pati, Ansor, Banser, Fatayat, Muslimat dan Pemuda Dermo Wongsho mengadakan Sholawat bersama yang bertempat di Balai Desa Mojo,  19/8 kemarin.             “Acara sholawatan bersama di daerah kami memang belum populer akan tetapi kami akan terus berusaha mengadakannya sedikit demi sedikit, ini adalah kali pertama […]

  • PCNU - PATI Photo by Mufid Majnun

    Santri Pemalas Termasuk `Uqûq al-Walidaini.

    • calendar_month Jum, 24 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 257
    • 0Komentar

    Seorang santri ketika berangkat ke Pondok Pesantren oleh orang tuanya dipesan untuk seregep (giat) mengaji dan giat muthôla`ah, akan tetapi santri tersebut ketika di Pondok Pesantren termasuk malas ngaji dan muthôla`ah, seandainya orang tuanya tahu, tentu saja akan merasa prihatin dan marah. Pertanyaan : Jika suatu saat di Pondok Pesantren santri tersebut malas (jarang mengaji […]

  • Nabi Muhammad dan Sebutir Delima

    Nabi Muhammad dan Sebutir Delima

    • calendar_month Jum, 9 Mei 2014
    • account_circle admin
    • visibility 279
    • 0Komentar

    PCNU Kab. Pati Dikisahkan, suatu ketika Siti Khadijah r.a. meminta tolong Nabi Muhammad saw. untuk membelikannya buah delima. Ketika itu kebetulan, belum masuk musim buah delima.  Dengan susah payah, Nabi Muhammad saw. berhasil mendapatkan sebutir buah delima. Buah itu pun dibelinya dengan harga yang mahal. Setelah itu, Nabi bergegas pulang. Di tengah jalan, ia menjumpai […]

expand_less