Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Bidadari Berlampu

Bidadari Berlampu

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 19 Mar 2023
  • visibility 176
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

Setelah menarik napas melalui hidung dan menghembuskannya lewat mulut sebanyak tiga kali, Shanaya memberanikan diri mengucapkan sebuah “assalamu’alaikum” yang lirih dan sedikit serak sambil mengetuk pintu dengan halus.

 Ia pandang lagi tulisan besar “Ruang Dekan” di atas pintu itu dengan perasaan was-was. Benang kusut di kepalanya bertambah kusut akibat insiden salah kirim pesan beberapa saat yang lalu. Benaknya diliputi kegelisahan. Wajah Juan yang bersungut-sungut dan Nikhil yang tertawa mengejek menari-nari di pelupuk matanya. Ia harap bayang wajah kedua lelaki itu hilang dan tenggelam ke dasar bumi seperti handphone yang ia coba benamkan ke dalam tas.

“Wa’alaikumsalam … silahkan masuk!” sebuah suara membuat degup dalam dada Shanaya semakin kencang. Hati-hati ia dorong handle pintu flush berwarna hitam kelam. Dengan segera ujung-ujung jarinya terasa dingin dan kedua kakinya serasa gemetaran.

Tanpa Shanaya mendongak, ia tahu dua pasang mata itu sedang membidiknya.

“Selamat siang, Bu Twiena,” sapanya sambil membungkuk hormat dengan suara yang teramat lirih.

“Siang. Silahkan duduk.”

Hanya selarik kalimat, tapi sukses membuat Shanaya semakin mengerut. Seolah dia sudah bisa meraba kalimat apa yang akan terlontar selanjutnya. Cara bicara perempuan bergelar Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Sultan Hasanudin itu memang selalu ringkas, tegas dan lugas. Gesturenya tenang tapi selalu mampu membuat orang sungkan dan ketakutan. Mungkin karena jarang tersenyum dan selalu bicara secukupnya. Mungkin juga karena jabatan dan ilmu yang dimilikinya. Setiap berhadapan dengan dosennya satu ini, Shanaya selalu teringat dengan Professor Minerva Mcgonagall, salah satu penyihir terkuat yang ada di Hogwarts—yang juga menjabat sebagai wakil kepala sekolah sekaligus penanggung jawab asrama Gryffindor.

“Mbak Shanaya, kecerobohanmu hampir mencelakakan kami semua,” ujarnya setelah saling berbasa basi secukupnya.

“Maafkan saya, Bu. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”

“Tadi pagi saya baru saja menjenguk Bu Kurniasih ke rumah sakit dan mewakili kampus untuk meminta maaf pada keluarganya. Untung saja pasienmu itu bisa mentas dari masa kritis. Coba kalau tidak?”

Bu Twiena memijit pelipisnya. Helaan napasnya terdengar berat. Membuat pita suara Shanaya seperti tercekik. Semua kalimat yang ia rangkai tadi seketika ambyar semua.

“Jangan sampai salah jurusan ya, Mbak. Orang kesehatan harus sadar bahwa hidupnya sepenuhnya didedikasikan untuk menolong orang. Jangan pernah mikir dapat apa, dapat uang berapa. Semua kepentingan pribadi harus dikesampingkan. Coba dalami lagi jiwa Florence Nightingale-nya.”

Hampir mirip dengan nasehat dari Bidan Eko. Tapi cara penyampaian Bu Twiena memang selalu lebih tajam. Sepertinya baru kali ini Shanaya mendengar Bu Twiena berbicara panjang lebar.

Shanaya sangat menyesal tak pernah belajar dengan baik selama kuliah. Mungkin ia memang salah jurusan. Selama ini hidupnya bukan didedikasikan untuk menolong orang, melainkan untuk kekasihnya, Juan. Tapi kali ini Shanaya berjanji akan belajar lebih serius dan menanamkan jiwa Florence Nightingale dalam dirinya.

Florence Nightingale adalah pelopor perawat modern, penulis dan ahli statistik. Ia dikenal dengan nama Bidadari Berlampu atas jasanya yang tanpa kenal takut mengumpulkan korban perang pada perang Krimea di semenanjung Krimea, Rusia. Ia juga mendapat julukan “Wanita Pembawa Pelita” dari orang-orang di medan perang. Sedangkan Hendry Dunant menjulukinya sebagai pelopor pertama Palang Merah. Nightingale menginspirasi bahwa hidup akan bermakna jika melakukan sesuatu untuk orang lain.

Shanaya kembali mengingat cerita sejarah tentang Florence Nightingale dalam sebuah buku yang pernah ia baca. Mungkin karena ia tak begitu suka buku non-fiksi hingga kurang merasuk ke dalam jiwa saat membacanya. Ia lebih suka buku berbau fiksi seperti novel. Ia baru sadar jika ia mirip Florence—setidaknya di kategori tak hanya sebagai tenaga medis tapi juga seorang penulis. Perbedaan terbesar adalah Florence di jalan yang lurus, sedangkan Shanaya di jalan yang melenceng.

“Iya, Bu sekali lagi maafkan saya, Bu, Hukum saya apa saja asal tidak di DO, Bu.”

Hati Shanaya melolong-lolong, berharap kesalahannya akan dimaafkan dan Bu Twiena mau berbaik hati untuk tidak menghukum atau men-DO-nya

 “Siapa yang bilang kamu di-DO?” 

Kalimat Bu Twiena membuat wajah Shanaya sedikit mendongak. Ada perasaan lega yang langsung menyambutnya. Tapi perasaan lega itu sekonyong-konyong sirna. Harapan Shanaya tidak terkabul begitu saja. Sebab Bu Twiena sudah menyiapkan ganjaran yang pantas untuknya. Meskipun tidak lebih berat dari DO, tapi tetap saja ini bukan hukuman sepele.

“Masa PKL saya tambah satu semester lagi ya.”

Seperti ada sebuah palu yang diketok tiga kali di atas meja hakim. Shanaya tak mungkin menyanggah meski hatinya menjerit-jerti pilu. Nyalinya ciut dan wajahnya sepucat mayat.

 What? Satu semester lagi? Bisa sampai beruban itu rambut.

“Baik, Bu. Terimakasih, Bu. Terimakasih atas kemurahan hati jenengan.”

Kemurahan hati gundulmu!

Berteriaklah, jika kamu ingin berteriak, Sufu Shanaya!

Lepaskan semua beban yang menindih jiwa!

“AAAAAAAAaaaaaaaa ….”

Shanaya berteriak sekuat tenaga hingga tenggorokannya sakit saat sudah berhasil menapakkan kaki di area parkir. Satu semester bukanlah waktu yang sedikit. Ini saja baru setengah perjalanan ia arungi, mengabdi di RB milik Bidan Eko. Dan harus ditambah enam bulan lagi? Itu berarti ia harus rela dijuluki mahasiswa PKL lumutan.

“It’s Ok, Shanaya all is well. All is well. Nggak apa-apa satu semester lagi. Itung-itung nambah ilmu dan pengalaman. Ye, kan?” hiburnya pada diri sendiri sambil mengatur napas.

Satu urusan sudah terlalui. Shanaya cukup menyiapkan mental selanjutnya untuk menghadapi urusan berikutnya. Ia harus ke rumah sakit untuk meminta maaf secara langsung pada Bu Kurniasih dan keluarganya. Beruntung rumah sakit sebagai lab school fakultasnya berada satu komplek dengan kampus. Ia hanya perlu menaiki motor bebeknya mengitari area kampus untuk sampai ke rumah sakit.

Segera ia pakirkan motornya di area parkir dekat Eye Center. Ia paksa langkah beratnya menuju bangsal VIP di mana Bu Kurniasih di rawat. Ia tahan rasa lapar yang datang mendera. Kali ini ia tak mau menunda-nunda. Meski sudah terus-terusan menggumamkan mantra di film 3 Idiots “All is Well” tetap saja Shanaya grogi tak keruan. Ketakutan itu semakin besar ketika sudah berada di lorong bangsal Ibnu Sina. Ia baru sadar sudah terlalu nekat dengan datang sendirian.

“Shanaya … goblok banget sih kamu.”

Shanaya menghentikan langkahnya. Ujung sepatunya seperti mencengkeram lantai rumah sakit.  Ia seperti patung di tengah-tengah para pembesuk yang sedang berlalu lalang. Ia meraup mukanya gelisah, sambil memutar otak mencari sebuah nama yang sekiranya bisa ia mintai pertolongan. Detik kemudian, pasang matanya berubah seperti lampu pijar ketika nama itu terlintas. Magda.

“Ah, kenapa nggak dari tadi sih nelpon tuh anak. Bukannya dia PKL-nya disini ya?” racau Shanaya sambil merogoh handphone-nya. Lalu bergerak cepat menelepon sahabatnya.

“Halo, Bestiiiii … gimana kabar?”

“Da … dimana?”

“Di rumah sakit lah.”

“Bisa ketemu sekarang nggak? Genting nih!” Shanaya menggigit-gigit kukunya.

“Duh, maaf banget ya … ini lagi dapat pasien. Aku nggak bisa ninggalin meski baru pembukaan satu. Ibunya udah kesakitan mulu.”

“Oh,” jawab Shanaya lesu. Entah kenapa Magda seperti menyindirnya.

“Genting ada apa sih?”

“Nggak sih nggak genting amat. Lebih genting pasien kamu. Kamu beneran jangan ninggalin pasiennya ya. Ntar nyesel,” ujar Shanaya sebelum memutus sambungan telepon. Ia coba membesarkan hati saat menilik papan notifikasi. Juan dan Ayah seperti berlomba mengirimi pesan untuknya. Dengan ragu ia tekan icon telepon pada kontak Juan untuk menghubungi lelaki itu. Ia pikir tak ada salahnya meminta bantuan kekasihnya sekalian meluruskan kesalahpahaman.

“Halo, Cinta kok baru nelpon sih?” sapa Juan dengan nada gusar begitu telepon terhubung.

“Maaf, Cinta masalahku rumit banget ini. Aku ….”

“Apa maksudmu pernikahan dadakan di pesan tadi?” sambar Juan. Lelaki itu dengan serta merta memotong kalimat Shanaya.

“Itu aku … salah kirim.”

“Salah kirim gimana? Siapa yang nikah? Jangan ngaco kamu!” Suara Juan terdengar mengintimidasi.

“Ceritanya panjang, Cinta. Kamu bisa tolongin aku dulu nggak? Ketemuan yuk nanti aku jelasin,” bujuk Shanaya dengan nada memelas.

“Ya udah aku tunggu. Kamu segera kesini.” Alih-alih menuruti permintaan Shanaya, lelaki itu justru menyuruh kekasihnya yang datang.

“Nggak bisa, Cinta. Aku sedang di rumah sakit.”

“Hah? Ngapain?”

“Ada urusan penting. Kamu bisa nggak nemenin aku?”

“Aku juga ada urusan penting ini. Aku udah janji sama fans, live serempat jam lagi.  Udah, kamu segera ke kos aja!” Sambungan telepon terputus secara sepihak. Juan menutup teleponnya. Shanaya menatap layar ponselnya dengan sorot kecewa dan mulut menganga. Kaca-kaca di matanya hampir tumpah. Ia tak percaya bisa cinta mati dengan lelaki itu.

Tanpa Shanaya sadari satu tetes air jatuh dari tengah netranya. Segera ia usap cepat sambil meneguhkan hati. Bersamaan dengan itu sebuah suara tiba-tiba muncul mengejutkannya.

 “Shanaya?”

Shanaya menoleh dan tak menyangka bisa bertemu dengan lelaki itu di rumah sakit ini. Apa dunia memang benar-benar berubah sempit dan tak selebar daun kelor?

“Alien?”

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hasil-Hasil Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama

    Hasil-Hasil Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama

    • calendar_month Rab, 21 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 239
    • 0Komentar

    Isi beserta uraian perincian sebagaimana dimaksud oleh keputusan ini terdapat dalam naskah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama beserta Muqaddimah al-Qanunil Asasy sebagai pedoman untuk melaksanakan tata organisasi dalam mencapai tujuan dan cita-cita Nahdlatul Ulama;

  • 4 Hal yang Harus Kita Lawan Agar Diri Kita Semakin Berkembang. Photo by Robert Collins on Unsplash.

    4 Hal yang Harus Kita Lawan Agar Diri Kita Semakin Berkembang

    • calendar_month Sel, 18 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Oleh : Angga Saputra Pcnupati.or.id – Di usia kita yang semakin bertambah, sangatlah penting untuk terus mengembangkan diri agar bisa meraih sebuah kesuksesan.  Mengembangkan diri adalah istilah yang mempunyai makna sebuah tindakan untuk meningkatkan kemampuan.   Hal ini dapat mencakup pengembangan dalam kepemimpinan, kemampuan berorganisasi, manajemen waktu, dan kemampuan lainnya.  Kita harus konsisten dalam melakukan sebuah proses […]

  • Kunjungan Syaikh Fadi Alamuddin Lebanon di MTs dan MA NU Miftahul Huda

    Kunjungan Syaikh Fadi Alamuddin Lebanon di MTs dan MA NU Miftahul Huda

    • calendar_month Sen, 28 Agu 2017
    • account_circle admin
    • visibility 231
    • 0Komentar

    Pati. Kegiatan belajar mengajar berjalan seperti biasanya, akan tetapi ada sesuatu berbeda  di MTs dan MA NU Miftahul Huda  di desa Sugihrejo Kec. Gabus karena mendapatkan tamu istimewa yaitu Syaikh Fadi Alamuddin dari Global University Lebanon,13/8 kemarin, bertempat di Masjid Jami’ Baitul Muttaqin Dukuh Pasinggahan, acara berlangsung mulai pukul 07.00 – 09.00 wib. Maka dari […]

  • PCNU Pati Masa Khidmat 2024-2029 Resmi Dilantik

    PCNU Pati Masa Khidmat 2024-2029 Resmi Dilantik

    • calendar_month Sen, 28 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 242
    • 0Komentar

    PCNU Pati Masa Khidmat 2024-2029 Resmi Dilantik Pcnupati.or.id – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati masa khidmat 2024-2029 resmi dilantik. Pelantikan berlangsung di pendapa kabupaten, Ahad (27/10/2024) pagi. Sebagai informasi, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menetapkan KH. Yusuf Hasyim sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pati, serta KH. Minanurrohman sebagai Rois Syuriyahnya. “Kami memohon doa restu dan dukungan […]

  • Kiai Karismatik Dari Kajen

    Kiai Karismatik Dari Kajen

    • calendar_month Sen, 16 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 243
    • 0Komentar

    Tokoh Ulama; Orang pertama yang disowani Gus Dur segera setelah dia jadi presiden adalah Almarhum Kiai Abdullah Salam di Kajen, Pati, yang lebih akrab dipanggil Mbah Dullah. Saat mendengar Gus Dur hendak bertandang ke rumahnya, awalnya Mbah Dullah keberatan, sebab saat itu Gus Dur sudah jadi umara (penguasa). Tetapi pada akhirnya Mbah Dullah bilang: “Kalau […]

  • Perjalanan ke Lokasi Muktamar, Katib Syuriyah PWNU Jateng Wafat

    Perjalanan ke Lokasi Muktamar, Katib Syuriyah PWNU Jateng Wafat

    • calendar_month Sen, 20 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 306
    • 0Komentar

    KH. Imam Sya’roni, Katib Syuriyah PWNU Jateng JAKARTA – Kabar duka menyelimuti PWNU Jawa Tengah jelang Muktamar NU ke-34 di Lampung 22-23 Desember mendatang. Pasalnya, Katib Syuriyah PWNU Jateng, KH. Imam Sya’roni dikabarkan wafat saat perjalanan menuju lokasi muktamar.  Pengasuh Ponpes As Sa’adah, Gayamsari Semarang tersebut sempat dilarikan ke RSCM Jakarta untuk mendapatkan pertolongan medis. […]

expand_less