Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Rapat Tikus di Kamar Bersalin

Rapat Tikus di Kamar Bersalin

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 5 Feb 2023
  • visibility 357
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

“Kalau nggak pergi, aku teriak nih.”

Shanaya mendekap sebuah bantal dan siap menimpukkan bantal itu ke arah Nikhil. Sudah hampir tengah malam dan sedang tidak ada pasien di RB. Jadi suasana rumah bersalin kali ini sangat sepi. Bisa dipastikan Tita dan Bu Eko sudah lelap di tempat peristirahatan masing-masing. Tubuh Shanaya masih menegang waspada. Ia sudah mengambil ancang-ancang jika lelaki yang duduk di pojok kamar dekat ranjangnya berbuat macam-macam. Tapi tetap saja ia masih disergap rasa yang entah. Rasa tak percaya, terkejut, bahagia, jengkel berbaur menjadi satu. Ia ingin memekik senang tapi juga ingin berteriak kesal. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana sekarang. Mungkin jutek adalah sikap yang tepat untuk saat ini.

Ini beneran Nikhil visualku, ‘kan? jangan-jangan ini mimpi? Huaaa, Juan … please jemput aku sekarang juga!

Napas Shanaya sejenak sedikit engap akibat rasa yang meletup-letup dalam dadanya.

“Dengar, Shanaya ini nggak seperti yang kamu kira. Aku datang mau meluruskan sesuatu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik.” Nikhil melirihkan suaranya.

“Gimana bisa orang asing kayak Alien tiba-tiba datang terus ngaku suami?” Shanaya mendengkus kesal. Ia memijit pelipisnya. Kepalanya masih sedikit pusing. Wajahnya serasa terbakar.

Nikhil menghirup napas sejenak sebelum menyahut lagi dengan suara lirih. “Kita memang sudah menikah.”

Pasang mata Shanaya seketika membola.

“Kamu jangan aneh-aneh ya?”

“Ini benar, Shanaya. Tadi sore akadnya. Akad dadakan dengan persiapan ala kadarnya. Di musholla depan rumahmu hanya dihadiri keluarga dekat.”

Nikhil menunjukkan foto di ghallery handphone-nya. Shanaya mendekat dan menyambar handphone milik Nikhil. Ia amati lamat-lamat foto itu.  Disitu ada dua orang lelaki sedang berjabat tangan di atas meja kecil yang dilapisi kain seperti melakukan sesi ijab qabul. Nikhil benar-benar menjabat tangan Ayahnya. Beberapa kali Shanaya mencocokkan lelaki di foto dengan lelaki yang duduk di hadapannya. Lelaki ini tidak bohong.

“Tapi … bagaimana bisa?”

“Bukankah kamu sudah menyetujuinya?”

“Aaaahhh … aku pasti sudah gila. Ayah benar-benar gila. Aku nggak benar-benar bersedia. Aku hanya di posisi yang serba sulit hari ini.”

“Ya, aku juga gila. Kita adalah keluarga gila,” ujar Nikhil setengah bergurau setengah serius. Shanaya memutar bola mata.

“Bisakah kita bicara di luar saja?” lanjutnya memasang sikap waspada. Berkali-kali ekor matanya melirik jendela kaca yang gordennya terbuka.

Shanaya mendelik.

“Aku bersumpah nggak akan berbuat macam-macam,” songsong Nikhil seperti tahu isi kepala Shanaya.

“Nggak mau. Bicara saja di sini!” Shanaya menjulurkan leher ke jendela. Sepi. Hanya terdengar gemericik air kolam dari taman kecil di pojok ruang tunggu. Lampu-lampu remang-remang telah mengganti lampu utama. Ia masih disergap rasa was-was.

“Asal kamu tahu. Aku terpaksa melakukan ini.”

“Oh ya? Terus kamu pikir kamu saja korban dari pempleoncoan ini?” Shanaya melotot.

“Bukan begitu.”

“Apa motif kamu mau menerima pempleoncoan ini?” tuntut Shanaya.

“Ceritanya panjang. Shanaya, aku nekat kesini agar bisa menemuimu dan bicara berdua saja tanpa ada gangguan dari pihak keluarga. Mereka, orang tua kita sedang berembuk menyiapkan pernikahan resmi untuk kita.”

Shanaya masih tak habis pikir. Takdir macam apa ini?

“Ini semua salahmu! Kenapa kamu mau saja dijadikan boneka mereka. Uuuuuhhh.”

“Sudah kubilang aku terpaksa. Aku juga berada di posisi serba sulit.”

“Sesulit apa hingga kamu nekat nikah dadakan?”

“Oke … dengar ceritaku baik-baik.”

Nikhil menghirup napas sejenak sebelum memulai ceritanya. Ia berharap Shanaya mau memahami dan berkompromi sesuai rencananya.

————–

“Maafkan aku, Kak Nikhil. Aku nggak bisa melawan kehendak Romo. Aku lebih pantas dijuluki robot, bukan seorang anak. Darah biru itu sialan sekali,” kesalnya dengan suara lirih.

Segera ia usap air mata yang menitik di pipinya dengan tisu. Wajahnya yang sembab tertunduk dalam, mungkin takut diketahui banyak orang yang sedang berlalu lalang. Atau mungkin karena tidak berani menatap wajah lelaki yang duduk di sampingnya. Ia juga takut jika menatap wajah bagai pangeran Lee Pyo di drama Moonshine itu hatinya akan semakin goyah.

Kawin lari tentu bukan solusi yang baik. Dia bukan tipe seperti itu—yang rela melakukan apa saja atas nama cinta. Dia adalah gadis yang ketika bicara akan membuat orang menyurukkan wajah dan mendekatkan telinga. Suaranya lembut bagai nyanyian seruling. Tindak tanduknya seperti putri-putri keraton. Mungkin karena memang dilahirkan dari keluarga bangsawan dan darah ningrat yang mengalir di tubuhnya, ia tumbuh menjadi gadis yang bahkan digigit nyamuk saja bisa pingsan. Nyimas Ayu Safira. Begitu orang tuanya memberi nama. Panggilannya Ayu seperti orangnya.

“Jangan mencela sebuah gelar. Itu kan anugerah, sebuah kemuliaan. Mungkin aku yang salah sudah berani mendekatimu. Aku yang salah, Yu.”

Lelaki itu mengerjap cepat beberapa kali, berusaha menghalau kaca-kaca yang hendak jatuh dari netranya. Mana pantas seorang lelaki gagah seperti perwira sepertinya menangis. Meskipun hatinya sakit bagai diiris-iris sebuah belati, ia tidak boleh terlihat menyedihkan.

“Ayu hanya mencintai Kak Nikhil seorang. Apapun yang terjadi. Ingat itu!”

Jika tidak ingat sedang dimana, ingin sekali Nikhil memeluk gadis di sampingnya. Jika bukan untuk memberikan ketenangan atau meluapkan perasaan cinta, mungkin sebagai pelukan perpisahan. Karena dua minggu lagi Ayu akan menikah dengan lelaki bergelar ningrat seperti dirinya. Bukan lelaki pribumi biasa seperti Nikhil.

Lelaki itu menghembuskan napas berat sebelum menyahut. “Semoga Ayu bahagia.”

Dua tahun yang lalu, di bawah pohon beringin yang dahannya bergoyang-goyang ditiup angin sore, cinta itu terucap. Sebuah sumpah akan saling setia sehidup semati telah terpatri. Kini di bawah pohon yang sama, cinta dan sumpah bagai pohon beringin tua yang mengelilingi alun-alun Wonomukti harus tumbang dalam sehari. Segala bentuk perjuangan mempertahankan cinta dan sumpah selama dua tahun itu berbuah nestapa. Hancur dalam sekejap mata. Ternyata pernikahan sesama darah biru itu bukan rumor belaka. Sekarang Nikhil menyesal kenapa dulu tak mengindahkan nasehat orang tua dan hande taulannya.

“Nang, sebaiknya jangan berhubungan dengan Ayu. Dia itu dengar-dengar darah biru ya? konon darah biru itu nikahnya harus sama yang darah biru. Kita harus tahu diri, Nang,” ucap Sang Ibu.

“Ojo pacaran sama orang darah biru loh. Mereka biasanya cuma mau nikah sama yang darah biru,” celetuk Rahmat sahabatnya.

“Kamu kok berani ndekati Ayu to, Nik. Dia kan darah biru.”

Nasehat-nasehat itu berdengung-dengung di telinganya. Beriringan dengan wajah kekasihnya setiap menit, setiap detik. Pesona Ayu begitu sulit ia lenyapkan dari kepalanya. Berhari-hari setelah perpisahan itu, Nikhil seperti kehilangan semangat hidup. Ia hanya mengurung diri di kamar. Itu membuat Ibunya bingung bukan kepalang. Segala bentuk nasehat seperti tak ada guna. Tapi Ibunya tak berputus asa. Ia terus berusaha menyentuh hati putranya. Berbicara lirih di depam pintu kamar.

“Nang … dunia tidak akan kiamat hanya karena putus cinta,” ujarnya hati-hati.

“Masih banyak di luar sana gadis yang baik yang mau sama kamu. Ini putrinya Pak Ridwan, temannya Bapak juga ayu, kuliah di kebidanan juga. Pak Ridwan mau putrinya nikah secepatnya. Ibu akan senang sekali kalau kamu mau,” bujuk Bu Tutik, Ibu Nikhil.

“Baiklah, aku mau. Tapi nikahnya hari ini juga,” seloroh Nikhil dari dalam kamar dengan perasaan putus asa tingkat dewa.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gus Sholah Wafat, PCNU : Tolong MWC dan Ranting Adakan Sholat Ghoib

    Gus Sholah Wafat, PCNU : Tolong MWC dan Ranting Adakan Sholat Ghoib

    • calendar_month Sen, 3 Feb 2020
    • account_circle admin
    • visibility 282
    • 0Komentar

    PATI-Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Nahdlatul Ulama (NU) kembalu berduka berduka atas wafatnya salah satu ulama khos sekaligus cucu pendiri NU, Dr. Ir. K.H. Sholahuddin Wahid. Salah satu foto KH. Sholahuddin Wahid Cucu Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari yang aktab disapa Gus Sholah tersebut menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, Minggu (1/2) […]

  • Awas… Bahaya Laten HTI

    Awas… Bahaya Laten HTI

    • calendar_month Sel, 13 Mei 2014
    • account_circle admin
    • visibility 571
    • 0Komentar

    Di antara keistimewaan syari’at Islam dari agama lainnya ialah adanya sanad atau mata rantai yang berkesinambungan hingga pembawa syari’at itu sendiri; Rasulullah. Karena itulah munculnya faham-faham menyimpang yang dapat menyesatkan umat Islam sangat kecil kemungkinannya untuk tidak terdeteksi. Sanad inilah yang kemudian menjadi tradisi di kalangan Ahlussunnah untuk selalu d ilestarikan, karena dengan terus membudayakannya […]

  • Sinergi Kankemenag dan Pemerintah Daerah: Akselerasi Pemenuhan Akomodasi yang Layak Melalui Gebyar Pendidikan Inklusif 2026

    Sinergi Kankemenag dan Pemerintah Daerah: Akselerasi Pemenuhan Akomodasi yang Layak Melalui Gebyar Pendidikan Inklusif 2026

    • calendar_month Sel, 17 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.550
    • 0Komentar

      UNGARAN – Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang mengukuhkan langkah strategis dalam mewujudkan ekosistem pendidikan ramah disabilitas. Melalui helat “Gebyar Pendidikan Inklusif Kabupaten Semarang 2026” di Pendopo Kabupaten Semarang (14/2), kegiatan ini secara resmi menjadi bagian dari rangkaian FGD dan pengisian Profil Belajar Siswa (PBS) yang diinisiasi oleh Direktorat KSKK Madrasah […]

  • Lagi, Putra Margoyoso Ukir Prestasi di Tingkat Asean

    Lagi, Putra Margoyoso Ukir Prestasi di Tingkat Asean

    • calendar_month Sel, 12 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 423
    • 0Komentar

    MARGOYOSO-Miftahul Huda (34), putra asli Margoyoso telah berhasil mengharumkan Indonesia dalam kancah internasional. Bukan hanya Indonesia, ia juga telah berhasil membawa nama baik NU melalui kaligrafi. Dalam ajang Pertandingan Kaligrafi Nusantara (Khat) 2019 yang digelar di Kinabalu, Negeri Sabah, Malaysia tersebut, Huda sukses menyabet gelar juara II dalam kategori Khat Tsuluts dan Nasakh tingkat Asean. […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Warung Kopi sebagai Sarana Bertukar Informasi.. Photo by Rod Long on Usnplash.

    Warung Kopi sebagai Sarana Bertukar Informasi

    • calendar_month Sel, 31 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 338
    • 0Komentar

    Di era saat ini, tempat paling tepat untuk melakukan diskusi dan kongkow adalah warung kopi. Kenapa harus warung kopi? Menurut hemat penulis, warung kopi sekarang ini sudah menjadi tempat terbaik bagi kalangan mahaiswa untuk tempat diskusi dan mengerjakan sebuah tugas.  Selain itu, banyak dari mahasiswa yang menghabiskan waktunya di warung kopi hanya sekedar untuk diskusi. […]

  • NU Tetapkan Idul Fitri 1441 H, 24 Mei 2020

    NU Tetapkan Idul Fitri 1441 H, 24 Mei 2020

    • calendar_month Jum, 22 Mei 2020
    • account_circle admin
    • visibility 341
    • 0Komentar

    Jakarta. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menetapkan tanggal 1 Syawal 1441 H (Idul Fitri) jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Demikian berdasarkan rilis surat ikhbar (pemberitahuan) PBNU yang diterima oleh redaksi NU Pati. Melalui Surat Pemberitahuan bernomor 3966/C.I.34/05/2020, tertanggal 22 Mei 2020 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengikhbarkan (memberitahukan) bahwa ibadah puasa Ramadan 1441 H, […]

expand_less