Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Rapat Tikus di Kamar Bersalin

Rapat Tikus di Kamar Bersalin

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 5 Feb 2023
  • visibility 387
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

“Kalau nggak pergi, aku teriak nih.”

Shanaya mendekap sebuah bantal dan siap menimpukkan bantal itu ke arah Nikhil. Sudah hampir tengah malam dan sedang tidak ada pasien di RB. Jadi suasana rumah bersalin kali ini sangat sepi. Bisa dipastikan Tita dan Bu Eko sudah lelap di tempat peristirahatan masing-masing. Tubuh Shanaya masih menegang waspada. Ia sudah mengambil ancang-ancang jika lelaki yang duduk di pojok kamar dekat ranjangnya berbuat macam-macam. Tapi tetap saja ia masih disergap rasa yang entah. Rasa tak percaya, terkejut, bahagia, jengkel berbaur menjadi satu. Ia ingin memekik senang tapi juga ingin berteriak kesal. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana sekarang. Mungkin jutek adalah sikap yang tepat untuk saat ini.

Ini beneran Nikhil visualku, ‘kan? jangan-jangan ini mimpi? Huaaa, Juan … please jemput aku sekarang juga!

Napas Shanaya sejenak sedikit engap akibat rasa yang meletup-letup dalam dadanya.

“Dengar, Shanaya ini nggak seperti yang kamu kira. Aku datang mau meluruskan sesuatu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik.” Nikhil melirihkan suaranya.

“Gimana bisa orang asing kayak Alien tiba-tiba datang terus ngaku suami?” Shanaya mendengkus kesal. Ia memijit pelipisnya. Kepalanya masih sedikit pusing. Wajahnya serasa terbakar.

Nikhil menghirup napas sejenak sebelum menyahut lagi dengan suara lirih. “Kita memang sudah menikah.”

Pasang mata Shanaya seketika membola.

“Kamu jangan aneh-aneh ya?”

“Ini benar, Shanaya. Tadi sore akadnya. Akad dadakan dengan persiapan ala kadarnya. Di musholla depan rumahmu hanya dihadiri keluarga dekat.”

Nikhil menunjukkan foto di ghallery handphone-nya. Shanaya mendekat dan menyambar handphone milik Nikhil. Ia amati lamat-lamat foto itu.  Disitu ada dua orang lelaki sedang berjabat tangan di atas meja kecil yang dilapisi kain seperti melakukan sesi ijab qabul. Nikhil benar-benar menjabat tangan Ayahnya. Beberapa kali Shanaya mencocokkan lelaki di foto dengan lelaki yang duduk di hadapannya. Lelaki ini tidak bohong.

“Tapi … bagaimana bisa?”

“Bukankah kamu sudah menyetujuinya?”

“Aaaahhh … aku pasti sudah gila. Ayah benar-benar gila. Aku nggak benar-benar bersedia. Aku hanya di posisi yang serba sulit hari ini.”

“Ya, aku juga gila. Kita adalah keluarga gila,” ujar Nikhil setengah bergurau setengah serius. Shanaya memutar bola mata.

“Bisakah kita bicara di luar saja?” lanjutnya memasang sikap waspada. Berkali-kali ekor matanya melirik jendela kaca yang gordennya terbuka.

Shanaya mendelik.

“Aku bersumpah nggak akan berbuat macam-macam,” songsong Nikhil seperti tahu isi kepala Shanaya.

“Nggak mau. Bicara saja di sini!” Shanaya menjulurkan leher ke jendela. Sepi. Hanya terdengar gemericik air kolam dari taman kecil di pojok ruang tunggu. Lampu-lampu remang-remang telah mengganti lampu utama. Ia masih disergap rasa was-was.

“Asal kamu tahu. Aku terpaksa melakukan ini.”

“Oh ya? Terus kamu pikir kamu saja korban dari pempleoncoan ini?” Shanaya melotot.

“Bukan begitu.”

“Apa motif kamu mau menerima pempleoncoan ini?” tuntut Shanaya.

“Ceritanya panjang. Shanaya, aku nekat kesini agar bisa menemuimu dan bicara berdua saja tanpa ada gangguan dari pihak keluarga. Mereka, orang tua kita sedang berembuk menyiapkan pernikahan resmi untuk kita.”

Shanaya masih tak habis pikir. Takdir macam apa ini?

“Ini semua salahmu! Kenapa kamu mau saja dijadikan boneka mereka. Uuuuuhhh.”

“Sudah kubilang aku terpaksa. Aku juga berada di posisi serba sulit.”

“Sesulit apa hingga kamu nekat nikah dadakan?”

“Oke … dengar ceritaku baik-baik.”

Nikhil menghirup napas sejenak sebelum memulai ceritanya. Ia berharap Shanaya mau memahami dan berkompromi sesuai rencananya.

————–

“Maafkan aku, Kak Nikhil. Aku nggak bisa melawan kehendak Romo. Aku lebih pantas dijuluki robot, bukan seorang anak. Darah biru itu sialan sekali,” kesalnya dengan suara lirih.

Segera ia usap air mata yang menitik di pipinya dengan tisu. Wajahnya yang sembab tertunduk dalam, mungkin takut diketahui banyak orang yang sedang berlalu lalang. Atau mungkin karena tidak berani menatap wajah lelaki yang duduk di sampingnya. Ia juga takut jika menatap wajah bagai pangeran Lee Pyo di drama Moonshine itu hatinya akan semakin goyah.

Kawin lari tentu bukan solusi yang baik. Dia bukan tipe seperti itu—yang rela melakukan apa saja atas nama cinta. Dia adalah gadis yang ketika bicara akan membuat orang menyurukkan wajah dan mendekatkan telinga. Suaranya lembut bagai nyanyian seruling. Tindak tanduknya seperti putri-putri keraton. Mungkin karena memang dilahirkan dari keluarga bangsawan dan darah ningrat yang mengalir di tubuhnya, ia tumbuh menjadi gadis yang bahkan digigit nyamuk saja bisa pingsan. Nyimas Ayu Safira. Begitu orang tuanya memberi nama. Panggilannya Ayu seperti orangnya.

“Jangan mencela sebuah gelar. Itu kan anugerah, sebuah kemuliaan. Mungkin aku yang salah sudah berani mendekatimu. Aku yang salah, Yu.”

Lelaki itu mengerjap cepat beberapa kali, berusaha menghalau kaca-kaca yang hendak jatuh dari netranya. Mana pantas seorang lelaki gagah seperti perwira sepertinya menangis. Meskipun hatinya sakit bagai diiris-iris sebuah belati, ia tidak boleh terlihat menyedihkan.

“Ayu hanya mencintai Kak Nikhil seorang. Apapun yang terjadi. Ingat itu!”

Jika tidak ingat sedang dimana, ingin sekali Nikhil memeluk gadis di sampingnya. Jika bukan untuk memberikan ketenangan atau meluapkan perasaan cinta, mungkin sebagai pelukan perpisahan. Karena dua minggu lagi Ayu akan menikah dengan lelaki bergelar ningrat seperti dirinya. Bukan lelaki pribumi biasa seperti Nikhil.

Lelaki itu menghembuskan napas berat sebelum menyahut. “Semoga Ayu bahagia.”

Dua tahun yang lalu, di bawah pohon beringin yang dahannya bergoyang-goyang ditiup angin sore, cinta itu terucap. Sebuah sumpah akan saling setia sehidup semati telah terpatri. Kini di bawah pohon yang sama, cinta dan sumpah bagai pohon beringin tua yang mengelilingi alun-alun Wonomukti harus tumbang dalam sehari. Segala bentuk perjuangan mempertahankan cinta dan sumpah selama dua tahun itu berbuah nestapa. Hancur dalam sekejap mata. Ternyata pernikahan sesama darah biru itu bukan rumor belaka. Sekarang Nikhil menyesal kenapa dulu tak mengindahkan nasehat orang tua dan hande taulannya.

“Nang, sebaiknya jangan berhubungan dengan Ayu. Dia itu dengar-dengar darah biru ya? konon darah biru itu nikahnya harus sama yang darah biru. Kita harus tahu diri, Nang,” ucap Sang Ibu.

“Ojo pacaran sama orang darah biru loh. Mereka biasanya cuma mau nikah sama yang darah biru,” celetuk Rahmat sahabatnya.

“Kamu kok berani ndekati Ayu to, Nik. Dia kan darah biru.”

Nasehat-nasehat itu berdengung-dengung di telinganya. Beriringan dengan wajah kekasihnya setiap menit, setiap detik. Pesona Ayu begitu sulit ia lenyapkan dari kepalanya. Berhari-hari setelah perpisahan itu, Nikhil seperti kehilangan semangat hidup. Ia hanya mengurung diri di kamar. Itu membuat Ibunya bingung bukan kepalang. Segala bentuk nasehat seperti tak ada guna. Tapi Ibunya tak berputus asa. Ia terus berusaha menyentuh hati putranya. Berbicara lirih di depam pintu kamar.

“Nang … dunia tidak akan kiamat hanya karena putus cinta,” ujarnya hati-hati.

“Masih banyak di luar sana gadis yang baik yang mau sama kamu. Ini putrinya Pak Ridwan, temannya Bapak juga ayu, kuliah di kebidanan juga. Pak Ridwan mau putrinya nikah secepatnya. Ibu akan senang sekali kalau kamu mau,” bujuk Bu Tutik, Ibu Nikhil.

“Baiklah, aku mau. Tapi nikahnya hari ini juga,” seloroh Nikhil dari dalam kamar dengan perasaan putus asa tingkat dewa.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MWCNU Wedarijaksa Gelar Lailatul Ijtima

    MWCNU Wedarijaksa Gelar Lailatul Ijtima

    • calendar_month Jum, 2 Okt 2020
    • account_circle admin
    • visibility 303
    • 0Komentar

    WEDARIJAKSA –  MWC NU Kecamatan Wedarijaksa menggelar istighosah dan Lailatul ijtima di Gedung NU Wedarijaksa yang dihadiri pengurus Tanfidziah, Syuriah, dan Banom NU. Dalam pertemuan tersebut  juga membahas Koin NU program dari LAZISNU, Program Sistem Informasi Warga NU (SISNU) dan sosialisasi pembangunan gedung baru yang akan diresmikan saat hari santri 22 Oktober 2020 oleh PCNU […]

  • Kunjungi Stand LP Ma’arif NU Jateng, 20 Universitas di Cina Sjap Jalin Kerjasama dengan Sekolah/Madrasah Ma’arif

    Kunjungi Stand LP Ma’arif NU Jateng, 20 Universitas di Cina Sjap Jalin Kerjasama dengan Sekolah/Madrasah Ma’arif

    • calendar_month Sel, 26 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 352
    • 0Komentar

    Guang Zhou China – Rangkaian kegiatan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jateng di China pada event “2nd Belt and Road Chinese University and Overseas Partner Exchange Conference” adalah one to one overses delegates melalui kunjungan peserta konferensi. Ada 40 stand pemeran pendidikan dari universitas di Cina tersebut. Acara yang diikuti oleh 400 delegasi Internasional yang berasal […]

  • Penuh Khidmah Acara Naharul Ijtima’ di Kec Gembong

    Penuh Khidmah Acara Naharul Ijtima’ di Kec Gembong

    • calendar_month Sab, 28 Feb 2015
    • account_circle admin
    • visibility 532
    • 0Komentar

    Kabar NU Pati: Naharul Ijtima’ PCNU Kabupaten Pati pada hari Jumat tanggal 27 Februari 2015 berlangsung di Kecamatan Gembong. Sebagai tuan rumah MWC NU Gembong memilih Masjid Besar Baitul Muttaqin Kecamatan Gembong sebagai tempat berlangsungnya kegiatan. Hampir seluruh Pengurus MWC NU serta Pengurus Ranting se-Kecamatan hadir, seperti KH. Ahmad Jaelani, Kyai Sholikhin, Kyai Nur Hasyim. […]

  • PCNU-PATI

    MA Salafiyah Kajen Gelar Unjuk Kinerja dan Kreativitas Peserta Didik

    • calendar_month Rab, 21 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 296
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Peserta didik MA Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, gelar unjuk kinerja dan kreativitas dengan menampilkan silat Pagar Nusa, Karya Ilmiah, riset, bahasa Arab, bahasa Inggris, baca Kitab, tata boga, tahfiz, pramuka, dan puisi.  Kegiatan dilaksanakan setelah Penilai Akhir Tahun (PAT) semester genap tahun ajaran 2022/2023 selama sembilan hari mulai tanggal 12-21 Juni 2023 […]

  • A couple of men sitting on top of a bench

    Pesantren, Pendidikan Karakter, dan Kekerasan Seksual

    • calendar_month Ming, 3 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 13.031
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani Kekerasan seksual yang terjadi di pesantren adalah anomali dari fungsi pesantren sebagai lembaga moral dan intelektual sekaligus. Pesantren yang selama ini dipandang sebagai lembaga pendidikan yang menanamkan pendidikan karakter berubah menjadi tempat yang sangat menakutkan dan tidak manusiawi. Ini adalah realitas ironis yang semestinya tidak terjadi di pesantren. Pesantren adalah lembaga […]

  • LPM Terma STAI Pati Terbitkan Majalah Tentang Kekerasan Seksual

    LPM Terma STAI Pati Terbitkan Majalah Tentang Kekerasan Seksual

    • calendar_month Sen, 30 Des 2024
    • account_circle admin
    • visibility 529
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Teropong Mahasiswa (Terma), Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati, meluncurkan majalah edisi ke-7 yang membahas tentang kekerasan seksual. Peluncuran Majalah Terma ini digelar bersamaan dengan seminar antikekerasan seksual yang berlangsung di Gedung A STAI Pati, Minggu (29/12/24). Turut hadir dalam acara tersebut, Waka II STAI Pati, Abd Aziz, Pembina […]

expand_less