Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Bagai Pungguk Menjerat Bulan Part 5

Bagai Pungguk Menjerat Bulan Part 5

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 24 Sep 2023
  • visibility 100
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

“Jadi orang tuamu juga terinspirasi dengan tokoh Salman Al-Farisi?” Tanya Abah Thoyfur setelah menjelaskan alasan kenapa kucing Nyai Maryam punya kesamaan nama dengannya.

“I … ya, Yai. Mommy saya nge-fans dengan Salman Al-Farisi,” jawab Salman jujur. Abah Thoyfur manggut-manggut.

“Salman Al-Farisi itu hebat banget. Dia punya pengalaman yang sangat luas tentang teknik dan sarana perang. Dia pencetus penggalian parit perlindungan daerah terbuka di sekeliling kota Madinah saat terjadi perang khandaq. Sehingga adanya parit itu para Quraisy tidak bisa menerobos kota begitu saja dan gagal menyerang Rasulullah. Mommy ngefans orang yang pintar bersiasat seperti Salman.” Salman tiba-tiba teringat lagi penjelasan Mommy-nya. Dia yakin, Nyai Maryam juga punya alasan yang sama dengan Mommy-nya, yaitu ngefans dengan orang yang pintar bersiasat seperti Salman Al-Farisi.

Salman Al-Farisi yang ini juga pintar bersiasat kok. Siasat dalam mencari perhatian.  Buktinya sekarang ekor matanya terus saja mencuri pandang ke arah perempuan yang kini fokus pada layar handphone. Sulit memang mengabaikan sekejap saja pesona Nyai Maryam. Dan anehnya, setiap kali Salman melirik, detik selanjutnya, Nyai Maryam juga menatapnya. Seolah-olah ada magnet di antara keduanya. Bloody hell, jangan sampai ada Nabi Yusuf dan Siti Zulaikha part dua ya?

“Jadi gimana tadi?” tanya Yai Thoyfur. Salman yang tadinya terbengong karena terjebak oleh tatap tak sengaja dengan Nyai Maryam, langsung mengerjap. “Gimana … gimana, Yai?”

Abah Yai terkekeh. Nyai Maryam geleng-geleng. Berusaha masa bodoh dengan pertanyaan santai Yai Thoyfur dan kedunguan Salman. Dia kembali menatap ponselnya dan tampak mengetikkan sesuatu di sana. Tapi perhatiannya segera teralihkan saat seekor kucing masuk dari arah pintu yang terletak di pojok ruangan. Kucing berbulu lebat warna abu dan hitam yang sempat membuat Salman salah paham itu kembali menghampiri majikannya.

“Hey, Salmaaan,” sapa Nyai Maryam pada kucingnya. Tapi saat ini tidak hanya hewan peliharaannya yang merasa terpanggil. Melainkan ….

“Bukan Salman kamu!” sentak Nyai Maryam pada Salman. Lelaki itu kembali menunduk. Ingin rasanya ia mengumpat, “Anjiiiir.”

“Yang tadi sore itu. Kamu kok berani nembak Zoeya?” tanya Abah Thoyfur membuat Salman kembali fokus pada percakapan.

“Zoeya?”  Dahi Salman mengernyit.

“Itu … Zoeya Maryam.” Abah Thoyfur menunjuk Nyai Maryam dengan dagunya sebelum kembali menatap Salman.

“Oh, em ….” Zoeya? Bagus sekali namanya. Salman reflek menatap iri pada kembarannya yang kini bergelayut manja di pangkuan Nyai Maryam. Betapa beruntungnya kucing berbulu hitam itu. Kanapa bukan Salman yang berkemeja hitam saja yang dielus?

“Saya hanya menjalankan tantangan MOS, Yai, Bah,” jawab Salman sesuai fakta. Awalnya. Karena selanjutnya tiba-tiba saja dia merasa tidak sedang menjalani tantangan. Melainkan apa yang dilakukannya tadi sore seolah murni sebuah panggilan jiwa, akibat efek dari rasa kagum yang berlebihan sejak objeknya adalah Nyai Maryam.

“Oh, tantangan MOS?” Tanya Abah Thoyfur.

“Iya, Yai.” Lalu melirik lagi kea rah Nyai Maryam.

“Mana pengurus yang lain? Mereka juga bertanggun jawab menjelaskan insiden tadi sore,” sambar Nyai Maryam dengan nada ketus. Pasang matanya yang sekilas menyorot wajah Salman serasa seperti sebilah pedang yang terayun ke udara dengan cepat. Aduh. Sakit. Nyeri.

“Itu di ruang tamu, Nya … i.” Ronggeng. Salman hanya meneruskannya dalam hati. Entah mengapa ada rasa tak rela saat menyebut julukan itu. Di matanya, Nyai Maryam  amat sangat belum pantas mendapat gelar tersebut. Dia seharusnya masih dipanggil “Dek.” Dedek Maryam. Dedek Zoeya. Wow, kiwoyo.

“Oh ya? Suruh sini, suruh sini,” pinta Abah Yai sambil mengangkat tangannya. Setelah mengangguk, Salman beringsut mundur untuk memanggil para pengurus yang mungkin sudah bergelempangan di ruang tamu karena terlalu lama menunggu.

Tapi, perkiraan Salman ternyata salah. Keempat lelaki yang mengerjainya tadi masih segar bugar dengan duduk bersila seperti arca candi Borobudur di atas karpet yang terbentang di ruang tamu. Ingin rasanya Salman menjitak satu persatu para lelaki yang kini masuk beruntun ke ruang tengah. Namun perhatian Salman malah tersita oleh cara berjalan mereka yang kompak menggunakan lutut. Mirip suster ngesot. Harus begitu ya?

“Apa benar, Kang, kalau ada tantangan semacam itu?” Tanya Abah Thoyfur sambil menatap satu persatu lelaki yang kini duduk melantai di hadapannya, di dekat sebuah akuarium.

“Nggeh, Bah. Benar.” Kang Awan mewakili teman-temannya menjawab pertanyaan. Abah Thoyfur seketika terkejut mendengarnya. “Tapi kami tidak tahu, Bah. Kami kecolongan,” imbuh Kang Rif’al, saat menangkap ekspresi maysgul di wajah Abah Thoyfur.

“Kecolongan gimana?” Tanya Nyai Maryam, masih dengan nada tinggi.

“Mungkin ada yang menyelundupkan kertas tantangan itu, Ummah,”  jawab Kang Husni. “Ulah santri senior rese, Um.” Kang Frans mengimbuhi.

“Lha apa nggak di cek dulu sebelum diedarkan?” Pertanyaan Nyai Maryam semakin terdengar mengintimidasi. Rasanya Salman ingin mengibarkan bendera kemenangan melihat para lelaki dari Qismul Amni itu saling lirik dan saling menggeleng. Muka mereka tampak rusuh seperti para tawanan saat menghadap prajurit Jepang.

“Ka-kami lengah dan terlalu percaya pada pengurus dan panitia MOS, Ummah.” Kang Rif’al menjawab dengan suara bergetar. Berbeda sekali saat memprovokasi Salman beberapa saat tadi. Sementara Salman tersenyum miring. Tampak sangat puas melihat para pengurus keamanan tersudutkan.

“Itu berarti salah kalian. Saya nggak mau tau ya. Cepat tangkap siapa santri kurang ajar itu! kerahkan semua Jasus!” Titah Nyai Maryam.

“Baik, Ummah,” jawab para pengurus keamanan serempak seperti saat Upin Ipin merespon nasehat atau titah neneknya.

“Dan kamu … Salman.” Salman langsung mendongak, bersitatap dengan pasang mata bak pedang itu. Seketika Salman menurunkan bendera kemenangannya saat sadar dia belum luput dari sorotan Nyai Maryam.

“Belajarlah adab dan sopan santun. Saya tidak akan mentolerir lagi jika kejadian seperti tadi terulang. Meskipun itu tantangan MOS, harusnya kamu menolak dan protes. Ini di pesantren. Nggak se—”

“Kami para santri baru dilarang protes, Nya … Um—mah,” potong Salman sambil menatap berani pada Nyai Maryam. Sementara para pengurus keamaan memejamkan mata.

Ya, Salman tentu tidak lupa saat ketua MOS berseru lantang.

“Tidak diperbolehkan protes dan memberi tahu isi dari kertas tantangan yang sudah diambil pada siapapun. Kamu bersedia ambil berarti setuju melaksanakan tantangan ini.” Salman menirukan ucapan sang ketua MOS yang tak lain adalah Kang Husni. Lelaki bermuka petak dan bermata dalam itu semakin menunduk. Dia pasti sudah menyesali ucapannya tadi di aula.

“Benar itu, Kang?” tanya Abah Thoyfur, terdengar mencoba mengimbangi kemarahan Nyai Maryam.

Kang Husni melirik takut-takut sebelum akhirnya menjawab, “Benar, Bah. Maafkan saya, Bah. Tujuannya biar surprise, Bah,” ungkap Kang Husni.

“Kalian ….” Nyai Maryam tampak menarik napas, mencoba mengontrol emosi. “Bersihkan selokan selama seminggu.”

Leher Salman langsung tegak. “Sa-saya juga, Nya … Ummah?”

“Iya.” Nyai Maryam melotot.

Apa? Tuan muda sepertinya harus membersihkan selokan? Tidak bisa … tidak bisa. 

“Ta-tapi ….” Salman ingin unjuk rasa. Dia hanya korban MOS kan di sini? Dia hanya menjalankan sesuai aturan yang ada. Dia sungguh tidak sudi jika harus membersihkan selokan. Lebih baik dia keluar dari pesantren saat ini juga. Masa bodoh dengan segala mimpi Mommy dan amanah Opa.

Tapi … kenapa ada rasa tak rela?

 Di tengah kebimbangan itu, kucing yang sejak tadi bergelayut manja di pangkuan Nyai Maryam tiba-tiba saja menghampiri Salman. Seperti ingin menyalurkan rasa empati sebagai sesama Salman. Sungguh kucing ini, sangat berperike-Salman-nan. Salman tertunduk, reflek mengelus bulu-bulu halus Salman.

“Ya kasihan to, Nok. Dia kan santri baru. Ini dikasih peringatan dulu. Baru nanti kalau diulang lagi dikasih hukuman.” sela Abah Thoyfur. Huft, Salman langsung menghembuskan napas lega. Ingin rasanya dia mencium kedua pipi Abah Thoyfur sambil mengucapkan beribu-ribu terimakasih.

“Begini saja. Untuk efek jera, Salman dikasih takziran bantu merawat Salman saja. ngasih makan dan mengantar ke salon selama seminggu. Gimana, Kang Salman?”

Sebentar … Salman terlihat bingung sejenak. Yang sedang diajak bicara Abah Thoyfur Salman yang mana? Yang dikasih makan dan diantar ke salon yang mana?

“Wong sudah akrab begitu.” Abah Thoyfur terkekeh sambil menatap kucing yang kini menggelesot di depan Salman.

“Kamu mau kan bantu merawat Salman? Seminggu saja,” tanya Abah Thoyfur lagi.

Salman tertegun sebentar.  Sulit rasanya menolak perintah orang yang telah berjasa untuknya. Merawat kucing selama seminggu jauh lebih baik daripada membersihkan selokan bukan?

“I-iya, nggak apa-apa, Bah.” Jawaban setengan yakin itu meluncur begitu saja dari mulut Salman, bersamaan dengan sahutan suara yang terdengar menggemaskan. “Meoooong.”

Salman berkemeja hitam dan Salman berbulu hitam saling tatap. Membuat seringaian kecil terbit di bibir Salman berkemeja hitam. Seolah dari seriangaian itu, Salman berkemeja hitam berbicara, “Oke, Bestie … bantu aku biar dekat dengan majikanmu.” Dan bendera kemenangan kembali berkibar.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • YPMNU Pati Gelar Lomba Membatik untuk Anak-Anak

    YPMNU Pati Gelar Lomba Membatik untuk Anak-Anak

    • calendar_month Kam, 2 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Pncupati – Yayasan Pendidikan Muslimat Nahdlatul Ulama (YPMNU) Kabupaten Pati mengadakan lomba membatik untuk anak-anak PAUD, Raudhatul Athfal (RA) dan Taman Kanak-Kanak (TK), di pendopo kabupaten, Kamis (2/10/2025). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional. Ketua YPMNU Kabupaten Pati, Nur Laili, mengatakan bahwa perlombaan membatik bagi anak-anak ini dilakukan secara serentak se-Jawa Tengah. […]

  • PCNU-PATI Photo by Anita Austvika

    Kadar Bahagia itu Berbeda

    • calendar_month Jum, 17 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Oleh: Inayatun Najikah Minggu lalu saya tak menulis seperti biasanya. Namun kali ini saya ingin menuliskan sedikit unek-unek yang saya rasakan tentang fenomena beberapa hari terakhir ini yang tengah viral. Perdebatan antara Childfree Versus punya anak. Meski saya menyadari dalam tulisan kali ini pun pasti tak runtut layaknya seorang penulis pada umumnya. Maklum, saya masih […]

  • PCNU-PATI

    Puasa dari Misuh-misuh

    • calendar_month Sen, 18 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Tahun 2019, saya menulis artikel ilmiah berjudul “Penggunaan Umpatan Thelo, Jidor, Sikem, Sikak sebagai Wujud Marah dan Ekspresi Budaya Warga Temanggung” yang terbit di Ranah Jurnal Kajian Bahasa 8 (2) 2019. Dalam artikel itu, ada temuan yang saya ungkap bahwa orang misuh (mengumpat) itu boleh, karena bentuk ekspresi budaya. Namun jika sudah […]

  • PCNU-PATI

    Hasil Hasil Muktamar 32

    • calendar_month Sab, 17 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Buku yang kami terbitkan ini berisi dokumen hasil-hasil muktamarMakassar tersebut, mulai dari jadwal acara, tata tertib muktamar, berbagaikeputusan yang dihasilkan dasi sidang-sidang komisi, serta dokumentasi lainyang kami nilai penting baik untuk kalangan pengurus NU di tingkat pengurusbesar, wilayah dan cabang, serta warga Nahdliyin secara lebih luas.Dengan adanya penerbitan ini diharapkan mampu memenuhikebutuhan informasi yang sangat […]

  • Koin Kemandirian NU

    Koin Kemandirian NU

    • calendar_month Rab, 31 Jan 2018
    • account_circle admin
    • visibility 134
    • 0Komentar

    RABU, 31 Januari 2018, Nahdlatul Ulama memeringati Hari Lahir (Harlah) ke-92. Berdiri sejak 31 Januari 1926, kontribusi NU pada bangsa tidak terhitung jumlahnya, baik dalam konteks pembinaan moral, peningkatan kualitas pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, serta internalisasi nasionalisme dan patriotisme. NU berdiri dari tiga embiro gerakan, yaitu Nahdlatul Wathan yang bergerak di bidang nasionalisme (1916), Tashwirul […]

  • NU, Aku Jatuh Hati Padamu

    NU, Aku Jatuh Hati Padamu

    • calendar_month Rab, 1 Feb 2017
    • account_circle admin
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Saya selalu senang dengan sikap NU. NU itu seperti organisasi Hezbullah di Lebanon. Hezbullah meski sebagai organisasi besar dan kuat di Lebanon, tidak mau mencampuri urusan dalam negeri Lebanon. Lebanon itu negara demokratis parlementer. Sesudah perang saudara 15 tahun, mereka membangun sistem khusus di negaranya yang bernama konfesionalisme untuk menghindari kembali terjadinya perang sektarian. Disana, […]

expand_less