Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ganyang FDS

Ganyang FDS

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 22 Agu 2017
  • visibility 470
  • comment 0 komentar

Banyak tokoh yang menyatakan bahwa sedekah terbaik adalah meninggalkan generasi dengan kualitas unggul. Anak-anak yang dilahirkan dari rahim ibunya bukanlah hard diskyang hanya dijejali dengan bermacam program (yang dianggap) unggulan. Mereka bukan pula sebuah objek yang digunakan sebagai kelinci percobaan dalam eksperimen regulasi pendidikan. dengan presepsi demikian, maka selain harus mendapatkan nutrisi otak, anak juga wajib mendapatkan nutrisi hati.
dalam istilah syariat islam dikenal adanya pola dialektika antara hati dan akal. Nutrisi akal berisi bekal-bekal kognisi untuk menunjang kemampuan berfikir dan meningkatkan intelektualitas anak. Sementara nutrisi hati tidak hanya berkutat pada materi keagamaan saja, namun kebahagiaan anak serta perasaan nyaman selama menjalani proses pendidikan adalah esensinya. Kedua nutrisi tersebut harus berjalan dalam dimensi integral demi tercapainya cita-cita bangsa. Nutrisi hati dipasok untuk menunjang akhlak, perangai dan sikap-sikap anak, sementara nutrisi otak adalah landasan pengetahuan untuk berperilaku.
Hanya dengan metode itulah generasi-generasi model akan mengibarkan bendera kemajuan. Bukan dengan program-program yang lahir atas kepentingan politis apalagi bertujuan untuk menggempur tradisi pendidikan yang telah ada.
Karakter Bangsa
Bangsa Indonesia ‘dikuasai’ oleh sedikitnya dua ratus juta jiwa yang memeluk agama islam—asumsi ini lahir dari presentase republika per januari 2016. Jika mau, kaum muslim Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk memberangus agama lain di negeri ini. Namun itu semua tidak dilakukan. Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi perdamaian antar agama di Indonesia, yakni landasan yuridis formal dan landasan sosio-struktural.
Landasan formal tertera pada UUD 1945 dan pancasila.Namun diluar dua pilar tersebut, ada satu faktor sosio-struktural yang selama ini tidak disadari oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, eksistensi NU (Nahdlatul Ulama).
Sudah menjadi rahasia umum jika NU menyandang gelar sebagai ormas dengan anggota terbesar di Indoensia. Secara administratif agaknya memang sedikit sulit—mendekati mustahil—untuk mendeteksi jumlah warga NU di Indonesia. Namun, NU kultural menjamur hampir di setiap sudut ruang Nusantara.
Dengan jumlah yang begitu besar, maka tidak berlebihan jika menyebut NU sebagai representasi dari wajah islam di Nusantara. Meminjam istilah Gus Mus, bahwa NU-lah yang pertama kali harus bertanggung jawab jika terjadi pergolakan sosial di Indonesia sebab NU adalah mayoritas.
Masih hangat dalam benak bangsa Indonesia bahwa ACF (organisasi dunia yang bergerak di bidang HAM, kebebasan dan perdamaian antara umat beragama) pernah menghadiahkan penghargaan perdamaian kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 2013 silam. “keberhasilan SBY” dalam menciptakan bangsa yang demokratis dengan jumlah muslim terbanyak adalah satu hal yang melatarbelakangi ACF menganugerahkan penghargaan tersebut.
Tentunya SBY tidak berjalan sendirian. Ada NU yang berperan sebagai “invisible hand”dibelakang SBY kala itu. Andaikan mayoritas umat islam di Indonesia tidak didominasi oleh kaum nahdliyin, maka dapat dipastikan konfrontasi dan disharmonisasi antara agama, ras dan suku bangsa di Indonesia akan selalu menghiasi media massa. Karena memang tidak mudah meruwat integrasi dalam kebhinekaan. Untung ada NU!
NU—warga NU—yang moderat, tidak dibangun dengan tongkat ajaib dan mantra sabda dadi –kun fa yakun. Bukan pula dibangun dengan full day school(FDS) yang sekarang sedang gencar di media massa. Karakterisitik moderat ini tumbuh dan berkembang kemudian eksis di tengah-tengah masyarakat Indonesia melalui proses pendidikan yang begitu khas dan hanya dimiliki islam di Nusantara ini.Ada pesantren, madrasah diniyah dan majelis-majelis ta’lim yang telah berjasa membentuk islam yang ramah di negeri ini, bukan islam yang kaku dan profokatif.
Pendidikan menjadi alat vital pembentukan karakter bangsa. Perubahan kebijakan terhadap dunia poendidikan secara tidak langsung akan memberikan dampak bagi situasi sosial di masyarakat. Jelasnya, transformasi sekecil apapun dalam dunia pendidikan turut bertanggung jawab atas apa yang terjadi di masa mendatang. Oleh sebab itu, pengambilan keputusan serta pembuatan kebijakan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang memiliki benang merah dengan pendidikan harusnya memperhatikan aspek-aspek tersebut. Bukan malah meng-ACC apa lagi menciptakan kebijakan yang nantinya akan menyeret masyarakat Indonesia menjauh dari budaya luhurnya.
Fenomena FDS
Right man in the right place (orang baik yang berada dalam zona yang baik pula) merupakan komposisi sempurna dalam progresifitas suatu lembaga. Begitu pula dengan kebijakan yang diambil pemerintah harus mempertimbangkan aspek-aspek domestik dimana kebijakan itu akan diterapkan. Jika madharat yang dihasilkan akan lebih besar, maka tangguhkanlah.
Polemik pelaksanaan full day school menjadi buah bibir akhir-akhir ini. Pro-dan kontra seakan menjadi sajian wajib media massa. Banyak negara Eropa yang menggunakan model ini. Namun yang perlu diingat, bahwa Indonesia bukan Eropa.
Beberapa pakar yang tidak sepakat dengan pengaplikasian FDS di Indonesia menilai dari sisi ekonomi, psikologi, sosiologi dan berbagai logi-logi yang lainnya. Namun artikel ini berupaya menggali suara “NO” terhadap FDS melalui analogi NU meskipun nantinya akan ada pembahasan dari aspek-aspek lain sebagai wawasan.
Moderasi NU tak tertangguhkan lagi. Karakteristik bangsa moderat dan demokratis yang dimiliki oleh Indonesia tak lain dan tak bukan terlahir dari proses pendidikan baik formal, non formal maupun informal. NU dengan kapasitasnya sebagai ormas keagamaan memegang peranan penting dalam ranah edukasi. Hampir seluruh warga Nahdhiyin merasakan madrasah diniyah yang “tidak terlalu” formal.
Madrasah diniyah (Madin) memegang kontribusi besar yang selama ini  tidak terurai. namun jika FDS benar-benar diterapkan, maka cepat atau lambat, Madin akan segera punah dari bumi Indonesia. Salah satu tokoh nahdliyin Jawa Tengah pernah mengungkapkan bahwa melalui madrasah diniah-lah akhlak al akrimahummat islam Indonesia terbentuk.
Dengan kata lain, Madin menjadi pelopor islam moderat,rohmatan lil alamin (pembawa pesan damai bagi alam semesta) yang menjadi ikon di Indonesia. Apabila FDS terlaksana secara masif di Nusantara, maka bukan cuma Madin yang hilang. Lebih dari itu, islam yang kaku, kolotdan intoleran akan segera menguasai negeri ini. Jika sudah demikian, maka siapa yang mau bertanggung jawab? Menteri pendidikan? tentu saja bukan! (Maulana L. Karim Penulis merupakan Ketua Kader Penggerak Nahdlatul Ulama Kec. Gembong dan Pimpinan Redaksi Majalah Pribumi Pati)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • LP Ma'arif NU Pati Targetkan Juara Umum di Porsema XIII Jawa Tengah

    LP Ma’arif NU Pati Targetkan Juara Umum di Porsema XIII Jawa Tengah

    • calendar_month Sel, 9 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 509
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Kabupaten Pati menargetkan Juara Umum dalam perhelatan Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XIII Jawa Tengah, yang akan dilaksanakan di Kabupaten Wonosobo pada tanggal 10-13 September 2025. ketua LP Ma’arif NU Pati, H Muhsin Moh. Sholeh, mengatakan bahwa kontingen dari Bumi Mina Tani sudah siap berangkat ke […]

  • IAIN Kudus Turun Gunung Sosialisasi Kampus

    IAIN Kudus Turun Gunung Sosialisasi Kampus

    • calendar_month Sel, 23 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 594
    • 0Komentar

    GEMBONG-Empat puluh pendidik Yayasan Al Ma’arif NU Gembong mengikuti sosialisasi Pascasarjana IAIN Kudus. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa (23/7) siang di aula lantai dua Ponpes Shofa Az Zahro’ Gembong-Pati. Peserta yang hadir adalah para dewan guru dari PAUD Shofa Az Zahro’, RA Muslimat NU, MI Hidayatul Islam, MTs. Al Ma’arif, MANU dan SMK-NU Gembong serta […]

  • Calon Jemaah Haji Pati Mulai Jalani Manasik 9 Februari Mendatang

    Calon Jemaah Haji Pati Mulai Jalani Manasik 9 Februari Mendatang

    • calendar_month Kam, 5 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.596
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Calon jemaah haji asal Kabupaten Pati bersiap memasuki tahapan penting sebelum bertolak ke Tanah Suci. Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Pati menjadwalkan bimbingan manasik haji tingkat kecamatan akan dimulai serentak pada Senin, 9 Februari 2026. ​Kepala Kemenhaj Pati, Umi Isti’anah, menjelaskan bahwa rangkaian bimbingan ini dibagi menjadi dua fase utama, […]

  • PCNU- PATI

    Beban Berat Masyarakat

    • calendar_month Rab, 27 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 449
    • 0Komentar

    Beberapa hari lalu, saat saya perjalanan berangkat ke kantor, saya berhenti untuk mengisi bahan bakar ke salah satu SPBU yang saya lewati. Antriannya panjang. Sepanjang kemacetan menuju kota Atlas. Sabar. Dalam antrian di depan saya rata rata sepeda motor besar, seperti Megapro, Vixion, GL Pro, GL Mex, GL 100, Win 100, RX King dan seterusnya. […]

  • Madrasah Damai Pati Gelar Pelatihan Media Sosial

    Madrasah Damai Pati Gelar Pelatihan Media Sosial

    • calendar_month Jum, 14 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 436
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Madrasah Damai menggelar Pelatihan “Sosial Media sebagai Ruang Dialog” di Aula Lantai 3 The Safin Hotel Pati. Pelatihan tersebut dilaksanakan selama tiga hari, yakni mulai Jumat sampai dengan Minggu 14-16 Oktober 2022. Adapun yang menjadi pesertanya adalah para kawula muda. Komunitas sekaligus lembaga pelatihan, penelitian, dan pendidikan perdamaian berbasis santri dari Desa Waturoyo, […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Puasa Bukan Bulan Kapital

    • calendar_month Rab, 11 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.429
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Ibadah yang hanya dipandang kayak dodolan, dagang, untung-rugi, oleh ganjaran pira, kayaknya itu menjadi bentuk riil cara berpikir kita itu kapitalistik. Maksude pimen? Ya, simpelnya kita beribadah hanya mengejar keuntungan pahala saja, tanpa memastikan puasa kita itu sakjane ya agar kita bertakwa dan menuju Allah Swt.   Realitas lain, tiap […]

expand_less