Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Relasi NU, Agama, dan Negara

Relasi NU, Agama, dan Negara

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 31 Des 2022
  • visibility 434
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto

Dua bidang kajian yang masih senantiasa bertengger pada podium kajian keislaman di ambang milenium ketiga ini adalah tentang agama (religion) dan relasinya dengan sebuah bangsa (nation) yang saat ini telah terwadahi dalam bentuk entitas negara (state). Situasi dilematis yang dihadapi oleh keduanya kini tak lagi bisa dilihat hanya sebatas problem kasuistik, melainkan telah jauh menggugat ke pondasi-pondasi yang paling prinsipil, alias lebih bersifat paradigmatik. Sebab jika relasi antar keduanya gagal dipahami dengan baik dan benar, maka sketsa wajah buruk yang akan lahir adalah menjamurnya gerakan separatis; beragama tanpa perlu bernegara, atau sebaliknya, bernegara tanpa harus beragama. Disadari atau tidak, ihwal inilah yang sejatinya tengah terjadi di bumi Ibu Pertiwi, Indonesia.

Indonesia sebagai Negara yang memiliki berbagai macam corak budaya merupakan anugerah Tuhan yang bahkan tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lainnya. Rekam jejak perjalanan bangsa membuktikan bahwa pengukuhan identitas jati diri sebagai bangsa yang berdaulat telah melindungi setiap elemen bangsa dari segenap upaya separatisme yang kerapkali bertujuan menggerogoti sistem nilai yang sudah mapan. Sedang sebagaimana termaktub pada sila pertama bahwa menjadi bangsa yang beragama merupakan asa orisinil bangsa.

NU sebagai bagian penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, saat ini dituntut harus mampu mempertahakan keutuhan negara. Bukan tanpa sebab, pada zaman edan saat ini, pola pikir dan gaya hidup ibarat sebuah pertempuran ide atau gagasan-gagasan yang mempertaruhkan identitas ideologi dan tradisi sebuah bangsa. Dalam medan peperangan pun perangkat yang digunakan tidak lagi berbentuk senjata fisik, melainkan lebih mengedepankan sebuah metodologi abstrak yang oleh karenanya pihak lawan akan runtuh oleh anak sejarahnya sendiri.

 Oleh sebab itu, NU harus mampu hadir untuk menjaga anak bangsa agar tidak kehilangan identitas kebangsaannya, sekaligus memastikan bahwa moralitas keagamaan dapat dientitaskan untuk semua rakyat Indonesia.

Gus Dur dan Khittah NU

KH. Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur, menyatakan bahwa hubungan antara agama dengan negara dalam sejarahnya tidaklah sama. Namun sejarah juga telah membuktikan bahwa negera berperan penting dalam mendukung dan mendorong dinamika kehidupan beragama. Sebaliknya, agama juga berperan penting dalam menciptakan dan mendorong pembangunan etika kehidupan bernegara. Walaupun demikian, negara tidak harus berbentuk agama tertentu, termasuk agama Islam, yang terpenting ada keserasian dengan agama Islam. Dengan demikian, prinsip saling menghormati menjadi dasar utama keberlangsungan negara ini.

Penghormatan terhadap pluralitas dan kerjasama antara agama juga tampak ketika para pendiri negara sedang merumuskan Pancasila. Mereka yang mayoritas Muslim memiliki sikap yang terbuka dan lapang dada untuk dapat saling menghargai dan menghormati keyakinan agama lain. Fenomena ini, menjadi bukti sejarah pendirian negara Indonesia yang sangat otentik dan tidak terbantahkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah final dan tidak bisa diganggu gugat lagi.

Prinsip penghormatan terhadap agama lain menjadi agenda Gus Dur untuk memperkokoh NKRI. Pemikiran ini dapat kita lacak ketika Gus Dur menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Gus Dur tidak hanya melakukan reformasi di tubuh PBNU, tetapi juga bersama KH. Ahmad Siddiq melakukan transformasi proses pemahaman bahwa Pancasila adalah titik kompromi yang sudah tepat dan final dalam membangun tata kehidupan yang majemuk dan beragam di Indonesia. Gagasan besar mengenai relasi agama dan negara ini dapat ditelaah dari gagasan “kebangsaan” dan “NU kembali ke Khittah” yang kemudian disahkan pada Muktamar NU di Situbondo tahun 1984. Dalam konteks ini, NU menjadi organisasi sosial keagamaan pertama yang menerima ideologi Pancasila sebagai asas tunggalnya. Gus Dur menyatakan:

“Dalam konteks politik Islam mutakhir, rumusan tersebut (relasi agama dan negara, pen.) sudah dirumuskan secara formal oleh Nahdlatul Ulama dalam Munas Alim Ulama NU di Situbondo tahun 1983 setahun sebelum Muktamar berlangsung. Dikatakan bahwa Pancasila adalah asas dari Nahdlatul Ulama sedangankan Islam adalah akidahnya.”

Menurut Gus Dur, Islam tidak mewajibkan pendirian negara agama, tetapi yang dibicarakan justru tentang  manusia secara keseluruhan, yang tidak memiliki sifat memaksa, yang terdapat dalam setiap negara. Islam cukup menjadi mata air yang mengairi Pancasila dengan nilai-nilai luhur agama dan budaya bangsa, sehingga Islam bisa bersatu dengan kearifan budaya bangsa. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa agama dan budaya menjadi entitas yang membentuk ideologi negara berupa Pancasila.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lembaga Pers dan Jurnalistik PC IPNU IPPNU Pati Launching 2 Program Unggulan

    Lembaga Pers dan Jurnalistik PC IPNU IPPNU Pati Launching 2 Program Unggulan

    • calendar_month Kam, 25 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 589
    • 0Komentar

    IPNU dan IPPNU melaunching SMC dan Suara Pelajar di Pendopo Kabupaten Pati PATI – Lembaga Pers dan Jurnalistik PC IPNU IPPNU Kabupaten Pati terbitkan dua program kerja saat Rapat Kerja Cabang (Rakercab). Di antaranya ialah SMC (Student Media Connection) dan Suara Pelajar. SMC di bentuk untuk membangun konektivitas antar Lembaga Pers IPNU IPPNU Sekabupaten Pati.  […]

  • Lewat Lazisnu Pati, Mr. X Berikan Donasi untuk Pengobatan Sugiati

    Lewat Lazisnu Pati, Mr. X Berikan Donasi untuk Pengobatan Sugiati

    • calendar_month Sen, 3 Jan 2022
    • account_circle admin
    • visibility 422
    • 0Komentar

    Agus Arif Mustofa (kiri), Manajer Penyaluran Lazisnu Pati memberikan donasi dari Mr. X kepada keluarga Sugiati, korban kecelakan lalu lintas yang membituhkan penanganan medis.  PATI – PC Lazisnu Pati kembali memberikan bantuan kesehatan kepada Sugiati, warga desa Bleber kecamatan Cluwak Kabupaten Pati, Sabtu (01/01). Sebelumnya pada Minggu (12/12/21) PC Lazisnu Pati dengan berkoordinasi dengan pengurus […]

  • Masa Pandemi, Lazisnu Penambuhan Tetap Gerakkan Kegiatan Sosial

    Masa Pandemi, Lazisnu Penambuhan Tetap Gerakkan Kegiatan Sosial

    • calendar_month Sab, 29 Agu 2020
    • account_circle admin
    • visibility 363
    • 0Komentar

    MARGOREJO-Masa pandemi tidak menghalangi Unit Pengelola Zakat Infaq dan Shodaqoh (UPZIS) Lazisnu Ranting Penambuhan, Kecamatan Margorejo untuk terus melakukan kegiatan sosial. Bekerja sama dengan warga sekitar dan jama’ah sholawat Nurussalam, Upzis-LAZISNU Penambuhan menyantuni 14 anak yatim di desa setempat.  Pengurus Ranting NU Desa Penambuhan, Margorejo dan Pengurus Upzis-LAZISNU Desa Prnambuhan melakukan foto bersama usai santuni […]

  • Bicara Kaderisasi Era Pandemi, NU Gembong : Militan Saja Nggak Cukup

    Bicara Kaderisasi Era Pandemi, NU Gembong : Militan Saja Nggak Cukup

    • calendar_month Kam, 29 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 419
    • 0Komentar

    K. Sholikhin, ketua MWC NU Gembong   GEMBONG-Kaderisasi merupakan satu komponen penting dalam organisasi. Hanya dengan kader yang militan dan terdidik, sebuah organisasi bisa tumbuh subur dan eksis. itulah setidaknya yang diungkapkan oleh K. Sholikhin, ketua MWC NU Gembong, Kamis (29/7). “Organisasi bisa panjang umur kalau pengkaderannya baik,” tuturnya. Namun, di masa pandemi ini, pengkaderan dalam […]

  • PCNU PATI - Peserta Mengeluh, Proses Registrasi Kongres IPNU Dinilai Amburadul

    Peserta Mengeluh, Proses Registrasi Kongres IPNU Dinilai Amburadul

    • calendar_month Jum, 12 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 381
    • 0Komentar

    JAKARTA – Panitia Pelaksana Kongres Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPNI) ke-XX dinilai kurang persiapan. Sehingga, selama proses registrasi terkesan ambiradul. Diketahui, panitia mengumumkan peserta kongres diwajibkan registrasi ulang pada hari kamis (11/8) malam setelah tiba di lokasi kongres di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. Namun, realita di lapangan registrasi peserta baru dibuka pada jum’at […]

  • PCNU-PATI

    Mahasiswa PPL IPMAFA Diterima Lazisnu

    • calendar_month Kam, 19 Okt 2023
    • account_circle admin
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- PC Lazisnu Pati kembali menerima mahasiswa PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) dari kampus Institut Pesantren Matholi’ul Falah pada rabu (18/10). Acara tersebut berlangsung di kantor PC Lazisnu Pati.  Dalam pelaksanaan program praktik pengalaman lapangan (PPL) dimaksudkan untuk menciptakan mahasiswa yang unggul dalam bidangnya yaitu manajemen zakat dan wakaf. Dalam hal ini Institut Pesantren Matholi’ul Falah […]

expand_less