Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Refleksi Harlah NU ke-94 Kebangkitan Kaum Muda NU

Refleksi Harlah NU ke-94 Kebangkitan Kaum Muda NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 11 Apr 2017
  • visibility 369
  • comment 0 komentar

Harlah NU ke-94 adalah momentum strategis untuk membangkitkan spirit kaum muda NU. Sejak dipimpin Gus Dur pada tahun 1984, eskalasi pergerakan kaum muda NU mengagumkan. Gus Dur berhasil mengorbitkan kader-kader muda untuk tampil sebagai pemimpin dan aktivis NU masa depan yang kreatif, inovatif, progresif, dan kompetitif. Pencerahan pemikiran dan aksi-aksi kontroversial Gus Dur mampu membangkitkan semangat anak muda NU untuk bangkit menatap masa depan dengan optimis. Mereka menjadi akrab dengan wacana-wacana kontemporer, baik dari Timur maupun Barat, bacaan mereka tidak terbatas pada kitab kuning yang menjadi jimat kalangan pesantren dan NU, tapi juga buku-buku berbahasa Indonesia, arab, dan inggris yang memperkaya perspektif dan membangkitkan energi perubahan.
Lahirnya sosok Masdar Farid Mas’udi, Said Aqil Siraj, A. Mustafa Bisri, A. Hasyim Muzadi, Imam Aziz, Yahya Tsaquf, Ulil Abshar Abdalla, Abdul Moqsith Ghazali, Syafiq Hasyim, Badriyah Fayumi, Maria Ulfah Anshor, Husein Muhammad, Rumadi, Zuhairi Misrawi, Khamami Zada, Abdul A’la, Imdadun Rahmat, Ahmad Baso, Marzuki Wahid, Alai Najib, Imam Nakhai, dan Malik Madani, tidak lepas dari perjuangan Gus Dur dalam membangkitkan spirit intelektual dan mobilitas organisasi kaum muda sehingga mereka bisa dikenal publik dengan cepat. Kemampuan orasi, menulis, dan aksi Gus Dur betul-betul mampu menggugah tidur panjang NU dalam pertukaran pemikiran modern yang sebelumnya didominasi kalangan modernis. Kini, kader-kader Gus Dur telah memegang estafet kepemimpinan NU untuk meneruskan idealisme Gus Dur dalam menjadikan NU sebagai kekuatan utama civil society yang diperhitungkan oleh seluruh pihak, dalam dan luar negeri.
Harlah NU ke-94 ini harus dijadikan sebagai momentum kebangkitan kaum muda NU dalam memimpin NU masa depan. Tidak mungkin NU mengalami era kejayaan dan keemasan jika pemimpinnya berwawasan sempit, relasinya terbatas, dan pergerakannya lamban. Kaum muda NU tidak boleh menunggu kader-kader senior mengundurkan diri dalam kompetisi, tapi harus merebut panggung kepemimpinan nasional NU dalam rangka mendinamisir potensi NU ke depan dengan langkah-langkah yang efektif. Saat ini, nama-nama yang muncul ke permukaan hampir semuanya kader-kader senior, seperti Said Aqil Siraj, As’ad Said Ali, A. Mustafa Bisri, A. Hasyim Muzadi, dan Salahuddin Wahid.  Sudah waktunya kader-kader muda di bawahnya, seperti Imam Aziz, Afifuddin Muhajir, Malik Madani, dan Yahya Tsaquf mengambil alih kepemimpinan nasional NU dan berkolaborasi dengan kader-kader senior untuk membawa kejayaan NU, melampaui era Gus Dur. Jika era Gus Dur, pemikir dan aktivis NU belum banyak, sehingga Gus Dur seperti berjuang sendirian dalam membesarkan NU, maka sekarang pemikir dan aktivis NU jumlahnya sangat banyak, baik alumni pesantren, perguruan tinggi dalam dan luar negeri, dan lain-lain, sehingga mereka bisa diajak bersama untuk membesarkan NU. Profesi mereka ada yang menjadi dosen, pengusaha, birokrat, aktivis lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain. Mereka kaya gagasan, tapi belum bisa dimanfaatkan untuk pengembangan NU.
Penulis yakin, kaum muda NU mampu tampil sebagai pemimpin NU masa depan jika mereka mempunyai kepercayaan diri yang kuat dan mampu melakukan bargaining position yang tinggi dengan kapabilitas yang mereka miliki. Dalam konteks ini, kaum muda NU harus bersatu untuk merebut pucuk pimpinan NU dengan cara-cara elegan dan sportif. Forum terbuka dalam penyampaian visi dan misi pimpinan NU dimanfaatkan oleh kaum muda untuk melakukan sosialisasi gagasan dan pemikiran cemerlang dalam membangun NU di masa depan, baik di bidang penguatan kapasitas lembaga, kemandirian ekonomi warga NU, peningkatan kualitas lembaga pendidikan, menempatkan kader-kader muda terbaik NU ke berbagai instansi pemerintah, maupun bekerjasama dengan berbagai kalangan, dalam dan luar negeri, untuk memperkuat kontribusi NU dalam menyelesaikan problem-problem kemanusiaan global. Mereka perlu membuat profil yang bisa dibaca oleh peserta muktamar sebagai salah satu pertimbangan sebelum memilih seorang pemimpin sehingga diketahui rekam jejak yang bisa dipertanggungjawabkan.
Kebangkitan NU jilid tiga, setelah kebangkitan jilid pertama era Gus Dur dan kebangkitan jilid dua era Said Aqil Siraj dan Masdar F. Mas’udi, akan menjadi kenyataan jika anak-anak muda NU yang kreatif dan kompetitif mampu merebut panggung kepemimpinan nasional NU. Selama ini mereka gamang menghadapi hegemoni kader-kader senior yang ingin mempertahankan status quo. Oleh sebab itu, cita-cita tinggi menjadi pemimpin NU harus diperjuangkan dengan gigih. Namun, jika realitas politik menunjukkan kader-kader muda masih belum mampu merebut pucuk pimpinan, karena kuatnya pengaruh figur senior, maka kader muda harus proaktif membangun kekuatan untuk mendukung figur senior yang akomodatif dan terbuka terhadap kader-kader muda. Figur senior tersebut diharapkan mampu memberikan peran krusial kepada anak-anak muda untuk membangkitkan potensi terpendam NU yang masih belum diberdayakan secara optimal, khususnya di bidang pendidikan dan ekonomi.
Kompleksitas  problem NU tidak bisa diatasi oleh satu dua orang, tapi oleh tim yang kuat, solid, dan profesional. Kaum muda NU mempunyai kompetensi memadai untuk membangun tim pemenang (the winning team) yang akan menjalankan program-program prioritas yang sudah diputuskan dalam muktamar NU ke-33 di Jombang kemarin. Kekayaan ilmu, relasi global, kekuatan finansial, manajemen modern, dan jam terbang yang tinggi, baik dalam maupun luar negeri, menjadi jaminan mutu untuk menggerakkan roda organisasi NU dengan sukses menuju realisasi cita-cita yang diharapkan oleh seluruh warga NU dan bangsa, yaitu kemandirian ekonomi, kemajuan pendidikan, peningkatan pengetahuan dan teknologi, dan penguatan kapasitas kelembagaan secara professional. Jangan sampai kader-kader muda terbaik NU dimarginalkan, karena khawatir menjadi kompetitor. Pikiran negatif seperti ini hanya lahir dari orang-orang yang mentalitasnya rapuh dan akalnya tumpul. Kader-kader muda NU justru harus diorbitkan agar dikenal publik dan difasilitasi untuk membangun masa depan NU yang cemerlang.( Dr. Jamal Ma’mur Asmani, MA Wakil Ketua PCNU Pati, Ketua Prodi Manajemen Zakat Wakaf IPMAFA)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Photo by Ankit Rathore

    Membaca Sekitar

    • calendar_month Kam, 9 Mei 2024
    • account_circle admin
    • visibility 398
    • 0Komentar

    Oleh : Iva Millatul A. Datang ke Rantau lagi setelah libur idulfitri. Sepanjang jalan aku lihat ada lalu lalang kendaraan, rumah-rumah yang ramai dengan tamu dan keluarga, masjid ramai dengan acara halal bihalal dan reuni, rumah-rumah memasang tenda untuk merayakan pernikahan, warung-warung yang tutup mulai buka, spanduk ucapan idulfitri dari bupati dan kapolda, dan arus […]

  • Berikan Dukungan Penuh, Wakil Bupati Wonosobo Amir Husein Apresiasi Penyelenggaraan PORSEMA XIII Wonosobo

    Berikan Dukungan Penuh, Wakil Bupati Wonosobo Amir Husein Apresiasi Penyelenggaraan PORSEMA XIII Wonosobo

    • calendar_month Sen, 15 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 374
    • 0Komentar

    Wonosobo – Kegiatan Pekan Olah Raga dan Seni Ma’arif (PORSEMA) XIII 2025 pada 10-13 September -2025 telah selesai. Berbagai apresiasi kesuksesan disampaikan oleh berbagia pihak di antaranya disampaikan oleh Wakil Bupati Wonosobo Amir Husein. “Saya bersyukur Wonosobo dipercaya menjadi tuan rumah Porsema XIII. Alhamdulillah, kegiatan ini mampu menggerakkan perekonomian dan meningkatkan kunjungan wisata. Semoga Wonosobo […]

  • Puasa Mutih dan Patigeni

    Puasa Mutih dan Patigeni

    • calendar_month Sel, 17 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 3.527
    • 0Komentar

    Seorang kyai memberikan ijazah/amalan yang berupa puasa mutih (makan nasi saja) selama tujuh hari yang diakhiri dengan pati geni (tidak makan dan tidak minum dan tidak tidur) mulai maghrib sampai maghrib yang akan datang. Pertanyaan : Bolehkah amalan tersebut menurut kacamata fiqih ?   Jawaban : Boleh apabila tidak ada niat wishol dan amalan tersebut […]

  • SMK Cordova Bentuk Komisariat IPNU-IPPNU

    SMK Cordova Bentuk Komisariat IPNU-IPPNU

    • calendar_month Jum, 27 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 480
    • 0Komentar

    Pati. SMK Cordova Margoyoso Pati mendeklarasikan pembentukan Komisariat IPNU/IPPNU, dengan mengambil tema“Membangun Kader yang Berkompeten dalam Berorganisasi”23/09/kemarin. Acara bertempat di Masjid SMK Cordova deklarasi dimulai dengan tahlil yang dipimpin Kepala SMK Cordova Muhammad Niam Sutaman, diikuti dengan menyanyikan lagu kebangsaan  Indonesia Raya, Mars Sybbanul Watan,  Mars Cordova dan Mars IPNU/IPPNU. Muhammad Niam, menegaskan bahwa sekolah […]

  • Tepat pada Hari Sumpah Pemuda, DPC Sarbumusi Pati Dilantik

    Tepat pada Hari Sumpah Pemuda, DPC Sarbumusi Pati Dilantik

    • calendar_month Kam, 28 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 539
    • 0Komentar

    Pembacaan deklarasi oleh ketua DPC Sarbumusi Pati PATI – Dewan Pimpinan Cabang Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Kabupaten Pati baru saja dilantik bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, Kamis (28/10) pagi tadi.  Tak hanya pelantikan, kegiatan yang dilangsungkan di Aula PCNU Pati tersebut juga disertai dengan deklarasi. Hal ini dikonfirmasi Husaini Ketua Sarbumusi Cabang Pati.  Menurutnya, […]

  • Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Merayakan Kemiskinan Dengan Bahagia’ yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (21/6).

    Ngaji NgAllah Suluk Maleman Menyoal Merayakan Kemiskinan dengan Bahagia

    • calendar_month Sen, 23 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 495
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Universitas Harvard pada Mei lalu, berdasar penelitiannya, menyebut Indonesia sebagai negara paling bahagia di dunia. Anugerah itu memiliki keterkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Kajian inilah yang kemudian dijadikan salah satu topik pembahasan dalam Suluk Maleman edisi ke 162 pada Sabtu (21/6) malam. Budayawan yang juga penggagas Suluk Maleman Anis Sholeh Ba’asyin menyebut hal itu […]

expand_less