Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Pendidikan Perdamaian dalam Perspektif Abdurrahman Wahid

Pendidikan Perdamaian dalam Perspektif Abdurrahman Wahid

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 19 Mei 2022
  • visibility 425
  • comment 0 komentar

KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur lahir dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang kental dengan pendidikan keislaman. Sejak kanak-kanak Gus Dur mendapatkan bimbingan dari orang tuanya. Sehingga dari keluarga pesantren dan tumbuh kembang dari pendidikan pesantren kelak akan memberikan warna bagi perkembangan intelektualitasnya hingga tumbuh dewasa.


Sejak menuntut ilmu di berbagai pesantren baik dari lingkungan keluarganya, maupun nyantri di Krapyak Yogyakarta dan di Tegalrejo Magelang. Gus Dur menghabiskan banyak waktunya dengan membaca buku-buku Barat, seperti Das Kapital, Filsafat Plato, Thales, novel-novel Willem Bochner, serta Romantisme Revolusioner. Sehingga membuat Gus Dur semakin dewasa dalam berfikir dan semakin lihai dalam diplomasi.


Selain itu, Gus Dur memiliki kelebihan dalam menggunakan bahasa asing yang bagus, sehingga membuatnya sangat mudah dalam memahami pemikiran ilmuan kelas dunia, seperti Karl Marx, Lenin, Gramsci, Mao Zedong, dan karya-karya pemikiran Islam progresif. Hal inilah yang berpengaruh pada pemikiran dan kiprahnya kelak.


Dari situlah Gus Dur tumbuh kembang menjadi manusia yang multitalenta. Dalam hal ini misalnya Gus Dur melakukan pembelaan terhadap jemaah Ahmadiyah, ketika itu banyak kelompok mengecam dan menghujat, serta berusaha menyingkirkan kelompok lain yang dianggap sesat dengan cara-cara kekerasan dan penistaan sebagaimana yang kerap dialami jemahaan Ahmadiyah. Gus Dur selalu tampil sebagai pembelanya. Adapun yang dibela Gus Dur bukan keyakinan mereka, tetapi keberadaan mereka sebagai manusia. Bukan pula berarti Gus Dur setuju dengan keyakinan Ahmadiyah. Namun, ia sangat menghormati keyakinan seseorang. Penghormatan inilah sebagai landasan penting bagi terciptanya kerukunan dan perdamaian antarumat beragama.


Dalam kasus Ahmadiyah di atas, pendirian Gus Dur sangat jelas dan tuntas. “Selama saya masih hidup, saya akan pertahankan gerakan Ahmadiyah. Ngerti, nggak ngerti terserah” (Detik.com,9/6/2008). Pertanyaan itulah yang dilontarkannya ketika kelompok pengikut Mirza Ghulam ini diserang Front Pembela Islam dan muncul desakan agar Ahmadiyah dibubarkan. Pada kesempatan lain, Gus Dur menawarkan kepada kelompok Ahmadiyah berlindung di Ciganjur, lingkungan kediamannya, jika pemerintah dianggap tak lagi bisa melindungi mereka. Di hadapan ratusan anggota Anshor, sayap kepemudaaan NU, Gus Dur juga sempat berpesan untuk melindungi kelompok minoritas seperti Ahmadiyah.


Sedangkan dalam mengimplementasikan pendidikan perdamaian, Gus Dur tak sekedar berhenti pada tataran wacana. Justru, Gus Dur secara konsisten menerapkannya dalam kehidupan nyata, meski kadang-kadang langkah-langkah yang dilakukannya banyak mengandung kontroversi. Secara garis besar, gagasan pendidikan perdamaian Gus Dur diimplementasikan dalam dua ranah utama, yaitu: dimensi wacana dan praktik nyata di tengah masyarakat.


Dalam poin pertama, Gus Dur merupakan pegiat perdamaian yang tak pernah berhenti mewacanakan gagasan dan mengomunikasikannya secara terbuka, baik melalui tulisan-tulisan di media massa maupun melalui diskusi-diskusi baik formal maupun nonformal. Ini yang menunjukkan bahwa pemikiran pendidikan perdamaian bagi Gus Dur tak cukup hanya sekedar digagas sendirian, tetapi harus dikomunikasikan di ruang publik, agar mendapatkan respon balik dan pengayaan gagasan dari individu-individu lain yang memiliki perhatian yang sama.


Sedangkan dalam poin kedua, Gus Dur tak mau berhenti pada tataran wacana yang melangit. Dia ingin mengimplementasikannya dalam ranah kehidupan masyarakat yang bergerak secara dinamis. Oleh karena itu, bagi Gus Dur, konsep dan implementasi dilaksanakan secara beriringan, bahkan kerap dilakukan secara bersamaan.


Dengan demikian, melalui pendidikan perdamaian kita dapat memandang pluralitas, multikultur dalam berbagai aspek social, ekonomi, politik, dan agama sebagai kekayaan spiritual bangsa yang harus dijaga keberadaannya. (Siswanto)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Porsema XIII Jateng Resmi Dibuka, Ribuan Peserta Unjuk Kebolehan

    Porsema XIII Jateng Resmi Dibuka, Ribuan Peserta Unjuk Kebolehan

    • calendar_month Kam, 11 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 566
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XIII Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) PWNU Jawa Tengah, resmi dibuka, pada Rabu (10/9/2025) malam. Adapun ajang ini berlangsung pada tanggal 10-13 September 2025, dengan mengusung tema “kolaborasi membangun generasi yang sehat, hebat dan prestasi dahsyat untuk Nusantara […]

  • Budaya Literasi Baca-Tulis di Rumah. Photo by RU Recovery Ministries on Unsplash.

    Budaya Literasi Baca-Tulis di Rumah

    • calendar_month Sen, 22 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 488
    • 0Komentar

    M. Iqbal Dawami Sebagai orang yang mencintai aktivitas baca-tulis, saya mencoba menularkan “virus” ini kepada keluarga saya. Di tengah masyarakat yang tak punya tradisi literasi ini, bukan hal mudah untuk menerapkannya, karena keluarga yang berbeda dengan kebanyakan di lingkungan bisa dianggap “aneh”, meskipun itu hal yang positif. Termasuk mengenalkan buku kepada tetangga. Saya coba sedikit […]

  • MBG Dalam Perspektif Maqashidus Syariah

    MBG Dalam Perspektif Maqashidus Syariah

    • calendar_month Ming, 26 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.908
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani Makan bergizi gratis (MBG) menjadi sorotan publik. Banyaknya kasus keracunan yang mencapai angka lima ribu lebih menjadikan program ini menunai kritik pedas. Wali murid dan publik sangat menyayangkan kasus keracunan ini. Analisis banyak kalangan menyatakan bahwa anggaran besar MBG yang mencapai 335 triyun ini jika tidak diawasi dengan ketat dan disiplin […]

  • LP Ma’arif NU Pati Gelar Rapat Koordinasi dengan Kepala MI Se Kabupaten

    LP Ma’arif NU Pati Gelar Rapat Koordinasi dengan Kepala MI Se Kabupaten

    • calendar_month Kam, 20 Feb 2020
    • account_circle admin
    • visibility 415
    • 0Komentar

    PATI – LP Ma’arif NU PCNU Kab. Pati menggelar rapat koordinasi bersama Kepala MI se Kabupaten Pati, Kamis, 20 Februari 2020. Acara yang diselenggarakan di Gedung NU Kabupaten Pati ini diikuti oleh 66 Kepala Madrasah Ibtidaiyah dari seluruh penjuru Kabupaten Pati. Tampak hadir dalam acara pembukaan rapat koordinasi antara lain Ketua PCNU Kabupaten Pati, Yusuf […]

  • DKC CBP KPP Pati Donasikan Satu Truk Bantuan untuk Korban Bencana

    DKC CBP KPP Pati Donasikan Satu Truk Bantuan untuk Korban Bencana

    • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
    • account_circle admin
    • visibility 392
    • 0Komentar

      Pati, 02 Februari 2021 DKC CBP KPP Pati donasikan satu truk bantuan yang berisi 15 dos Mie instan, 4 Karung beras dan selebihnya pakaian. Bantuan tersebut hasil dari penggalangan donasi oleh beberapa DKAC CBP KPP di antaranya DKAC Dukuhseti, DKAC Gunungwungkal, DKAC Juwana, DKAC Kyen, DKAC Trangkil, PR IPNU IPPNU Gabus dan PR IPNU […]

  • PCNU-PATI

    BANSER Pati Akan Adakan Apel Akbar

    • calendar_month Sab, 15 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 470
    • 0Komentar

    Juwana.  Pimpinan Cabang GP Ansor dan Satuan Koordinasi Cabang Barisan Ansor Serba Guna (Satkorcab Banser) Kabupaten Pati akan menggelar apel akbar 5000 Banser. Kegiatan yang diselenggarakan  besok pada hari Minggu (16/10) akan bertempat di Pulau Seprapat, Juwana ini bakal dihadiri Satkornas Banser Pimpinan Pusat GP Ansor. Kasatkorcab Banser Pati H. M. Soetomo menjelaskan peserta apel […]

expand_less