Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Memaknai Santri di Hari Santri

Memaknai Santri di Hari Santri

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 26 Okt 2024
  • visibility 996
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto

Santri sebagaimana kita pahami merupakan seorang individu yang mempelajari ilmu agama di pesantren. Namun, makna santri juga tidak hanya terbatas pada aspek pendidikan, melainkan meliputi identitas, nilai-nilai, dan sikap hidup yang tercermin dalam kehidupan keseharian mereka.

Sedangkan memaknai santri di hari santri adalah momen penting untuk mengenang peran santri dalam sejarah perjuangan bangsa serta kontribusinya terhadap perkembangan keislaman di Indonesia.

Peringatan ini pada umumnya jatuh pada tanggal 22 Oktober setiap tahunnya, yang diresmikan oleh pemerintah Indonesia untuk mengenang Resolusi Jihad yang digagas oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

Resolusi ini bertujuan untuk memobilisasi santri dan masyarakat untuk berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kolonial yang terus membombardir di Nusantara. Oleh karena itu, resolusi jihad ini tersebar secara luas baik kepada santri maupun masyarakat untuk jihad dan memukul mundur Belanda.

Makna santri sendiri di Hari Santri juga melampaui sejarah dan perjuangan fisik. Hari ini menjadi pengingat akan peran santri sebagai penjaga moralitas dan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat. Santri adalah simbol kesederhanaan, kedisiplinan, dan semangat belajar yang tinggi, baik dalam ilmu agama maupun pengetahuan umum.

Kalau kita telisik lebih detail kata “Santri” memiliki makna yang lebih luas. Karena kata santri dalam bahasa Arab terdiri dari lima huruf yakni, Sin, Nun, Ta’, Ra’ dan Ya’.

Pertama, Sin yang memiliki arti Saafiqul Khoir pelapor kebaikan. Seorang santri harus memiliki kebaikan dimanapun ia berada. Karena kebaikan ini akan terus melekat kepada diri santri dimanapun ia berada. Istilah ini berasal dari bahasa Arab, di mana saafiqul berarti “yang bergegas” atau “yang bersegera,” dan khoir berarti “kebaikan.” Sehingga, saafiqul khoir dapat diterjemahkan sebagai “orang yang bergegas dalam kebaikan.”

Kedua, Nun yang berarti Naasibul Ulama dalam diri santri mengandung konsep yang mendalam tentang hubungan antara santri dan para ulama. Istilah ini berasal dari bahasa Arab, di mana naasib berarti “penerus” atau “pewaris,” dan ulama berarti “para cendekiawan atau ahli agama.” Dengan demikian, Naasibul Ulama dapat diartikan sebagai “pewaris para ulama.”

Ketiga, Ta’ yang berarti Taarikul Ma’ashi dalam diri santri adalah tentang kesadaran dan komitmen untuk meninggalkan segala bentuk kemaksiatan atau perbuatan dosa. Istilah ini berasal dari bahasa Arab, di mana Taarik berarti “yang meninggalkan” dan Ma’ashi berarti “kemaksiatan” atau “perbuatan dosa.” Jadi, Taarikul Ma’ashi secara harfiah bermakna “orang yang meninggalkan kemaksiatan.” Dalam kehidupan santri, konsep ini menjadi bagian penting dari pendidikan dan pembentukan karakter mereka.

Keempat, Ra’ yang berarti Raghibun fil khairat mencerminkan semangat yang tinggi dalam diri santri untuk selalu berbuat baik dan mencari peluang untuk melakukan kebaikan, baik dalam bentuk ibadah maupun dalam amal sosial. Santri yang memiliki sifat ini selalu termotivasi untuk melakukan hal-hal yang positif, seperti memperbanyak ibadah, membantu sesama, dan berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan sosial di masyarakat.

Kelima, Ya’ yang berarti Yarjus salamah fid-dunya wal-akhirah menggambarkan keinginan santri untuk selalu berada dalam perlindungan dan kasih sayang Allah, baik dalam kehidupan di dunia ini maupun setelah kehidupan dunia berakhir, yaitu di akhirat. Keselamatan yang dimaksud mencakup kesehatan, kedamaian, dan perlindungan dari berbagai marabahaya dan kemaksiatan.

Dengan demikian, berbekal dari lima makna di atas, Hari Santri tidak hanya menjadi momen peringatan secara seremonial saja, tetapi juga refleksi untuk terus menguatkan peran santri sebagai (agen of change) atau agen perubahan yang membawa nilai-nilai kebaikan dalam masyarakat.

 

 

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bhineka Tunggal Ika tema Gelar Karya P5

    Bhineka Tunggal Ika tema Gelar Karya P5

    • calendar_month Sab, 9 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 447
    • 0Komentar

      Tayu. Bertempat di Aula SMA Negeri 1 Tayu telah di adakan kegiatan Gelar Karya P5 Kelas X dengan tema “Bhinneka Tunggal Ika” Kamis, 7 November 2024 Salah satu tujuan kegiatan tersebut adalah bagaimana mengimplementasikan karakter Pancasila dalam sebuah kreativitas tertentu. Ketua P5 Agus Surono, S.Pd.I. mengemukakan bahwa kegiatan Gelar Karya P5 ini diselenggarakan dalam […]

  • LP Ma’arif Jateng Luncurkan Aplikasi Berbasis Android

    LP Ma’arif Jateng Luncurkan Aplikasi Berbasis Android

    • calendar_month Rab, 11 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 610
    • 0Komentar

    SEMARANG-Pengurus Wilayah LP Ma’arif Jawa Tengah baru-baru ini membuat gebrakan dalam dunia digital. Terhitung sejak 5 September 2019, LP Ma’arif meluncurkan sebuah aplikasi berbasis android. “Program ini merupakan salah satu wujud nyata Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) yang diinisiasi oleh Pengurus Wilayah LP Ma’arif NU Jateng masa khidmat 2018-2023” tandas R. Andi Irawan, ketua LP Ma’arif […]

  • Menggalakkan Tradisi Menulis di Kalangan Pesantren Pati

    Menggalakkan Tradisi Menulis di Kalangan Pesantren Pati

    • calendar_month Sen, 9 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 499
    • 0Komentar

    Peradaban Islam adalah “peradaban buku”. Tidaklah berlebihan dengan pernyataan itu, mengingat Al-Qur’an—sebagai kitab suci—dapat disebut sebagai teks sentral dalam sejarah peradaban Islam. Hal itu bisa dibuktikan lewat sejarah. Penanda pertama ditandai dengan turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama kali, berbunyi: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan […]

  • Komisariat MTs Miftahul Ulum Tambakromo Gelar Makesta Dan Reorganisasi

    Komisariat MTs Miftahul Ulum Tambakromo Gelar Makesta Dan Reorganisasi

    • calendar_month Ming, 13 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 588
    • 0Komentar

    TAMBAKROMO – PAC IPNU IPPNU Tambakromo Kemarin (Jum’at, 11/02/2022) Mengawal pelaksanaan Makesta dan reorganisasi Komisariat IPNU IPPNU MTs Miftahul Ulum Tambakromo. Kegiatan yang dilaksanakan di gedung MTs tersebut pada tanggal 10-11 Februari 2022 dihadiri pengurus PAC, Kepala Madrasah dan di ikuti 43 siswa dari kelas VIII. Dalam kegiatan Makesta yang merupakan tingkatan kaderisasi pertama agar […]

  • Beri Dukungan, Penyuluh Agama Islam Pati Dampingi Kafilah Jawa Tengah di MTQ Nasional

    Beri Dukungan, Penyuluh Agama Islam Pati Dampingi Kafilah Jawa Tengah di MTQ Nasional

    • calendar_month Sel, 15 Sep 2026
    • account_circle admin
    • visibility 19.752
    • 0Komentar

    PATI — Dukungan untuk kafilah Jawa Tengah asal Kabupaten Pati terus mengalir pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI di Semarang. Rombongan Penyuluh Agama Islam (PAI) Kabupaten Pati hadir langsung ke lokasi acara untuk menyemangati para peserta, Selasa (15/9/2026). ​Kehadiran para penyuluh tersebut bertujuan memberikan dukungan moral agar kontestan tampil percaya diri dan mampu […]

  • Sumbang Kurungan untuk Ikut Atasi Corona

    Sumbang Kurungan untuk Ikut Atasi Corona

    • calendar_month Sab, 18 Apr 2020
    • account_circle admin
    • visibility 463
    • 0Komentar

    Kurungan burung sumbangan Imam Muslih untuk warga terdampak corona PATI-Unik, begitu kata yang muncul pertama kali saat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Joyo Kesumo Pati menerima kiriman tak lazim. Bingkisan tersebut berupa sebuah kurungan burung berukuran 30 cm × 50 cm. Benda tersebut merupakan pemberian dari seorang pengrajin kurungan burung asal Desa Ranggah Metaraman […]

expand_less