Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Literasi Digital Bulan Ramadan

Literasi Digital Bulan Ramadan

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 22 Feb 2026
  • visibility 8.778
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

Masih pentingkah literasi digital saat bulan Ramadan? Ya, penting lah. Jawaban singkat ini saya jawab sendiri dari pertanyaan yang saya buat sendiri. Meski bulan suci Ramadan selalu datang membawa jeda, koma, waktu rehat sejenak, atau sebutan lain. Apa maksudnya? Jeda dari tradisi makan dan tradisi minum, dari marah, dari kesibukan dunia, kerja, rumah tangga yang sering tak kenal rem.

Akan tetapi di era digital, jeda itu kerap bocor. Kok bisa? Puasa fisik dijalani, namun jari tetap rakus alias gragas, yaitu menggulir layar tanpa henti, menelan informasi tanpa filter, dan membagi konten tanpa mikir panjang. Nah, di sini literasi digital menemukan sumbunya, tidak sekadar kecakapan teknis, melainkan sikap etis dan spiritual.

Paul Gilster dalam buku Digital Literacy (1997) tidak sekadar kemampuan menerapkan peranti digital, namun kemampuan dalam memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format dari berbagai sumber ketika informasi tersebut disajikan melalui komputer. Artinya, dalam konteks bulan suci Ramadan, pemahaman ini meluas, yaitu bagaimana umat beriman memahami, menilai, dan mengelola arus informasi digital untuk selaras dengan nilai puasa, pengendalian diri, kejujuran, dan kebijaksanaan.

Ramadan: Bulan Disiplin Informasi

Latihan dan latihan. Hidup itu memang penuh latihan. Ya, puasa Ramadan hakikatnya memang latihan pengendalian. Lebih tepatnya latihan ngerem awak. Dalam Kitab Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Imam Al-Ghazali memetakan puasa dalam tiga tingkatan: puasa awam, puasa khusus, dan puasa khususul khusus alias sangat khusus. Tingkat paling pucuk, puasa tidak sekadar menahan nasfu perut dan bawah perut, akan tetapi menjaga pancaindra dan hati dari hal-hal merusak dan sia-sia. Pada konteks dunia digital, mata dan telinga itu kini bermigrasi ke layer gawai.

Dari perspektif teori self-regulation, Zimmerman dalam Becoming a Self-Regulated Learner: An Overview berpendapat individu yang matang mampu mengatur perilaku, pikiran, dan emosinya untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, Ramadan merupakan bulan yang menjadi momentum penguatan regulasi diri, termasuk di dalamnya adalah konsumsi informasi. Literasi digital memudahkan seorang bertanya sebelum mengklik: apakah ini bermanfaat? apakah ini benar? apakah ini perlu dibagikan? Ngono!

Tanpa literasi, medsos ibaratnya menjadi ladang ghibah modern, wahana cerita ngalor-ngidul tak jelas arahnya, menjadi wahana penyebaran hoaks berbalut dalil, dan kemarahan kolektif yang rentan viral. Puasa pun tereduksi menjadi ritual biologis belaka, bukan proses penyucian jiwa yang hakiki.

Dari Hoaks ke Hikmah

UNESCO (2011) melalui Media and Information Literacy Curriculum for Teachers menyebut literasi digital merupakan bagian dari media and information literacy (MIL), yang mencakup kemampuan mengakses, mengevaluasi, dan menciptakan informasi secara kritis dan etis. Ramadan menuntut ketiganya harus terlaksana semua. Begitu!

Dalam kegiatan sehari-hari secara teknis di bulan Ramadan, ketika mengakses informasi keislamanan, misalnya, tak cukup sekadar viral atau diklaim “kata ulama”, “kata kiai”, “kata gus” dan lainnya. Maka di sini evaluasi menjadi keharusan, yaitu sumbernya siapa, sanad ilmunya jelas atau tidak, konteksnya sesuai atau dipelintir, relevan dengan Al-Quran dan Assunnah atau tidak. Dalam tradisi Islam, prinsip tabayyun (QS. Al-Hujurat: 6) menjadi fondasi literasi informasi jauh sebelum istilah digital populer.

Di sisi lain, produksi konten berupa status, suara, gambar, komentar, juga bagian dari tanggung jawab literasi. Tiap unggahan merupakan jejak digital sekaligus jejak moral seseorang. Teori digital citizenship dalam buku Digital Citizenship in Schools: Nine Elements All Students Should Know, Mike Ribble (2015) menekankan etika, tanggung jawab, dan empati dalam ruang digital. Artinya, Ramadan mengajarkan hal sama: berkata baik atau diam, termasuk di kolom komentar. Seharusnya demikian!

Tantangan literasi digital di bulan Ramadan yang penting yaitu information overload. Teori cognitive load melalui buku Cognitive Load Theory (2011), John Sweller, Paul Ayres, Slava Kalyuga menjelaskan otak manusia memiliki kapasitas terbatas. Artinya, ketika terlalu banyak informasi terlebih emosional dan kontradiktif, akan berdampak melelahkan mental dan mengganggu kekhusyukan ibadah.

Maka dari itu, literasi digital di bulan Ramadan dapat dimaknai sebagai keberanian untuk berpuasa dari kebisingan digital, yaitu membatasi waktu layar, memilih konten yang meneduhkan, dan menghindari debat kusir yang menguras energi spiritual. Hal ini bukan antiteknologi, namun dalam buku Mindful Tech: How to Bring Balance to Our Digital Lives, David M. Levy (2017) menegaskan hal itu menjadi bentuk mindful technology use yaitu menggunakan teknologi dengan kesadaran penuh.

Akhirnya, dalam hal ini literasi digital di bulan Ramadan bermuara pada kesalehan digital. Artinya, bukan soal seberapa sering membagikan ayat atau poster dakwah, namun seberapa konsisten nilai puasa tercermin dalam perilaku online, yaitu jujur, santun, adil, dan bertanggung jawab.

Bisa saya sebut, bahwa Ramadan memberi kita peluang langka. Mengapa? Karena Ramadan dapat menyelaraskan iman dengan algoritma, takwa dengan teknologi. Sangat keren. Ketika perut dilatih menahan lapar dan dahaga, maka jari pun patut dilatih menahan diri dari “godaan scroll”. Pasalnya, di era digital, kualitas puasa bukan sekadar diukur dari terbit hingga terbenam matahari, namun juga dari apa yang kita klik, ketik, dan sebarkan. Begitu!

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • LSP P2 Ma’arif Jateng Gelar Upgrading Asesor: Menyempurnakan MUK Sesuai Standar BNSP

    LSP P2 Ma’arif Jateng Gelar Upgrading Asesor: Menyempurnakan MUK Sesuai Standar BNSP

    • calendar_month Rab, 12 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 271
    • 0Komentar

        Pcnupati.or.id- Kudus, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P2 Ma’arif Jateng telah sukses menggelar Upgrading Materi Uji Kompetensi (MUK) versi 2023 yang berlangsung pada 10-12 Februari 2025 di SMK Ma’arif Kudus, Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi asesor dalam melaksanakan uji sertifikasi berbasis standar terbaru. Dalam sambutannya, Arif […]

  • Pentas Seni Warnai Kemah Kemanusiaan dan Perdamaian Sako Pandu Ma’arif NU Jateng

    Pentas Seni Warnai Kemah Kemanusiaan dan Perdamaian Sako Pandu Ma’arif NU Jateng

    • calendar_month Sel, 23 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 6.296
    • 0Komentar

      Kegiatan Kemah Kemanusiaan dan Perdamaian yang diselenggarakan oleh Sako Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah di Bumi Perkemahan (Buper) Candrabirawa, Ungaran, Kabupaten Semarang, berlangsung semarak. Salah satu agenda yang menyedot perhatian adalah pentas seni dari perwakilan kabupaten dan kota se-Jawa Tengah, yang digelar pada Selasa (16/12/2025) malam. Sebanyak 700 peserta dari berbagai daerah menampilkan ragam […]

  • Muqoddimah Sebelum Adzan

    Muqoddimah Sebelum Adzan

    • calendar_month Rab, 14 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 207
    • 0Komentar

      Seorang mu`adzin, sebelum ia melakukan adzan terlebih dahulu memberi muqoddimah berupa bacaan : سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم ….. إلخ Pertanyaan : Bagiamana hukumnya memberi muqoddimah (pendahuluan) tersebut ?   Jawaban : Termasuk bid`ah makruhah apabila mu`adzin memberi muqoddimah dengan maksud […]

  • Kejurkab Pagar Nusa Pati

    Kejurkab Pagar Nusa Pati

    • calendar_month Sen, 6 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Pati. Pagar Nusa Kabupaten Pati mengadakan Kejuaraan Kabupaten yang berlangsung di Gor Margoyoso Pati, 28-29 Oktober 2017 kemarin. “ Dalam acara Kejurkan ini kami melibatkan seluruh kader-keder muda Pagar Nusa se Kabupaten Pati, dengan di ikuti sekitar 290 atlit dari masing- masing perwakilan dari anak Cabang maupun sekolah, “jelas Edi Suyono, S.Pd.I Pada kejuaraan tahun […]

  • Ratusan Siswa Banin Datangi Makam Pepunden

    Ratusan Siswa Banin Datangi Makam Pepunden

    • calendar_month Jum, 19 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 190
    • 0Komentar

    WINONG-Ratusan peserta didik Yayasan Tarbiyatul Banin memadati komplek pemakaman Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Pemandangan ini selalu terjadi setiap kali menjelang peringatan sedekah bumi dan Haul Ki Ageng Rante Kencono Wulung yang diselenggarakan setiap bulan Dzulqo’dah dalam kalender hijriyah. Para peserta didik sedang berkumpul di Makam Ki Ageng Rante Kencono Wulung Hadirnya rombongan peserta […]

  • Puncak Peringatan HSN 2025, NU Tambakromo Gelar Pengajian dan Sholawat

    Puncak Peringatan HSN 2025, NU Tambakromo Gelar Pengajian dan Sholawat

    • calendar_month Ming, 26 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 3.899
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id — Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2025, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Tambakromo menggelar pengajian dan sholawat akbar sebagai puncak rangkaian kegiatan peringatan Hari Santri, yang dilaksanakan Minggu, (26/10/2025) di Desa Pakis Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. Kegiatan yang berlangsung khidmat dan meriah ini menghadirkan Habib Hamid bin Sholeh Baagil […]

expand_less