Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Literasi Digital Bulan Ramadan

Literasi Digital Bulan Ramadan

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 22 Feb 2026
  • visibility 9.244
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

Masih pentingkah literasi digital saat bulan Ramadan? Ya, penting lah. Jawaban singkat ini saya jawab sendiri dari pertanyaan yang saya buat sendiri. Meski bulan suci Ramadan selalu datang membawa jeda, koma, waktu rehat sejenak, atau sebutan lain. Apa maksudnya? Jeda dari tradisi makan dan tradisi minum, dari marah, dari kesibukan dunia, kerja, rumah tangga yang sering tak kenal rem.

Akan tetapi di era digital, jeda itu kerap bocor. Kok bisa? Puasa fisik dijalani, namun jari tetap rakus alias gragas, yaitu menggulir layar tanpa henti, menelan informasi tanpa filter, dan membagi konten tanpa mikir panjang. Nah, di sini literasi digital menemukan sumbunya, tidak sekadar kecakapan teknis, melainkan sikap etis dan spiritual.

Paul Gilster dalam buku Digital Literacy (1997) tidak sekadar kemampuan menerapkan peranti digital, namun kemampuan dalam memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format dari berbagai sumber ketika informasi tersebut disajikan melalui komputer. Artinya, dalam konteks bulan suci Ramadan, pemahaman ini meluas, yaitu bagaimana umat beriman memahami, menilai, dan mengelola arus informasi digital untuk selaras dengan nilai puasa, pengendalian diri, kejujuran, dan kebijaksanaan.

Ramadan: Bulan Disiplin Informasi

Latihan dan latihan. Hidup itu memang penuh latihan. Ya, puasa Ramadan hakikatnya memang latihan pengendalian. Lebih tepatnya latihan ngerem awak. Dalam Kitab Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Imam Al-Ghazali memetakan puasa dalam tiga tingkatan: puasa awam, puasa khusus, dan puasa khususul khusus alias sangat khusus. Tingkat paling pucuk, puasa tidak sekadar menahan nasfu perut dan bawah perut, akan tetapi menjaga pancaindra dan hati dari hal-hal merusak dan sia-sia. Pada konteks dunia digital, mata dan telinga itu kini bermigrasi ke layer gawai.

Dari perspektif teori self-regulation, Zimmerman dalam Becoming a Self-Regulated Learner: An Overview berpendapat individu yang matang mampu mengatur perilaku, pikiran, dan emosinya untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, Ramadan merupakan bulan yang menjadi momentum penguatan regulasi diri, termasuk di dalamnya adalah konsumsi informasi. Literasi digital memudahkan seorang bertanya sebelum mengklik: apakah ini bermanfaat? apakah ini benar? apakah ini perlu dibagikan? Ngono!

Tanpa literasi, medsos ibaratnya menjadi ladang ghibah modern, wahana cerita ngalor-ngidul tak jelas arahnya, menjadi wahana penyebaran hoaks berbalut dalil, dan kemarahan kolektif yang rentan viral. Puasa pun tereduksi menjadi ritual biologis belaka, bukan proses penyucian jiwa yang hakiki.

Dari Hoaks ke Hikmah

UNESCO (2011) melalui Media and Information Literacy Curriculum for Teachers menyebut literasi digital merupakan bagian dari media and information literacy (MIL), yang mencakup kemampuan mengakses, mengevaluasi, dan menciptakan informasi secara kritis dan etis. Ramadan menuntut ketiganya harus terlaksana semua. Begitu!

Dalam kegiatan sehari-hari secara teknis di bulan Ramadan, ketika mengakses informasi keislamanan, misalnya, tak cukup sekadar viral atau diklaim “kata ulama”, “kata kiai”, “kata gus” dan lainnya. Maka di sini evaluasi menjadi keharusan, yaitu sumbernya siapa, sanad ilmunya jelas atau tidak, konteksnya sesuai atau dipelintir, relevan dengan Al-Quran dan Assunnah atau tidak. Dalam tradisi Islam, prinsip tabayyun (QS. Al-Hujurat: 6) menjadi fondasi literasi informasi jauh sebelum istilah digital populer.

Di sisi lain, produksi konten berupa status, suara, gambar, komentar, juga bagian dari tanggung jawab literasi. Tiap unggahan merupakan jejak digital sekaligus jejak moral seseorang. Teori digital citizenship dalam buku Digital Citizenship in Schools: Nine Elements All Students Should Know, Mike Ribble (2015) menekankan etika, tanggung jawab, dan empati dalam ruang digital. Artinya, Ramadan mengajarkan hal sama: berkata baik atau diam, termasuk di kolom komentar. Seharusnya demikian!

Tantangan literasi digital di bulan Ramadan yang penting yaitu information overload. Teori cognitive load melalui buku Cognitive Load Theory (2011), John Sweller, Paul Ayres, Slava Kalyuga menjelaskan otak manusia memiliki kapasitas terbatas. Artinya, ketika terlalu banyak informasi terlebih emosional dan kontradiktif, akan berdampak melelahkan mental dan mengganggu kekhusyukan ibadah.

Maka dari itu, literasi digital di bulan Ramadan dapat dimaknai sebagai keberanian untuk berpuasa dari kebisingan digital, yaitu membatasi waktu layar, memilih konten yang meneduhkan, dan menghindari debat kusir yang menguras energi spiritual. Hal ini bukan antiteknologi, namun dalam buku Mindful Tech: How to Bring Balance to Our Digital Lives, David M. Levy (2017) menegaskan hal itu menjadi bentuk mindful technology use yaitu menggunakan teknologi dengan kesadaran penuh.

Akhirnya, dalam hal ini literasi digital di bulan Ramadan bermuara pada kesalehan digital. Artinya, bukan soal seberapa sering membagikan ayat atau poster dakwah, namun seberapa konsisten nilai puasa tercermin dalam perilaku online, yaitu jujur, santun, adil, dan bertanggung jawab.

Bisa saya sebut, bahwa Ramadan memberi kita peluang langka. Mengapa? Karena Ramadan dapat menyelaraskan iman dengan algoritma, takwa dengan teknologi. Sangat keren. Ketika perut dilatih menahan lapar dan dahaga, maka jari pun patut dilatih menahan diri dari “godaan scroll”. Pasalnya, di era digital, kualitas puasa bukan sekadar diukur dari terbit hingga terbenam matahari, namun juga dari apa yang kita klik, ketik, dan sebarkan. Begitu!

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • a table topped with lots of papers on top of a wooden table

    Penulis dan Pejalan Kaki

    • calendar_month Sen, 26 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 587
    • 0Komentar

    Oleh: M. Iqbal Dawami Aku, yang selalu terpaku pada layar dan tumpukan buku, menyulam kata demi kata, sering kali lupa bahwa tubuh ini juga butuh gerak dan ruang untuk bernapas. Hari demi hari, aku terjebak dalam rutinitas yang sama: duduk berjam-jam, mengolah pikiran yang tak pernah berhenti berputar, mencoba menerjemahkan kerumunan ide menjadi kalimat-kalimat yang […]

  • Ahmad Farichin Nahkodai PKC PMII Jawa Tengah

    Ahmad Farichin Nahkodai PKC PMII Jawa Tengah

    • calendar_month Sen, 24 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 540
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Blora – Dalam Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) XXIII PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Tengah 2025 yang terlaksana di Hotel Grand Mega & Resort dan Ponpes Al Muhammad Cepu, Blora, Jawa Tengah pada 17-21 Februari 2025 kemarin, Ahmad Farichin resmi terpilih sebagai Ketua PKC PMII Jawa Tengah periode 2025-2027. Mantan Ketua PC PMII […]

  • Aturan

    Aturan

    • calendar_month Jum, 24 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 626
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Dimana pun tempatnya disitu ada aturan yang menjadi dasar dan pedoman dalam melaksanakan dan mencapai tujuannya. Apabila kita datang atau diundang masuk kedalam ruang yang terikat aturan, bukankah sebaiknya kita mematuhi dan turut serta melaksanakan aturan tersebut untuk mencapai tujuan bersama. Bagaimana jadinya jika kita sebagai orang asing datang dan masuk […]

  • PCNU-PATI

    Meneguhkan Khittah NU

    • calendar_month Sab, 11 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 540
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Khittah Nahdlatul Ulama (NU) merupakan sebuah landasan berfikir, bertindak, dan berjuang sesuai dengan nilai-nilai NU. Khittah NU ini dirumuskan pada Muktamar ke- 27 di Situbondo tahun 1984. Khittah NU juga merupakan hasil dari gerakan kembali  ke khittah yang dalam sejarahnya telah disuarakan sejak tahun 1959. Khittah NU, meski baru dirumuskan secara tertulis […]

  • Ranting NU Pasucen Mengawali Gerakan Wakaf Uang dengan Menggelar Seminar

    Ranting NU Pasucen Mengawali Gerakan Wakaf Uang dengan Menggelar Seminar

    • calendar_month Rab, 22 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 4.090
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id. – Ranting NU Wonokerto Pasucen, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati memggandeng BPR Artha Mas Abadi menyelenggarakan seminar bertajuk ‘Wakaf Uang: Instrumen Kemajuan Ummat’. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin (19/10) di halaman Kantor Ranting NU Wonokerto Pasucen dalam rangka menyongsong hari santri 2025. Mumu Mubarok, Direktur Utama Artha Mas Abadi menegaskan bahwa, kegiatan semacam ini diharapkan […]

  • ‎Podi PGMI INISNU Temanggung Raih Akreditasi Unggul dari LAMDIK

    ‎Podi PGMI INISNU Temanggung Raih Akreditasi Unggul dari LAMDIK

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.389
    • 0Komentar

    ‎ ‎Temanggung – Kabar membanggakan datang dari Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung. Program Studi S1 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan INISNU Temanggung resmi meraih Akreditasi “Unggul” dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK). ‎ ‎Capaian prestisius ini tertuang dalam Surat Keputusan LAMDIK Nomor: 96/SK/LAMDIK/Ak/S/I/2026 pada Sabtu 31 Januari 2026, yang menegaskan […]

expand_less