Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sosok » Dari Kopi Menggerakan Literasi

Dari Kopi Menggerakan Literasi

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 29 Jul 2021
  • visibility 252
  • comment 0 komentar
Niam At Majha saat memetik biji kopi di kebun milik orang tuanya di Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati


“Cuaca pagi ramah, seramah udara dingin. Di sini kebun kopi seperti rumah singgah, tempat aku menampung lelah”

Cuplikan tersebut merupakan bait teraakhir puisi berjudul ‘Pemetik Kopi’ karya Niam At Majha. Putra asli Pati ini tidak saja dikenal sebagai penulis bergenre sastra. Namun namanya juga lumayan masyhur di jagat perkopian khususnya di daerah Pati. Uniknya, pria yang kini tinggal di Plukaran, Gembong, Pati ini mencoba ‘mengawinkan’ dua hobinya tersebut menjadi satu, kopi dan literasi.

Satu sisi, dirinya mengajak masyarakat sadar lieterasi melalui program yang cukup hangat, ‘Uri-Uri Literasi’. Namun di sisi lain, Niam memiliki modus ‘terselubung’ yaitu mengenalkan kopi khas Pati kepada Indonesia. 

Capaiannya dalam dunia literasi juga tak main-main. Puluhan buku berhasil ia tulis dengan tangan  kreatifnya. Karya sastra buah tangan Niam At Majha yang menghiasi media massa pun tak terhitung jumlahnya.  

Sebut saja buku berjudul ‘Nostalgi dan Melankoli’ yang menjadi kebanggaan dunia sastra. Buku yang ditulis 2018 lalu itu menjadi satu di antara 40 buku yang telah ditulis oleh Niam sejak 2004 silam.  

Ia mengaku, kacintaannya dengan dunia tulis menulis telah ada sejak dirinya masih belia. namun Niam baru benar-benar mengawali debut menulisnya sejak nyantri di Desa Kajen, Margoyoso tahun 2004. 

Buku Nostalgi dan Melankoli, salah satu karya kebanggaan Niam At Majha, disandingkan dengan secangkir Kopi

“Saya menulis cerpen, puisi, novel itu mulai mondok dan sampai sekarang alhamdulillah masih aktif,” ungkapnya. 

Layakknya penulis-penulis lain, Koleksi buku yang dimiliki oleh Niam At Majha pun tidak bisa dibilang sedikit. Jika kita memasuki rumahnya, ucapan selamat datang akan disampaikan oleh sebuah rak berukuran jumbo yang menempel sepanjang dinding ruang tamunya. Rak tersebut penuh dengan buku-buku, khususnya buku sastra. Ruangan ini sekaligus menjadi tempat favorit bagi Niam. sebab menurutnya, disinilah ia menghasilkan karya-karya luar biasa.

“Kata orang banyak baca, banyak nulis,” celetuknya.

Berada di Lokasi Tepat 

Selain hobi menulis, sebagai seorang santri, kehidupan Niam juga tak lepas dari kopi. Kecintaannya pada kopi juga mulai muncul sejak ia mondok di Kajen. Hingga suatu ketika, Allah menakdirkannya untuk berjodoh dengan ‘kopi’.

2014, ia menikah dengan Munawaroh, seorang santri asal Plukaran, Gembong, Pati. Bukan rahasia lagi, bahwa desa ini merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di Kabupaten Pati. Klop sekali!

“Saya bersyukur bisa kian dekat dengan kopi,” lanjutnya. 

Di lingkungan barunya ini, Niam tak mau diam saja. Perlahan tapi pasti, ia mulai menekuni profesi sebagai produsen kopi. Proses menanam, stek, hingga pengolahan menjadi kopi kemasan yang legal beredar ia pelajari perlahan-lahan. 

Proses menjemur kopi sebelum diolah menjadi kopi bubuk

Produk Kopi Plukaran-nya ini juga tidak lepas dari ide-ide yang muncul saat melihat lingkungan sekitarnya yang hanya menjual biji kopi. Padahal, kopi bubuk, menurut Niam, juga memiliki pasar yang relatif menjanjikan. Diam-diam, ia mencoba membuat resep kopi bubuknya sendiri.  

“Inspirasinya cukup sederhana. Pertama, sumber daya robusta melimpah di sini. Kedua, Di daerah saya ini masih jarang petani menjual olahan kopi. Mereka lebih menjual biji kopi. Saya melihat peluang berjualan kopi. Inspirasi lainnya dulu waktu mondok, saya suka ngopi. Kenapa tidak menggunakan kesempatan itu, menjual kopi di kalangan masyarakat dan santri,” katanya.

Melalui jejaringnya, Kopi Plukaran buatan pria 32 tahun ini, telah dinikmati oleh para pecinta kopi hampir di seantero Nusantara. Mulai dari Jawa, Madura, Sumatra, Kalimantan hingga Sulawesi.

Dalam satu tahun, lahan kopi milik orang tuanya bisa menghasilkan dua ton kopi basah. Namun jumlah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan produksinya. sebab, per minggu, home industry milik aktivis NU ini harus ‘menelurkan’ sedikitnya 50 kilogram bubuk kopi. Untuk menunjang kebutuhan produksi ini, Niam melengkapinya dengan membeli biji kopi dari tetangga sekitar rumahnya. 

“Hitung-hitung ikut nglarisi mereka,” tuturnya sambil kelakar. 

Baginya, menjual kopi bukan hanya soal uang, meskipun laba yang dihasilkan bisa dua kali lipat. Namun menurut Niam, ketika kopinya bisa diterima di kalangan penikmat kopi, itu sudah menjadi kebanggaan tersendiri.

“Kalau bicara laba, katakanlah biji kopi 23 ribu per kilogram, setelah menjadi bubuk, kita bisa jual 75 ribu. Tapi bukan itu tujuan utama, bagi saya tidak ada yang lebih artistik ketimbang kopi saya bisa dinikmati orang se-Indonesia,” tandas pria asli Cluwak ini.  

Literasi dan Kopi

Menjadi produsen kopi tak membuatnya berhenti menulis. Bahkan, Niam bisa mengkampanyekan literasi melalui kopi. Ia kerap menjual kopi dengan sistem beli sekian makan akan bonus buku karyanya sendiri. Menurutnya, membaca buku identik dengan kopi. Jika orang membeli kopi miliknya, maka bisa mendapatkan buku.

“Membaca buku dan kopi itu satu paket. Tapi kalau misal tidak suka buku masih bisa mendapatkan kopi dan sebaliknya.” kata pria lulusan MA Mathaliul Falah Kajen Margoyoso Pati ini.

Ayah dua anak ini mengaku tak merasa rugi dengan sistem menjual kopi bonus buku. Sebab kopi yang dijualnya diproduksi sendiri. Mulai dari menanam hingga menyangrai. Dengan menjual kopi gratis buku,diam-diam ia masih bisa meraup untung. Hal ini sangat wajar, Karena 90% kopi yang diproduksi bukan hasil membeli dari petani lain melainkan dari kebun sendiri. 

“Kalau untuk buku sendiri tak semua digratiskan karena masih dipasarkan di toko buku dan dipesan oleh teman-teman saya sendiri,” jelasnya.

Tidak hanya memproduksi kopi dan menulis, Niam juga masih sangat aktif berorganisasi. salah satunya di Nahdlatul Ulama. Pria bertubuh gempal ini sudah sejak lama mengabdikan hidupnya untuk NU. Untuk menemui dan mengajaknya ngopi bareng saja, kita tidak usah repot-repot naik gunung ke Plukaran, karena setiap hari, Niam Nngantor di PCNU Pati. Bahkan kawan-kawannya menjuluki Niam sebagai ‘Juru Kunci kantor NU’.(karim/ltn)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    NU dan Modernisasi Bangsa

    • calendar_month Sab, 17 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 241
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan terbebesar di Indonesia, bahkan menurut Gus Dur NU adalah sebuah organisasi terbesar di dunia. Sedangkan enurut Greg Fealy (2003), hadirnya NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang mendorong lahirnya tatanan kehidupan bernegara yang berkeadaban. Karena karakteristik NU sebagai organisasi Islam tradisional adalah […]

  • PMH Al-Kautsar Gandeng LTN NU Gelar Training Jurnalistik

    PMH Al-Kautsar Gandeng LTN NU Gelar Training Jurnalistik

    • calendar_month Jum, 26 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 275
    • 0Komentar

    Pesantren Mathali’ul Huda Al-Kautsar mengadakan Training of Journalism untuk pengelola media pesantren pada Jumat (26/7) di Gedung PDF PMH Al-Kautsar. Training tersebut menghadirkan M. Sofyan Alnashr dan Arwani dari LTN NU Pati sebagai trainer. Acara training diawali dengan materi pengantar jurnalistik, tehnik reportase dan wawancara. Kemudian sesi kedua dilanjutkan dengan manajemen redaksional dan praktik penerbitan […]

  • Tim KKN IAIN Kudus Beri Pelatihan Pembuatan Es Krim Sayuran

    Tim KKN IAIN Kudus Beri Pelatihan Pembuatan Es Krim Sayuran

    • calendar_month Sab, 2 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Tiga mahasiswi IAIN Kudus sedang mensimulasikan pembuatan es krim sayuran di hadapan warga WEDARIJAKSA – Tim KKN IAIN Kudus di Kecamatan Wedarijaksa mengadakan kegiatan pelatihan pembuatan es krim sayuran pada hari Sabtu, (2/10) di Balai Desa Jetak. Kegiatan yang bertajuk “Inovasi Pembuatan Ice Cream dari Sayuran,” tersebut diikuti oleh seluruh anggota PKK Desa Jetak.  Matsna […]

  • Ketum PBNU Didapuk sebagai Wakil Presiden Religion for Peace

    Ketum PBNU Didapuk sebagai Wakil Presiden Religion for Peace

    • calendar_month Sel, 10 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 194
    • 0Komentar

    JAKARTA-Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj menerima anugerah sebagai vice president (wakil presiden) Religion for Peace. Dikonfirmasi dari Deputy Secretary General Religion for Peace, Kiyoichi Sugino, pengangkatan Ketua Umum PBNU tersebut atas dasar track record yang berhasil dicetak melalui NU. “900 orang dari delegasi 125 negara menyepakati hal tersebut” ungkap Kiyoichi di Gedung PBNU, […]

  • PCNU-PATI

    Kiai Munadi dan Kiai Nabhan Kembali Pimpin NU Wedarijaksa

    • calendar_month Kam, 6 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 240
    • 0Komentar

    Pati, 05/10/2022. Majlis Wakil Cabang (MWC) NU Wedarijaksa menggelar Konferensi Anak Cabang untuk memilih Rois Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah. Hadir 21 Ranting se-Kecamatan Wedarijaksa dalam Konferensi yang digelar di Gedung NU Wedarijaksa (2/10/2022). Sebelum pemilihan digelar sidang komisi untuk pembahasan Tata tertib dan program lima tahun kedepan. Tujuan penyelenggaraan Konferensi dalam rangka pemilihan Rois Syuriyah […]

  • PCNU-PATI

    Marching Band MA Silahul Ulum Berhasil Borong Medali di Kompetisi Asia

    • calendar_month Sel, 26 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 328
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id-PATI – Marching Band (MB) Es-silahy MA Silahul Ulum Asempapan, Trangkil, Pati berhasil memborong medali dalam Asian Music Games 2023 di Jember. Dalam kompetisi marching band se-Asia itu, MB Es-Silahy berhasil menyabet tiga medali perak dan satu medali emas. Di antaranya, meraih emas kategori street parade, medali perak kategori musical di konser marching band full […]

expand_less