Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sosok » Dari Kopi Menggerakan Literasi

Dari Kopi Menggerakan Literasi

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 29 Jul 2021
  • visibility 314
  • comment 0 komentar
Niam At Majha saat memetik biji kopi di kebun milik orang tuanya di Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati


“Cuaca pagi ramah, seramah udara dingin. Di sini kebun kopi seperti rumah singgah, tempat aku menampung lelah”

Cuplikan tersebut merupakan bait teraakhir puisi berjudul ‘Pemetik Kopi’ karya Niam At Majha. Putra asli Pati ini tidak saja dikenal sebagai penulis bergenre sastra. Namun namanya juga lumayan masyhur di jagat perkopian khususnya di daerah Pati. Uniknya, pria yang kini tinggal di Plukaran, Gembong, Pati ini mencoba ‘mengawinkan’ dua hobinya tersebut menjadi satu, kopi dan literasi.

Satu sisi, dirinya mengajak masyarakat sadar lieterasi melalui program yang cukup hangat, ‘Uri-Uri Literasi’. Namun di sisi lain, Niam memiliki modus ‘terselubung’ yaitu mengenalkan kopi khas Pati kepada Indonesia. 

Capaiannya dalam dunia literasi juga tak main-main. Puluhan buku berhasil ia tulis dengan tangan  kreatifnya. Karya sastra buah tangan Niam At Majha yang menghiasi media massa pun tak terhitung jumlahnya.  

Sebut saja buku berjudul ‘Nostalgi dan Melankoli’ yang menjadi kebanggaan dunia sastra. Buku yang ditulis 2018 lalu itu menjadi satu di antara 40 buku yang telah ditulis oleh Niam sejak 2004 silam.  

Ia mengaku, kacintaannya dengan dunia tulis menulis telah ada sejak dirinya masih belia. namun Niam baru benar-benar mengawali debut menulisnya sejak nyantri di Desa Kajen, Margoyoso tahun 2004. 

Buku Nostalgi dan Melankoli, salah satu karya kebanggaan Niam At Majha, disandingkan dengan secangkir Kopi

“Saya menulis cerpen, puisi, novel itu mulai mondok dan sampai sekarang alhamdulillah masih aktif,” ungkapnya. 

Layakknya penulis-penulis lain, Koleksi buku yang dimiliki oleh Niam At Majha pun tidak bisa dibilang sedikit. Jika kita memasuki rumahnya, ucapan selamat datang akan disampaikan oleh sebuah rak berukuran jumbo yang menempel sepanjang dinding ruang tamunya. Rak tersebut penuh dengan buku-buku, khususnya buku sastra. Ruangan ini sekaligus menjadi tempat favorit bagi Niam. sebab menurutnya, disinilah ia menghasilkan karya-karya luar biasa.

“Kata orang banyak baca, banyak nulis,” celetuknya.

Berada di Lokasi Tepat 

Selain hobi menulis, sebagai seorang santri, kehidupan Niam juga tak lepas dari kopi. Kecintaannya pada kopi juga mulai muncul sejak ia mondok di Kajen. Hingga suatu ketika, Allah menakdirkannya untuk berjodoh dengan ‘kopi’.

2014, ia menikah dengan Munawaroh, seorang santri asal Plukaran, Gembong, Pati. Bukan rahasia lagi, bahwa desa ini merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di Kabupaten Pati. Klop sekali!

“Saya bersyukur bisa kian dekat dengan kopi,” lanjutnya. 

Di lingkungan barunya ini, Niam tak mau diam saja. Perlahan tapi pasti, ia mulai menekuni profesi sebagai produsen kopi. Proses menanam, stek, hingga pengolahan menjadi kopi kemasan yang legal beredar ia pelajari perlahan-lahan. 

Proses menjemur kopi sebelum diolah menjadi kopi bubuk

Produk Kopi Plukaran-nya ini juga tidak lepas dari ide-ide yang muncul saat melihat lingkungan sekitarnya yang hanya menjual biji kopi. Padahal, kopi bubuk, menurut Niam, juga memiliki pasar yang relatif menjanjikan. Diam-diam, ia mencoba membuat resep kopi bubuknya sendiri.  

“Inspirasinya cukup sederhana. Pertama, sumber daya robusta melimpah di sini. Kedua, Di daerah saya ini masih jarang petani menjual olahan kopi. Mereka lebih menjual biji kopi. Saya melihat peluang berjualan kopi. Inspirasi lainnya dulu waktu mondok, saya suka ngopi. Kenapa tidak menggunakan kesempatan itu, menjual kopi di kalangan masyarakat dan santri,” katanya.

Melalui jejaringnya, Kopi Plukaran buatan pria 32 tahun ini, telah dinikmati oleh para pecinta kopi hampir di seantero Nusantara. Mulai dari Jawa, Madura, Sumatra, Kalimantan hingga Sulawesi.

Dalam satu tahun, lahan kopi milik orang tuanya bisa menghasilkan dua ton kopi basah. Namun jumlah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan produksinya. sebab, per minggu, home industry milik aktivis NU ini harus ‘menelurkan’ sedikitnya 50 kilogram bubuk kopi. Untuk menunjang kebutuhan produksi ini, Niam melengkapinya dengan membeli biji kopi dari tetangga sekitar rumahnya. 

“Hitung-hitung ikut nglarisi mereka,” tuturnya sambil kelakar. 

Baginya, menjual kopi bukan hanya soal uang, meskipun laba yang dihasilkan bisa dua kali lipat. Namun menurut Niam, ketika kopinya bisa diterima di kalangan penikmat kopi, itu sudah menjadi kebanggaan tersendiri.

“Kalau bicara laba, katakanlah biji kopi 23 ribu per kilogram, setelah menjadi bubuk, kita bisa jual 75 ribu. Tapi bukan itu tujuan utama, bagi saya tidak ada yang lebih artistik ketimbang kopi saya bisa dinikmati orang se-Indonesia,” tandas pria asli Cluwak ini.  

Literasi dan Kopi

Menjadi produsen kopi tak membuatnya berhenti menulis. Bahkan, Niam bisa mengkampanyekan literasi melalui kopi. Ia kerap menjual kopi dengan sistem beli sekian makan akan bonus buku karyanya sendiri. Menurutnya, membaca buku identik dengan kopi. Jika orang membeli kopi miliknya, maka bisa mendapatkan buku.

“Membaca buku dan kopi itu satu paket. Tapi kalau misal tidak suka buku masih bisa mendapatkan kopi dan sebaliknya.” kata pria lulusan MA Mathaliul Falah Kajen Margoyoso Pati ini.

Ayah dua anak ini mengaku tak merasa rugi dengan sistem menjual kopi bonus buku. Sebab kopi yang dijualnya diproduksi sendiri. Mulai dari menanam hingga menyangrai. Dengan menjual kopi gratis buku,diam-diam ia masih bisa meraup untung. Hal ini sangat wajar, Karena 90% kopi yang diproduksi bukan hasil membeli dari petani lain melainkan dari kebun sendiri. 

“Kalau untuk buku sendiri tak semua digratiskan karena masih dipasarkan di toko buku dan dipesan oleh teman-teman saya sendiri,” jelasnya.

Tidak hanya memproduksi kopi dan menulis, Niam juga masih sangat aktif berorganisasi. salah satunya di Nahdlatul Ulama. Pria bertubuh gempal ini sudah sejak lama mengabdikan hidupnya untuk NU. Untuk menemui dan mengajaknya ngopi bareng saja, kita tidak usah repot-repot naik gunung ke Plukaran, karena setiap hari, Niam Nngantor di PCNU Pati. Bahkan kawan-kawannya menjuluki Niam sebagai ‘Juru Kunci kantor NU’.(karim/ltn)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puasa dari Game Online

    Puasa dari Game Online

    • calendar_month Sen, 10 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 385
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Ramadan adalah bulan penuh berkah yang seyogianya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan produktivitas. Namun, godaan hiburan digital, terutama game online, kerap membuat sebagian orang justru lalai dalam menjalani ibadah. Padahal, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari kebiasaan yang tidak produktif. Lalu, bagaimana cara agar […]

  • twibbonize Muskercab PCNU pati

    twibbonize Muskercab PCNU pati

    • calendar_month Jum, 20 Des 2024
    • account_circle admin
    • visibility 233
    • 0Komentar

      [button color=”primary” size=”big” link=”https://www.twibbonize.com/muskercabpcnupati” icon=”” target=”true” center=”true” nofollow=”false” sponsored=”false”]Upload twibbonize Muskercab PCNU pati[/button]

  • Tanya Jawab Bersama Syuriyah

    Tanya Jawab Bersama Syuriyah

    • calendar_month Rab, 19 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 293
    • 0Komentar

    Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh Pak kiai, bagaimanat pandangan syara’ tentang kepercayaan makna-makna tertentu dalam setiap prosesi adat seperti adat-adat dalam pernikahan dan sebagainya jika dikaitkan dengan hukum sebab-akibat ? Wa’alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh Pandangan fiqih dalam masalah ini  adalah : Ø  Kepercayaan dihukumi tidak boleh dan menyebabkan seseorang menjadi kafir menurut ijma’, jika dia dengan […]

  • Semarak Hari Santri, RMI PCNU Pati Gelar MHQ dan MQK

    Semarak Hari Santri, RMI PCNU Pati Gelar MHQ dan MQK

    • calendar_month Ming, 19 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 316
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Dalam rangka memperingati Hari Santri 2025, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Kabupaten Pati menyelenggarakan Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ) dan Musabaqoh Qiraatul Kutub (MQK). Kegiatan berlangsung di Kampus Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA), pada Ahad (19/10/2025). Legiatan tersebut dibuka langsung oleh Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghoffar […]

  • Peringati Satu Abad NU, Ketua PCNU Singgung Banjir Pati

    Peringati Satu Abad NU, Ketua PCNU Singgung Banjir Pati

    • calendar_month Rab, 28 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.732
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Peringatan Se Abad Nahdlatul Ulama’ di Kabupaten Pati diadakan Rabu (28/1) malam di Pendopo Kabupaten Pati. Agenda tersebut dihadiri beberapa tokoh penting dari Forkopomda dan juga PCNU serta para pengurus MWC NU se-Kabupaten Pati. Sayangnya, Risma Ardhi Chandra, PLT Bupati Pati yang dijadwalkan hadir menerima undangan mendadak dari Gubernur Jawa Tengah, sehingga […]

  • Istighotsah Ulama & Umara Kab. Pati Telah Berlangsung 7,5 Tahun

    Istighotsah Ulama & Umara Kab. Pati Telah Berlangsung 7,5 Tahun

    • calendar_month Jum, 14 Feb 2020
    • account_circle admin
    • visibility 234
    • 0Komentar

    PATI – Tidak terasa, Pemerintah Kabupaten Pati bersama dengan PCNU Kabupaten Pati, telah menggelar Istighotsah Ulama dan Umara se-Kabupaten Pati, 7,5 tahun secara rutin selama. Hal ini terungkap saat Bupati Pati, H. Haryanto, menyampaikan sambutannya dalam acara Istighotsah Ulama dan Umara Kabupaten Pati yang digelar di Pendopo Kabupaten Pati, Kamis (13/2/2020) malam. Istighotsah Ulama dan […]

expand_less