Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Personalitas dan Identitas Indonesia

Personalitas dan Identitas Indonesia

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 17 Agu 2021
  • visibility 328
  • comment 0 komentar
Oleh : Maulana Luthfi Karim*

Cinta tanah air adalah sunnatullah. Demikianlah mukaddimah singkat yang penulis sampaikan untuk membuka tulisan ini. 

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa nabi Muhammad SAW benar-benar cinta mati kepada Makkah dan Madinah. Bukti pertama, beliau pernah berbisik kepada sobat karibnya, Abu Bakar bahwa Makkah adalah tempat yang paling dicintainya seandainya para penduduk Makkah tidak mengusirnya. 

Setelah Hijrah dan berdomisili di Madinah, nabi beberapa kali meninggalkan kota ini untuk suatu urusan. Ketika perjalanan pulang dan telah mendekati Madinah, menyaksikan dinding-dinding kota tersebut, Sang Rasul mempercepat laju ontanya karena rasa rindu pada kota yang telah menjadi rumah kedua baginya. 

Tidak ada yang aneh dalam dua riwayat ini, namun meminjam istilah Gus Muwaffiq, kita juga harus mendalami sisi psikologi nabi saat itu. Maksud penulis, ketika membaca sejarah, kita harus turut merasakan apa yang dialami oleh subjek sejarah. Sehingga pemaknaan terhadap kisah tertentu bisa dengan mudah direlevansikan dengan konteks sekarang. 

Kalau kita fahami betul kedua riwayat di atas, menunjukkan bahwa sifat manusiawinya nabi begitu kental. Cinta dan rindu tanah air menjadi semacam kerak yang melekat di hati, susah dihilangkan. 

Penulis ingin sebut, bahwa cinta tanah air adalah sunnatullah untuk manusia. Dalam terminologi jawa kita kenal ‘gawan bayi’ atau sesuatu yang bersifat personalitas. 

Begini, misalkan kita meninggalkan kampung halaman untuk berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dapat dipastikan akan muncul rasa rindu. Kerinduan ini tentunya bersumber dari cinta. Namun darimana cinta itu berasal? Inilah yang penulis sebut personalitas cinta. 

Istilah keren ini penulis dapatkan ketika mengikuti Maiyah di Jogjakarta sekitar tahun 2014. Cak Nun, sang pengasuh Majelis Maiyah membeberkan perbedaan antara personalitas dan identitas. Menurutnya, personalitas ialah segala sesuatu yang menempel dalam diri kita sejak lahir dan kita tidak memiliki kemampuan untuk memilih. Contoh, jenis kelamin, dimana kita lahir dan dari ayah-ibu yang mana kita dilahirkan. Sementara identitas, nyaris sama, hanya saja kita memiliki wewenang untuk memilih, seperti dimana kita tinggal, dan agama apa yang hendak kita pilih. Bagi manusia, keduanya merupakan satu komponen tak terpisahkan yang harus diperkuat demi membangun karakter.

Nah, kembali pada pembahasan awal, rasa cinta terhadap tanah air (bagi pribumi), menurut penulis juga bagian kecil dari personalitas, sama halnya menyayangi orang tua yang telah melahirkan kita. Maka menjadi ambigu jika seseorang tidak merasa mencintai tumpah darahnya. Parahnya, inilah yang sekarang sedang kita hadapi bersama.

Penetrasi lifestyle ala-ala barat, atau yang lagi ngetrend, mode-mode korea makin galak perkembangannya di Indonesia. Bahkan pemuda pemudi juga tak jarang berpenampilan kearab-araban agar terlihat syar’i. Apapun alasannya, alam bawah sadar kita sedang dijajah oleh bangsa lain. Jika di terus-teruskan, krisis identitas bisa bisa menyerang kita kapan saja. Dampaknya bisa lebih seram dari Covid-19.

Satu contoh, Turki Otoman, menjelang kehancuran kerajaan ini, Mustafa Kemal Attaturk memaksakan diri untuk berlagak barat. Akibatnya, Otoman yang pernah jaya, harus ambruk di tangan Attaturk.

Tentunya banyak faktor lain yang mempengaruhi tumbangnya kerajaan ini, namun krisis identitas yang terjadi mau tidak mau harus bertanggung jawab atas keruntuhan Turki Otoman. 

Jauh ke belakang, ada dinasti Abasiyah jilid dua. Ketika kekuasaannya pindah ke Mesir, Dinasti Abasyiyah malah seperti dinasti boneka. Pengendalinya, tentu si tuan rumah, Dinasti Mamluk. Namun para punggawa Dinasti Mamluk merelakan diri mereka untuk dipimpin orang-orang pelarian dari Dinasti Abasyiyah Damaskus, karena namanya terlanjur mentereng. 

Faktanya, Dinasti Mamluk hanya menggunakan popularitas dan pengaruh Dinasti Abasyiyah yang masih cukup kuat pada masa itu sebagai tameng. Penguasa sejatinya, tetaplah Mamluk punya. Intinya, kekuasaan Abasyiyah di Mesir tak lebih dari formalitas.

Pada fase ini, Abasyiyah mengalami krisis identitas yang membuatnya perlahan-lahan bubar barisan tanpa penghormatan. Formasi kerajaan Dinasti Abasyiyah di Mesir yang diharapkan bisa bertahan lama ternyata hanya ajang gladi untuk tidur panjang yang tak pernah usai.

Fakta lainnya, Indonesia selama ratusan tahun dipaksa untuk memuliakan bangsa asing. Dampaknya pun masih terasa sampai sekarang. Kita ancap kali tidak PD dengan ke-Indonesia-an yang menempel dalam diri kita. 

Namun, krisis identitas ini bisa dibangun dengan satu hal, dominasi personalitas. Artinya simbol-simbol ke-Indonesia-an sebagai identitas bangsa, jika mau, bisa dilestarikan melalui penyadaran jamak, dimana kita terlahir, dan tentunya memupuk rasa cinta terhadap kampung halaman, Indonesia. 

Sangat disayangkan memang, personalitas cinta Indonesia agaknya sudah mulai luntur. Ngerinya, salah satu kafilah yang perlahan mulai mencopot jubah nasionalismenya adalah mereka yang mengaku paling agamis. Tentu tidak semuanya, tapi hampir rata-rata. 

Padahal pertentangan antara agama versus bangsa sebenarnya sudah clear sejak zaman nabi.  Jika mengikuti sunnah nabi, jelas kita harus cinta tanah air. Penulis sempat mengorek sebuah hadits, yang kurang lebih bunyinya, “cintailah arab karena tiga hal…”. Validitas hadits ini memang masih menuai perdebatan, tapi banyak pula dari kalangan ummat islam di negara kita yang mempergunakannya untuk lebih mencintai bangsa lain (dalam hal ini Arab) daripada Indonesia.

Jika kita jeli, dan jika benar-benar ini adalah hadits shahih, maka kita akan menemukan fakta bahwa nabi sedang memerintahkan untuk mencintai dan memperjuangkan tanah air.

Alasannya jelas, nabi orang Arab, yang diajak bicara juga mayoritas Arab, atau imigran  yang mukim di sana. Artinya, dalam hadits tersebut, Nabi seolah ingi berpesan, “cintailah tanah airmu, carilah alasan kuat untuk mencintainya. Ini bukan berarti kita tidak boleh mempelajari dan mencintai budaya lain, namun untuk apa mengetahui budaya orang, sedangkan pengetahuan terhadap budaya sendiri nol besar. Kan aneh? 

Kita yang sudah terlanjur basah, tentu punya alasan kuat untuk lebih sering tampil kearab-araban atau kekorea-koreaan, maka sudah saatnya kita cari alasan yang lebih kuat untuk mencintai Indonesia. Meskipun hemat penulis, ini adalah cara paling absurd, sebab tidak perlu alasan untuk mencintai tumpah darah, cinta pada Indonesia, cinta tak bersyarat. Entah Indonesia sebagai personalitas (bagi penduduk asli) ataupun identitas (naturalisasi), Indonesia tetap prioritas (titik).

*Ketua Kader Penggerak NU Gembong, Mudir Ponpes Shofa Az Zahro’

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Ngaji Cloud Vs Ibadah Real Life

    • calendar_month Sab, 21 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.671
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda Saya adalah di antara banyak orang yang percaya dan meyakini bahwa ngaji (belajar) itu bisa di mana saja, kapan saja, dengan siapa termasuk melalui sistem maya, digital, atau dalam awam (cloud). Hal ini juga sesuai pesan Ki Hajar Dewantara (1889-1959) yang menegaskan bahwa “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” […]

  • SMK Salafiyah Kajen Gelar Upacara Hari Pahlawan dengan Teatrikal Puisi

    SMK Salafiyah Kajen Gelar Upacara Hari Pahlawan dengan Teatrikal Puisi

    • calendar_month Sen, 10 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.142
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Salafiyah Kajen, Margoyoso, Pati, mengadakan upacara dalam rangka memperingati Hari Pahlawan pada tanggal 10 November 2025. Upacara ini dimeriahkan dengan penampilan teatrikal yang dibawakan oleh Teater Kardus, dengan membawakan puisi karya Chairil Anwar, “Pahlawan Bangsaku”. Kepala SMK Salafiyah Kajen, Erni Sofa Nugraha, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk […]

  • PCNU-PATI

    Pengurus PAC Fatayat NU Tlogowungu Resmi Dilantik

    • calendar_month Sen, 2 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 221
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id- Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Tlogowungu beserta Pengurus Ranting (PR) Fatayat NU se-Kecamatan Tlogowungu resmi dilantik. Pelantikan itu bertempat di Aula Balai Desa Lahar, Ahad (1/1/2023) siang. Kegiatan itu dihadiri oleh ketua PCNU Pati KH Yusuf Hasyim, Ketua PC Ansor Pati Abdullah Syafiq, Ketua PC Fatayat NU Pati Hj. Asmonah berserta pengurus […]

  • PC IPNU IPPNU Pati Serius Kawal Kaderisasi

    PC IPNU IPPNU Pati Serius Kawal Kaderisasi

    • calendar_month Jum, 4 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 286
    • 0Komentar

      Salah satu prosesi dalam kaderisasi IPNU IPPNU PATI – Masna Zakiyyatus Salwa, Ketua PC IPNU Pati mengungkapakan, bahwa Nahdlatul Ulama (NU) telah memberikan amanah besar kepada IPNU IPPNU untuk mengembangkan kaderisasi. Hal ini karena tumbuh berkembangnya NU berada ditangan pengkaderan pertama yaitu dari banom IPNU IPPNU. “Amanah serius ini yang selalu membuat segenap pengurus […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Influencer, Ulama, dan Otoritas Ilmu

    • calendar_month Jum, 13 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.051
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Ketiga profesi (pekerjaan), hobi, minat, atau aktivitas pada judul kolom ini memang bukan seharusnya diparadokskan. Akan tetapi, ketiga memiliki ruh yang sama, yaitu “ingin berkuasa” dalam arti tertentu.   Zaman dulu, orang mencari ilmu tak sebatas aktivitas intelektual dan akademis, namun juga perjalanan fisik yang panjang dan tentu sangat melelahkan […]

  • PCNU-PATI

    MHI Gembong Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir

    • calendar_month Rab, 4 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- GABUS – Keluarga MI Hidayatul Islam (MHI)  Gembong-Pati melakukan aksi sosial. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Kosekan, Gabus pada Rabu (4/1) sore. Desa tersebut menjadi salah satu langganan banjir setiap musim penghujan. Kepala MHI Gembong, Sholikhin menegaskan bahwa Desa Kosekan menjadi tujuan penyaluran bantuan karena di daerah tersebut jarang tersorot kamera.  “Dulu pernah kami […]

expand_less