Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Personalitas dan Identitas Indonesia

Personalitas dan Identitas Indonesia

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 17 Agu 2021
  • visibility 633
  • comment 0 komentar
Oleh : Maulana Luthfi Karim*

Cinta tanah air adalah sunnatullah. Demikianlah mukaddimah singkat yang penulis sampaikan untuk membuka tulisan ini. 

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa nabi Muhammad SAW benar-benar cinta mati kepada Makkah dan Madinah. Bukti pertama, beliau pernah berbisik kepada sobat karibnya, Abu Bakar bahwa Makkah adalah tempat yang paling dicintainya seandainya para penduduk Makkah tidak mengusirnya. 

Setelah Hijrah dan berdomisili di Madinah, nabi beberapa kali meninggalkan kota ini untuk suatu urusan. Ketika perjalanan pulang dan telah mendekati Madinah, menyaksikan dinding-dinding kota tersebut, Sang Rasul mempercepat laju ontanya karena rasa rindu pada kota yang telah menjadi rumah kedua baginya. 

Tidak ada yang aneh dalam dua riwayat ini, namun meminjam istilah Gus Muwaffiq, kita juga harus mendalami sisi psikologi nabi saat itu. Maksud penulis, ketika membaca sejarah, kita harus turut merasakan apa yang dialami oleh subjek sejarah. Sehingga pemaknaan terhadap kisah tertentu bisa dengan mudah direlevansikan dengan konteks sekarang. 

Kalau kita fahami betul kedua riwayat di atas, menunjukkan bahwa sifat manusiawinya nabi begitu kental. Cinta dan rindu tanah air menjadi semacam kerak yang melekat di hati, susah dihilangkan. 

Penulis ingin sebut, bahwa cinta tanah air adalah sunnatullah untuk manusia. Dalam terminologi jawa kita kenal ‘gawan bayi’ atau sesuatu yang bersifat personalitas. 

Begini, misalkan kita meninggalkan kampung halaman untuk berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dapat dipastikan akan muncul rasa rindu. Kerinduan ini tentunya bersumber dari cinta. Namun darimana cinta itu berasal? Inilah yang penulis sebut personalitas cinta. 

Istilah keren ini penulis dapatkan ketika mengikuti Maiyah di Jogjakarta sekitar tahun 2014. Cak Nun, sang pengasuh Majelis Maiyah membeberkan perbedaan antara personalitas dan identitas. Menurutnya, personalitas ialah segala sesuatu yang menempel dalam diri kita sejak lahir dan kita tidak memiliki kemampuan untuk memilih. Contoh, jenis kelamin, dimana kita lahir dan dari ayah-ibu yang mana kita dilahirkan. Sementara identitas, nyaris sama, hanya saja kita memiliki wewenang untuk memilih, seperti dimana kita tinggal, dan agama apa yang hendak kita pilih. Bagi manusia, keduanya merupakan satu komponen tak terpisahkan yang harus diperkuat demi membangun karakter.

Nah, kembali pada pembahasan awal, rasa cinta terhadap tanah air (bagi pribumi), menurut penulis juga bagian kecil dari personalitas, sama halnya menyayangi orang tua yang telah melahirkan kita. Maka menjadi ambigu jika seseorang tidak merasa mencintai tumpah darahnya. Parahnya, inilah yang sekarang sedang kita hadapi bersama.

Penetrasi lifestyle ala-ala barat, atau yang lagi ngetrend, mode-mode korea makin galak perkembangannya di Indonesia. Bahkan pemuda pemudi juga tak jarang berpenampilan kearab-araban agar terlihat syar’i. Apapun alasannya, alam bawah sadar kita sedang dijajah oleh bangsa lain. Jika di terus-teruskan, krisis identitas bisa bisa menyerang kita kapan saja. Dampaknya bisa lebih seram dari Covid-19.

Satu contoh, Turki Otoman, menjelang kehancuran kerajaan ini, Mustafa Kemal Attaturk memaksakan diri untuk berlagak barat. Akibatnya, Otoman yang pernah jaya, harus ambruk di tangan Attaturk.

Tentunya banyak faktor lain yang mempengaruhi tumbangnya kerajaan ini, namun krisis identitas yang terjadi mau tidak mau harus bertanggung jawab atas keruntuhan Turki Otoman. 

Jauh ke belakang, ada dinasti Abasiyah jilid dua. Ketika kekuasaannya pindah ke Mesir, Dinasti Abasyiyah malah seperti dinasti boneka. Pengendalinya, tentu si tuan rumah, Dinasti Mamluk. Namun para punggawa Dinasti Mamluk merelakan diri mereka untuk dipimpin orang-orang pelarian dari Dinasti Abasyiyah Damaskus, karena namanya terlanjur mentereng. 

Faktanya, Dinasti Mamluk hanya menggunakan popularitas dan pengaruh Dinasti Abasyiyah yang masih cukup kuat pada masa itu sebagai tameng. Penguasa sejatinya, tetaplah Mamluk punya. Intinya, kekuasaan Abasyiyah di Mesir tak lebih dari formalitas.

Pada fase ini, Abasyiyah mengalami krisis identitas yang membuatnya perlahan-lahan bubar barisan tanpa penghormatan. Formasi kerajaan Dinasti Abasyiyah di Mesir yang diharapkan bisa bertahan lama ternyata hanya ajang gladi untuk tidur panjang yang tak pernah usai.

Fakta lainnya, Indonesia selama ratusan tahun dipaksa untuk memuliakan bangsa asing. Dampaknya pun masih terasa sampai sekarang. Kita ancap kali tidak PD dengan ke-Indonesia-an yang menempel dalam diri kita. 

Namun, krisis identitas ini bisa dibangun dengan satu hal, dominasi personalitas. Artinya simbol-simbol ke-Indonesia-an sebagai identitas bangsa, jika mau, bisa dilestarikan melalui penyadaran jamak, dimana kita terlahir, dan tentunya memupuk rasa cinta terhadap kampung halaman, Indonesia. 

Sangat disayangkan memang, personalitas cinta Indonesia agaknya sudah mulai luntur. Ngerinya, salah satu kafilah yang perlahan mulai mencopot jubah nasionalismenya adalah mereka yang mengaku paling agamis. Tentu tidak semuanya, tapi hampir rata-rata. 

Padahal pertentangan antara agama versus bangsa sebenarnya sudah clear sejak zaman nabi.  Jika mengikuti sunnah nabi, jelas kita harus cinta tanah air. Penulis sempat mengorek sebuah hadits, yang kurang lebih bunyinya, “cintailah arab karena tiga hal…”. Validitas hadits ini memang masih menuai perdebatan, tapi banyak pula dari kalangan ummat islam di negara kita yang mempergunakannya untuk lebih mencintai bangsa lain (dalam hal ini Arab) daripada Indonesia.

Jika kita jeli, dan jika benar-benar ini adalah hadits shahih, maka kita akan menemukan fakta bahwa nabi sedang memerintahkan untuk mencintai dan memperjuangkan tanah air.

Alasannya jelas, nabi orang Arab, yang diajak bicara juga mayoritas Arab, atau imigran  yang mukim di sana. Artinya, dalam hadits tersebut, Nabi seolah ingi berpesan, “cintailah tanah airmu, carilah alasan kuat untuk mencintainya. Ini bukan berarti kita tidak boleh mempelajari dan mencintai budaya lain, namun untuk apa mengetahui budaya orang, sedangkan pengetahuan terhadap budaya sendiri nol besar. Kan aneh? 

Kita yang sudah terlanjur basah, tentu punya alasan kuat untuk lebih sering tampil kearab-araban atau kekorea-koreaan, maka sudah saatnya kita cari alasan yang lebih kuat untuk mencintai Indonesia. Meskipun hemat penulis, ini adalah cara paling absurd, sebab tidak perlu alasan untuk mencintai tumpah darah, cinta pada Indonesia, cinta tak bersyarat. Entah Indonesia sebagai personalitas (bagi penduduk asli) ataupun identitas (naturalisasi), Indonesia tetap prioritas (titik).

*Ketua Kader Penggerak NU Gembong, Mudir Ponpes Shofa Az Zahro’

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ‎LAMDIK Beri Rekomendasi Strategis, INISNU Temanggung Siapkan Benchmarking dan Penguatan SDM Pascasesmen Lapangan S1 PAI

    ‎LAMDIK Beri Rekomendasi Strategis, INISNU Temanggung Siapkan Benchmarking dan Penguatan SDM Pascasesmen Lapangan S1 PAI

    • calendar_month Ming, 19 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16.889
    • 0Komentar

    ‎Temanggung – Asesmen Lapangan (AL) Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung resmi ditutup pada Sabtu (18/7/2026) di ruang rapat BPP INISNU Temanggung. Penutupan diawali dengan penyampaian rekomendasi dari dua asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) sebagai bahan evaluasi dan penguatan mutu berkelanjutan bagi program […]

  • PC IPNU IPPNU Pati Audiensi dengan Bupati, Ini Hasilnya

    PC IPNU IPPNU Pati Audiensi dengan Bupati, Ini Hasilnya

    • calendar_month Kam, 19 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 417
    • 0Komentar

    Ketua PC IPNU Pati, Moh. Salman (kedua dari kanan) dan Ketua PC IPPNU, Sulistiani ditemani Ketua Panitia OC Konfercab XIII, M. Khoirul Anam (kanan) usai melakukan audiensi dengan Bupati Pati, Haryanto (baju batik) PATI – PC IPNU IPPNU Kabupaten Pati baru saja mengadakan audiensi dengan Bupati Pati, Haryanto di Kantor Bupati, Kamis (19/8). Hadir dalam […]

  • INISNU Teken MoU dan MoA dengan Global Interfaith University USA dan Delapan Kampus Nasional

    INISNU Teken MoU dan MoA dengan Global Interfaith University USA dan Delapan Kampus Nasional

    • calendar_month Sen, 19 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.115
    • 0Komentar

      Temanggung – Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung secara resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman dan Memorandum of Agreement (MoA) atau Nota Kesepakatan dengan Global Interfaith University (GIU) USA serta delapan perguruan tinggi mitra nasional, yaitu AKPER Alkautsar Temanggung, UNUGHA Cilacap, STAI Wali Sembilan Semarang, UNDARIS Semarang, IIM Surakarta, STITMA Yogyakarta, […]

  • Media Online PCNU Pati Raih Penghargaan

    Media Online PCNU Pati Raih Penghargaan

    • calendar_month Sab, 9 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 476
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Website kebanggan warga NU Pati, pcnupati.or.id menerima penghargaan dari Pengurus Wilayah LP Ma’arif NU Jawa Tengah, Sabtu (9/9) malam di Hotel Muria Semarang. Media besutan Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (LTN) NU Pati yang diketuai oleh Angga Saputra ini berhasil menyabet penghargaan sebagai Media Online NU dengan SEO terbaik ke-3 se-Jawa Tengah. Posisi pcnupati.or.id […]

  • Yudisium, Rektor Ajak Alumni S1 Lanjut Kuliah S2 di INISNU

    Yudisium, Rektor Ajak Alumni S1 Lanjut Kuliah S2 di INISNU

    • calendar_month Rab, 22 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 3.644
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.di Temanggung — Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menggelar kegiatan Yudisium Mahasiswa Sarjana dan Magister Tahun Akademik 2025/2026 pada Selasa (21/10/2025) bertempat di Aula KBIHU Babussalam Temanggung. Acara ini menjadi momentum penting bagi para mahasiswa yang telah menyelesaikan seluruh proses akademiknya sebelum diwisuda secara resmi yang akan dilaksanakan Selasa 28 Oktober 2025 mendatang. […]

  • Jelang Muktamar NU, 62 Pendekar Se-Jateng Serbu Pesantren di Blora

    Jelang Muktamar NU, 62 Pendekar Se-Jateng Serbu Pesantren di Blora

    • calendar_month Sen, 13 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 430
    • 0Komentar

    Seorang anggota TNI memberikan materi lapangam dalam Diklatsus Pasukan Inti Pagar Nusa BLORA – Pimpinan Wilayah Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PW PSNU) Pagar Nusa Jawa Tengah menggembleng para pendekar untuk persiapan  Muktamar Ke-34 NU di Lampung. Penggemblengan  bertajuk  Pendidikan dan Latihan Khusus (DIKLATSUS) Pasukan Inti (Pasti) ini diadakan di Pondok Pesantren An Nur di Desa […]

expand_less