Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Personalitas dan Identitas Indonesia

Personalitas dan Identitas Indonesia

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 17 Agu 2021
  • visibility 534
  • comment 0 komentar
Oleh : Maulana Luthfi Karim*

Cinta tanah air adalah sunnatullah. Demikianlah mukaddimah singkat yang penulis sampaikan untuk membuka tulisan ini. 

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa nabi Muhammad SAW benar-benar cinta mati kepada Makkah dan Madinah. Bukti pertama, beliau pernah berbisik kepada sobat karibnya, Abu Bakar bahwa Makkah adalah tempat yang paling dicintainya seandainya para penduduk Makkah tidak mengusirnya. 

Setelah Hijrah dan berdomisili di Madinah, nabi beberapa kali meninggalkan kota ini untuk suatu urusan. Ketika perjalanan pulang dan telah mendekati Madinah, menyaksikan dinding-dinding kota tersebut, Sang Rasul mempercepat laju ontanya karena rasa rindu pada kota yang telah menjadi rumah kedua baginya. 

Tidak ada yang aneh dalam dua riwayat ini, namun meminjam istilah Gus Muwaffiq, kita juga harus mendalami sisi psikologi nabi saat itu. Maksud penulis, ketika membaca sejarah, kita harus turut merasakan apa yang dialami oleh subjek sejarah. Sehingga pemaknaan terhadap kisah tertentu bisa dengan mudah direlevansikan dengan konteks sekarang. 

Kalau kita fahami betul kedua riwayat di atas, menunjukkan bahwa sifat manusiawinya nabi begitu kental. Cinta dan rindu tanah air menjadi semacam kerak yang melekat di hati, susah dihilangkan. 

Penulis ingin sebut, bahwa cinta tanah air adalah sunnatullah untuk manusia. Dalam terminologi jawa kita kenal ‘gawan bayi’ atau sesuatu yang bersifat personalitas. 

Begini, misalkan kita meninggalkan kampung halaman untuk berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dapat dipastikan akan muncul rasa rindu. Kerinduan ini tentunya bersumber dari cinta. Namun darimana cinta itu berasal? Inilah yang penulis sebut personalitas cinta. 

Istilah keren ini penulis dapatkan ketika mengikuti Maiyah di Jogjakarta sekitar tahun 2014. Cak Nun, sang pengasuh Majelis Maiyah membeberkan perbedaan antara personalitas dan identitas. Menurutnya, personalitas ialah segala sesuatu yang menempel dalam diri kita sejak lahir dan kita tidak memiliki kemampuan untuk memilih. Contoh, jenis kelamin, dimana kita lahir dan dari ayah-ibu yang mana kita dilahirkan. Sementara identitas, nyaris sama, hanya saja kita memiliki wewenang untuk memilih, seperti dimana kita tinggal, dan agama apa yang hendak kita pilih. Bagi manusia, keduanya merupakan satu komponen tak terpisahkan yang harus diperkuat demi membangun karakter.

Nah, kembali pada pembahasan awal, rasa cinta terhadap tanah air (bagi pribumi), menurut penulis juga bagian kecil dari personalitas, sama halnya menyayangi orang tua yang telah melahirkan kita. Maka menjadi ambigu jika seseorang tidak merasa mencintai tumpah darahnya. Parahnya, inilah yang sekarang sedang kita hadapi bersama.

Penetrasi lifestyle ala-ala barat, atau yang lagi ngetrend, mode-mode korea makin galak perkembangannya di Indonesia. Bahkan pemuda pemudi juga tak jarang berpenampilan kearab-araban agar terlihat syar’i. Apapun alasannya, alam bawah sadar kita sedang dijajah oleh bangsa lain. Jika di terus-teruskan, krisis identitas bisa bisa menyerang kita kapan saja. Dampaknya bisa lebih seram dari Covid-19.

Satu contoh, Turki Otoman, menjelang kehancuran kerajaan ini, Mustafa Kemal Attaturk memaksakan diri untuk berlagak barat. Akibatnya, Otoman yang pernah jaya, harus ambruk di tangan Attaturk.

Tentunya banyak faktor lain yang mempengaruhi tumbangnya kerajaan ini, namun krisis identitas yang terjadi mau tidak mau harus bertanggung jawab atas keruntuhan Turki Otoman. 

Jauh ke belakang, ada dinasti Abasiyah jilid dua. Ketika kekuasaannya pindah ke Mesir, Dinasti Abasyiyah malah seperti dinasti boneka. Pengendalinya, tentu si tuan rumah, Dinasti Mamluk. Namun para punggawa Dinasti Mamluk merelakan diri mereka untuk dipimpin orang-orang pelarian dari Dinasti Abasyiyah Damaskus, karena namanya terlanjur mentereng. 

Faktanya, Dinasti Mamluk hanya menggunakan popularitas dan pengaruh Dinasti Abasyiyah yang masih cukup kuat pada masa itu sebagai tameng. Penguasa sejatinya, tetaplah Mamluk punya. Intinya, kekuasaan Abasyiyah di Mesir tak lebih dari formalitas.

Pada fase ini, Abasyiyah mengalami krisis identitas yang membuatnya perlahan-lahan bubar barisan tanpa penghormatan. Formasi kerajaan Dinasti Abasyiyah di Mesir yang diharapkan bisa bertahan lama ternyata hanya ajang gladi untuk tidur panjang yang tak pernah usai.

Fakta lainnya, Indonesia selama ratusan tahun dipaksa untuk memuliakan bangsa asing. Dampaknya pun masih terasa sampai sekarang. Kita ancap kali tidak PD dengan ke-Indonesia-an yang menempel dalam diri kita. 

Namun, krisis identitas ini bisa dibangun dengan satu hal, dominasi personalitas. Artinya simbol-simbol ke-Indonesia-an sebagai identitas bangsa, jika mau, bisa dilestarikan melalui penyadaran jamak, dimana kita terlahir, dan tentunya memupuk rasa cinta terhadap kampung halaman, Indonesia. 

Sangat disayangkan memang, personalitas cinta Indonesia agaknya sudah mulai luntur. Ngerinya, salah satu kafilah yang perlahan mulai mencopot jubah nasionalismenya adalah mereka yang mengaku paling agamis. Tentu tidak semuanya, tapi hampir rata-rata. 

Padahal pertentangan antara agama versus bangsa sebenarnya sudah clear sejak zaman nabi.  Jika mengikuti sunnah nabi, jelas kita harus cinta tanah air. Penulis sempat mengorek sebuah hadits, yang kurang lebih bunyinya, “cintailah arab karena tiga hal…”. Validitas hadits ini memang masih menuai perdebatan, tapi banyak pula dari kalangan ummat islam di negara kita yang mempergunakannya untuk lebih mencintai bangsa lain (dalam hal ini Arab) daripada Indonesia.

Jika kita jeli, dan jika benar-benar ini adalah hadits shahih, maka kita akan menemukan fakta bahwa nabi sedang memerintahkan untuk mencintai dan memperjuangkan tanah air.

Alasannya jelas, nabi orang Arab, yang diajak bicara juga mayoritas Arab, atau imigran  yang mukim di sana. Artinya, dalam hadits tersebut, Nabi seolah ingi berpesan, “cintailah tanah airmu, carilah alasan kuat untuk mencintainya. Ini bukan berarti kita tidak boleh mempelajari dan mencintai budaya lain, namun untuk apa mengetahui budaya orang, sedangkan pengetahuan terhadap budaya sendiri nol besar. Kan aneh? 

Kita yang sudah terlanjur basah, tentu punya alasan kuat untuk lebih sering tampil kearab-araban atau kekorea-koreaan, maka sudah saatnya kita cari alasan yang lebih kuat untuk mencintai Indonesia. Meskipun hemat penulis, ini adalah cara paling absurd, sebab tidak perlu alasan untuk mencintai tumpah darah, cinta pada Indonesia, cinta tak bersyarat. Entah Indonesia sebagai personalitas (bagi penduduk asli) ataupun identitas (naturalisasi), Indonesia tetap prioritas (titik).

*Ketua Kader Penggerak NU Gembong, Mudir Ponpes Shofa Az Zahro’

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Peringati Harlah, PC IPNU IPPNU Pati bakal Gelar Sholawatan dan Temu Majelis Alumni

    • calendar_month Sen, 6 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 443
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- PATI – PC IPNU IPPNU Pati bakal menggelar Pelajar NU Pati Bersholawat bersama Sayyid Nabil bin Nagib Assegaf dari Kudus di halaman Kantor PCNU setempat, pada Rabu (8/3/2023) malam. Kegiatan ini dalam rangka memperingati harlah IPNU ke-69 IPPNU ke-68 dan peringatan isro’ mikroj 1444 H. Agenda sholawatan tersebut bakal dihadiri Ketua PCNU Pati KH […]

  • Bimtek LAZISNU Tayu: Meningkatkan Profesionalisme Pengurus dalam Mengelola Keuangan dan Administrasi

    Bimtek LAZISNU Tayu: Meningkatkan Profesionalisme Pengurus dalam Mengelola Keuangan dan Administrasi

    • calendar_month Sen, 7 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 436
    • 0Komentar

    Bimtek LAZISNU Tayu: Meningkatkan Profesionalisme Pengurus dalam Mengelola Keuangan dan Administrasi Nupati.or.id – Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) MWCNU Tayu, Kabupaten Pati, menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Administrasi Kesekretaritan dan Pengelolaan Keuangan pada Sabtu-Ahad (5-6/7/2025). Kegiatan itu berlangsung di rumah salah satu pengurus LAZISNU Tayu. Ketua LAZISNU Tayu, Moh Fatchurrohman mengatakan, kegiatan […]

  • PCNU-PATI

    MTs Darun Najah Sukses Adakan Testing Kitab Kuning

    • calendar_month Jum, 3 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 500
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id MARGOYOSO-Kamis (2/3) kemarin, MTs Darun Najah, Ngemplak, Margoyoso sukses menyelesaikan agenda tahunan, Testing Kitab Kuning dan Baca Al Qur’an.  Testing tersebut merupakan program akhir tahun sebagai salah satu penentu kelulusan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.  “Ini adalah agenda tahunan yang rutin diadakan sejak madrasah ini didirikan,” terang Hasyim, Kepala MTs Darun Najah.  Meski sebelumnya sempat […]

  • Jajaran Pengurus ISHARI NU Pati Resmi Dilantik, Siap Kembangkan Seni Hadrah Bersanad

    Jajaran Pengurus ISHARI NU Pati Resmi Dilantik, Siap Kembangkan Seni Hadrah Bersanad

    • calendar_month Sen, 14 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 553
    • 0Komentar

    Jajaran Pengurus ISHARI NU Pati Resmi Dilantik, Siap Kembangkan Seni Hadrah Bersanad PCNUPATI.or.id – Jajaran pengurus Ikatan Seni Hadrah Indonesia Nahdlatul Ulama (ISHARI NU) Pati resmi dilantik. Pelantikan berlangsung saar Rapat Pleno PCNU Kabupaten Pati di Aula SMKNU Pati, Ahad (13/7/2025). Anwar Mahroni didapuk sebagai ketua pada periode 2025 -2030. Jajarannya dilantik langsung oleh Pengurus […]

  • ‎LP Ma’arif NU Jateng dan BRCC Gelar Pelatihan Mandarin Pra-Kerja, Siapkan 17 Peserta Masuk Perusahaan China

    ‎LP Ma’arif NU Jateng dan BRCC Gelar Pelatihan Mandarin Pra-Kerja, Siapkan 17 Peserta Masuk Perusahaan China

    • calendar_month Sen, 10 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17.777
    • 0Komentar

    ‎SEMARANG — LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah bekerja sama dengan BRCC Indonesia menyelenggarakan Program Pelatihan Mandarin Pra-Kerja. Sebanyak 17 peserta terpilih mengikuti pelatihan yang berlangsung di Ponpes KH. Sholeh Darat, Ngaliyan, Kota Semarang, pada 6 Agustus – 11 September 2026. ‎ ‎Pembukaan kegiatan dilaksanakan pada 5 Agustus 2026 di Aula Ponpes KH. Sholeh Darat. […]

  • Gerakan Sadar Zakat Dimulai Sejak Dini

    Gerakan Sadar Zakat Dimulai Sejak Dini

    • calendar_month Kam, 16 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 526
    • 0Komentar

    Pati. Kesadaran berzakat harus dimulai sejak dini, supaya ketika sudah dewasa, kesadaran tersebut tetap menyatu dalam jiwa. Dalam rangka membangun kesadaran zakat sejak dini itulah, Program Studi Manajemen Zakat Wakaf IPMAFA mengadakan Pelatihan Manajemen Zakat Wakaf di Madrasah Aliyah NU Miftahul Huda Gabus kemarin. Rais Syuriyah MWCNU Gabus Pati, K. Abdurrahman Adam menyambut baik pelatihan […]

expand_less