Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Kejahatan Seksual Bukan Milik Ormas

Kejahatan Seksual Bukan Milik Ormas

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 7 Mei 2026
  • visibility 13.268
  • comment 0 komentar

 

Oleh: Maulana Karim Shalikhin*

“Saya memilih keluar dari Islam,” kata bapak tua bau tanah kepada seorang remaja bau kencur. Lantas remaja yang masih labil itupun antusias dan menyambar dengan pertanyaan bertubi-tubi.

“Mengapa, mbah? Bukankah Islam itu rahmat? Bukannya mbah sudah Islam dari lahir? Kok tiba-tiba banget, Mbah?.”

Pria tua itupun menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan nada bass agar terdengar bijak nan wibawa. “Perhatikanlah, wahai anak muda, setiap ada kejahatan di negara kita, pasti pelakunya adalah ummat islam. Jadi aku putuskan untuk pindah agama.”

Jawaban ini tak membuat sang remaja kaget. Ia bahkan–kini–mengetahui kapasitas kepala lawan bicaranya. Ya, dia tak mau mendebat apalagi menyanggah, sebab keputusan itu telah menjadi pilihan bapak tua tadi.

Setelah menyerutup kopinya dengan gegas, ia berpamitan. Dirinya tak mau adu mekanik dengan orang yang bukan levelnya.

Di atas laju sepeda motor BeAt karbu, isi kepala pamuda bijak itu mengingat kembali pelajaran Sosiologi tempo hari. Menurut guru Sosiologi, apa yang dilakukan bapak tua tadi adalah stereotipe. Rekaman itu masih menempel betul di benaknya.

Kejahatan, sama sekali tidak memikliki agama, setidaknya tidak ada sangkut pautnya dengan perkara sesakral agama. Semua agama melarang tindak kriminal.

Ia lahir dari nafsu, yang didorong oleh keinginan, kebutuhan atau bahkan kesempatan. Kalaupun pelakunya beragama islam, kristen, katholik, atau atheis sekalipun, itu hanya kebetulan semata.

Sekilas, pilihan bapak tua tadi ada benarnya, namun itu hanyalah stereotip yang referensinya sesempit daun petai cina. Ia tak melihat konteks yang lebih lapang dengan kaca mata yang lebih terang.

Konteks kejahatan yang melulu dilakukan oleh oknum umat Islam, hanya karena agama ini memang mayoritas di Indonesia. Coba bandingkan, kriminal-kriminal di Amerika, Bandar Narkoboy di Meksiko, pencopet di India atau bahkan penjahat kemanusiaan di Israel. Apa agama mereka? Islam kah?. Sekali lagi, hal ini nir-koneksi dengan agama (titik).

Oknum Kiai Cabul

Ditengah maraknya kabar pengasuh, ustadz atau kiai pesantren cabul, NU selalu menjadi bidikan tumbal pelampiasan. Ya, khalayak memang cenderung mengambinghitamkan seseorang atau organisasi agar terlihat ada yang bersalah di satu sisi, dan ada patriot di sisi lainnya.

“Itu pasti pesantren NU!” Kata seorang netizen di kolom komentar salah satu postingan Instagram terkait kasus oknum kiai cabul di Pati. Jika kita mampu dan mau berfikir jernih layaknya remaja bijak tadi, maka akan kita temukan oase hikmah yang sama.

RMI NU (Lembaga NU yang mengurus Pondok Pesantren) merilis data yang menunjukkan bahwa ada sekitar 23.000-28.000 pesantren milik NU. Sementara itu, per September 2025 kemarin, data Kemenag menyatakan bahwa total pesantren di Indonesia Raya ini berjumlah 42.391 sampai 42.433 unit yang memiliki beragam latar ormas.

Bayangkan, dari total empat puluh dua ribu sekian, separo lebih milik NU atau beraviliasi dengan NU. Artinya kembali dengan prinsip tadi, tidak satupun Ormas Islam di Indonesia mengajarkan kejahatan seksual. Mereka adalah oknum yang bukan hanya merugikan Ormas, mencoreng nama baik pesantren, tapi membunuh masa depan bangsa.

Andaikan mereka mengaku diri sebagai Nahdliyyin, bukankan NU yang paling dirugikan? Sudah jatuh tertimpa tangga, dihinakan nama baiknya, jadi sasaran massa di Sosial Media pula.

Dalam kondisi semacam ini, terlepas pesantren terkait memiliki hubungan organisasi dengan NU atau tidak, sudah selayaknya semua Ormas khususnya Nahdlatul Ulama turun tangan bukan hanya dalam penegakan hukumnya, namun juga trauma healling bagi para korban. Sebab, menyediakan masa depan cerah bagi generasi berikutnya adalah tanggung jawab kita semua. Akhirul kalam, semoga kejadian asusila semacam ini tidak terjadi lagi terutama di lingkungan pesantren, dan di lingkungan manapun pada umumnya.

*Penulis adalah Sekretaris LTN NU Pati

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NU Memang Asyik

    NU Memang Asyik

    • calendar_month Sen, 22 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 304
    • 0Komentar

    Aku, sama sekali tidak pernah mengetahui kapan aku secara resmi menjadi warga NU. Yang jelas konon aku dilahirkan di satu kampung yang masyarakatnya kuat memegang tradisi ke-Nu-anya, walaupun mereka sendiri tidak tahu tentang apa itu NU secara pasti. NU diterima karena warisan leluhur mereka. Ayah, ibu, kakek, buyut dan semua keluargaku juga tidak begitu paham […]

  • Abadiyah Juara Umum Pagar Nusa Cup 2019

    Abadiyah Juara Umum Pagar Nusa Cup 2019

    • calendar_month Ming, 28 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 329
    • 0Komentar

    Persatuan Silat Pagar Nusa NU dari Yayasan Abadiyah Gabus, meraih juara umum pertama dalam Kejuaran Pecak Silat Pagar Nusa Cup 3 Tahun 2019.  Raihan ini mengungguli PN Al Ghozaliyah dan PN Cimande Dukuhseti yang berada diurutan kedua dan ketiga. Seperti diberitakan sebelumnya, Persatuan Pecak Silat Pagar Nusa Kabupaten Pati menggelar Kejuaran Pencak Silat Pagar Nusa […]

  • PK IPNU IPPNU MA Salafiyah Gelar Seminar ASWAJA di

    PK IPNU IPPNU MA Salafiyah Gelar Seminar ASWAJA di

    • calendar_month Sen, 26 Apr 2021
    • account_circle admin
    • visibility 255
    • 0Komentar

     di Tengah Arus Ideologi Radikal dan Liberal” tersebut dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan. Seminar yang dilaksanakan di Aula MA Salafiyah Kajen tersebut diikuti oleh 90 anggota PK IPNU IPPNU MA Salafiyah Kajen dan dihadiri oleh pembina PK IPNU IPPNU MA Salafiyah Kajen, KPS, KPPS, ET-Diversity, Pramuka, serta tamu undangan dari luar yaitu PAC IPNU-IPPNU Margoyoso, […]

  • PCNU-PATI

    Kemandirian Ekonomi Pesantren

    • calendar_month Sab, 17 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 277
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Berbicara tentang pesantren, tentunya yang ada dalam benak pikiran kita adalan belajar kitab kuning dan Alquran. Karena pesantren terkenal akan ciri khas ngaji kitab kuning dan Alquran atau lebih tepatnya adalah ilmu agama. Sejarah telah menunjukkan kiprah pesantren dalam ikut serta dalam mengusir kolonialisme Belanda selama 350 tahun (3,5 abad) alamanya. Maka […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Belajar Pendidikan Perdamaian dari Gus Dur

    Pendidikan Perdamaian dalam Perspektif Abdurrahman Wahid

    • calendar_month Kam, 19 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 261
    • 0Komentar

    KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur lahir dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang kental dengan pendidikan keislaman. Sejak kanak-kanak Gus Dur mendapatkan bimbingan dari orang tuanya. Sehingga dari keluarga pesantren dan tumbuh kembang dari pendidikan pesantren kelak akan memberikan warna bagi perkembangan intelektualitasnya hingga tumbuh dewasa. Sejak menuntut ilmu di […]

  • Tanya Jawab Bersama Syuriah

    Tanya Jawab Bersama Syuriah

    • calendar_month Rab, 8 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh, Pak kiai hal apa sajakah yang membuat kita terlarang menghadiri resepsi pernikahan ? Wa’alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh Walimatul ‘ursi (resepsi pernikahan) dalam pandangan fiqih hukumnya adalah sunnah muakkadah, dan memenuhi atau menghadiri undangannya adalah wajib. akan tatapi kewajiban menghadiri walimatil ‘ursi  tidaklah mutlak, melainkan ada syarat-syarat yang harus terpenuhi. dan jika ada […]

expand_less