Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Pendidikan Responsif Gender

Pendidikan Responsif Gender

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 30 Jul 2021
  • visibility 475
  • comment 0 komentar

 Oleh : Sulistiani*


Gender merupakan perlabelan atas laki-laki dan perempuan. Kontruksi ini tidak lagi membedakan laki-laki dan perempuan atas perbedaan seks yang dimiliki. Secara mendasar gender berbeda dari jenis kelamin biologis. Jenis kelamin biologis merupakan pemberian, kita dilahirkan sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan.

Seperti halnya yang di kemukakan Hartian Silawati dalam buku Gender & Pembangunan, Yogyakarta, Pustaka Belajar, 1996, Gender adalah seperangkat peran yang seperti halnya kostum dan topeng di teater, menyampaikan kepada orang lain bahwa kita adalah peminim atau maskulin.

Secara umum, pengertian gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam womenstudies ensiklopedia dijelaskan. “gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat”

Perbincangan seputar relasi gender dalam Islam selalu saja menyisakan masalah. Apa yang disebut ketidakadilan gender menjadi isu yang terus menerus dipersoalkan. Pasalnya masih begitu kuat melekat dalam bawah sadar kita bahwa perempuan tidak sebanding dengan laki-laki. Bahwa perempuan kurang ‘akal’ dan oleh karena itu dia juga hanya “setengah” manusia. Yusuf Ulfa, dalam Naqhisatu Aqlinwa Dinin,

Anggapan bahwa perempuan ‘kurang akal dan kurang agama’ berdampak pada berbedanya perlakuan masyarakat terhadap makhluk berjenis kelamin perempuan ini. Perempuan dikonsentrasikan pada ruang domestik semata. Sementara ruang publik menjadi wewenang tunggal laki-laki.

Domestifikasi peran inilah yang terus-menerus menyandera perempuan. Terlebih lagi dengan perilaku bawah sadar perempuan sendiri yang selalu memposisikan dirinya sebagai ‘boneka india’ yang tidak bisa melakukan hal-hal berarti, lemah, dan tidak berdaya. Perasaan naif ini tentunya cukup berperan dalam membentuk pola berfikir perempuan itu sendiri dan akhirnya akan menjadi justifikasi bagi laki-laki untuk melanggengkan kekuasaannya dan mengambil alih semua kesempatan. Ujungnya, perempuan memiliki daya tawar yang tumpul dihadapan kuasa laki-laki.

Dalam perbincangan mengenai relasi gender, pendidikan bukan hanya dianggap dan dinyatakan sebagai sebuah unsur utama dalam upaya pencerdasan bangsa melainkan juga sebagai produk atau kontruksi sosial, maka dengan demikian pendidikan juga memiliki andil bagi terbentuknya relasi gender dimasyarakat terutama dalam membentuk karakter perempuan agar dapat memiliki harga tawar yang setara dengan laki-laki.

Pendidikan responsif gender hendaknya dimulai dari rumah tangga. Orang tua memiliki peran sangat penting dalam mendidik dan mengarahkan anak-anaknya, karena apabila dalam satu keluarga tersebut terjadi bias gender maka hal ini akan sangat berpengaruh pada pola pikir anak-anaknya di masa yang akan datang.

Dalam dunia pendidikan formal biar gender dapat dilihat pada perumusan kurikulum. Implementasi kurikulum pendidikan sendiri terdapat dalam buku ajar yang digunakan di sekolah-sekolah. Realitas yang ada dalam kurikulum pendidikan masih terdapat banyak hal yang menonjolkan laki-laki berada pada sektor publik sementara perempuan berada pada sektor domestik.

Pada tataran praktis, Islam telah memberi aturan yang rinci berkenaan dengan peran dan fungsi masing-masing dalam menjalani kehidupan ini. Adakalanya sama dan adakalanya berbeda. Hanya saja ada perbedaan dan persamaan pada pembagian peran dan fungsi masing-masing. Dan tidak bisa dipandang sebagai adanya kesetaraan atau ketidaksetaraan gender. Pembagian tersebut semata-mata pentingnya di dalam upaya mewujudkan kehidupan masyarakat, yakni tercapainya kebahagiaan yang hakiki di bawah keridloan Allah semata.

Demikian halnya dalam dunia pendidikan laki-laki dan perempuan diberi kesempatan yang sama dalam menuntut ilmu, sesuai dengan hadist yang mempunyai arti “menuntut ilmu kewajiban bagi muslim dan muslimah”.

Perlu diupayakan pendidikan responsif gender, yaitu dengan tidak melakukan pembedaan atas perempuan dan laki-laki serta berupaya membongkar stereotip yang timpang.

Pendidikan responsif gender jangan diterjemahkan sebagai upaya perempuan melawan laki-laki. Bukan demikian, namun bagaimana perempuan bisa mendapatkan kesetaraan nonkodrati yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan perlindungan, pelayanan, dan kesejahteraan kaum perempuan.

Pendidikan responsif gender sendiri merupakan salah satu upaya dalam mendekontruksi ideologi, yaitu mempertanyakan kembali segala sesuatu yang menyangkut nasib perempuan dimana saja, pada tingkat dan bentuk apa saja, berbasis pendidikan kritis. Pendidikan ini dapat membantu perempuan memahami pengalaman dan menolak ideologi serta norma yang dipaksakan pada mereka, dimana tujuan akhirnya adalah melahirkan gagasan dan nilai baru yang menjadi dasar bagi transformasi gender.

 

* PW IPPNU Jawa Tengah  Dept Dakwah dan Sosial Kemasyarakatan dan Mahasiswi PGMI Institut Pesantren Mathali’ul Falah

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Fadhila Nurhakim

    Malam yang Aneh

    • calendar_month Sen, 15 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 550
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Pukul sembilan malam aku keluar dari kamar hotel. Aku bergegas menuju kafe Sunny Story yang tak jauh dari alun-alun. Sesampainya di kafe, kucari tempat duduk di pojok yang agak sepi di halaman kafe. Hanya beberapa orang saja yang ada di situ, berpasang-pasangan, di mejanya masing-masing. Hanya aku yang sendirian. Jika […]

  • PCNU-PATI

    Tradisi Ruwahan Sebagai Tradisi Local Wisdom Masyarakat

    • calendar_month Sab, 2 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 662
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Setiap memasuki bulan Sya’ban masyarakat desa pada umumnya melanggengkan tradisi kirim doa yang ditujukan kepada para leluruh dan kerabat yang sudah meninggal. Tradisi ini sudah berjalan dari dulu sampai sekarang. Tradisi ruwahan ini juga biasanya dilakukan baik di masjid, mushola dan makam. Hal ini dilakukan masyarakat tidak lain adalah karena adanya […]

  • PCNU-PATI

    Sepanjang Tahun 2022 LAZISNU se-Pati Kelola Dana ZIS Mencapai Rp15,6 Miliar

    • calendar_month Sel, 14 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 510
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id. PATI – Selama tahun 2022, Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah, Nahdlatul Ulama (LAZISNU) se-Kabupaten Pati, telah mengelola dana sebesar Rp15,6 miliar.  Adapun dana itu terdiri atas Rp. 2,087,913,520 dana Zakat, Rp. 742,254,261 penerimaan dana Infak non Koin, Rp. 5,180,900,204 dana Koin NU, dan Rp. 7,603,488,020 yang bersumber dari dana lainnya.  Jika dibandingkan tahun […]

  • Menyelam sambil Minum Air, Berikut Rangkaian Pelantikan Pelajar NU Gembong

    Menyelam sambil Minum Air, Berikut Rangkaian Pelantikan Pelajar NU Gembong

    • calendar_month Sel, 15 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 611
    • 0Komentar

      Pelantikan PAC IPNU Gembong dipimpin langsung Ketua PC IPNU Pati GEMBONG – PAC. IPNU-IPPNU Gembong sukses adakan pelantikan pada Minggu (13/2) malam di aula lantai dua Ponpes Shofa Az Zahro’. Acara sakral ini, berjalan penuh khidmat dan semangat. Sebab, selain dihadiri oleh ketua PC IPNU-IPPNU Pati, agenda tersebut juga dihadiri oleh para pengurus MWC-NU, […]

  • Dindikpora Dapuk Dosen INISNU Temanggung Jadi Juri Jambore Pemuda

    Dindikpora Dapuk Dosen INISNU Temanggung Jadi Juri Jambore Pemuda

    • calendar_month Jum, 28 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 465
    • 0Komentar

    Temanggung – Dalam rangka pengiriman peserta pada Jambore Pemuda Jawa Tengah Tahun 2023 dengan tema “Semangat Muda Dalam Menjaga dan Melestarikan Budaya dan Keunggulan Daerah” yang akan dilaksanakan di Kota Surakarta pada tanggal 18 sampai 21 September 2023 mendatang, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Temanggung mengadakan rapat koordinasi dewan juri dalam rangkaian seleksi […]

  • Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin, Bambang Mursito dan Nur Cahyo dalam NgAllah Suluk Maleman “Bersama Kita Gila” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (20/6).

    Suluk Maleman Kali ini Membahas Bangsa Yang Kehilangan Kuda Kuda

    • calendar_month Ming, 21 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16.062
    • 0Komentar

    Penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin menyoroti persoalan hilangnya cara pandang bangsa dalam melihat kemanusiaan. Padahal sejarah menunjukkan banyaknya perjuangan melawan penjajah justru didasari nilai-nilai dasar yang sudah lama menjadi menjadi bagian hidup bangsa. Nilai-nilai yang secara diametral bertentangan dengan nilai yang dibawa penjajah. Perenungan itu muncul saat digelarnya Ngaji Budaya Suluk Maleman yang digelar […]

expand_less