Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Laki-laki Cadasari Tersesat di Juwana

Laki-laki Cadasari Tersesat di Juwana

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 30 Jan 2023
  • visibility 344
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Di dalam Bus PO Selamet, sewaktu perjalanan mudik ke Pandeglang, saya berkenalan dengan seorang penumpang laki-laki dengan perawakan kurus. Dia bersama istri dan anak laki-lakinya, kira-kira usianya sama dengan usia putriku, 4 tahunan. 

“Turun di mana, mas?” tanya dia ke saya.

“Di Serang, mas,”jawabku.

“Sama atuh, saya juga di Serang. Mudiknya kemana?”

            “Ke Pandeglang.”

            “Lho, sama, aku juga ke Pandelang. Pandeglangnya mana?”

            “Bojong, mas. Bojong yang ke arah Malingping. Masnya Pandeglangnya mana?” saya balik tanya.

            “Cadasari, mas.”

            Oalah, ternyata kami sedaerah, lebih tepatnya se-kabupaten. Bertemu dengan orang yang satu daerah di perantauan selalu memberikan perasaan lain. Ada kehangatan dan antusias yang besar. Ya, ada kehangatan dan keakraban yang mungkin tidak dirasakan sewaktu bertemu di daerah sendiri. Dari perkenalan itu kami mulai mengobrol panjang lebar. Rupanya dia tinggal di Juwana, dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Aku menyimak baik-baik setiap perkataannya. Lantas, aku bertanya perihal dirinya bisa sampai ke Pati.

“Gak sengaja saya bisa sampai ke Pati, mas. Berbekal nekat saja saya berangkat dari rumah. Di Cadasari saya merasa gak berkembang. Kerjaan gak jelas. Malu sama orangtua dan tetangga. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi dari rumah, terserah mau kemana, pokoknya keluar dari rumah, dari desa sendiri.”

Laki-laki itu terus bercerita dengan logat sunda Bantennya yang masih kental. Dia, katanya, memutuskan pergi ke Jakarta meski belum ada bayangan sama sekali hendak kerja apa. Berbekal duit pas-pasan, dia naik bus PO ASLI jurusan Kalideres (Jakarta Barat). Di sana dia melihat bus yang ke Jawa (Tengah). Berhubung belum ada tujuan, dia naik saja bus tersebut.

“Turun mana, mas?” tanya kondektur, saat bus sudah sampai tol Cikampek.

“Ini bis sampai mana, mas?”

Lha, ditanya malah balik tanya, mungkin ujar si kondektur dalam hati.

“Sampai Pati, mas,” jawab kondektur.

“Kalau begitu saya sampai Pati juga.”

Keesokan harinya pada saat bus sudah sampai perbatasan Kudus – Pati, kondektur menghampiri laki-laki Cadasari itu.

“Patinya mana, mas? Ini sudah sampai Pati. Bus ini akan langsung ke Rembang, tidak masuk terminal Pati.”

Turun mana, ya? Laki-laki itu sedikit tercenung. Bimbang. Maklum, dia tidak punya tujuan sama sekali. Dia kemudian ingat seorang kawan asal Pati, tepatnya Juwana.

“Juwana, mas.”

Sesampainya di Juwana dia kemudian menghubungi temannya. Singkat cerita dia kemudian ikut dengan temannya, yakni berjualan onderdil motor. Kurang lebih 1 tahun. Setelah dia punya modal, dia memutuskan untuk membuka toko sendiri. Dan berkat kerja keras, usahanya mengalami kemajuan yang lumayan pesat. Dia kemudian memutuskan untuk menikah. Setahuan kemudian dia dikaruniai seorang putra.

5 tahun sudah dia tinggal di Juwana. Dan tahun 2013 dia ingin berlebaran di kampung halamannya, Cadasari Pandeglang. Selama 5 tahun itu dia tidak pernah pulang. Jadi, ini adalah mudik pertama kalinya ke Pandeglang, dengan membawa anak dan istri, tentu saja membawa kesuksesannya juga. Ketika kami sama-sama turun dari bus, kulihat barang bawaannya menggunung. Mungkin dia bawa oleh-oleh untuk orangtua dan saudara-saudaranya. Ah, betapa bahagianya dia pulang dengan penuh percaya diri, karena dia berhasil menjalani hidup dengan layak dan bermakna. Dan saya yakin orangtuanya pun akan bangga padanya. Dia akan bercerita panjang lebar kepada saudara, tetangga, dan teman-temannya di kampung, cerita pengalaman hidupnya di perantauan.

Saya pikir ini adalah hikmah dan faedah dari merantau. Seandainya dia tidak mengambil keputusan untuk pergi merantau mungkin dia tidak akan sesukses itu. Tentu jalan hidup setiap orang berbeda-beda. Dan mungkin jalan hidup lelaki Cadasari itu untuk sukses adalah dengan merantau. Tidak ada jaminan memang bahwa dengan merantau kita bisa menjadi hidup sukses. Perangkat dan piranti kesuksesan tetap menjadi sesuatu yang terpenting untuk dilakukan. Di antaranya kerja keras, disiplin, sabar, istikamah, dan lain-lain.

            Teringat sebuah dialog dalam novel Rantau 1 Muara (2013) karya Ahmad Fuadi. Waktu itu Fikri—tokoh utama—sedang melakukan pendekatan kepada ayah Dinara—perempuan yang dicintainya—untuk meraih simpatik darinya.

“Apa yang paling Bapak kenang dalam perjalanan hidup selama 55 tahun ini?” tanya Fikri.

Ayah Dinara menjawab dengan antusias, “Yang pertama adalah keputusan untuk merantau di usia muda. Mencoba peruntungan nasib di ranah orang. Jatuh-bangun membangun usaha dengan keringat sendiri. Rasa aman, asin, pahit yang harus dilalui sebelum berakhir manis.”

Dari jawaban ayah Dinara di atas tersirat bahwa dengan merantau kita akan terpacu untuk bekerja keras. Jauh dari tanah kelahiran, lingkungan baru, “manusia baru”, dan tinggal di tanah orang membuat kita kreatif dan selalu bergerak. Ibaratnya kita meninggalkan zona nyaman menuju zona tak nyaman alias tanpa ada kepastian. Bagaimana tidak, kondisi ketidakpastian “esok makan apa” akan selalu merongrong setiap hari dalam benak kita. Kalau sudah begitu apalagi yang harus dilakukan selain kerja keras dan keberanian untuk melakukan segala hal.  

Orang yang merantau dengan penuh antusias akan mendapatkan apa yang diharapkannya. Ada beberapa sampel contoh orang-orang daerah tertentu yang sudah dikenal lantaran berhasil menjalankan usahanya sehingga yang dikenal adalah daerahnya, yakni Orang Tegal dengan warteg-nya, Orang Wonogiri dengan penjual bakso-nya, Orang Wonosari dengan bakmi-nya, Orang Padang dengan masakan Padang-nya, dan lain-lain. Itu semua sukses lantaran mereka merantau yang dipupuk dengan kerja keras dan keberanian.

            Imam Syafii adalah satu-satunya tokoh yang mengampanyekan agar manusia merantau, entah itu untuk bekerja maupun menuntun ilmu. Beliau menjadi teladan bahwa dengan merantau kita akan berhasil. Beliau sudah membuktikannya dengan merantau ke pelbagai negeri muslim, seperti Mekah dan Mesir. Walhasil, beliau menjadi hakim, ahli fiqih, dan pendiri mazhab syafiiyah. Berikut ini adalah salah satu syairnya yang terkenal perihal merantau:

ما في المقامِ لذي عقلٍ وذي أدبِ مِنْ رَاحَة ٍ فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِبِ

سافر تجد عوضاً عمَّن تفارقهُ وَانْصِبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ

إني رأيتُ وقوفَ الماء يفسدهُ إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ

والأسدُ لولا فراقُ الأرض ما افترست

والسَّهمُ لولا فراقُ القوسِ لم يُصِبِ

والشمس لو وقفت في الفلكِ دائمة ً لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ

والتَّبْرَ كالتُّرْبَ مُلْقَىً في أَمَاكِنِهِ والعودُ في أرضه نوعً من الحطب

فإن تغرَّب هذا عزَّ مطلبهُ وإنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كالذَّهَبِ

Tidaklah berdiam di tempatnya orang-orang berakal dan beradab, dari rehatnya dia berpisah dan dari negerinya dia mengasingkan diri

Berpergianlah, akan kau temukan pengganti yang telah engkau tinggalkan, berusahalah, sungguh kenikmatan hidup ada pada kerasnya usaha

Sungguh aku melihat diamnya air merusakkannya, bila bergerak ia jernih, bila tak mengalir maka ia tak menyehatkan

Dan singa yang tak tinggalkan sarangnya takkan memangsa, dan panah yang tak terlepas dari busurnya takkan mengena

Dan matahari yang bertetap pada peredarannya, tentu akan menjemukan manusia, baik dari ajam maupun arab

Dan biji emas tak ada bedanya dengan biji tanah saat tercampur di tempatnya, kayu gaharu terserak di tanah pun serupa dengan kayu bakar

Dila kau pisahkan biji emas dari tanah, maka mulia dia dan dicari, bila kau pisahkan kayu gaharu dari kayu bakar, ia akan seharga emas

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Estafet Kepemimpinan Berlanjut, Sri Wahyu Susilowati Resmi Pimpin MTs Ma'arif Sapuran

    Estafet Kepemimpinan Berlanjut, Sri Wahyu Susilowati Resmi Pimpin MTs Ma’arif Sapuran

    • calendar_month Sen, 3 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17.438
    • 0Komentar

    WONOSOBO – MTs Ma’arif Sapuran menggelar acara pelantikan Kepala Madrasah baru pada Sabtu (1/8/2026). Dalam prosesi tersebut, Sri Wahyu Susilowati, S.Pd. resmi dilantik sebagai Kepala MTs Ma’arif Sapuran, menggantikan Arif Muchtar, S.E. yang telah menuntaskan masa khidmahnya selama dua periode atau delapan tahun. Acara berlangsung khidmat dan dihadiri oleh Rois Syuriah MWCNU Sapuran KH. Yahya, […]

  • Bupati Tunjuk Dosen Inisnu Jadi Ketua Dewan Pengawas Temanggung TV 2024-2028

    Bupati Tunjuk Dosen Inisnu Jadi Ketua Dewan Pengawas Temanggung TV 2024-2028

    • calendar_month Sab, 1 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 517
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Temanggung – Dosen sekaligus Wakil Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung Dr. Hamidulloh Ibda didaulat oleh Bupati Temanggung menjadi Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV Kabupaten Temanggung Masa Jabatan 2024-2028. Hal itu terungkap melalui Keputusan Bupati Temanggung Nomor 705 / 379 Tahun 2023 tentang Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik […]

  • PCNU - PATI

    Ansor Banser Pati Lakukan Bersih Lingkungan Terdampak Banjir

    • calendar_month Sen, 18 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 362
    • 0Komentar

    Pati. Pada rabu malam hujan deras, (13/7/2022) mengakibatkan jebolnya tanggul Sungai dan menyebabkan banjir bandang di dua desa Kecamatan Margoyoso. Dua desa itu adalah Bulumanis Kidul dan Tunjungrejo. Berdasarkan laporan di lapangan, total ada 22 rumah warga yang hanyut terbawa banjir dengan rincian 12 rumah di Bulumanis Kidul dan 10 sisanya di Tunjungrejo. Tidak hanya […]

  • Rapat Anggota Pelajar NU Wonosekar sekaligus Tentukan Ketua Baru

    Rapat Anggota Pelajar NU Wonosekar sekaligus Tentukan Ketua Baru

    • calendar_month Sen, 24 Jan 2022
    • account_circle admin
    • visibility 467
    • 0Komentar

    Suasana Rapat Anggita dan Pembukaan Konferensi I IPNU-IPPNU Desa Wonosekar, Kecamatan Gembong. GEMBONG – Pengurus Ranting IPNU IPPNU Wonosekar Gelar Rapat Anggota dan Konferensi I, pada Minggu (23/1). Dalam acara tersebut dilaksanakan mulai pukul 08.00 WIB yang bertempat di TK Mekar Sari Desa Wonosekar. Kegiatan tersebut juga serta dihadiri oleh pengurus serta anggota PR IPNU […]

  • Ketika Peradaban dikendalikan Amarah dan Syahwat

    Ketika Peradaban dikendalikan Amarah dan Syahwat

    • calendar_month Sel, 21 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.139
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (18/4) malam kembali mengajak kita merenung: bagaimana menjaga kemanusiaan di tengah zaman yang tak malu memamerkan kekejaman secara telanjang. Dengan mengangkat tema “Manusia, O Manusia”, kita diajak mengritisi proses de-humanisasi yang sedang berlangsung. Salah satunya seperti yang ditunjukkan dalam peperangan yang saat […]

  • Kepala MTs Ma'arif Nurul Huda Kaloran Resmi Buka MATAMUDA 2026, Tanamkan Nilai Islami dan Semangat Berprestasi

    Kepala MTs Ma’arif Nurul Huda Kaloran Resmi Buka MATAMUDA 2026, Tanamkan Nilai Islami dan Semangat Berprestasi

    • calendar_month Sel, 14 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16.577
    • 0Komentar

    Kaloran, 13 Juli 2026 – Kepala MTs Ma’arif Nurul Huda Kaloran, Wiwik Hartati, S.Pd. Secara resmi membuka kegiatan Masa Ta’aruf Murid Baru (MATAMUDA) Tahun Pelajaran 2026/2027 pada Senin (13/7). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan MTs Ma’arif Nurul Huda Kaloran ini akan dilaksanakan selama lima hari, mulai 13 hingga 17 Juli 2026. Dalam sambutannya di hadapan […]

expand_less