Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Puasa: Konsepe Ora Ngono!

Puasa: Konsepe Ora Ngono!

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 12 Mar 2026
  • visibility 10.308
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Sore itu ruang tengah rumah terasa hangat oleh aktivitas kecil menjelang berbuka. Istri saya bergegas menyiapkan hidangan sambil sesekali merapikan diri. Ia meraih botol parfum dan menyemprotkannya dengan cukup bersemangat. Namun mungkin karena tergesa, arah semprotannya mengenai bagian yang tidak semestinya.

 

Anak kami yang sejak tadi memperhatikan tiba-tiba berkomentar dengan nada polos tetapi kritis, “Konsepe ora ngono, Ma!” (konsepnya bukan begitu, Ma). Saya dan istri tertawa terbahak-bahak karena mendengar celetukan spontan itu. Hahahaha Namun, usai tawa mereda, kalimat sederhana itu justru memantik perenungan panjang dalam benak saya.

 

Idiom “konsepe ora ngono” terasa seperti cermin kecil bagi metode kita menjalankan ibadah puasa Ramadan. Betapa sering manusia beribadah dengan penuh motivasi, namun tanpa memahami konsep yang idealnya. Kita rajin menjalankan ritual, namun kadang kehilangan makna yang melandasinya. Ramadan menjadi sangat super sibuk dengan berbagai aktivitas. Apa saja? Ya tentu mulai dari sahur, puasa, berbuka puasa, salat tarawih, salat witir, tadarus Quran, iktikaf, takjil, zakat, infak, sedekah, pengajian, bahkan agenda sosial yang padat. Namun tidak jarang di tengah kesibukan itu yang tertinggal yaitu berupa esensi dari ibadah itu sendiri. Kita super sibuk dengan kulitnya, namun hakikatnya lupa pada isi yang seharusnya memberi kehidupan.

 

Secara teologis, puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dari fajar hingga magrib. Dalam Al-Qur’an, tujuan puasa ditegaskan dengan sangat jelas: membentuk ketakwaan dalam diri manusia. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 menyebutkan bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi bertakwa. Ketakwaan di sini bukan sekadar status spiritual, tetapi transformasi karakter yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang mampu menahan lapar namun tetap mudah marah, tetap gemar menyebarkan kebohongan, atau tetap melakukan kecurangan, maka tujuan puasa belum tercapai.

 

Konsepnya Tak Begitu!

Kanjeng Nabi Muhammad Saw memperkuat pandangan di atas sesuai hadis yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari, yaitu“Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Dzi`b menceritakan kepada kami: Sa’id Al-Maqburi menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah R.A, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta, maka Allah tidak hiraukan amalannya menahan makan dan minum.” (HR. Bukhari No. 1903).

 

Pesan hadis di atas sangat tegas. Artinya, puasa bukan sebatas diukur dari urusan menahan lapar dan dahaga, namun juga dari perubahan perilaku. Ketika lisan tetap menyakiti teman, tetap clutak dengan rekan, dan hati tetap dipenuhi amarah, maka puasa sekadar menjadi ritual biologis yang kehilangan ruh spiritualnya.

 

Masalah seperti ini ini telah lama dibahas oleh para ulama. Salah satunya dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyatakan ibadah mempunyai dua aspek penting, yaitu (1) rasm dan (2) ruh. Pertama, rasm yaitu bentuk lahiriah atau formalitas ibadah. Kedua, ruh merupakan makna batin yang menghidupkannya. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, puasa orang awam sekadar aktivitas menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi puasa yang lebih tinggi yaitu puasa yang dapat menjaga pancaindera dari dosa, menjaga telinga dari gosip, menjaga mata agar tidak pelilak-pelilik, menjaga lisan dari kata-kata yang menyakitkan dan agar tidak celutak.

 

Dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari menyatakan tiap amal harus dilandasi dengan niat dan pemahaman yang benar. Tiadanya pemahaman konsep yang tepat, suatu tindakan bisa kehilangan maknanya. Analogi parfum dalam kisah receh di awal tulisan saya ini menjadi sangat relevan. Artinya, parfum mungkin disemprotkan dengan niat agar wangi di badan dan baju, namun jika caranya salah, wanginya tak akan terasa dengan baik. Bahkan, bisa menjadi berlebihan wanginya. Lalu bagaimana dengan puasa? Ketika konsepnya keliru, salah, apalagi ngawur, misalnya sekadar menahan lapar untuk kemudian “balas dendam” ketika berbuka puasa dengan konsumsi berlebihan, maka tujuan spiritualnya tidak tercapai.

 

Fenomena ini bisa dijelaskan lewat teori psikologi kognitif. Benjamin Bloom lewat teori Bloom’s Taxonomy dalam buku Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals, Volume 1 (1956), memaparkan tingkat pembelajaran tertinggi bukan sekadar mengikuti aturan, namun memahami, menganalisis, dan mengevaluasi suatu konsep. Tentu dalam kajian edukasi, para ahli membedakan antara procedural knowledge dan conceptual understanding. Pengetahuan prosedural di sini bermakna sebuah kemampuan mengikuti aturan atau langkah-langkah tertentu, sedangkan pemahaman konseptual adalah kemampuan memahami makna di balik tindakan tersebut.

 

Ketika ditinjau dalam perspektif ini, tentu kita bisa memetakan bahwa sebenarnya banyak orang menjalankan puasa sekadar pada level atau tingkat prosedural. Pastinya, mereka semua tahu kapan waktu harus sahur, waktu berbuka, dan kapan harus salat tarawih-salat witir. Akan tetapi, dari mereka tidak semua mengerti tujuan psikologis dan spiritual dari praktik rentetan ibadah puasa Ramadan tersebut. Padahal seharusnya puasa melatih kesabaran, simpati dan empati pada orang fakir-miskin, dan kemampuan mengendalikan diri. Tanpa sebuah pemahaman konseptual yang masak, puasa tentu sekadar menjadi ritus, jadwal, rutinitas tahunan yang mekanistik.

 

Puasa dari sudut pandang neurosains hakikatnya mempunyai potensi besar dalam melatih pengendalian diri seorang manusia. Saat seorang menahan lapar dan emosi, bagian otak yang disebut prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan pengambilan keputusan rasional, idealnya menjadi lebih aktif mengendalikan impuls emosional dari amygdala (bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi). Akan tetapi, saat seorang justru menjadi lebih mudah marah saat puasa, hal ini menunjukkan latihan mental itu belum berhasil sepenuhnya. Secara ilmiah pun kita bisa mengatakan dengan jelas konsepe ora ngono!

 

Puasa dalam perspektif manajemen diri bisa dimaknai sebagai bagian siklus evaluasi kehidupan. Rumus manajemen kualitas dengan siklus Plan–Do–Check–Act (PDCA) oleh W. Edwards Deming dalam buku Out of the Crisis (reissue) (2018) mempertegas tiap tahapan wajib diikuti dengan evaluasi untuk melihat hasilnya. Dalam hal ini, bulan suci Ramadan bisa dimengerti sebagai fase praktik intensif (Do). Perubahan perilaku setelah itu menjadi indikator keberhasilan dari proses tersebut. Ketika usai bulan Ramadan seorang tetap memiliki kebiasaan buruk yang sama bahkan makin merajalela, maka proses refleksi tersebut belum berjalan optimal.

 

Akhirnya, celetukan anak saya “konsepe ora ngono” sore itu terasa seperti pelajaran kecil yang sangat dalam. Kita dalam kehidupan beragama pastinya butuh kecerdasan literasi spiritual agar tidak terjebak pada rutinitas tanpa makna, dan akhirnya sia-siapa. Idealnya puasa menjadi momen untuk mereset konsep hidup kita, yaitu menggeser pusat kehidupan dari ego dan materi menuju Allah Swt dan kemanusiaan. Pola ini hampir sama seperti menyemprot parfum yang saya ceritakan di awal yang membutuhkan cara tepat agar wanginya tahan lama, puasa juga membutuhkan konsep yang benar agar pahalanya berbekas dalam kehidupan.

 

Maka jangan sampai kita telah payah menahan ngeleh, ngelak, sepanjang hari, namun di akhir perjalanan spiritual bulan Ramadan, justru kita mendengar teguran halus dari langit: “Konsepe ora ngono, hamba-Ku.”

 

Hahaha

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sah Jadi Ketua, Mudrikah Nekad Majukan Fatayat NU Sukolilo

    Sah Jadi Ketua, Mudrikah Nekad Majukan Fatayat NU Sukolilo

    • calendar_month Ming, 10 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 427
    • 0Komentar

    Mudrikah (kiri) menerima jabatan PAC Fatayat NU Sukolilo dari ketua PC Fatayat NU Pati, Asmonah (kanan). SUKOLILO – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Sukolilo baru saja meresmikan ketua barunya. Dalam acara pelantikan PAC Fatayat yang berlangsung di gedung MWC NU Sukolilo, Minggu (10/10) pagi tadi, secara sah Mudrikah memimpin para pemudi nahdliyyin di kecamatannya […]

  • Hari Guru; SMA Negeri 1 Tayu di Meriahkan dengan Ragam Kegiatan Kreatif

    Hari Guru; SMA Negeri 1 Tayu di Meriahkan dengan Ragam Kegiatan Kreatif

    • calendar_month Sel, 26 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 492
    • 0Komentar

    Tayu,  SMA Negeri 1 Tayu memperingati Hari Guru Nasional dengan penuh semangat melalui rangkaian acara menarik yang melibatkan seluruh warga sekolah. Acara yang diadakan pada hari Jumat pagi dimulai pukul 07.00 WIB 22 November 2024 kemarin Pada kegiatan kali ini mengusung tema kebersamaan dan penghormatan terhadap guru, dengan acara pembuka berupa menghias tumpeng hasil bumi […]

  • Maskan; Ketua PAC Ansor Gembong Terpilih

    Maskan; Ketua PAC Ansor Gembong Terpilih

    • calendar_month Jum, 11 Des 2015
    • account_circle admin
    • visibility 420
    • 0Komentar

    Beberapa waktu yang lalu, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gembong mengadakan konferensi masa khidmat 2015-2018, bertempat di Madrasah Ma’arif  desa Gembong.             “Dengan terpilihnya Maskan sebagai ketua Pimpinan Anak Cabang, kami berharap dia mampu mengabdi kepada masyarakat Gembong khususnya dalam kegiatan-kegiatan sosial atau keagamaan, yang bermanfaat untuk masyarakat,”ujar Imam Rifa’I  ketua PC GP […]

  • PCNU-PATI

    BPUN Pati Resmi Dibuka, Harapkan Pemerintah Berikan Dukungan

    • calendar_month Sel, 11 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 521
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- TRANGKIL – Bimbingan Persiapan Masuk Perguruan Tinggi Negeri (BPUN) Pati resmi dibuka pada Senin (10/4). Bimbingan yang diselenggarakan oleh PC IPNU IPPNU Pati bersama Majelis Alumni Sanlat (MAS) BPUN Pati ini digelar di Madrasah Mansyaul Ulum, Kadilangu, Trangkil Pati. Hadir dalam kesempatan itu, Ketua PC IPNU Pati sekaligus Manajer BPUN Pati 2023 Mastna Zakiyyatus […]

  • Kafilah RMI PCNU Pati Ukir Prestasi dalam Pekan Madaris NU Jawa Tengah

    Kafilah RMI PCNU Pati Ukir Prestasi dalam Pekan Madaris NU Jawa Tengah

    • calendar_month Sen, 13 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 575
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Kafilah Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati, mengukir prestasi dalam Pekan Madaris NU Jawa Tengah 2025, yang berlangsung di Pondok Pesantren Walisongo Pecangaan, Jepara, pada Sabtu-Ahad (11-12/10/2025). Kegiatan ini diselenggarakan oleh RMI Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah (Jateng) dan diikuti oleh delegasi RMI dari 22 kabupaten/kota […]

  • water droplets on glass window

    Rangkaian Hujan

    • calendar_month Sen, 20 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 412
    • 0Komentar

    Aku sangat menyukai momen ini, saat kecil.  Hujan. Adalah momen bahagiaku untuk bermain di setiap rintik-rintiknya. Entah sambil berlari-lari atau hanya sekadar berguyur di bawah deraiannya. Lain halnya dengan sekarang, paling tidak suka dengan hujan. Bukan, lebih tepatnya kehujanan,. Aku tak pernah menyalahkan Tuhan yang menurunkan hujan. Hanya saja aku tak menyukai kehujanan. Itu saja. […]

expand_less