Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Puasa: Konsepe Ora Ngono!

Puasa: Konsepe Ora Ngono!

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 12 Mar 2026
  • visibility 10.410
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Sore itu ruang tengah rumah terasa hangat oleh aktivitas kecil menjelang berbuka. Istri saya bergegas menyiapkan hidangan sambil sesekali merapikan diri. Ia meraih botol parfum dan menyemprotkannya dengan cukup bersemangat. Namun mungkin karena tergesa, arah semprotannya mengenai bagian yang tidak semestinya.

 

Anak kami yang sejak tadi memperhatikan tiba-tiba berkomentar dengan nada polos tetapi kritis, “Konsepe ora ngono, Ma!” (konsepnya bukan begitu, Ma). Saya dan istri tertawa terbahak-bahak karena mendengar celetukan spontan itu. Hahahaha Namun, usai tawa mereda, kalimat sederhana itu justru memantik perenungan panjang dalam benak saya.

 

Idiom “konsepe ora ngono” terasa seperti cermin kecil bagi metode kita menjalankan ibadah puasa Ramadan. Betapa sering manusia beribadah dengan penuh motivasi, namun tanpa memahami konsep yang idealnya. Kita rajin menjalankan ritual, namun kadang kehilangan makna yang melandasinya. Ramadan menjadi sangat super sibuk dengan berbagai aktivitas. Apa saja? Ya tentu mulai dari sahur, puasa, berbuka puasa, salat tarawih, salat witir, tadarus Quran, iktikaf, takjil, zakat, infak, sedekah, pengajian, bahkan agenda sosial yang padat. Namun tidak jarang di tengah kesibukan itu yang tertinggal yaitu berupa esensi dari ibadah itu sendiri. Kita super sibuk dengan kulitnya, namun hakikatnya lupa pada isi yang seharusnya memberi kehidupan.

 

Secara teologis, puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dari fajar hingga magrib. Dalam Al-Qur’an, tujuan puasa ditegaskan dengan sangat jelas: membentuk ketakwaan dalam diri manusia. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 menyebutkan bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi bertakwa. Ketakwaan di sini bukan sekadar status spiritual, tetapi transformasi karakter yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang mampu menahan lapar namun tetap mudah marah, tetap gemar menyebarkan kebohongan, atau tetap melakukan kecurangan, maka tujuan puasa belum tercapai.

 

Konsepnya Tak Begitu!

Kanjeng Nabi Muhammad Saw memperkuat pandangan di atas sesuai hadis yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari, yaitu“Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Dzi`b menceritakan kepada kami: Sa’id Al-Maqburi menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah R.A, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta, maka Allah tidak hiraukan amalannya menahan makan dan minum.” (HR. Bukhari No. 1903).

 

Pesan hadis di atas sangat tegas. Artinya, puasa bukan sebatas diukur dari urusan menahan lapar dan dahaga, namun juga dari perubahan perilaku. Ketika lisan tetap menyakiti teman, tetap clutak dengan rekan, dan hati tetap dipenuhi amarah, maka puasa sekadar menjadi ritual biologis yang kehilangan ruh spiritualnya.

 

Masalah seperti ini ini telah lama dibahas oleh para ulama. Salah satunya dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyatakan ibadah mempunyai dua aspek penting, yaitu (1) rasm dan (2) ruh. Pertama, rasm yaitu bentuk lahiriah atau formalitas ibadah. Kedua, ruh merupakan makna batin yang menghidupkannya. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, puasa orang awam sekadar aktivitas menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi puasa yang lebih tinggi yaitu puasa yang dapat menjaga pancaindera dari dosa, menjaga telinga dari gosip, menjaga mata agar tidak pelilak-pelilik, menjaga lisan dari kata-kata yang menyakitkan dan agar tidak celutak.

 

Dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari menyatakan tiap amal harus dilandasi dengan niat dan pemahaman yang benar. Tiadanya pemahaman konsep yang tepat, suatu tindakan bisa kehilangan maknanya. Analogi parfum dalam kisah receh di awal tulisan saya ini menjadi sangat relevan. Artinya, parfum mungkin disemprotkan dengan niat agar wangi di badan dan baju, namun jika caranya salah, wanginya tak akan terasa dengan baik. Bahkan, bisa menjadi berlebihan wanginya. Lalu bagaimana dengan puasa? Ketika konsepnya keliru, salah, apalagi ngawur, misalnya sekadar menahan lapar untuk kemudian “balas dendam” ketika berbuka puasa dengan konsumsi berlebihan, maka tujuan spiritualnya tidak tercapai.

 

Fenomena ini bisa dijelaskan lewat teori psikologi kognitif. Benjamin Bloom lewat teori Bloom’s Taxonomy dalam buku Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals, Volume 1 (1956), memaparkan tingkat pembelajaran tertinggi bukan sekadar mengikuti aturan, namun memahami, menganalisis, dan mengevaluasi suatu konsep. Tentu dalam kajian edukasi, para ahli membedakan antara procedural knowledge dan conceptual understanding. Pengetahuan prosedural di sini bermakna sebuah kemampuan mengikuti aturan atau langkah-langkah tertentu, sedangkan pemahaman konseptual adalah kemampuan memahami makna di balik tindakan tersebut.

 

Ketika ditinjau dalam perspektif ini, tentu kita bisa memetakan bahwa sebenarnya banyak orang menjalankan puasa sekadar pada level atau tingkat prosedural. Pastinya, mereka semua tahu kapan waktu harus sahur, waktu berbuka, dan kapan harus salat tarawih-salat witir. Akan tetapi, dari mereka tidak semua mengerti tujuan psikologis dan spiritual dari praktik rentetan ibadah puasa Ramadan tersebut. Padahal seharusnya puasa melatih kesabaran, simpati dan empati pada orang fakir-miskin, dan kemampuan mengendalikan diri. Tanpa sebuah pemahaman konseptual yang masak, puasa tentu sekadar menjadi ritus, jadwal, rutinitas tahunan yang mekanistik.

 

Puasa dari sudut pandang neurosains hakikatnya mempunyai potensi besar dalam melatih pengendalian diri seorang manusia. Saat seorang menahan lapar dan emosi, bagian otak yang disebut prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan pengambilan keputusan rasional, idealnya menjadi lebih aktif mengendalikan impuls emosional dari amygdala (bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi). Akan tetapi, saat seorang justru menjadi lebih mudah marah saat puasa, hal ini menunjukkan latihan mental itu belum berhasil sepenuhnya. Secara ilmiah pun kita bisa mengatakan dengan jelas konsepe ora ngono!

 

Puasa dalam perspektif manajemen diri bisa dimaknai sebagai bagian siklus evaluasi kehidupan. Rumus manajemen kualitas dengan siklus Plan–Do–Check–Act (PDCA) oleh W. Edwards Deming dalam buku Out of the Crisis (reissue) (2018) mempertegas tiap tahapan wajib diikuti dengan evaluasi untuk melihat hasilnya. Dalam hal ini, bulan suci Ramadan bisa dimengerti sebagai fase praktik intensif (Do). Perubahan perilaku setelah itu menjadi indikator keberhasilan dari proses tersebut. Ketika usai bulan Ramadan seorang tetap memiliki kebiasaan buruk yang sama bahkan makin merajalela, maka proses refleksi tersebut belum berjalan optimal.

 

Akhirnya, celetukan anak saya “konsepe ora ngono” sore itu terasa seperti pelajaran kecil yang sangat dalam. Kita dalam kehidupan beragama pastinya butuh kecerdasan literasi spiritual agar tidak terjebak pada rutinitas tanpa makna, dan akhirnya sia-siapa. Idealnya puasa menjadi momen untuk mereset konsep hidup kita, yaitu menggeser pusat kehidupan dari ego dan materi menuju Allah Swt dan kemanusiaan. Pola ini hampir sama seperti menyemprot parfum yang saya ceritakan di awal yang membutuhkan cara tepat agar wanginya tahan lama, puasa juga membutuhkan konsep yang benar agar pahalanya berbekas dalam kehidupan.

 

Maka jangan sampai kita telah payah menahan ngeleh, ngelak, sepanjang hari, namun di akhir perjalanan spiritual bulan Ramadan, justru kita mendengar teguran halus dari langit: “Konsepe ora ngono, hamba-Ku.”

 

Hahaha

 

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ulama Standar Ganda. Photo by Fabien Bazanegue on Unsplash.

    Ulama Standar Ganda

    • calendar_month Kam, 2 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 515
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Dari sekian juta orang islam di Indonesia, coba kita ambil sampel, 1.000 orang secara random. Lalu, kita kelompokkan siapa yang melakukan shalat tahajjud rutin. Golongan ke dua, shalat dhuha rutin dan golongan terakhir, yang tak pernah absen shalat lima waktu. Tentu jawabannya sudah bisa di prediksi. Kesalehan ritual bukan lagi sebuah […]

  • Ma'arif Brebes Gelar Pelatihan Branding dan Publikasi

    Ma’arif Brebes Gelar Pelatihan Branding dan Publikasi

    • calendar_month Rab, 22 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 432
    • 0Komentar

      Brebes – Hari ini selama dua hari mulai tanggal 22 -23 Nopember , kegiatan yang diselenggarakan oleh LP Maarip NU Kabupaten Brebes bertempat di Gedung NU Brebes. Suatu kegiatan yang menarik yang berjudul Pelatihan Branding ,Publikasi dan Pengelolaan Website , Pelatihan ini bukan hanya diikuti oleh para guru, kepala sekolah, siswa bahkan pengawas sekolah […]

  • Rakor MWC-NU Gunungwungkal Hasilkan Tiga Poin Penting

    Rakor MWC-NU Gunungwungkal Hasilkan Tiga Poin Penting

    • calendar_month Sel, 17 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 481
    • 0Komentar

    GUNUNGWUNGKAL-Koordinasi selalu diperlukan dalam setiap organisasi. Terlebih untuk sebuah organisasai gemuk seperti NU. Pengurus antar tingkatan harus selalu membangun komunikasi yang baik demi terlaksananya program-program kerja yang telah susun bersama. Pertemuan Pengurus MWC NU Gunungwungkal di Musholla Darul Inayah, Dukuh Bemban, Selasa (17/9). Hal semacam ini disadari sepenuhnya oleh MWCNU Gunungwungkal. Hasilnya, pada hari ini, […]

  • Photo by Wolfgang Hasselmann

    Hidup Sederhana Yang Apa Adanya

    • calendar_month Jum, 29 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 498
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Tadi malam saat saya mengikuti kegiatan tahlil rutinan, tiba-tiba saya terbesit ingin menulis untuk hari ini tentang kesederhanaan. Hal-hal sederhana yang terkadang dianggap sebelah mata oleh kebanyakan manusia. Landasan saya ingin berbagi cerita hari ini adalah karena orang tua dan keluarga saya. Bapak dan Ibu sejak saya kecil hingga sekarang selalu […]

  • PCNU-PATI

    Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi

    • calendar_month Kam, 15 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 522
    • 0Komentar

    Penyajian materi melalui rangkaian cerita dialog dan perdebatan secara langsung antara orang-orang yang berbeda pendapat merupakan salah satu metode yang sangat efektif untuk menyampaikan bahasan seputar akidah Ahlussunnah wal jamaah. Perdebatan antara para ulama memang terjadi secara langsung dalam forum-forum dialog terbuka maupun melalui buku yang saling berbantah. Para ulama masa dahulu sudah terbiasa menggunakan kedua […]

  • PCNU-PATI Photo by nisfal desmianda

    Petualang Kopi

    • calendar_month Sen, 21 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 579
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Saya tidak tahu persis sejak kapan saya menyukai kopi. Seingat saya sih sejak saya ngantor di Bentang Pustaka. Waktu itu siang menjelang sore, pas lelah dan ngantuk-ngantuknya. Untuk melawan kantuk, saya kemudian cuci muka terus ke dapur hendak bikin teh panas. Di situ saya lihat ada kopi bertuliskan Koffie Fabriek […]

expand_less