Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Puasa: Konsepe Ora Ngono!

Puasa: Konsepe Ora Ngono!

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 12 Mar 2026
  • visibility 10.020
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Sore itu ruang tengah rumah terasa hangat oleh aktivitas kecil menjelang berbuka. Istri saya bergegas menyiapkan hidangan sambil sesekali merapikan diri. Ia meraih botol parfum dan menyemprotkannya dengan cukup bersemangat. Namun mungkin karena tergesa, arah semprotannya mengenai bagian yang tidak semestinya.

 

Anak kami yang sejak tadi memperhatikan tiba-tiba berkomentar dengan nada polos tetapi kritis, “Konsepe ora ngono, Ma!” (konsepnya bukan begitu, Ma). Saya dan istri tertawa terbahak-bahak karena mendengar celetukan spontan itu. Hahahaha Namun, usai tawa mereda, kalimat sederhana itu justru memantik perenungan panjang dalam benak saya.

 

Idiom “konsepe ora ngono” terasa seperti cermin kecil bagi metode kita menjalankan ibadah puasa Ramadan. Betapa sering manusia beribadah dengan penuh motivasi, namun tanpa memahami konsep yang idealnya. Kita rajin menjalankan ritual, namun kadang kehilangan makna yang melandasinya. Ramadan menjadi sangat super sibuk dengan berbagai aktivitas. Apa saja? Ya tentu mulai dari sahur, puasa, berbuka puasa, salat tarawih, salat witir, tadarus Quran, iktikaf, takjil, zakat, infak, sedekah, pengajian, bahkan agenda sosial yang padat. Namun tidak jarang di tengah kesibukan itu yang tertinggal yaitu berupa esensi dari ibadah itu sendiri. Kita super sibuk dengan kulitnya, namun hakikatnya lupa pada isi yang seharusnya memberi kehidupan.

 

Secara teologis, puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dari fajar hingga magrib. Dalam Al-Qur’an, tujuan puasa ditegaskan dengan sangat jelas: membentuk ketakwaan dalam diri manusia. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 menyebutkan bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi bertakwa. Ketakwaan di sini bukan sekadar status spiritual, tetapi transformasi karakter yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang mampu menahan lapar namun tetap mudah marah, tetap gemar menyebarkan kebohongan, atau tetap melakukan kecurangan, maka tujuan puasa belum tercapai.

 

Konsepnya Tak Begitu!

Kanjeng Nabi Muhammad Saw memperkuat pandangan di atas sesuai hadis yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari, yaitu“Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Dzi`b menceritakan kepada kami: Sa’id Al-Maqburi menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah R.A, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta, maka Allah tidak hiraukan amalannya menahan makan dan minum.” (HR. Bukhari No. 1903).

 

Pesan hadis di atas sangat tegas. Artinya, puasa bukan sebatas diukur dari urusan menahan lapar dan dahaga, namun juga dari perubahan perilaku. Ketika lisan tetap menyakiti teman, tetap clutak dengan rekan, dan hati tetap dipenuhi amarah, maka puasa sekadar menjadi ritual biologis yang kehilangan ruh spiritualnya.

 

Masalah seperti ini ini telah lama dibahas oleh para ulama. Salah satunya dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyatakan ibadah mempunyai dua aspek penting, yaitu (1) rasm dan (2) ruh. Pertama, rasm yaitu bentuk lahiriah atau formalitas ibadah. Kedua, ruh merupakan makna batin yang menghidupkannya. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, puasa orang awam sekadar aktivitas menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi puasa yang lebih tinggi yaitu puasa yang dapat menjaga pancaindera dari dosa, menjaga telinga dari gosip, menjaga mata agar tidak pelilak-pelilik, menjaga lisan dari kata-kata yang menyakitkan dan agar tidak celutak.

 

Dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari menyatakan tiap amal harus dilandasi dengan niat dan pemahaman yang benar. Tiadanya pemahaman konsep yang tepat, suatu tindakan bisa kehilangan maknanya. Analogi parfum dalam kisah receh di awal tulisan saya ini menjadi sangat relevan. Artinya, parfum mungkin disemprotkan dengan niat agar wangi di badan dan baju, namun jika caranya salah, wanginya tak akan terasa dengan baik. Bahkan, bisa menjadi berlebihan wanginya. Lalu bagaimana dengan puasa? Ketika konsepnya keliru, salah, apalagi ngawur, misalnya sekadar menahan lapar untuk kemudian “balas dendam” ketika berbuka puasa dengan konsumsi berlebihan, maka tujuan spiritualnya tidak tercapai.

 

Fenomena ini bisa dijelaskan lewat teori psikologi kognitif. Benjamin Bloom lewat teori Bloom’s Taxonomy dalam buku Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals, Volume 1 (1956), memaparkan tingkat pembelajaran tertinggi bukan sekadar mengikuti aturan, namun memahami, menganalisis, dan mengevaluasi suatu konsep. Tentu dalam kajian edukasi, para ahli membedakan antara procedural knowledge dan conceptual understanding. Pengetahuan prosedural di sini bermakna sebuah kemampuan mengikuti aturan atau langkah-langkah tertentu, sedangkan pemahaman konseptual adalah kemampuan memahami makna di balik tindakan tersebut.

 

Ketika ditinjau dalam perspektif ini, tentu kita bisa memetakan bahwa sebenarnya banyak orang menjalankan puasa sekadar pada level atau tingkat prosedural. Pastinya, mereka semua tahu kapan waktu harus sahur, waktu berbuka, dan kapan harus salat tarawih-salat witir. Akan tetapi, dari mereka tidak semua mengerti tujuan psikologis dan spiritual dari praktik rentetan ibadah puasa Ramadan tersebut. Padahal seharusnya puasa melatih kesabaran, simpati dan empati pada orang fakir-miskin, dan kemampuan mengendalikan diri. Tanpa sebuah pemahaman konseptual yang masak, puasa tentu sekadar menjadi ritus, jadwal, rutinitas tahunan yang mekanistik.

 

Puasa dari sudut pandang neurosains hakikatnya mempunyai potensi besar dalam melatih pengendalian diri seorang manusia. Saat seorang menahan lapar dan emosi, bagian otak yang disebut prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan pengambilan keputusan rasional, idealnya menjadi lebih aktif mengendalikan impuls emosional dari amygdala (bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi). Akan tetapi, saat seorang justru menjadi lebih mudah marah saat puasa, hal ini menunjukkan latihan mental itu belum berhasil sepenuhnya. Secara ilmiah pun kita bisa mengatakan dengan jelas konsepe ora ngono!

 

Puasa dalam perspektif manajemen diri bisa dimaknai sebagai bagian siklus evaluasi kehidupan. Rumus manajemen kualitas dengan siklus Plan–Do–Check–Act (PDCA) oleh W. Edwards Deming dalam buku Out of the Crisis (reissue) (2018) mempertegas tiap tahapan wajib diikuti dengan evaluasi untuk melihat hasilnya. Dalam hal ini, bulan suci Ramadan bisa dimengerti sebagai fase praktik intensif (Do). Perubahan perilaku setelah itu menjadi indikator keberhasilan dari proses tersebut. Ketika usai bulan Ramadan seorang tetap memiliki kebiasaan buruk yang sama bahkan makin merajalela, maka proses refleksi tersebut belum berjalan optimal.

 

Akhirnya, celetukan anak saya “konsepe ora ngono” sore itu terasa seperti pelajaran kecil yang sangat dalam. Kita dalam kehidupan beragama pastinya butuh kecerdasan literasi spiritual agar tidak terjebak pada rutinitas tanpa makna, dan akhirnya sia-siapa. Idealnya puasa menjadi momen untuk mereset konsep hidup kita, yaitu menggeser pusat kehidupan dari ego dan materi menuju Allah Swt dan kemanusiaan. Pola ini hampir sama seperti menyemprot parfum yang saya ceritakan di awal yang membutuhkan cara tepat agar wanginya tahan lama, puasa juga membutuhkan konsep yang benar agar pahalanya berbekas dalam kehidupan.

 

Maka jangan sampai kita telah payah menahan ngeleh, ngelak, sepanjang hari, namun di akhir perjalanan spiritual bulan Ramadan, justru kita mendengar teguran halus dari langit: “Konsepe ora ngono, hamba-Ku.”

 

Hahaha

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sukolilo Gelar Kaderisasi NU

    Sukolilo Gelar Kaderisasi NU

    • calendar_month Sab, 28 Des 2019
    • account_circle admin
    • visibility 253
    • 0Komentar

    SUKOLILO-Ketua PCNU Pati, K. Yusuf Hasyim membuka pelaksanaan Kaderisasi NU Sabtu (28/12) pagi. Ditemani beberapa pengurus Cabang, ketua PCNU yang sekaligus berperan sebagai instruktur dalam acara tersebut menyampaikan banyak hal terkait pengkaderan ini. “NU sangat besar, namun besar saja tidak cukup tanpa berjam’iyyah (berorganisasi).” Tuturnya. Suasana pembukaan Kaderisasi NU Sukolilo Selain itu, K. Miftahuddin, ketua […]

  • Ipmafa Setor Dua Mahasiswa ke Lazisnu Pati

    Ipmafa Setor Dua Mahasiswa ke Lazisnu Pati

    • calendar_month Sel, 15 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 219
    • 0Komentar

    PATI-Dua mahasiswa Institut Pesantren Matholiul Falah (IPMAFA), Ah. Shofi Amri dan Nur Faiz sowan ke kantor Lazisnu Cabang Pati, Selasa (15/10) siang. Mereka datang dengan didampingi dua orang dosen, Ahmad Nashiruddin dan M. Luthfi. Lazisnu Cabang Pati menyambut kehadiran dua orang mahasiswa IPMAFA didampingi dua orang dosennya untuk melaksanakan PPL di kantor Lazisnu selama 45 […]

  • PCNU-PATI

    Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas

    • calendar_month Ming, 18 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 231
    • 0Komentar

    Buku ini disusun oleh Tim Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU,Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) danPusat Studi dan Pelayanan Disabilitas (PSLD) Universitas BrawijayaMalang, serta didukung oleh YAKKUM dan The Asia Foundation.Kami merasakan penting untuk menyusun buku ini, karena melihatkondisi dimana para penyandang disabilitas kurang diperhatikan hakhaknya dan mereka masih banyak tantangan dan hambatan, terutamadalam menjalankan […]

  • KH. M. Imamuddin : Guru Agama Harus Bersanad Sampai Rosulullah

    KH. M. Imamuddin : Guru Agama Harus Bersanad Sampai Rosulullah

    • calendar_month Rab, 14 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 298
    • 0Komentar

    CLUWAK-Ancaman generasi muda sekarang adalah narkoba dan radikalisme. Indonesia telah menjadi pasar terbesar narkoba di Asia Tenggara. Di sisi lain Radikalisme kini menyebar dengan massif, menembus batas sosial dan usia. Massifnya penyebaran ini dikarenakan kemajuan teknologi informasi sehingga siapapun termasuk generasi muda NU bisa mengakses segala informasi. KH. M. Imamuddin sedang menyampaikan pengajian dalam rangka […]

  • Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Fondasi Penguatan Inklusi dan Bahasa Inggris di Sekolah Ma’arif Jateng

    Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Fondasi Penguatan Inklusi dan Bahasa Inggris di Sekolah Ma’arif Jateng

    • calendar_month Kam, 15 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 6.968
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Semarang – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah menggelar satu rangkaian kegiatan terpadu yang mencakup Pelatihan Pembelajaran Mendalam Kurikulum Berbasis Cinta (PM KBC) An-Nahdliyyah, Program Pendampingan Bahasa Inggris Berstandar Internasional Pearson, serta penyelesaian Modul Pendidikan Inklusi. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Rabu–Kamis, 14–15 Januari 2026, di Hotel Muria, Kota Semarang. […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Literasi Digital Bulan Ramadan

    • calendar_month Ming, 22 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.851
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda Masih pentingkah literasi digital saat bulan Ramadan? Ya, penting lah. Jawaban singkat ini saya jawab sendiri dari pertanyaan yang saya buat sendiri. Meski bulan suci Ramadan selalu datang membawa jeda, koma, waktu rehat sejenak, atau sebutan lain. Apa maksudnya? Jeda dari tradisi makan dan tradisi minum, dari marah, dari kesibukan dunia, […]

expand_less