Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Ketika Peradaban dikendalikan Amarah dan Syahwat

Ketika Peradaban dikendalikan Amarah dan Syahwat

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 21 Apr 2026
  • visibility 11.236
  • comment 0 komentar

 

Pcnupati.or.id Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (18/4) malam kembali mengajak kita merenung: bagaimana menjaga kemanusiaan di tengah zaman yang tak malu memamerkan kekejaman secara telanjang.
Dengan mengangkat tema “Manusia, O Manusia”, kita diajak mengritisi proses de-humanisasi yang sedang berlangsung. Salah satunya seperti yang ditunjukkan dalam peperangan yang saat ini terjadi baik di Gaza, Iran dan Libanon.
Pembunuhan terhadap anak-anak, perempuan, orang tua dan masyarakat sipil dianggap biasa. Penghancuran fasilitas publik seperti tempat ibadah, rumah sakit, lembaga pendidikan, museum dan situs bersejarah dianggap lumrah.
“Semakin kesini kemanusiaan semakin tergerus, sehingga kita berhak bertanya, apakah ini masih dunia manusia atau dunia yang dikuasai bukan manusia?” satir budayawan Anis Sholeh Ba’asyin membuka dialog.
Padahal sudah ada konvesi Jenewa yang melarang serangan terhadap masyarakat dan infrastruktur sipil. Bila ini dibiarkan, Anis khawatir ini menjadi pola perang baru. Pola perang yang dijalankan secara barbar tanpa terkendali.
“Nilai-nilai ini sudah lebih dulu diajarkan Islam. Bagaimana anak-anak, wanita, dan orangtua tidak boleh dihancurkan. Rumah ibadah juga, bahkan pohon juga tak boleh. Tapi faktanya banyak korban dari anak-anak dan wanita. Ironisnya Internasional tidak banyak yang mempersoalkan itu,” tegas dia.
“Bagaimana bisa orang begitu tega mengincar kanak-kanak bahkan bayi sebagai sasaran tembak?” ujar dia.
Tindakan semacam itu jauh lebih rendah dari hewan. Anis menyebut perilaku seperti itu terjadi karena manusia dan peradaban ini dikendalikan oleh syahwat dan amarah.
“Kita lihat peradaban ini dikendalikan dua hal, yakni ghadab atau marah dan syahwat. Sedang jika kita tidak bisa mengendalikan maka dapat merusak. Hal itu bisa terjadi karena manusia kalah dengan iblis,” tambah dia.
Syahwat mendorong manusia untuk mencari pemenuhan kenikmatan, sementara dunia modern menyungguhi kita dengan ilusi kenikmatan nyaris tanpa batas. Kita dirangsang untuk terus menerus memburunya. Bila tak terpenuhi, kita jadi gampang tersinggung, gampang marah. Kemarahan itu sendiri ibarat api, bila tak dikendalikan akan membakar diri kita sendiri.
“Situasi semacam ini tak memberi cukup ruang untuk merenung dan menyadari bahwa sebagai manusia kita semua bersaudara yang harus saling menjaga,” tegas dia.
Anis mencontohkan bagaimana dalam salah satu peperangan sayidina Ali tak jadi membunuh lawannya yang sudah tergeletak tak berdaya, hanya karena lawan tersebut meludahinya.
“Ali membatalkannya karena takut pembunuhan itu dilakukan karena amarah pribadinya, dan bukan lagi karena Allah. Pengendalian semacam itu yang sekarang jarang ditemui. Yang umum, cara pikirnya sekarang malah terbalik. Orang marah dulu kemudian mencari pembenaran seolah-olah itu semua demi agama,” imbuh dia.
Tak hanya soal perang, sikap seperti itu juga kerap dilakukan sehari-hari tanpa disadari. Saat berkonflik dengan orang lain, manusia selalu mencari pembenaran bagi dirinya sambil secara bersamaan mencari orang lain untuk mendukung kebenarannya.
“Begitu pula lawannya, yang pasti melakukan hal serupa. Sehingga akhirnya dua kelompok saling berhadapan meski tidak ada yang serius melacak akar masalahnya,” tambah dia.
Anis mengingatkan akan hadis yang menyebut “sesungguhnya rahmat-Ku melingkupi murka-Ku”. Hadits itu mengisyaratkan bahwa kemarahan harus tumbuh dan berangkat dari kasih sayang; sehingga atak akan pernah melampaui batas.
“Ini mengajari kita bahwa tak boleh ada kemarahan bila tak tumbuh dari kasih sayang yang mendalam,” ujar dia.
Oleh karena itu, Anis mengajak agar warga Indonesia senantiasa berfikir secara jernih dan menjaga akal sehat, sehingga tidak terjebak pada narasi yang dapat menggiring pada kejahatan dan permusuhan.
“Jangan sampai kita memalaikatkan tokoh tertentu, karena ini akan mendorong kita mengibliskan yang lain; dan pada akhirnya akan memacu kita untuk menghancurkannya,” ucap dia.
Diskusi yang mengajak pada ruang kontemplasi itu tampak khidmat diikuti oleh ratusan orang baik datang secara langsung maupun melalui berbagai kanal media sosial. Meski begitu suasana tetap hangat dengan adanya iringan musik dari Sampak GusUran.

Keterangan foto:
Anis Sholeh Ba’asyin dalam NgAllah Suluk Maleman “Manusia, O Manusia” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (18/4).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengenang KH Muhammadun Abdul Hadi Kajen

    Mengenang KH Muhammadun Abdul Hadi Kajen

    • calendar_month Rab, 28 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 1.167
    • 0Komentar

    KH Muhammadun Abdul Hadi adalah salah satu kiai di Kajen Pati. Putra dari Mbah Abdul Hadi ini terkenal dengan kecintaannya pada ilmu, tawadu‘, sekaligus aktivis bahtsul masail dan Nahdlatul Ulama. Kiai yang pernah menjabat sebagai hakim Pengadilan Agama ini bahkan diakui Mbah Abdul Hamid Pasuruan sebagai waliyullah yang zahid dan wara‘. Berikut ini ulasan mengenang KH […]

  • Meriah, IPNU IPPNU feat. KKN Gelar Lomba Peringati Maulid dan HSN

    Meriah, IPNU IPPNU feat. KKN Gelar Lomba Peringati Maulid dan HSN

    • calendar_month Kam, 21 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 384
    • 0Komentar

      IPNU IPPNU Triguno dan peserta KKN UIN Walisongo Semarang bersama dengan para peserta lomba PUCAKWANGI – Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Santri Nasional (HSN), Mahasiswa KKN UIN Walisongo kelompok 107 bersama IPNU IPPNU Triguno mengadakan sejumlah lomba pada Rabu (20/10). Lomba tersebut, diantaranya lomba adzan, menulis huruf hijaiyah, hafalan asmaul […]

  • PCNU-PATI

    Melestarikan Tradisi Lebaran Idulfitri

    • calendar_month Rab, 10 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 654
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda Jika mendiskusikan tradisi Lebaran Idulfitri memang tidak ada habisnya. Tidak ada selesainya. Tidak habis dituliskan di NU Online Pati ini. Sebab, manusia Islam Indonesia sangat kultural, metaforis, dan suka akan hal-hal mistisisme yang oleh orang barat disebut klenik, mistis, dan bahkan orang kanan menyebutnya bidah. Saya tidak akan membicarakan hal itu. Namun, […]

  • Nilai-Nilai Islam Nusantara Satukan Keberagaman dalam Bingkai Pendidikan

    Nilai-Nilai Islam Nusantara Satukan Keberagaman dalam Bingkai Pendidikan

    • calendar_month Kam, 26 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.369
    • 0Komentar

      Semarang – Disertasi Fakhruddin Karmani menegaskan bahwa Islam Nusantara merupakan model keberagamaan yang relevan bagi Indonesia sebagai bangsa multikultural. Dalam pendahuluannya dijelaskan bahwa Islam Nusantara menekankan toleransi, komunikasi terbuka, serta penghormatan terhadap perbedaan sebagai kekuatan penyatu dalam bingkai NKRI. Nilai-nilai utama seperti tasāmuh (toleransi), musāwah (egaliter), insāniyyah (humanis), dimūqrāṭiyyah (demokratis), dan waṭaniyyah (nasionalis) menjadi […]

  • Hukum Menerima Amplop Pilkada

    Hukum Menerima Amplop Pilkada

    • calendar_month Sen, 25 Jun 2018
    • account_circle admin
    • visibility 486
    • 0Komentar

    Amplop menjelang Pilkada adalah umumul balwa (realitas umum yang sulit dihindari) yang dilarang negara karena mencederai esensi demokrasi, mengharapkan pemimpin dipilih karena integritas dan kapabilitasnya. Namun, bagaimana Pandangan agama, khususnya fiqh ? Saya mengikuti dua forum yang hasilnya berbeda. Pertama, MWCNU Trangkil  mengharamkan menerima amplop itu karena jelas-jelas suap (risywah) diharamkan dalam agama. Suap adalah […]

  • PCNU-PATI

    Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia

    • calendar_month Rab, 23 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 535
    • 0Komentar

    NU merupakan organisasi sosial keagamaan yg unik. Didirikan oleh ulama pesantren tahun 1926 di Surabaya. Memiliki jaringan struktur kelembagaan Organisasi Ulama,kedudukan mereka dalam NU sangat penting. Tetapi peran mereka sebagai pemimpin yg berpengaruh pada komunitas mereka sendiri telah membentuk pranata lain, sehingga keberadaan mereka di dalam NU juga mewakili “kepentingan” pranata mereka. Akibatnya struktur itupun […]

expand_less