Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Imam Syafi’i Hafal Al-Quran di Usia 7

Imam Syafi’i Hafal Al-Quran di Usia 7

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 22 Agu 2022
  • visibility 569
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Rasulullah SAW bersabda, “Ahabbul a’mali illallahi adwamuha wa in qalla—Amal yang paling disukai Allah adalah yang paling rutin, meski hanya sedikit.” Hadis tersebut mengisyaratkan satu hal, yakni tentang kebiasaan (habits). Kebiasaan adalah hal yang penting dalam melakukan sesuatu sehingga menjadi konsisten. Namun, kebiasaan itu mempunyai posisi yang netral. Artinya, ia bisa menjadikan seseorang menjadi buruk, dan bisa juga menjadikannya baik. Tergantung kebiasaan apa yang dilakukannya. Jadi, hati-hatilah dengan yang namanya kebiasaan. Ia bisa membuat kamu mulia dan tinggi, tapi ia bisa pula membuat kamu hina dan rendah.

Kita semua barangkali pernah mendengar ungkapan “Keahlian adalah kebiasaan yang diulang-ulang”. Ya sesederhana itu orang yang ingin ahli dalam sesuatu, yakni tinggal melakukan sesuatu yang diulang-ulang, sehingga menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu diulang-ulang pula. Tapi rupanya untuk melakukan kebiasaan itulah yang sulit. Tidak semua orang mudah membangun kebiasaan, terlebih kebiasaan baik atau pun aktivitas yang ingin dikuasainya.

 Orang yang ingin bisa main gitar dia akan memulainya belajar bergitar. Dari kunci ke kunci dia pelajari. Dari lagu ke lagu dia bawakan. Tapi, banyak orang sudah bergelimpangan KO tatkala baru belajar kunci C dan D saja. Karena dia merasakan sulitnya minta ampun. Katakanlah 3 hari pertama mereka akan menyerah. Motivasinya mulai kendur. Akhirnya, tidak lagi belajar gitar. Dan mereka menyimpulkan sendiri bahwa mereka tidak punya bakat main gitar. Alamak.

Begitu juga pada saat kita belajar bahasa asing, entah itu Bahasa Inggris maupun Bahasa Arab. Banyak orang mempunyai keinginan besar untuk bisa bahasa inggris dan bahasa arab. Mereka pun belajar dari waktu ke waktu. Tapi, pada saat kesulitan dan kebosanan melanda, mereka pun goyah, dan akhirnya berhenti belajar. Padahal mereka hanya butuh melakukannya secara kontinu saja, sehingga menjadi kebiasaan. Kalau sudah begitu, tinggal waktu saja yang akan membuat mereka bisa bercas-cis-cus bahasa inggris maupun bahasa arab.  

Kedua contoh di atas adalah perihal bahwa kebiasaan ternyata sulit untuk dilakukan. Jadi, bukan main gitarnya yang sulit, bukan bahasa inggris dan arabnya yang sulit, tetapi membangun kebiasaan itulah yang sulit. Yang diperlukan mereka adalah mengulangnya terus menerus (baca: kebiasaan) sehingga menjadi mahir. Ya, pengulangan itu akan membuat mereka lambat laun akan menjadikannya mahir.

 Rumus kebiasaan adalah dua hal, yaitu tindakan/praktik (practice) dan pengulangan (repetition). Ada yang mengibaratkan dua hal itu ibarat sepasang suami istri. Dan hasil kebiasaan itu adalah anaknya. Kebiasaan tidak akan ada apabila tidak ada tindakan. Apalagi pengulangan. Lha, apa yang hendak diulang kalau tindakan saja tidak ada? Betul atau betul? Dengan kata lain, jika hendak membuat sebuah kebiasaan, maka kita butuh bertindak dan mengulang-ulang tindakan tersebut. Lantas, seberapa lama kebiasaan itu akan muncul? 

Belajar Pada Ramadhan

Tidak ada patokan yang ajeg perihal durasi sebuah tindakan dikatakan menjadi kebiasaan. Masing-masing orang bisa berbeda, tergantung kekuatan dirinya masing-masing. Tapi, meskipun begitu, kita bisa membuat standarnya. Standarnya bisa kita ambil dari puasa Ramadhan. Dalam Ramadhan kita diwajibkan untuk berpuasa selama satu bulan penuh. Kita tidak boleh makan dan minum, berhubungan seksual, dan melakukan hal-hal buruk seperti menggunjing, berkata-kata kotor, dll. Kita juga dianjurkan untuk shalat tarawih pada malam hari, dan makan sahur.

Kita sering merasakan susah payah pada saat minggu pertama melakukan puasa Ramadhan ini. Karena belum terbiasa. Biasanya sebelum melakukan aktivitas kita sarapan, minum kopi, dan siang harinya makan siang, tapi di bulan ini tidak kita lakukan. Sungguh menyiksa. Konsentrasi menjadi hilang. Perut berbunyi nyaring. Semangat memudar. Tapi, karena itu kewajiban maka mau tidak mau kita harus melakukannya. Dan ajaibnya seminggu yang menyiksa itu bisa kita lewati dengan selamat.

Pada minggu kedua, kita sudah mulai terbiasa dengan keadaan menyiksa itu. Yang tadinya dirasa sebuah siksaan, pada minggu kedua ini sudah bukan dianggap siksaan lagi. Biasa saja. Tidak ada gerutu-gerutu lagi. Semuanya dijalani dengan santai. Lapar dan haus mungkin masih tetap terasa, tapi itu bukan lagi keluhan. Kita sudah terbiasa dengan rasa lapar dan haus, sehingga semangat dan konsentrasi tetap terjaga. Dan hingga minggu ke-4, alias 1 bln, kita sudah terbiasa dengan keadaan itu.

 Tapi, bulan Ramadhan itu baru permulaan dari sebuah kebiasaan, yang dilakukan dengan keterpaksaan, lantaran kewajiban. Justru penentuannya adalah pasca bulan Ramadhan. Ketika selesai puasa Ramadhan, apakah kita tetap bisa mengendalikan diri dari rasa lapar dan haus serta menjauhkan diri perbuatan buruk, dan bisa bangun dini hari untuk shalat malam (sebagai pengganti makan sahur)? Kalau bisa melakukan itu, saya ucapkan selamat. Berarti Anda sudah mempunyai kebiasaan baru yang baik.

Kebiasaan baik tidak mudah untuk dilakukan, karena itu Allah seringkali mewajibkannya terlebih dahulu. Lain halnya dengan kebiasaan buruk, mudah sekali untuk dilakukan, dan Allah mewanti-wanti untuk tidak boleh melakukannya karena bisa menjerumuskan dirinya sendiri dan pasti akan mengalami kerugian. Dan karena itu akan menjadi kebiasaan buruk, maka Allah membuat larangan. Lihat, di balik perintah dan larangan Allah itu, ternyata menyimpan pesan yang dahsyat. Allah hendak menyampaikan perihal kebiasaan: kebiasaan baik akan membuat kita baik dan kebiasaan buruk akan membuat kita buruk. 

Imam Syafi’i

 Siapa yang tidak kenal dengan Imam Syafi’i? Saya anggap pembaca sudah mengenalnya, jadi tidak perlu saya beritahu lagi siapa dirinya. Saya hanya ingin menceritakan kisah masa kecilnya. Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa Imam Syafi’i hafal Al-Quran saat pada usia 7. Berarti sebelum usia itu Syafi’i kecil sudah terbiasa membaca Al-Quran dan berusaha menghafalnya. Nah, konon, salah satu faktornya adalah karena dia terbiasa mendengar ibunya membaca Al-Quran setiap hari, yang selalu mengkhatamkannya, 30 juz, dalam satu minggunya. Dimana saja dia bermain, terdengar ibunya membaca Al-Quran.

Ingin menjadi ahli dalam sesuatu? Lakukanlah setiap hari. []

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengelola Energi Kreatif Pegiat Lesbumi Dalam Berkesenian dan Berkebudayaan

    Mengelola Energi Kreatif Pegiat Lesbumi Dalam Berkesenian dan Berkebudayaan

    • calendar_month Sab, 2 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 681
    • 0Komentar

    Oleh : M. Syafii Pahlevi Menghidupkan spirit berkesenian dan berkebudayaan meniscayakan adanya beberapa unsur pendukung, selain kemampuan praksis personal juga ditopang oleh penerimaan masyarakat pendukungnya. Sehingga hal ini memerlukan beragam gagasan yang saling bersinergi, yang kemudian dikolaborasikan menjadi satu gerakan atau perhelatan yang menyatu. Selain itu, kebutuhan adanya resource atau sumber daya penunjang bagi kegiatan […]

  • Keistiqamahan Mbah Dullah Salam Kajen

    Keistiqamahan Mbah Dullah Salam Kajen

    • calendar_month Kam, 15 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 631
    • 0Komentar

                                                      KH. Abdullah Zain Salam  KH Abdullah Zain Salam dikenal dengan panggilan Mbah Dullah Salam memiliki teladan-teladan yang mulia. Mulai dari kecintaan mendalam pada ilmu pengetahuan, memiliki kebiasaan mengembara demi mencari ilmu pengetahuan, dan keteladanan lain. Penulis buku ‘Keteladanan […]

  • Hismawati PIM Tingkatkan Keterampilan Menulis Demi NKRI

    Hismawati PIM Tingkatkan Keterampilan Menulis Demi NKRI

    • calendar_month Jum, 9 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 462
    • 0Komentar

    MARGOYOSO-Himpunan Siswa Mathali’ul Falah Putri (Hismawati) menggelar Pelatihan Jurnalistik untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa putri. Acara yg digelar pada Jumat (9/8) di Aula lantai 2 PIM Lil Banat diprakarsai oleh Sie Majalah Ukhuwah dengan menghadirkan narasumber M. Sofyan Alnashr, dosen IPMAFA Pati. Sofyan Alnashr sedang memaparkan materi tentang jurnalisme di aula lantai 2 PIM Lil […]

  • Tanya Jawab Bersama  Rois Syuriah

    Tanya Jawab Bersama Rois Syuriah

    • calendar_month Sel, 30 Agu 2016
    • account_circle admin
    • visibility 515
    • 0Komentar

    Pertanyaan. Assalamua`laikum Sekarang adalah bulan agustus, dan sebentar lagi tanggal 17 agustus yang mana pada tanggal itu bangsa indonesia memeringati hari kemerdekaan indonesia yang ke 71, banyak dari masyarakat yang melakukan upacara kemerdekaan, dan pada proses upacara ada bentuk penghormatan kepada bendera merah putih, ada sebagian pendapat dari masyarakat yang mengatakan bahwa penghormatan pada bendera […]

  • Tazkiyatul Muthmainnah (tengah jas batik) anggota komisi E DPRD Jateng usai melakukan FGD dengan Kader GPSA Fatayat NU Pati

    Tazkiyatul Muthmainnah Respon Perempuan Bersuara Mengawal JKN-KIS

    • calendar_month Ming, 12 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 577
    • 0Komentar

    PATI – Fatayat NU Pati semakin hari menunjukkan progres yang signifikan. Kolaborasi demi kolaborasi dilakukan dalam rangka memberikan manfaat kepada masyarakat. Mulai dari kerja sama dengan berbagai kementerian hingga stakeholder non pemerintah. Terakhir, PC Fatayat NU Pati baru saja melakukan evaluasi atas kerja samanya dengan Akatiga. Program bertajuk Monev Global Partnership for Social Accountability (GPSA) […]

  • Sukolilo Gelar Kaderisasi NU

    Sukolilo Gelar Kaderisasi NU

    • calendar_month Sab, 28 Des 2019
    • account_circle admin
    • visibility 460
    • 0Komentar

    SUKOLILO-Ketua PCNU Pati, K. Yusuf Hasyim membuka pelaksanaan Kaderisasi NU Sabtu (28/12) pagi. Ditemani beberapa pengurus Cabang, ketua PCNU yang sekaligus berperan sebagai instruktur dalam acara tersebut menyampaikan banyak hal terkait pengkaderan ini. “NU sangat besar, namun besar saja tidak cukup tanpa berjam’iyyah (berorganisasi).” Tuturnya. Suasana pembukaan Kaderisasi NU Sukolilo Selain itu, K. Miftahuddin, ketua […]

expand_less