Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Imam Syafi’i Hafal Al-Quran di Usia 7

Imam Syafi’i Hafal Al-Quran di Usia 7

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 22 Agu 2022
  • visibility 665
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Rasulullah SAW bersabda, “Ahabbul a’mali illallahi adwamuha wa in qalla—Amal yang paling disukai Allah adalah yang paling rutin, meski hanya sedikit.” Hadis tersebut mengisyaratkan satu hal, yakni tentang kebiasaan (habits). Kebiasaan adalah hal yang penting dalam melakukan sesuatu sehingga menjadi konsisten. Namun, kebiasaan itu mempunyai posisi yang netral. Artinya, ia bisa menjadikan seseorang menjadi buruk, dan bisa juga menjadikannya baik. Tergantung kebiasaan apa yang dilakukannya. Jadi, hati-hatilah dengan yang namanya kebiasaan. Ia bisa membuat kamu mulia dan tinggi, tapi ia bisa pula membuat kamu hina dan rendah.

Kita semua barangkali pernah mendengar ungkapan “Keahlian adalah kebiasaan yang diulang-ulang”. Ya sesederhana itu orang yang ingin ahli dalam sesuatu, yakni tinggal melakukan sesuatu yang diulang-ulang, sehingga menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu diulang-ulang pula. Tapi rupanya untuk melakukan kebiasaan itulah yang sulit. Tidak semua orang mudah membangun kebiasaan, terlebih kebiasaan baik atau pun aktivitas yang ingin dikuasainya.

 Orang yang ingin bisa main gitar dia akan memulainya belajar bergitar. Dari kunci ke kunci dia pelajari. Dari lagu ke lagu dia bawakan. Tapi, banyak orang sudah bergelimpangan KO tatkala baru belajar kunci C dan D saja. Karena dia merasakan sulitnya minta ampun. Katakanlah 3 hari pertama mereka akan menyerah. Motivasinya mulai kendur. Akhirnya, tidak lagi belajar gitar. Dan mereka menyimpulkan sendiri bahwa mereka tidak punya bakat main gitar. Alamak.

Begitu juga pada saat kita belajar bahasa asing, entah itu Bahasa Inggris maupun Bahasa Arab. Banyak orang mempunyai keinginan besar untuk bisa bahasa inggris dan bahasa arab. Mereka pun belajar dari waktu ke waktu. Tapi, pada saat kesulitan dan kebosanan melanda, mereka pun goyah, dan akhirnya berhenti belajar. Padahal mereka hanya butuh melakukannya secara kontinu saja, sehingga menjadi kebiasaan. Kalau sudah begitu, tinggal waktu saja yang akan membuat mereka bisa bercas-cis-cus bahasa inggris maupun bahasa arab.  

Kedua contoh di atas adalah perihal bahwa kebiasaan ternyata sulit untuk dilakukan. Jadi, bukan main gitarnya yang sulit, bukan bahasa inggris dan arabnya yang sulit, tetapi membangun kebiasaan itulah yang sulit. Yang diperlukan mereka adalah mengulangnya terus menerus (baca: kebiasaan) sehingga menjadi mahir. Ya, pengulangan itu akan membuat mereka lambat laun akan menjadikannya mahir.

 Rumus kebiasaan adalah dua hal, yaitu tindakan/praktik (practice) dan pengulangan (repetition). Ada yang mengibaratkan dua hal itu ibarat sepasang suami istri. Dan hasil kebiasaan itu adalah anaknya. Kebiasaan tidak akan ada apabila tidak ada tindakan. Apalagi pengulangan. Lha, apa yang hendak diulang kalau tindakan saja tidak ada? Betul atau betul? Dengan kata lain, jika hendak membuat sebuah kebiasaan, maka kita butuh bertindak dan mengulang-ulang tindakan tersebut. Lantas, seberapa lama kebiasaan itu akan muncul? 

Belajar Pada Ramadhan

Tidak ada patokan yang ajeg perihal durasi sebuah tindakan dikatakan menjadi kebiasaan. Masing-masing orang bisa berbeda, tergantung kekuatan dirinya masing-masing. Tapi, meskipun begitu, kita bisa membuat standarnya. Standarnya bisa kita ambil dari puasa Ramadhan. Dalam Ramadhan kita diwajibkan untuk berpuasa selama satu bulan penuh. Kita tidak boleh makan dan minum, berhubungan seksual, dan melakukan hal-hal buruk seperti menggunjing, berkata-kata kotor, dll. Kita juga dianjurkan untuk shalat tarawih pada malam hari, dan makan sahur.

Kita sering merasakan susah payah pada saat minggu pertama melakukan puasa Ramadhan ini. Karena belum terbiasa. Biasanya sebelum melakukan aktivitas kita sarapan, minum kopi, dan siang harinya makan siang, tapi di bulan ini tidak kita lakukan. Sungguh menyiksa. Konsentrasi menjadi hilang. Perut berbunyi nyaring. Semangat memudar. Tapi, karena itu kewajiban maka mau tidak mau kita harus melakukannya. Dan ajaibnya seminggu yang menyiksa itu bisa kita lewati dengan selamat.

Pada minggu kedua, kita sudah mulai terbiasa dengan keadaan menyiksa itu. Yang tadinya dirasa sebuah siksaan, pada minggu kedua ini sudah bukan dianggap siksaan lagi. Biasa saja. Tidak ada gerutu-gerutu lagi. Semuanya dijalani dengan santai. Lapar dan haus mungkin masih tetap terasa, tapi itu bukan lagi keluhan. Kita sudah terbiasa dengan rasa lapar dan haus, sehingga semangat dan konsentrasi tetap terjaga. Dan hingga minggu ke-4, alias 1 bln, kita sudah terbiasa dengan keadaan itu.

 Tapi, bulan Ramadhan itu baru permulaan dari sebuah kebiasaan, yang dilakukan dengan keterpaksaan, lantaran kewajiban. Justru penentuannya adalah pasca bulan Ramadhan. Ketika selesai puasa Ramadhan, apakah kita tetap bisa mengendalikan diri dari rasa lapar dan haus serta menjauhkan diri perbuatan buruk, dan bisa bangun dini hari untuk shalat malam (sebagai pengganti makan sahur)? Kalau bisa melakukan itu, saya ucapkan selamat. Berarti Anda sudah mempunyai kebiasaan baru yang baik.

Kebiasaan baik tidak mudah untuk dilakukan, karena itu Allah seringkali mewajibkannya terlebih dahulu. Lain halnya dengan kebiasaan buruk, mudah sekali untuk dilakukan, dan Allah mewanti-wanti untuk tidak boleh melakukannya karena bisa menjerumuskan dirinya sendiri dan pasti akan mengalami kerugian. Dan karena itu akan menjadi kebiasaan buruk, maka Allah membuat larangan. Lihat, di balik perintah dan larangan Allah itu, ternyata menyimpan pesan yang dahsyat. Allah hendak menyampaikan perihal kebiasaan: kebiasaan baik akan membuat kita baik dan kebiasaan buruk akan membuat kita buruk. 

Imam Syafi’i

 Siapa yang tidak kenal dengan Imam Syafi’i? Saya anggap pembaca sudah mengenalnya, jadi tidak perlu saya beritahu lagi siapa dirinya. Saya hanya ingin menceritakan kisah masa kecilnya. Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa Imam Syafi’i hafal Al-Quran saat pada usia 7. Berarti sebelum usia itu Syafi’i kecil sudah terbiasa membaca Al-Quran dan berusaha menghafalnya. Nah, konon, salah satu faktornya adalah karena dia terbiasa mendengar ibunya membaca Al-Quran setiap hari, yang selalu mengkhatamkannya, 30 juz, dalam satu minggunya. Dimana saja dia bermain, terdengar ibunya membaca Al-Quran.

Ingin menjadi ahli dalam sesuatu? Lakukanlah setiap hari. []

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pagar Nusa Boyong 46 Medali dalam Ajang Pati Open 2019

    Pagar Nusa Boyong 46 Medali dalam Ajang Pati Open 2019

    • calendar_month Sen, 5 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 756
    • 0Komentar

    PATI-Ikatan Pencak Silat Pagar Nusa (PN) Kabupaten Pati kembali menorehkan prestasi membanggakan. Kali ini dalam ajang Pati Open Championship tingkat pelajar, PN berhasil menggondol 46 medali. Dari 46 medali tersebut diantaranya adalah 15 medali emas, 13 medali perak dan 18 medali perunggu. Semuanya diraih oleh para pelajar dari berbagai sekolah di Kabupaten Pati yang tergabung […]

  • Sepenuh Hati Mencintai-Nya

    Sepenuh Hati Mencintai-Nya

    • calendar_month Kam, 3 Sep 2015
    • account_circle admin
    • visibility 431
    • 0Komentar

    Dalam buku karya Yadi Saeful Hidayat yang berjudul “Aku Jauh Engkau Jauh, Aku Dekat Engkau Dekat” penulis mencoba menyuguhkan agar manusia mampu menepis segala keraguan atas nikmat iman yang telah di berikan oleh-Nya serta mampu mencintai Allah secara tulus dan mendahalukan segala urusan agama Allah ketimbang urusan lainnya. Allah telah menjanjikan kepada hamba-Nya yang mencintai-Nya […]

  • Ulama dan Umaro Buka Bersama Di Pendopo Kab Pati

    Ulama dan Umaro Buka Bersama Di Pendopo Kab Pati

    • calendar_month Rab, 8 Jul 2015
    • account_circle admin
    • visibility 600
    • 0Komentar

    Kabar NU. Jumat 3 Juli 2015 di Pendopo Kab Pati menerima tamu besar dari seluruh ulama Kab Pati acara yang setiap tahunnya pada bulan ramadlan di adakan oleh Bupati Pati H. Haryanto.             “Acara buka bersama dan dilanjutkan dengan pengajian memperingati nuzulul quran, hal ini kami lakukan untuk sebagai rasa syukur terhadap para ulama Se-Kab […]

  • PCNU-PATI

    Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi

    • calendar_month Kam, 15 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 522
    • 0Komentar

    Penyajian materi melalui rangkaian cerita dialog dan perdebatan secara langsung antara orang-orang yang berbeda pendapat merupakan salah satu metode yang sangat efektif untuk menyampaikan bahasan seputar akidah Ahlussunnah wal jamaah. Perdebatan antara para ulama memang terjadi secara langsung dalam forum-forum dialog terbuka maupun melalui buku yang saling berbantah. Para ulama masa dahulu sudah terbiasa menggunakan kedua […]

  • PC IPNU IPPNU Pati Dukung Pemerintah Bongkar Kawasan LI

    PC IPNU IPPNU Pati Dukung Pemerintah Bongkar Kawasan LI

    • calendar_month Sel, 15 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 417
    • 0Komentar

    Masna Zakiatus Salwa, Ketua PC IPNU Kabupaten Pati PATI – PC IPNU IPPNU Kabupaten Pati mendukung penuh pembongkaran kawasan Lorong Indah (LI) yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati pada Kamis (3/2). Dukungan dan apresiasi ini disampaikan langsung oleh Ketua PC IPNU Pati, Mastna Zakikiyatus Salwa. “Kami PC IPNU IPPNU Pati, badan otonom dari Nahdlatul […]

  • Semarak Hari Santri 2026 di SMK Salafiyah Kajen, Wadah Asah Potensi dan Karakter Siswa

    Semarak Hari Santri 2026 di SMK Salafiyah Kajen, Wadah Asah Potensi dan Karakter Siswa

    • calendar_month Kam, 22 Okt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 20.559
    • 0Komentar

    ​Pcnupati.or.id —Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2026, SMK Salafiyah Kajen, Margoyoso, Pati, menggelar serangkaian kegiatan yang diisi dengan upacara bendera dan berbagai perlombaan bernuansa Islami. Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah potensi, kreativitas, serta memperkuat kecintaan para siswa terhadap nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. ​Rangkaian peringatan diawali dengan upacara khidmat yang dipimpin oleh Yeni Dewi. […]

expand_less