Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ilusi Kaum Kota: Slow Living di Desa

Ilusi Kaum Kota: Slow Living di Desa

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 6 Feb 2025
  • visibility 755
  • comment 0 komentar

Oleh: Maulana Karim Sholikhin*

Desa memang cenderung lebih unggul dibandingkan kota dalam urusan kualitas udara. Jumlah kendaraan berbahan bakar fosil dan industri makro yang sedikit menjadikan desa tempat yang baik untuk bernapas. Masyarakatnya juga punya kepedulian tinggi dan ramah-ramah. Gedung-gedung belum menjamah sampai ke sana, sehingga view alamnya lebih natural, tanpa solek bangunan tinggi.

Nilai plus lain, Cost hidup di desa sangat terjangkau bagi kalangan berpenghasilan ‘kota’. Makanan, minuman hingga harga tanah akan jauh lebih murah daripada kota dengan komposisi dan ukuran sama. Gaji UMR mungkin butuh waktu hingga ratusan tahun untuk menabung guna membeli sebidang tanah di kota. Akantetapi dengan ukuran yang sama, tanah di desa bisa berpuluh kali lipat lebih terjangkau, sehingga bisa menghemat waktu menabung.

Inilah mengapa trend slow living tinggal di desa menjadi booming. Pesona desa yang tersebar lewat tiktok dan instagram serta memori manis ketika KKN, melahirkan kembali nostalgi nan melankoli, betapa romantiknya jika desa digunakan sebagai destinasi menghabiskan usia.

Hanya saja, sebagai orang yang lahir, tumbuh besar di desa dan pernah merasakan kerasnya kota besar dalam waktu relatif lama, penulis bisa mengomparasikan keabsud-an masyarakat kota maupun desa.

Hidup di sini (baca: desa) memang sangat tricky. Bukan urusan perut dan ekonomi, namun lebih pada fakta sosial. Tinggal di desa untuk selamanya tak bisa dibanding dengan peristiwa manis selama KKN yang hanya satu atau dua bulan. Desa menggenggam tantangannya sendiri, begitupun kota. ‘Kekejaman’ desa tak ubahnya kerasnya kota dalam kemasan sachet dengan rasa yang berbeda.

Pertama, masyarakat desa ancap kali memiliki rasa ingin tau yang tinggi, bahkan sampai merogoh ranah prifasi individu lain. Dengan kata lain, sekat antara A dan B hanyalah garis ilusi. Para hidung belang, jangan harap bisa selingkuh di sini, sebab semua warga akan tahu.

Ke dua, bertautan dengan fakta pertama, kemampuan menganalisa masyarakat desa sangatlah tajam, penggalian data dilakukan secara masif dan canggih. Kita tidak bisa bersembunyi dari mereka, sebab ‘CCTV’ yang terorganisir–seperti bekerja dengan cara magis–bisa mengawasi segala yang kita punya dan kita alami.

Sayangnya, kemampuan ini tidak diiringi dengan pengolahan data dan pengambilan simpulan yang baik, keduanya kacau!. Hal ini terjadi lantaran ‘riset’ yang mereka lakukan amatlah subjektif. Apriori bahwa objek penelitian harus selalu salah, sekaligus menjadi simpulan tanpa pengolahan data terlebih dulu. Sebab, informasi aib lebih laku di pasaran.

Ke tiga, arus informasi, terutama dikalangan emak-emak sangatlah deras. Sebelum ditemukannya jaringan 5G, pasar, sawah, kang sayur sudah menjadi ruang pertukaran informasi dengan kecepatan cahaya. Karenanya, aib yang berhasil dicitrakan akan menyebar liar tanpa kendali dan tidak akan berhenti sebelum seisi desa mengetahui

Ke empat, daya saing masyarakat desa juga lebih tinggi dibandingkan masyarakat kota. Kompetisi selalu terjalin ketat diantara mereka. Ketika satu KK membeli televisi berukuran 41’’, tetangga sebelah melonjak adrenalinnya untuk membeli 52’’. Seorang suami membelikan isterinya sepeda motor, maka isteri tetangga—entah dengan cara apa—juga harus memiliki motor yang sama. Begitu pula dalam urusan fashion sampai teflon untuk menggoreng telur, jika dia punya, akupun harus punya!.

Ke lima, masyarakat desa tanpa disadari menganut marxisme dalam urusan penyetaraan (kecuali kalangan elit desa seperti tuan tanah, ASN, pengusaha atau alumni perantauan Jepang-Korea, mereka punya kelasnya sendiri). Masyarakat bawah yang tampil wah, akan menimbulkan beragam asumsi. Namun segala probabilitas yang muncul tak akan kemana-mana, masih dalam tema: dicurigai memelihara tuyul, babi ngepet atau pesugihan.

Ke enam, Masyarakat desa juga cukup diskriminatif khususnya terhadap kaum miskin. Misal, dalam urusan hajatan saja, orang-orang miskin yang hadir gercep, dicap cari makan gratis. Kalaupun mereka terlambat datang, maka dicap tidak tau diri, kalau mereka tidak datang, apalagi.

Inti dari segala inti, tidak semua warga desa memiliki karakteristik seperti disebutkan tadi, dan tidak ada niatan untuk mendiskreditkan desa (sebab penulis juga orang ndeso). Meski demikian, narasi tersebut bisa dikatakan mendekati valid. Karena, tulisan ini merupakan simpulan dari puluhan bahkan ratusan cerita dari teman-teman yang mukim di desa, dan beberapa diantaranya adalah pengalaman penulis sendiri.

Terakhir, jadikan desa hanya sebagai tempat singgah setiap weekend agar warga metropolitan tidak perlu mumet memikirkan risiko yang harus dihadapi, sekaligus tidak ‘mencemari’ budaya ndeso dengan style kota yang individualis dan materealis. Ujungnya, di desa maupun di kota, slow living selalu bisa digapai hanya dengan mindset stoik yang kuat.

*penulis merupakan pendidik di Ponpes Shofa Az Zahro’ Gembong-Pati

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wisuda ke-32 INISNU, Rektor Laporkan Lonjakan Kinerja Akademik, Akselerasi Internasionalisasi, dan Kesiapan Alih Bentuk Institusi

    Wisuda ke-32 INISNU, Rektor Laporkan Lonjakan Kinerja Akademik, Akselerasi Internasionalisasi, dan Kesiapan Alih Bentuk Institusi

    • calendar_month Sel, 7 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 167
    • 0Komentar

    TEMANGGUNG — Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung sukses menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-32 pada Selasa, 7 Juli 2026 di Gedung Pemuda Temanggung. Momentum sakral ini tidak sekadar menjadi panggung seremoni kelulusan bagi 122 wisudawan, melainkan bertransformasi menjadi forum akuntabilitas publik yang komprehensif. Di hadapan para tokoh penting Nahdlatul Ulama, koordinator Kopertais, serta jajaran […]

  • Lagi, PN Salafiyah Ukir Prestasi

    Lagi, PN Salafiyah Ukir Prestasi

    • calendar_month Sel, 23 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 508
    • 0Komentar

    Dua punggawa PN Salafiyah yang sukses meraih juara di tingkat nasional. Mereka adalah M. Rizky Falevi dan Zahwa Ananda Oltavianti MARGOYOSO – Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa (PN) MTs Salafiyah Kajen kembali mengharumkan nama baik Kabupaten Pati. Melalui seni bela diri pemcak silat, dua peserta didik MTs yang berada di Desa Kajen tersebut sukses […]

  • PCNU-PATI

    Rumi

    • calendar_month Sen, 24 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 577
    • 0Komentar

    Oleh: M Iqbal Dawami Mungkin ada yang belum tahu Jalaluddin Rumi. Ia adalah sufi cum penyair yang terkenal. Ia berasal dari Balkh, Afghanistan. ia belajar tasawuf kepada beberapa guru, tapi yang paling mempengaruhinya adalah Syamsuddin al-Tabrizi atau Syamsi Tabriz. Sebelum tampil menjadi ahli tasawuf Rumi adalah seorang guru yang memiliki banyak murid. Sekian lama mengajar, […]

  • Perayaan Satu Abad NU di Alun-Alun Pati Dibanjiri Jama'ah

    Perayaan Satu Abad NU di Alun-Alun Pati Dibanjiri Jama’ah

    • calendar_month Rab, 22 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 443
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id PATI-Gebyar perayaan Satu Abad Nahdlatul Ulama PCNU Pati banjir pengunjung. Kegiatan yang dipusatkan di Alun-Alun Pati Rabu (22/2) malam tersebut dipadati para pecinta Sholawat. Pasalnya, dalam agenda tersebut, dihadiri oleh Habib Ali Zainal Abidin dan KH. Zulfa Musthofa, Wakil Ketua PBNU. Bahkan, 3000 cup kopi yang dibagikan secara gratis oleh Lazisnu dan LPNU, habis […]

  • PCNU Pati Siap Tampung dan Dampingi Santri Korban Kekerasan Seksual

    PCNU Pati Siap Tampung dan Dampingi Santri Korban Kekerasan Seksual

    • calendar_month Sen, 4 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 13.519
    • 0Komentar

      PCNU Pati – PCNU Kabupaten Pati mengawal kasus dugaan kekerasan seksual di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati. Mereka pun siap menampung dan mendampingi para korban. Jajaran pengurus PCNU Pati, RMI NU Pati, Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Pati, GP Ansor Pati, Fatayat NU dan pengurus PCNU lainnya […]

  • Maskan; Ketua PAC Ansor Gembong Terpilih

    Maskan; Ketua PAC Ansor Gembong Terpilih

    • calendar_month Jum, 11 Des 2015
    • account_circle admin
    • visibility 435
    • 0Komentar

    Beberapa waktu yang lalu, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gembong mengadakan konferensi masa khidmat 2015-2018, bertempat di Madrasah Ma’arif  desa Gembong.             “Dengan terpilihnya Maskan sebagai ketua Pimpinan Anak Cabang, kami berharap dia mampu mengabdi kepada masyarakat Gembong khususnya dalam kegiatan-kegiatan sosial atau keagamaan, yang bermanfaat untuk masyarakat,”ujar Imam Rifa’I  ketua PC GP […]

expand_less