Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Iqra’, Perintah yang Terlupakan

Iqra’, Perintah yang Terlupakan

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 11 Feb 2015
  • visibility 455
  • comment 0 komentar
Kata Iqra’ dalam Al Qur’an memiliki kandungan yang luar biasa, karena ia menjadi kata pertama dari wahyu pertama Surat Al ‘Alaq yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.  Begitu pentingnya kata Iqra’, sehingga Allah swt mengulang sampai dua kali dalam rangkaian surat Al ‘Alaq.
Rahasia dibalik makna kata Iqra’ telah banyak dikaji dalam berbagai konteks disiplin keilmuan, keimanan, maupun pendidikan. Mengapa Allah swt menurunkan ayat iqra’ (baca) dan qalam (pena/tulisan) dalam satu paket dan kemudian ayat-ayat tersebut diletakkan di paling awal dari wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad Saw.?
Kerangka  non-Qur’anic yang melatarbelakangi turunnya Surah Al ‘Alaq secara tradisional seringkali berhubungan dengan kisah dimana pada saat penunjukan awal Muhammad sebagai rasul,
kemudian malaikat Jibril terlihat olehnya seakan memberikannya satu naskah dan memintanya untuk membacanya dengan situasi dan kondisi yang sangat dramatis. Dari kisah ini penafsiran dua imperatif (kata perintah) awal “iqra“, yang diterjemahkan sebagai “baca!“, dalam 96:1-5 ditetapkan. 
Dalam kisah historis turunnya ayat ini,Nabi Muhammad rasul terakhir yang diangkat Allah, tidak saja gemetar ketika Jibril mendekapnya sembari meminta, ”Bacalah!” Suami Khadijah itu juga bingung. Bagaimana tidak, seorang yang ummi atau tak bisa baca tulis, tiba-tiba diminta membaca. Jibril, sang penyampai wahyu itu tetap menyampaikan dengan perintah, ”Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang mencipta segala sesuatu. Iqra bismi rabbikalladzi khalaq.”
Dalam Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab menunjukkan secara jelas bahwa ayat-ayat Surah Al-`Alaq, terutama lima ayat awalnya, mengandung kata iqra’ dan qalam. Hal ini menunjukkan bahwa Surah Al-`Alaq tidak hanya berkaitan dengan perintah membaca, ada kemungkinan besar kegiatan membaca itu perlu dikaitkan dengan kegiatan menulis. Bahkan, kegiatan menulis itu menjadi sangat penting diperhatikan karena setelah turun kelima ayat dari Surah Al-`Alaq, turunlah kemudian ayat Nuun demi qalam dan apa yang mereka tulis..” (QS Al-Qalam [68]: 1).
Secara etimologis Iqra’ diambil dari akar kata qara’ayang berarti ‘menghimpun’, sehingga tidak selalu harus diartikan ‘membaca sebuah teks yang tertulis dengan aksara tertentu’. Selain bermakna ‘menghimpun’, kata qara’a juga memiliki sekumpulan makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak. Allah swt. berfirman : (“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”).
Dalam kamus Al Munawir kata Iqradengan berbagai macam bentukannya memiliki makna yang beraneka ragam, antara lain  dari akar kata qara’a – qiraatan – qur’anan memiliki makna waqtara’a, tathaqa bil maktuubi fiihi  (membaca), atau bermakna thala’a (menelaah, mempelajari), jika dihubungkan dengan kata asysyaia bermakna jama’ahu (mengumpulkan). Sedangkan dari bentukan aqra’a bermakna ja’alahu yaqra’u(membacakan, mengajar, menyuruh membaca).
Kata qara’a di dalam Alqur’an terulang sampai 3 kali, yaitu  pada surat Al Isra’ ayat 14 : (“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu Ini sebagai penghisab terhadapmu”). Kemudian dalam surat Al ‘Alaq ayat 1 dan ayat 3 : (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,)
Dalam tafsir Al Maraghi, kata Iqra’  di dalam ayat pertama surat Al ‘Alaq bermakna Shir Qari’an (jadilah pembaca), walaupun sebelumnya bukanlah pembaca, bukan pula penulis, dan telah dating titah Ilahi agar dia menjadi seorang pembaca walaupun bukan penulis; akan dinuzulkan kepadanya (Muhammad saw) sebuah kitab yang akan dibacanya, walaupun tidak ditulisnya sendiri.
Sementara Al Hanafi menafsirkannya dengan If’al ma umirtu bihi minal Qur’ani artinya laksanakanlah apa yang telah Ku-perintahkan  kepada kamu di dalam Al qur’an. Menurut Ar Razi bermakna Iqra’ awalan li nafsika, wa tsani litabligh, maksudnya “Bacalah, pertama untuk dirimu sendiri, dan kedua untuk tabligh”. Selanjutnya “Bacalah! pertama untuk ta’allum (belajar) dari Jibril, dan kedua untuk ta’lim (mengajarkan) kepada orang lain.
Terlepas dari perdebatan para mufasir terhadap maksud Allah menurunkan ayat “Iqra'” sebagai wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw, perlu kiranya dilakukan kajian secara khusus konteks histories melalui berbagai pendekatan tafsir Al Qur’an, terutama ayat-ayat yang memiliki Kerangka  non-Qur’anic melalui kisah-kisah dramatis.
Tradisi Iqra’, Peletak Dasar Peradaban Manusia
Secara menarik, Prof. Dr. Quraish Shihab juga menunjukkan bahwa akar kata iqra’, yaitu qara’a, itu artinya bukan sekadar membaca. Qara’aberarti meneliti, mendalami, menghimpun, dan menemukan sesuatu yang bermakna. Bahkan kegiatan yang bertumpu pada makna kata qalam-lah yang kemudian dapat mengefektifkan kegiatan yang bertumpu pada makna kata iqra`. walaupun secara eksplisit tidak mengaitkan kata iqra’ dan qalam, namun sebenarnya kedua kata tersebut memiliki keterkaitan yang kuat.
Mari kita baca apa yang disampaikan oleh Quraish Shihab tentang  makna kata qalam: Kata qalam di sini dapat berarti hasil dari penggunaan alat tersebut’, yakni tulisan. Ini karena bahasa sering kali menggunakan kata yang berarti ‘alat’ atau penyebab untuk menunjuk ˜akibat’ atau ˜hasil’ dari penyebab atau penggunaan alat tersebut. Misalnya, jika seseorang berkata, ˜saya khawatir hujan’, maka yang dimaksud dengan kata ‘hujan’ adalah basah atau sakit, dan hujan adalah penyebab semata.
Apa yang harus dibaca? Dalam satu riwayat, Nabi saw setelah mengalami kepayahan karena dirangkul dan diperintah membaca oleh malaikat Jibril a.s. beliau lantas bertanya: Ma aqra’ ya jibril? namun pertanyaan tersebut tidak dijawab oleh malaikat Jibril a.s., karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama membaca tersebut dilandasi bismirabbika(atas nama Allah), dalam arti bermanfaat untuk kemaslahatan sosial.
Pengaitan ini merupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas, tetapi juga antara lain mampu memilih bahan-bahan bacaan yang tidak menghantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan ‘nama Allah’ itu.
Jika begitu kata Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri baik yang tertulis maupun tidak. Alhasil, objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau.
Sungguh, perintah membaca merupakan sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia. ‘Membaca’ dalam aneka maknanya adalah syarat pertama dalam pengembangan ilmu dan tekhnologi, serta syarat utama membangun peradaban.
Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab (bacaan). Peradaban Yunani dimulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya Kitab Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dengan karya Newton (1641-1727) dan berakhir dengan filsafat Hegel (1770-1831) . Peradaban Islam lahir dengan kehadiran al-Qur’an.
Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini, bukan sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak diperoleh kecuali mengulang-mengulangi bacaan, atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulangi bacaan dengan bismirabbika (atas nama Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru walaupun yang dibaca hal itu juga. Mengulang-ulang membaca al-Qur’an tentunya akan menimbulkan penafsiran baru, pengembangan gagasan, dan menambah kesucian jiwa serta kesejahteraan batin. Berulang-ulang ‘membaca ‘ alam raya, membuka tabir rahasianyadan memperluas wawasan serta menambah kesejahteraan lahir.
Objek iqra’ yang sedemikian luas itu, memang seolah-olah dapat menyempit apabila hanya dilihat dari rangkainnya perintah membaca dengan qalam. Namun harus diingat bahwa sekian pakar tafsir kontemporer memahami kata qalam sebagai segala macam alat tulis-menulis sampai kepada mesin-mesin tulis dan cetak yang canggih dan juga harus diingat bahwa qalam bukan satu-satunya alat atau cara untuk membaca atau memperoleh pengetahuan.

Dengan kontekstualisasi makna iqra’ di atas, kita dapat memahami bahwa pengetahuan dan peradaban yang dirancang oleh Alqur’an adalah pengetahuan terpadu yang melibatkan akal dan kalbu dalam perolehannya (output).  Betapa al-Qur’an sejak dini telah memadukan usaha dan pertolongan Allah, akal dan budi, pikir dan zikir, iman dan ilmu. Akal tanpa kalbu menjadikan manusia seperti setan. Iman tanpa ilmu sama dengan pelita di tangan bayi, sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan pelita di tangan pencuri. Dan al-Qur’an sebagai sebuah kitab terpadu, tentunya menghadapi dan memperlakukan peserta didiknya dengan memperhatikan keseluruhan unsur manusiawi, jiwa, akal, dan jasmaninya. (Yusuf Hasyim Addakhil)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Personalitas dan Identitas Indonesia

    Personalitas dan Identitas Indonesia

    • calendar_month Sel, 17 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 457
    • 0Komentar

    Oleh : Maulana Luthfi Karim* Cinta tanah air adalah sunnatullah. Demikianlah mukaddimah singkat yang penulis sampaikan untuk membuka tulisan ini.  Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa nabi Muhammad SAW benar-benar cinta mati kepada Makkah dan Madinah. Bukti pertama, beliau pernah berbisik kepada sobat karibnya, Abu Bakar bahwa Makkah adalah tempat yang paling dicintainya seandainya para penduduk […]

  • Gus Mus Ijazahkan Tiga Sholawat

    Gus Mus Ijazahkan Tiga Sholawat

    • calendar_month Ming, 4 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 686
    • 0Komentar

    KH. Musthofa Bisri (Gus Mus) (sumber : Instagram @s.kakung) REMBANG-KH. Musthofa Bisri atau Gus Mus baru-baru ini mengijazahkan amalan sholawat kepada ummat islam. Ijazah ini disampaikan langsung melalui postingan Instagramnya, @s.kakung Kamis (1/7). Dalam video berdurasi tujuh menit dua puluh detik tersebut, Gus Mus memaparkan sekaligus mengijazahkan tiga sholawat sekaligus. Kiai asal Rembang tersebut juga […]

  • Kemesraan Bung Karno & Mbah Wahab Hasbullah

    Kemesraan Bung Karno & Mbah Wahab Hasbullah

    • calendar_month Kam, 6 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 502
    • 0Komentar

     Strategi Diplomasi Fathul Qarib Setelah beberapa kali diadakan perundingan untuk menyelesaikan Irian Barat dan selalu gagal, Bung Karno menghubungi Kiai Wahab Hasbullah di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Bung Karno menanyakan bagaimana hukum orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat? Kiai Wahab menjawab tegas,”Hukumnya sama dengan orang yang ghasab.” “Apa artinya ghasab, kiai?” Tanya Bung […]

  • Menengok Vonis Harvey Moeis dan Viralnya Ceramah KH Zainuddin MZ

    Menengok Vonis Harvey Moeis dan Viralnya Ceramah KH Zainuddin MZ

    • calendar_month Sel, 7 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 483
    • 0Komentar

    Oleh: Umar Hanafi Pati – Belakangan ini publik Indonesia gemas dengan vonis terdakwa korupsi tambang timah Bangka Belitung, Harvey Moeis. Edan saja, dengan kerugian negara mencapai Rp 300 triliun, suami aktris cantik Sandra Dewi itu hanya divonis 6,5 tahun penjara. Vonis Harvey Moeis menyayat rasa keadilan masyarakat.  Publik pun membanding-bandingkan dengan vonis kasus pidana lainnya. […]

  • Desember 2021 hingga Februari 2022, Bulan Kaderisasi IPNU – IPPNU

    Desember 2021 hingga Februari 2022, Bulan Kaderisasi IPNU – IPPNU

    • calendar_month Sab, 5 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 534
    • 0Komentar

    Seorang peserta kaderisasi IPNU dengan penuh hikmat mencium bendera kebanggaannya dialnjutkan dengan mencium bendera Indonesia, sebagai simbol kesetiaan pada organisasi dan NKRI PATI – Bulan Desember 2021 hingga Februari 2022 merupakan bulan kaderisasi PC IPNU IPPNU Kabupaten Pati. Sejumlah pimpinan, dari mulai Ranting hingga Anak Cabang serentak mengadakan agenda kaderisasi. Dalam kesempatan ini, M. Imamul […]

  • Puasa dari Game Online

    Puasa dari Game Online

    • calendar_month Sen, 10 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 519
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Ramadan adalah bulan penuh berkah yang seyogianya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan produktivitas. Namun, godaan hiburan digital, terutama game online, kerap membuat sebagian orang justru lalai dalam menjalani ibadah. Padahal, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari kebiasaan yang tidak produktif. Lalu, bagaimana cara agar […]

expand_less