Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ganyang FDS

Ganyang FDS

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 22 Agu 2017
  • visibility 122
  • comment 0 komentar

Banyak tokoh yang menyatakan bahwa sedekah terbaik adalah meninggalkan generasi dengan kualitas unggul. Anak-anak yang dilahirkan dari rahim ibunya bukanlah hard diskyang hanya dijejali dengan bermacam program (yang dianggap) unggulan. Mereka bukan pula sebuah objek yang digunakan sebagai kelinci percobaan dalam eksperimen regulasi pendidikan. dengan presepsi demikian, maka selain harus mendapatkan nutrisi otak, anak juga wajib mendapatkan nutrisi hati.
dalam istilah syariat islam dikenal adanya pola dialektika antara hati dan akal. Nutrisi akal berisi bekal-bekal kognisi untuk menunjang kemampuan berfikir dan meningkatkan intelektualitas anak. Sementara nutrisi hati tidak hanya berkutat pada materi keagamaan saja, namun kebahagiaan anak serta perasaan nyaman selama menjalani proses pendidikan adalah esensinya. Kedua nutrisi tersebut harus berjalan dalam dimensi integral demi tercapainya cita-cita bangsa. Nutrisi hati dipasok untuk menunjang akhlak, perangai dan sikap-sikap anak, sementara nutrisi otak adalah landasan pengetahuan untuk berperilaku.
Hanya dengan metode itulah generasi-generasi model akan mengibarkan bendera kemajuan. Bukan dengan program-program yang lahir atas kepentingan politis apalagi bertujuan untuk menggempur tradisi pendidikan yang telah ada.
Karakter Bangsa
Bangsa Indonesia ‘dikuasai’ oleh sedikitnya dua ratus juta jiwa yang memeluk agama islam—asumsi ini lahir dari presentase republika per januari 2016. Jika mau, kaum muslim Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk memberangus agama lain di negeri ini. Namun itu semua tidak dilakukan. Setidaknya ada dua faktor yang mempengaruhi perdamaian antar agama di Indonesia, yakni landasan yuridis formal dan landasan sosio-struktural.
Landasan formal tertera pada UUD 1945 dan pancasila.Namun diluar dua pilar tersebut, ada satu faktor sosio-struktural yang selama ini tidak disadari oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, eksistensi NU (Nahdlatul Ulama).
Sudah menjadi rahasia umum jika NU menyandang gelar sebagai ormas dengan anggota terbesar di Indoensia. Secara administratif agaknya memang sedikit sulit—mendekati mustahil—untuk mendeteksi jumlah warga NU di Indonesia. Namun, NU kultural menjamur hampir di setiap sudut ruang Nusantara.
Dengan jumlah yang begitu besar, maka tidak berlebihan jika menyebut NU sebagai representasi dari wajah islam di Nusantara. Meminjam istilah Gus Mus, bahwa NU-lah yang pertama kali harus bertanggung jawab jika terjadi pergolakan sosial di Indonesia sebab NU adalah mayoritas.
Masih hangat dalam benak bangsa Indonesia bahwa ACF (organisasi dunia yang bergerak di bidang HAM, kebebasan dan perdamaian antara umat beragama) pernah menghadiahkan penghargaan perdamaian kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 2013 silam. “keberhasilan SBY” dalam menciptakan bangsa yang demokratis dengan jumlah muslim terbanyak adalah satu hal yang melatarbelakangi ACF menganugerahkan penghargaan tersebut.
Tentunya SBY tidak berjalan sendirian. Ada NU yang berperan sebagai “invisible hand”dibelakang SBY kala itu. Andaikan mayoritas umat islam di Indonesia tidak didominasi oleh kaum nahdliyin, maka dapat dipastikan konfrontasi dan disharmonisasi antara agama, ras dan suku bangsa di Indonesia akan selalu menghiasi media massa. Karena memang tidak mudah meruwat integrasi dalam kebhinekaan. Untung ada NU!
NU—warga NU—yang moderat, tidak dibangun dengan tongkat ajaib dan mantra sabda dadikun fa yakun. Bukan pula dibangun dengan full day school(FDS) yang sekarang sedang gencar di media massa. Karakterisitik moderat ini tumbuh dan berkembang kemudian eksis di tengah-tengah masyarakat Indonesia melalui proses pendidikan yang begitu khas dan hanya dimiliki islam di Nusantara ini.Ada pesantren, madrasah diniyah dan majelis-majelis ta’lim yang telah berjasa membentuk islam yang ramah di negeri ini, bukan islam yang kaku dan profokatif.
Pendidikan menjadi alat vital pembentukan karakter bangsa. Perubahan kebijakan terhadap dunia poendidikan secara tidak langsung akan memberikan dampak bagi situasi sosial di masyarakat. Jelasnya, transformasi sekecil apapun dalam dunia pendidikan turut bertanggung jawab atas apa yang terjadi di masa mendatang. Oleh sebab itu, pengambilan keputusan serta pembuatan kebijakan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang memiliki benang merah dengan pendidikan harusnya memperhatikan aspek-aspek tersebut. Bukan malah meng-ACC apa lagi menciptakan kebijakan yang nantinya akan menyeret masyarakat Indonesia menjauh dari budaya luhurnya.
Fenomena FDS
Right man in the right place (orang baik yang berada dalam zona yang baik pula) merupakan komposisi sempurna dalam progresifitas suatu lembaga. Begitu pula dengan kebijakan yang diambil pemerintah harus mempertimbangkan aspek-aspek domestik dimana kebijakan itu akan diterapkan. Jika madharat yang dihasilkan akan lebih besar, maka tangguhkanlah.
Polemik pelaksanaan full day school menjadi buah bibir akhir-akhir ini. Pro-dan kontra seakan menjadi sajian wajib media massa. Banyak negara Eropa yang menggunakan model ini. Namun yang perlu diingat, bahwa Indonesia bukan Eropa.
Beberapa pakar yang tidak sepakat dengan pengaplikasian FDS di Indonesia menilai dari sisi ekonomi, psikologi, sosiologi dan berbagai logi-logi yang lainnya. Namun artikel ini berupaya menggali suara “NO” terhadap FDS melalui analogi NU meskipun nantinya akan ada pembahasan dari aspek-aspek lain sebagai wawasan.
Moderasi NU tak tertangguhkan lagi. Karakteristik bangsa moderat dan demokratis yang dimiliki oleh Indonesia tak lain dan tak bukan terlahir dari proses pendidikan baik formal, non formal maupun informal. NU dengan kapasitasnya sebagai ormas keagamaan memegang peranan penting dalam ranah edukasi. Hampir seluruh warga Nahdhiyin merasakan madrasah diniyah yang “tidak terlalu” formal.
Madrasah diniyah (Madin) memegang kontribusi besar yang selama ini  tidak terurai. namun jika FDS benar-benar diterapkan, maka cepat atau lambat, Madin akan segera punah dari bumi Indonesia. Salah satu tokoh nahdliyin Jawa Tengah pernah mengungkapkan bahwa melalui madrasah diniah-lah akhlak al akrimahummat islam Indonesia terbentuk.
Dengan kata lain, Madin menjadi pelopor islam moderat,rohmatan lil alamin (pembawa pesan damai bagi alam semesta) yang menjadi ikon di Indonesia. Apabila FDS terlaksana secara masif di Nusantara, maka bukan cuma Madin yang hilang. Lebih dari itu, islam yang kaku, kolotdan intoleran akan segera menguasai negeri ini. Jika sudah demikian, maka siapa yang mau bertanggung jawab? Menteri pendidikan? tentu saja bukan! (Maulana L. Karim Penulis merupakan Ketua Kader Penggerak Nahdlatul Ulama Kec. Gembong dan Pimpinan Redaksi Majalah Pribumi Pati)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Siap! Majelis As Saba Wonosobo Akan Sholawatan di Porsema XIII

    Siap! Majelis As Saba Wonosobo Akan Sholawatan di Porsema XIII

    • calendar_month Jum, 12 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 126
    • 0Komentar

      Wonosobo – Rangkaian kegiatan Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XIII PWNU Jawa Tengah akan semakin semarak dengan digelarnya Porsema Bersholawat. Acara ini akan berlangsung pada Jumat malam, 12 September 2025 pukul 19.30 WIB di Alun-Alun Timur Wonosobo, menghadirkan lantunan sholawat penuh hikmah bersama Majelis As Saba Wonosobo. Ketua LP Ma’arif NU PCNU Wonosobo, […]

  • Halalbihalal, Ma'arif NU Jateng Diharap Lanjutkan Program

    Halalbihalal, Ma’arif NU Jateng Diharap Lanjutkan Program

    • calendar_month Ming, 21 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Halalbihalal, Ma’arif NU Jateng Diharap Lanjutkan Program Pcnupati.or.id- Semarang – Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama PWNU Jawa Tengah menggelar Halalbihalal dan Koordinasi Persimanu dan Bimtek SIMNU versi 2 pada Kamis (18/5/2023) di Hotel Muria Semarang. Hadir Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH. Muhammad Muzamil, Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah R. Andi Irawan, […]

  • Corak Fiqh KH Maimun Zubair

    Corak Fiqh KH Maimun Zubair

    • calendar_month Kam, 22 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 93
    • 0Komentar

    KH Maimun Zubair adalah Mustasyar PBNU, sebuah jabatan yang hanya dihuni begawan-begawan ulama yang sudah paripurna ilmu, akhlak, dan dedikasi kebangsaannya. Pemikiran dan tindakan KH Maimun Zubair menjadi sorotan banyak pihak. Dalam konteks NU, maka kajian fiqh menjadi dominan. Pegangan warga NU adalah hasil bahtsul masail baik yang diadakan Pondok Pesantren maupun Nahdlatul Ulama, mulai […]

  • Pembentukan Badan Kerja Sakoma NU Rembang: Menjaga Marwah NU dalam Gerakan Pramuka

    Pembentukan Badan Kerja Sakoma NU Rembang: Menjaga Marwah NU dalam Gerakan Pramuka

    • calendar_month Sab, 22 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 162
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Rembang – Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif Nahdlatul Ulama (Sakoma NU) Cabang Rembang menggelar acara pembentukan badan kerja pada Sabtu, 22 Februari 2025, pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Rumah Dinas Wakil Bupati Rembang. Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak yang berperan penting dalam pengembangan Sakoma NU di Kabupaten Rembang. Ketua LP Ma’arif NU […]

  • PCNU-PATI

    Ramadan bersama Hamidulloh Ibda

    • calendar_month Sen, 8 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda Tidak ada yang menyuruh, meminta, atensi, apalagi intimidasi. Semua tulisan yang saya kirim di NU Online Pati (pcnupati.or.id) murni karena saya sendiri. Bergerak karena ingin bergerak. Terdorong karena dorongan sendiri. Semua tergerak sendiri sehingga saya bisa menulis 30 artikel full selama bulan Ramadan tahun ini. Di tengah hiruk pikuk kesibukan dunia modern, […]

  • PCNU - PATI

    Nur Khoiriyah, Terpilih Menjadi Ketua KOPRI

    • calendar_month Rab, 6 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Pati. Nur Khoiriyah, terpilih sebagai Ketua KOPRI PC PMII Pati masa khidmah 2022-2023 pada Konferensi Cabang (Konfercab) XIV PMII Pati di aula bertempat di SMA Muria, 2/7 beberapa waktu lalu. Konfercab merupakan forum tertinggi di level kepengurusan cabang PMII yang meliputi penyampaian LPJ kepengurusan sebelumnya, merumuskan organisasi yang nantinya akan dibawa pemilihan ketua yang baru. […]

expand_less