Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Eksistensi Tradisi Literasi di Pesantren

Eksistensi Tradisi Literasi di Pesantren

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 4 Nov 2023
  • visibility 163
  • comment 0 komentar

Oleh: Siswanto, MA

Berbicara pesantren tentunya tidak lepas membahas kiai, santri, kitab kuning, asrama, dan musala. Adanya beberapa elemen tersebut tidak lain merupakan sarana-prasarana yang ada di lingkungan pesantren.  Oleh karena itu, penting sekali bagi pengelola pesantren untuk memperhatikan elemen yang harus dimiliki pesantren. Supaya dalam pengelolaan pesantren lebih professional dan memberikan pelayanan terbaik kepada para santri.

Sedangkan santri di pesantren merupakan salah satu unsur yang sangat penting, karena tanpa adanya santri di dalam pesantren, tentunya sistem pendidikan tidak akan berjalan. Oleh sebab itu, keberadaan santri menjadi urgen untuk menunjang berjalannya kegiatan dan segala aktifitas di dalam pondok pesantren. Sehingga dengan adanya santri kiai bisa leluasa mendesain pesantrennya dengan model dan karakter yang dikehendakinya.

Pesantren sendiri kalau kita cermati mayoritas masih menjaga nilai karakteristiknya yakni menjaga khazanah kitab kuningnya. Hal ini tidak lepas merupakan usaha untuk melestarikan nilai-nilai kearifan local yang sudah lama dilanggengkan oleh para pendiri pesantren hingga sekarang masih eksis keberadaannya.

Adapun model pembelajaran yang diterapkan oleh pesantren memiliki corak yang berbeda. Meskipun berbeda tetap saja pesantren tidak lepas dengan tradisinya yakni tradisi literasi (baca dan tulis). Tradisi ini tentunya sudah berjalan lama jauh sebelummasifnya pesantren yang mengajarkan para santrinya bergelut pada dunia literasi.

Dalam sejarahnya tradisi literasi Islam massif dan perkembang sudah dimulai sejak Dinasti Abbasyiah yang terkenal dengan dinasti kejayaan umat Islam di seantero dunia. Dimana dinasti ini terkenal dengan ilmu teknologi dan saisnya. Sehingga melahirkan banyak filsuf dan para cedekiawan muslim. Sebut saja Ibn Rusyd, Ibn Sina, Ibn Khaldun, Ibn Bajah, Ibn Batutah, Imam Ghazali, dan lain sebagainya.

Dari sejarahnya untuk mencapai kesusksesan dan kemajuan sebuah negara yang dibangun terlebih dahulu adalah adanya Baitul hikmah (rumah perpustakaan). Karena dengan dibangunya sebuah perpustakaan akan mempermudah para filsuf maupun masyarakat untuk memperkaya literasi dan pengembangannya. Oleh sebab itu, negara maju tidak lepas dari masyarakatnya yang gemar membaca-menulis dan mengkaji saban harinya.

Karena sebagai tolok-ukur tradisi literasi di Indonesia sangatlah rendah dibandingkan dengan negara lainnya. Supaya masyarakat Indonesia bangun dari mimpinya perlunya digaungkan pentingya literasi di kampung-kota saling terintegritas. Agar kedepan sebuah peradapan bisa maju dan berkembang tidak lepas dimulai dari kebiasaan membaca-menulis dijadikan sebagai rutinitas sabab harinya.

Dengan demikian kalau tradisi ini terus digencarkan dan dibangun secara kontinyu, maka tak ayal Indonesia akanbisa mencapai masa keemasnya yang dicanangkan pada tahun 2045 dan sekaligus memiliki nilai sacral tepat 1 Abad Indonesia merdeka dari kolonialisme.   

Tradisi Literasi

Tidak banyak pesantren melestarikan dan mengajarkan literasi kepada para santri secara kontinyu dan dijadikan sebagai karakteristik pesantrennya. Adapun pesantren yang hingga sekarang konsen dalam pemberdayaan literasinya menurut pengamatan penulis yang bisa dijadikan sebagai percontohan dan menjaga benar kualitasnya hanya ada dua pesantren yakni Pesantren Hasyim Asy’ari (Qutub) Yogyakarta dan Pesantren Baitul Hikmah asuhan Kiai Aguk Irawan Yogyakarta.

Kedua pesantren tersebut, konsen melanggengkan tradis literasinya kegiatan bedah buku, menulis, dan membaca sebagai santapan makanan saban harinya. Selain itu juga, banyak santri yang diwajibkan karyanya untuk dikirim di media daring maupun ofline, sebagai bentuk untuk meramaikan jihad lietasi di ruang public melalui media.

Oleh karena itu, melalui pesantren yang mendorong para santri untuk terus berkarya melalui literasinya. Harapnnya santri tidak hanya cakap dalam membaca kitab kuning dan menjadi imam shalat juga mahir dalam berkarya untuk menyebarkan nilai-nilai dakwah yang rahmatan lil-alamin.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bangun wirausaha dagang. PAC IPNU IPPNU Dukuhseti jalin kerjasama dengan mamaNU.

    Bangun wirausaha dagang. PAC IPNU IPPNU Dukuhseti jalin kerjasama dengan mamaNU.

    • calendar_month Sel, 30 Mar 2021
    • account_circle admin
    • visibility 149
    • 0Komentar

     Bangun wirausaha dagang. PAC IPNU IPPNU Dukuhseti jalin kerjasama dengan mamaNU. Dukuhseti 29/3/21 PAC IPNU IPPNU Dukuhseti  Bangun wirausaha berdagang untuk melatih jiwa usaha anggota. Jalin kerjasama dengan salah satu produk unggulan NU sabun cuci mamaNU di harapakan dapat selalu bersinergi dan salaing memberikan keuntungan yang seimbang. Selain bertujuan untuk menumbuhkan semangat berwirausaha program ini […]

  • Gandeng Rotary International, IPNU IPPNU Mojoagung Adakan Go to Pondok Baca

    Gandeng Rotary International, IPNU IPPNU Mojoagung Adakan Go to Pondok Baca

    • calendar_month Sab, 9 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Galeri kegiatan Pengurus Ranting IPNU IPPNU Mojoagung bersama Rotary Internasional TRANGKIL – PR IPNU IPPNU Desa Mojoagung sukses mengadakan Go to Pondok Baca Mojoagung di basecamp setempat, Kamis (7/10). Kegiatan tersebut digelar bekerja sama dengan Rotary International. Ketua PR IPNU Mojoagung Rekan Bagus Suripto mengatakan, pengadaan pondok baca tersebut sebetulnya sudah direncanakan sejak lama. Namun, […]

  • PCNU - PATI Ilustrasi (freepik.com)

    Rabiah al-Adawiyah Sang Sufi Pecinta Sejati

    • calendar_month Sab, 30 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Oleh: Siswanto Rabiah al-Adawiyah adalah seorang sufi wanita yang terkenal dengan kesucian dan kecintaannya kepada Allah. Ia dikenal sebagai seorang sufi yang zuhud dan hanya menghabiskan waktunya untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah. Sehingga tidak mengherankan apabila di kemudian hari, ia tumbuh menjadi seorang sufi yang begitu dikenal, disegani, dan dihormati pada masanya. Rabiah al-Adawiyah […]

  • PCNU-PATI Photo by Fadhila Nurhakim

    Malam yang Aneh

    • calendar_month Sen, 15 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Pukul sembilan malam aku keluar dari kamar hotel. Aku bergegas menuju kafe Sunny Story yang tak jauh dari alun-alun. Sesampainya di kafe, kucari tempat duduk di pojok yang agak sepi di halaman kafe. Hanya beberapa orang saja yang ada di situ, berpasang-pasangan, di mejanya masing-masing. Hanya aku yang sendirian. Jika […]

  • Hasil-Hasil Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama

    Hasil-Hasil Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama

    • calendar_month Rab, 21 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Isi beserta uraian perincian sebagaimana dimaksud oleh keputusan ini terdapat dalam naskah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama beserta Muqaddimah al-Qanunil Asasy sebagai pedoman untuk melaksanakan tata organisasi dalam mencapai tujuan dan cita-cita Nahdlatul Ulama;

  • Khitan Gratis, Program LAZISNU Kec Pucakwangi

    Khitan Gratis, Program LAZISNU Kec Pucakwangi

    • calendar_month Sen, 28 Jun 2021
    • account_circle admin
    • visibility 205
    • 0Komentar

      Pati. Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, melalui NU Care meluncurkan program khitan gratis.   Program ini diperuntukkan bagi keluarga kurang mampu.   Khitan gratis ini terealisasi berkat kerja sama Lazisnu Pucakwangi dengan Rumah Khitan As-Syifa Tegalwero, Pucakwangi.    Semenjak diluncurkan pada awal tahun ini, program tersebut […]

expand_less